Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
65. Gombalan maut


__ADS_3

Pondok pesantren


Hari ini Syifa mengantar Rizky ke pondok karena urusan tertentu, kebetulan Ridwan dan orang tuanya sedang menghadiri meeting dengan klien hingga Syifa lah yang mengantarkan Rizky.


"Dek, kakak tunggu di masjid ya mau sholat dhuha." Ucap Syifa di angguki Rizky.


Sesampainya di masjid Syifa bertemu dengan santriwati, bukan kah harusnya ia sudah pulang? batin Syifa namun pikiran itu ia tepis agar segera melakukan sholat dhuha.


Syifa mendengar lantunan Ayat suci Al Qur'an dari mbak pondok yang suaranya sangat bagus, saking bagusnya Syifa jadi ingin tidur tapi ngga mungkin mau tidur di masjid.


"Shodzaqollahul 'adzim"


"Assalamu'alaikum mbak." Ucap Syifa memulai pembicaraan sedangkan mbak-mbak santri itu tersenyum.


"Wa'alaikumussalam." Jawabnya sambil memasukan Al Qur'annya ke dalam tas.


"Mm maaf sepertinya saya belum pernah melihat embak ya?" Tanya Syifa seperti ingin akrab dengannya.


"Iya saya bukan dari sini." Ucapnya dengan tersenyum manis, Syifa kagum dengan wajahnya yang berseri-seri.


"Kenalin namaku Asyifa." Ucap Syifa sembari mengulurkan tangannya.


"Namaku Najwa." Ucapnya tanpa ragu menerima uluran tangan Syifa dengan senyuman.


"Mmm ngomong-ngomong kenapa kamu di sini." Tanya Syifa.


"Aku ikut Abah ke sini," Ucapnya sembari tersenyum lagi-lagi Syifa hanya mengangguk.


"Kamu sendiri santriwati di sini?" Tanya Najwa.


"Oo tentu saja ...bukan hehe." Ucap Syifa tersenyum manis melihatkan lesung pipitnya. Najwa hanya geleng-geleng kepala.


"Suara kamu bagus." Ucap Syifa.


"Engga kok biasa aja." Ucap Najwa mengelak, karena keindahan hanya milik sang pencipta takutnya ia terbang lupa daratan jika harus berbangga.


Najwa? kalian yang masih ingat capter atas pasti tahu siapa sih Najwa. Yah dia Ning pondok Abahnya pengasuh di salah satu pondok di kota B teman dekatnya Kiyai Hakim, Najwa diam mengagumi putra Kiyai Hakim (Bab Apes)


"Ajari ya, ilmu tajwidku masih berantakan Ucap Syifa hingga Najwa melihat jam tak lama mengangguk.


Syifa membaca dan Najwa yang menyimak karena suara murrotal Syifa tak kalah bagus dengan Najwa, ia pun kagum, kadang seseorang yang bisa murrotal belum tentu bisa membenarkan tajwid jika di dasari nada.


Dan Syifa di suruh Najwa untuk membaca biasa tanpa nada qori' atau pun murrotal. Terbukti masih ada beberapa huruf yang harusnya di baca dengung dan samar-samar, tetapi pelan-pelan Najwa mengajari, sungguh Najwa sosok yang fasih Syifa jadi kagum dengannya.


"Asyi aku duluan ya, nanti dicari lagi sama abah." Ucap Najwa, Syifa mengangguk tak lupa berterimaksaih dan minta maaf karena merepotkan.


Sembari menunggu si bocil, Syifa mencoba membaca murrotal dengan berusaha membenarkan tajwidnya. Setiap Masjid terdapat pembatas shaf pria dan wanita, tanpa ia sadari suaranya terdengar oleh pria yang usai sholat dhuha.


"Aduh yang gini tadi panjangnya berapa ya?" Gumam Syifa pada diri sendiri.


"Jika seperti itu namanya Mad Wajib Muttashil, huruf Mad dan Hamzah bertemu dalam satu kata dibaca panjang 5 harokat." Ucap seseorang tiba-tiba dibalik pembatas yang tertutup kain.

__ADS_1


"Kang Santri ya?" Tebak Syifa hingga orang itu pun terkekeh.


"Tau aja kamu Fa." Ujarnya tersenyum-senyum, Syifa tadinya sudah mendekat jadi posisinya hanya terhalang pembatas.


"Fa?"


"Hm."


"Suara kamu bagus, tinggal Hukum tajwidnya aja yang perlu dibenahi sedikitt." Ucap Fauzi terlihat serius.


"Kalau begitu Ajari sedikit biar bisa." Ucap Syifa setelah sadar ia menutup mulutnya seolah baru sadar apa yang ia katakan.


Hening


"Engga bisa Fa." Jawab Fauzi.


