Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
79. Masih bertahan?


__ADS_3

5 Tahun kemudian, Kairo...


Sosok pria nyaris sempurna berpawakan tinggi tegap, kekar, jangan lupa hidung yang mancung, mata bulat dan bibir sexy kulit putih, pria itu berwajah ke arab an. Lima tahun terasa berubah entah makanan dari sini?


Atau memang dia kerap mengikuti olah raga rutin di sini? dan jangan lupa sikap dinginnya membuat kaum hawa di kairo banyak memendam rasa padanya. Namun tetap saja sikapnya yang datar bak papan berjalan itu hanya demi menjaga sang pujaan hatinya.


Hah, Syifa. Aku Rindu


Fauzi masih duduk di tepi ranjang, katanya sih jika Abinya mau menyusul ke kairo padahal bisa saja jika Fauzi pulang dan Kiyai Hakim tinggal menunggu di ndalem atau menjemput ke bandara.


Tapi? ada hal yang perlu di bicarakan kata beliau, hal itu sudah pasti kepulangan Fauzi sudah di undur.


Kalimat dzikir senantiasa ia ucapkan. Pikirannya menerawang jauh. Apa Syifa masih menunggunya? rasanya Fauzi ingin menyewa pintu doraemon saat ini agar secepatnya memberi cincin lamaran untuknya.


"Zil Abimu datang." Ucap Paman Hanan. Fauzi tersenyum tipis dan mengangguk bukannya tidak sopan melainkan ia bicara seperlunya saja. Hanan hanya geleng-geleng melihat tingkah ponakannya.


"Assalamu'alaikum Abi," Ucap Fauzi mencium tangan Hakim dan memeluknya.


"Wa'alaikumussalam, sehat nak." Tanya Hakim dengan basa-basi.


"Alhamdulillah." Jawab Fauzi kemudian semua duduk , nampak Paman dan Abi nya tengah mengobrol Fauzi hanya menanggapinya dengan senyum walaupun tak paham. Kan kenapa begini.


Hening


"Zil, Usiamu sudah cukup...." Ucap Hakim sembari tersenyum.


Fauzi hanya mangguk-mangguk rasanya apa arti cukup? cukup tua atau cukup muda? atau ah sudahlah..23 Tahun.


"Kamu ini anak semata wayang Abi, sudahkah siap untuk membimbing rumah tangga?" Tanya Abinya dengan senyuman.


Deg


"Maksud Abi?" Tanya Fauzi dengan tatapan heran, ia takut? Apa Abi nya menginginkan dia menikah? tapi kenapa harus mendadak begini. Bahkan Hakim belum mengetahui jika Fauzi mempunyai pujaan tersendiri.


"Abi ini sudah tua, Abi juga ingin seperti pamanmu ini, yang mempunyai cucu.. Kamu putra semata wayangnya Abi." Ucap Hakim dengan melihat cucu-cucu Hanan.


Benar saja Hanan yang mempunyai anak 2 sudah mempunyai satu cucu, putranya dulu nikah muda, lah tapi itu bukan Fauzi kan? Apa iya ada niat tersembunyi, Astaghfirullah tidak boleh seperti itu Zi.


"...." Diam yang bisa Fauzi lakukan dan meunduk.


"Kamu masih ingat putri Kiyai Hussein?" Tanya Hakim.


"Maksudnya Ning Najwa." Ucap Fauzi mengingat-ingat. Hakim tersenyum namun Fauzi masih menunduk.


"Iya, menurutmu bagaimana putrinya?" Tanya Abi. Maksudnya apa coba?


"Eumm...Zildan nggak tahu Abi." Terus terang Fauzi bukan tipe menilai seseorang ia hanya sebatas mengenal, tapi tidak ya dengan Syifa.


Najwa, yah dia juga kuliah di kairo namun seminggu lalu dia sudah pulang ke indonesia, Hussein yang mengetahui jika putrinya mempunyai rasa kepada Fauzi berinisiatif melamarkan putrinya untuk Fauzi. Tepatnya setelah pulang dari kairo.


Toh juga orang tua mereka bersahabat sejak lama.


Bukan apa, bahkan khadijah pun dulu pernah melamar Rasulullah walaupun menggunakan perantara. Ayah mana yang tidak ingin melihat putrinya bahagia dengan cintanya, yah semoga Fauzi merasakan yang sama, semoga.


"Abi dan Kiyai Hussein dulu teman dekat, seminggu lalu Abahnya melamarkan putrinya untukmu." Ucap Hakim seolah tanpa beban.


Deg

__ADS_1


Bibir Fauzi kelu, seakan pita suaranya terikat kencang hingga ia tak bisa berkata, dia tahu jika Abah dan Abi berteman dekat bahkan sahabat. Fauzi dapat melihat bahagianya Abi nya jika Abah Hussein menjadi besannya.


Astaghfirullah apa ia akan menolak permintaan Abi nya, lalu bagaimana dengan hatinya yang sudah ada nama Syifa. Ia bahkan tidak pernah di mintai apapun, ini pertama kalinya dia di minta untuk menikah.


