Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
44.Menyembunyikan Identitas


__ADS_3

Dari judul tau ya, biarlah Syifa menyembunyikan Identitas dan memberi pelajaran musuh dengan caranya Oke!!


Siap baca kan??😅 JANGAN KECEWA YA...


__________________________________


Syifa berjalan di depan Fauzi satu meter di belakang Syifa situasi yang sangat canggung dan sunyi tanpa sepatah kata, Fauzi mencoba memecah keheningan.


"Fa kalo boleh tau tipe calonmu seperti apa??" Tanya Fauzi setengah teriak.


Syifa mengerinyitkan dahi "Apa obatnya habis hingga gilanya kumat." Batin Syifa.


"Dia yang bisa menerima apa adanya." Teriak Syifa walaupun geram ia tetap menjawab.


"Yes!" Ucap Fauzi sambil menarik tangan ke samping pinggang.


"Aku kasih tau tipeku ya??" Ucap Fauzi setengah berteriak.


"Hem."


"Dia yang solehah, kalem, lembut, baik, tentunya yang bisa bimbing anak-anak." Ucap Fauzi plong.


Deg!


Perasaan apa yang membuatnya sesak entahlah yang jelas ia merasa sikap itu terbalik dengan dirinya. Fauzi?ehem dia tersenyum-senyum karena yang ia tujukan sifat orang di depannya.


Sekumpulan preman kisaran 8 orang menghadang jalan mereka, Fauzi segera berdiri dihadapan Syifa, seolah melindungi sosok berharga.


"Mau apa kalian?" Tanya Fauzi mencoba sabar.


"Heh..Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!" Ucap Preman itu.


"Paman kacamatanya dilepas dulu, karena ini sudah malam bukannya siang oke!" Ucap Fauzi mengejek.


"Pffttt.." Preman lain terlihat menahan tawanya karena benar adanya, Syifa? tenang.


"DIAM!! (seketika kicep) Gue urusannya sama gadis itu, kau jangan jadi es campur." Tekannya bos preman itu. Apa tadi katanya Es Campur?


"Ellah bos, ngga usah pake minuman haus ini." Celetuk preman lainnya.


Dengan konyolnya si bos menepuk mulut yang salah ngomong, nampak Syifa dan Fauzi cekikikan.


"Minggir kau!" Titah Bos menunjuk Fauzi.


"Ngga!"


"Serang dia." Anak buah satu menyerang Fauzi.


Haiiyaattt!!


Bugh! bagh! bugh!


Pukulan demi pukulan Fauzi masih menghindar, ia menangkis tangan preman dan memlintirnya.


Krek! setelahnya menendang pantat preman hingga tersungkur,kemudian 4 preman sekaligus maju.


Haiyaaatt!!


Fauzi masih bisa menghindar kisaran 10 pukulan, menangkis 5 serangan tapi terlalu lengah hingga.

__ADS_1


Bugh!


Tepat preman berhasil meninju Fauzi, hingga menumpahkan sesuatu. Ia berbalik melihat Syifa yang mematung terlihat pikirannya yang kosong.


Ia takut bukan pada preman, lalu? saat ini ia bungkam logikanya ingin menyerang tetapi hati? perasaan takut menyelimuti, setelah mendengar tipe Fauzi. Apakah ini rasa remaja? Apa ia takluk dengan pria yang membuatnya gila setengah hidup? entahlah.


"Ayo lari." Tanpa persetujuan Fauzi menarik ujung kain di lengan Syifa.


Huh! Huh Huh!


Terlihat pohon besar yang tertutup akar-akar yang tak kalah besar. Fauzi melepaskan tangan yang mengenggam baju Syifa lalu tercengir kuda.


"Mhhe he jangan takut, kita sembunyi dulu ya? ohya maaf aku ngga jago bela diri." Ucap Fauzi merasa bersalah.


Belum sempat Syifa menjawab sudah dikejutkan dengan sesuatu, ia melihat pohon yang gelap yang ada hanya sinar bulan remang-remang ada hewan bunglon yang tak sengaja ia sentuh.


"Aa ..mmmphh." Buang fikiran kotor kalian hayo heheh atau author yang.. (skip)


Fauzi menutup mulut Syifa dengan tangannya


Deg! Deg! Deg!


Jantung yang tadinya tak teratur untuk lari, sekarang dua kali kecepatannya, posisi yang sangat dekat bahkan ehemm suasana hening.


"Ya Rabb ampuni hamba telah melanggar batasan, jadikan gadis ini takdir hamba pendamping hamba, jadikan ini bagian dari sekenariomu, jadikan namanya takdir di lahul ma'fudzku." Batin Fauzi, hadehh gimana ini dia meminta ampun atau sekalian minta keinginan ck.


"Astaghfirullah." Gumam keduanya kikuk.


_________________________


Nampak preman melihat keberadaan incarannya karena jilbab Syifa yang terhembus angin hingga berkibar.


Syifa dan Fauzi keluar dari persembunyiannya, para preman tersenyum penuh arti melihat incarannya.


Klek! Terdengar dari preman menarik pelatuk mengarah Syifa dan..


Dor!!