"Kenapa?" Tanya Syifa heran biasanya Fauzi selalu senang jika dia meminta bantuan, ah kenapa Syifa jadi berharap begini?


"Karena saya dan kamu belum halal, nanti takut dosa jika saya qhilaf bagaimana?" Ucap Fauzi sedikit bicara becanda, aiihh.


"Yasudah ngapain di sini, cepat pergi." Usir Syifa ketus.


Hening


"Emang Fafa mau kalau saya ajarin?" Tanya Fauzi seolah serius padahal di balik pembatas dia sudah tersenyum-senyum entah apa maksudnya.


"Boleh.....Sekarang?" Jawab Syifa mengiyakan sekaligus menanyakan.


"Kapan?" Tanya Syifa polos, tetapi lain dengan Fauzi yang sesekali menahan tawa ketika mau bicara.


1 detik


2 detik


3 detik


"Setelah kamu jadi makmumku." Jawab Fauzi


"Ihhh gak jelas." Ucap Syifa dalam batinnya menyesali menunggu jawaban aneh itu.


"Kalau gitu saya tunjukkin hukum bacaan Nun Sukun atau Tanwin yang bertemu dengan salah satu huruf Idzhar dibaca JELAS Tanpa dengung, sama kayak yang fafa dengar tadi." Ucap Fauzi.


Sungguh gombalan maut ala santri hendak membawa Syifa terbang, beruntung sayapnya rontok jadi ngga bisa terbang deh, Syifa masih acuh tak acuh.


"Astaghfirullah kayaknya tadi ada yang ngomong tapi siapa ya? jadi merinding." Ucap Syifa sengaja memang.


"Gimana tadi jadi makmum atau nunggu?" Tanya Fauzi dengan nada sok serius.


"Nunggu aja lah." Ucap Syifa ketus.


"Kalau begitu tunggu saya jadi imam kamu." Ucap Fauzi tersenyum senyum di balik pembatas.

__ADS_1


"Imam itu tetangga saya." Jawab Syifa polos.


"Astaghfirullah."


Benar saja Fauzi langsung diam. Syifa tersenyum puas saat tidak ada lagi gombalan maut yang bisa jadi membawanya terbang dadakan yaa kalau jatuh di pelukan lahh kalau jatuh di jurang kan Na'udzubillah.


-


-


-


Rizky sudah menunggu dari luar jengah menatap Syifa seperti tengah memasang telinga untuk mendengar dari seberang, diam berpikir dalam otaknya masing-masing kan jadi aneh ngelihatinnya.


"Kakak masih lama engga?" Tanya Rizky memutar bola matanya jengah.


Syifa tersenyum kikuk dikala si bocil dengan tatapan keset kering, segeralah Syifa bergegas keluar.


"Sudah dek." Tanya Syifa.


"Sudah kak, kakak ngapain deket-deket sama kain itu." Ucap Rizky menyelidik lahh kain pun jadi masalah rupanya.


"Engg--" Belum juga sempat menjawab Rizky sudah mengalihkan pembicaraan.


"Kak Gus di sini juga to?" Tanya Rizky menyalami tangan Fauzi, Syifa? kenapa dia jadi kikuk begini.


"Kalian.." Ucap Rizky mengetuk dagu dengan telunjuknya matanya menyorot Syifa Fauzi bergantian seperti tengah mencari tersangka.


"Eh Ky kemarin jadi beli ikan Vanila nya?" Alih-alih Fauzi menatap Rizky sambil garuk tengkuk, supaya pertanyaan polos Rizky tidak muncul. Yang ada malah mimik sedih bin galau.


"Hiks hiks." Rizky seolah membuang air mata dengan tangannya mendramalisir memang.


"Ikannya setroke kemarin, dan berakhir tragis." Ucap Rizky sedangkan Syifa jadi menepuk dahinya.


"Lha kok bisa?" Tanya Fauzi serius.


"Ikan Rizky kemarin tenggelam di air, Rizky tolongin deh si ikannya setelah beberapa menit si ikan malah menghembuskan nafas terakhir." Celoteh bocil dengan pedenya.


1 detik hening


2 detik loding


3 detik Fauzi berkedip dan


"Hahhahahah.." Tawanya hingga memegangi perut, Syifa juga menunduk-nunduk menahan agar tawa tak lepas, sedangkan Rizky sudah menyipitkan mata.


Cep!


Seketika Syifa dan Fauzi diam bukan berarti ia takut tatapan Rizky melainkan di tempat lain ada yang sedang menatap arahnya. Syifa mengedarkan pandangan melihat Njwa dengan Ayahnya.


"Sepertinya Ayah Najwa seorang kiyai." Batin Syifa.

__ADS_1


__ADS_2