Ini tidak benar, jikapun Fauzi menerima ia akan menyakiti berbagai pihak yakni hatinya dan juga perasaan Syifa. Lalu? jika ia menerima sama saja ia mempermainkan cinta Najwa, ah kenapa jadi serumit ini....


"Kim, anak kamu itu belum siap untuk nikah biarkan dia memikirkan dengan matang." Ucap Hanan.


"Habisnya cucumu itu lucu ya." Ucap Hakim seperti mengharapkan kehadiran cucu di usia yang sudah senja.


Fauzi hanya tersenyum tipis, siapa yang tahu jika hatinya tengah dilanda gundah.


"Abi, Zildan mau nanya sebelum memutuskan." Ucap Fauzi mantap.


Kiyai Hakim tersenyum mengangguk, sedangkan Fauzi sudah menutup matanya ia mengatakan apa yang ada dipikirannya.


"Apa pernikahan ini berkaitan dengan Nazar?"


_________________


Fauzi memilih berjalan-jalan dulu untuk menyegarkan otaknya yang serasa ingin meledak. Bagaimanapun juga ia tetap Fauzi yang lemah jika mengenai perasaan.


Haruskah dia senang? Dulu dia mempunyai perasaan kagum dengan Ning Najwa tapi jujur itu hanya sebatas kagum, Demi Allah..Lalu hadirlah Syifa yang mencairkan dinginnya, sekali tertabrak langsung terpikat.


Cinta karena tabrakan


Fauzi terkekeh sendiri mengingat dia sering tertabrak atau di tabrak oleh Syifa yah si gadis yang dia kira santri. Namun apalah daya ia yang berhasil mencuri perhatian sikapnya.


Bagaimana denganmu di sana?


Atau saya yang terlalu berharap?


Demi Allah, namamu selalu ku sebut di hadapannya.


Saya tidak dapat menyita jarak


Saya juga tidak mampu memberi kabar


Bagaimana denganmu


Apa masih bertahan?


Berharap tanpa kepastian


Menunggu tanpa alasan


Ataukah ini alasannya


Tanpa terikat akan janji..


Baiklah ia kacau saat ini, bagaimana jika dia mengorbankan kebahagiaannya untuk orang tuanya. Lalu ia sendiri menunggu kabar dari Syifa siapa tahu ada kabar dari sana.


Egois bukan?


Katakan mereka saling egois, menunggu tanpa kabar kepastian dan tentu saja mereka tidak mengerti jalan pikirnya masing-masing. Seharusnya mudah jika Fauzi mengabari Syifa toh juga dia punya ponsel.


Ia juga harus tahu, jika Syifa pun sosok gengsi jika harus mengabari cowok terlebih dahulu, iya kan dia cuek. Namun menyimpan sejuta pertanyaan.

__ADS_1


Tapi bukan apa, Fauzi hanya ingin benar-benar membuktikan cintanya dengan cara langsung melamar! Tanpa harus kabar-kabaran sama saja ia memberi banyak harapan jika begitu.


Bruggg!!


Keduanya tersungkur, Fauzi melamun dan orang tadi terburu-buru. Sama aja kan batu ketemu batu jadi saling jatuh. Fauzi mengerinyit seperti kenal dengan pria dihadapannya ini.


Tapi siapa? Dia takut jika harus berhadapan dengan pria yang sama-sama berotot, lucu bukan? hahaha bagaimanapun dia bukan Syifa yang pandai memainkan benda tajam.


Nah kan Syifa lagi...


"Emmm Gus Fauzi ya?" Tebak orang itu membuat yakin jika Fauzi mengenalnya.


"Kang Faqih?" Tanya Fauzi lirih.


"MasyaAllah masih ingat ya sampeyan Gus hehe." Ucap Faqih dengan senyum khas orang kangen.


Yah Faqih yang juga melanjutkan pendidikan di sana baru saja ketemu sama Fauzi. Memang kita itu tidak tahu rencana Allah. Buktinya setelah 5 tahun di kota yang sama mereka baru di pertemukan, itupun Faqih yang berencana hendak balik ke Indonesia.


"Jadi ini beneran sampeyan?" Tanya Fauzi tak percaya, Faqih ini semakin ngganteng dengan bulu halus di dagu nya. Tapi tingginya dibalap Fauzi hehe.


"Sampeyan juga, bikin pangkling." Ucap Faqih, keduanya pun tertawa.


1 detik tertawa


2 detik menggeleng pelan


3 detik hening


krik..


kriikk..


eh btw kairo ada jangkrik kah?


"Gus gimana hubungan njenengan sama Syifa." Tanya Faqih.


Deg...


________________


Part ini aku bangetttt😌


Kalian mau Syifa Fauzi ketemu di??


a.Pelaminan


b.Kenangan


Sejauh ini Alhamdulillah kalian masih mau ngikuti cerita halu sya yang ambrul adul yaa..saya jadi heran sendiri ih😂


bagusnya dimana coba...


hayoo komen-komen biar nanti saya lanjutin kan karena kalian saya semangat wkwkwk


Salam dariku


Si Pemalas Sejuta Impian

__ADS_1


__ADS_2