Fauzi membulatkan matanya tak percaya, para preman menganga.


Glek!!


Syifa tersenyum sinis melihat preman kesusahan menelan ludahnya. Yah dengan sigap Syifa menghindar dari tembakan tadi hampir Fauzi pingsan. Hampir!


"Ba bagaimana bisa." Gagap bos preman, melihat cara Syifa menghindar sudah dipastikan dia punya keahlian.


"Ka-kau berani ya." Ucap preman mengarahkan pistol lagi.


"Aduh paman kita ngobrol dulu sebentar atau kalian mau tau keahlianku hmm." Tanya Syifa penuh penekanan.


Dengan bodoh preman menurut duduk bersila, Fauzi meminta penjelasan dengan Isyarat, Syifa hanya mengangguk.


"Hey anak kecil apa yang akan kau obrolkan." Ucap Preman to the point.


"Aduh aduh paman aku bukan anak kecil namaku Syifa, jangan panggil aku anak kecil paman." Ucap Syifa ketus.


"Ahhahahah tentu saja kau ini masih anak- ."


"Aku bukan anakmu dan aku sudah dewasa kau tau??" Ucap Syifa menggantung hingga membuat Preman dan Fauzi menatap Syifa seolah siap mendongengkan.

__ADS_1


"Mmm aha ekspresi kalian seperti siap menagih es krim dariku." Ucap Syifa tertawa hingga mereka menatap datar.


"Baiklah baiklah sekarang serius merkurius venus, aku tau kalian suruhan orang kan?" Tanya Syifa datar.


Deg!


"Tenanglah aku tau, kau? (menunjuk salah satu preman) kau mau-maunya di suruh membunuh hanya untuk membayar tagihan listrik memalukan." Ucap Syifa ketus Fauzi mengernyitkan dahi.


"Da-ri mana kau tau." Ucapnya tak percaya, Syifa membulatkan mata.


"Padahal aku cuma asal nebak." Batin Syifa heran.


"Iya aku ini premalam, eh bukan tapi mm Peramal iya." Ucap Syifa dengan pede.


Fauzi tersenyum-senyum ia paham jika Syifa mengibuli mereka, sedangkan preman hanya mengangguk percaya saja.


"Dan kau butuh uang buat beli kuota." Tebak Syifa, preman itu menggeleng.


"Oh salah ternyata." Batin Syifa.


"Saya butuh uang buat beli ponsel." Ujarnya dengan nada sok serius, Syifa melihat benda pipih terletak di kantung celana dan menyeringai.


"Cih kau menipu ku, tapi setidaknya aku akui kau pintar beralasan walaupun emang butuh kuota untuk menggunakan benda pipihmu itu." Ucap Syifa santai bersandar dibawah pohon


Lagi-lagi semua tercengang dengan penuturan Syifa yang tembus ke tujuan,


"Kenapa kau mengakuiku pintar padahal aku bodoh mau di suruh." Ucapnya dengan nada pelan.


"Tentu saja kau pintar cari uang buat beli kuota, kalau saya sih jual ponsel buat beli kuota." Ujar Syifa membuat semua saling pandang.


Krik


krik


"Buahahahhah, bagaimana bisa kau menjual ponsel buat beli kuota, lalu bagaimana kuotamu yang malang itu." Tanya bos preman.


"Tentu saja itu lebih baik dari pada kalian bisa membeli kuota tapi dengan cara yang salah itu dosa dan tak berkah." Ujar Syifa santai semua menunduk kecuali Fauzi yang hanya mendengarkan.


"Ups maafkan aku, kalian.." Ucap Syifa terhenti.


"Kami Muslim hanya saja sudah terlalu jauh, kami butuh uang dan ini pekerjaan kami." Ujar bosnya.


"Keluarga kalian membutuhkan uang halal, mereka percaya kalian, dekatkan diri kepada Allah."


Bagai tersambar petir dan tertusuk belati para preman semakin menunduk terlihat berkaca.


"Kami malu, kami terlalu jauh kami.." Ucapnya terpotong.


"Malu itu sebagian dari iman, tapi malu seperti inilah yang salah."


"Saya juga bukan manusia sempurna, malu karena dosa itu wajar tapi jangan karena malu kita enggan meminta ampun, kita enggan kembali ke jalannya, justru karena kita malu, kita banyak-banyak meminta ampun pada sang khalik." Ucap Fauzi.


"Sungguh Allah maha pengampun selama kita bersungguh-sungguh dalam bertaubat, saya pernah mendengar bahwa ketika seorang hamba bertaubat,


"Wahai malaikat, lihatlah hambaku ini, dia berdosa kemudian dia bertaubat dan memohon ampun kepada-Ku. Saksikanlah, Aku telah mengampuninya.”


"Dalam surat An-Nisa :110 "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tutur Fauzi.


Mereka terlihat menarik nafas dan mengucapkan terimakasih, Syifa memberikan alamat kantor Ridwan, mereka meminjamkan sepeda kepada Syifa dan Fauzi untuk menuju ponpes.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku masih bisa mengendalikan diri,,, perasaan apa tadi kenapa aku takut jika ia tau jati diriku, ah sudahlah."


__ADS_2