
Jika part sebelum"nya Perjuangan Syifa menolak lamaran Zadid, kita lihat apa perjuangan Fauzi untuk Syifa yaaa..biar adill
simak teruss...
______________
Di tempat lain...
"Undangannya sudah siap?" Tanya Fauzi.
"Kamu ini udah nggak sabar to mau kelonan hahaha." Ejek Andre sahabat Fauzi yang ikut andil mengundang.
(siapa aja kira kira yang di undang? Ini para readres mau di undang?)
Fauzi menarik peci Andre hingga menutupi si wajah yang katanya tampan itu. Katanya sihh. Tak lama Najwa pulang dari pembelian kebutuhan penting buat nikah besok.
"Alhamdulillah beres", ucap Najwa dengan tulus. Fauzi merasa sungkan karena orang yang baru ia sakiti bahkan ikut membantu dalam pernikahannya, sungguh lapang sekali.
Flashback on
Fauzi yang memunculkan wajahnya di pesantren setelah beberapa minggu lalu tidak ada kabar, kini dia berhadapan dengan Kiyai Hussein dan putrinya tak lupa keluarganya.
"Jadi kamu benar-benar menolak lamaran ini le?" Tanya Hussein, Fauzi mengangguk ia harus membuktikan cintanya.
Syifa saja berani menolak sepuluh orang hanya demi dirinya, lalu kenapa harus takut menolak satu orang demi Syifa nya...Meskipun banyak yang mengidamkan sosok seperti Gus Fauzi tetapi takdirnya seolah hanya dengan Syifa.
"Jika sudah tidak ada apa-apa lagi, Saya mohon undur diri Abah, murid saya sudah menunggu." Ucap Fauzi dibalas anggukan oleh semuanya.
Fauzi mencium tangan semuanya dan menangkupkan kedua tangan di depan dada saat melihat Najwa yang hanya menunduk.
Lagi- lagi Fauzi menjadi tidak enak hanya melihat tatapan kecewa Najwa.
Tapii...
Sudahlah..
"Gus Fauzi." Ucap dari belakang saat Fauzi sampai di samping masjid.
"Iya, Ning." Tepat sekali dia Najwa yang sudah kebanjiran air mata uh Fauzi lagi-lagi menyakiti seseorang.
"Njenengan benar-benar menolak saya, Gus?" Tanya Najwa, disaat para putra kiyai lain bahkan santri tauladan melamar Ning Najwa, kini dia yang mendapat penolakan dari Gus Fauzi.
"Hm." Sudahlah jangan hiraukan sikap Fauzi, dia menjelma sebagai papan bablak hanya menutupi rasa bersalahnya.
"Tapi alasannya apa, Gus?" Tanya Najwa.
"Maaf saya tidak bisa menerima karena saya tidak mencintai sampeyan, Ning." Jujur Fauzi.
"Tapi, bukannya cinta akan bertumbuh seiring berjalannya waktu, saya terima jika saya yang mencintai njenengan lebih dulu." Ucap Najwa belum yakin akan jawaban Fauzi.
"Maaf." Fauzi yang tak pernah ngomong panjang lebar sebelum lima tahun yang lalu, kini hanya merangkai kata-kata saja, entah dia jadi semakin merasa bersalah.
Satu sisi dia tidak ingin membuat terluka, namun sisi lain jika dia menerima lamaran itu batinya akan tersiksa, lebih lagi ada hati yang harus ia jaga, ada janji yang membawanya kembali, dan ada BUKTI yang membuatnya bertahan sampai detik ini.
"Apa kurangnya saya, Gus"
"Apa kelebihan wanita itu?" Tanya Najwa dengan nada tercekat. Dosa kah ia menangis hanya karena makhluk?
"Kalian semua tidak ada kekurangan menurut saya, tapi yang namanya manusia tetap saja mempunyai kesalahan terutama dalam memilih." Ujar Fauzi.
"Apa wanita itu juga hafidzah?." Tanya Najwa.
__ADS_1
Fauzi menggeleng...
"Apa wanita itu pandai dalam segi agama?" Tanya Najwa,
Fauzi teringat jika Syifa adalah sosok yang kejam, ia benci wanita kejam tapi cintanya kepada wanita itu mengalahkan perasaan bencinya. Lagi-lagi gelengan.
"Lalu kenapa memilih wanita yang tidak lebih baik darinya?" Tanya Najwa spontan, entah iblis mana yang membuatnya merasa makhluk termulia.
"Astaghfirullah, Ning boleh hafidzah Qur'an tapi... Jangan hanya karena itu membuatmu lupa jika di atas langit masih ada langit." Jawab Fauzi tak menyangka.
"Tapi itu kenyataannya." Ucap Najwa mungkin dia belum sadar.
"Yah, Sampeyan memang tidak ada kurangnya, Ning memang lebih baik lebih cantik dan bahkan lebih sempurna dari pada Dia, tapi perlu ning tahu.." Fauzi menghela nafas.
"Saya mencintainya."
Deg
"Hiks." Isak Najwa sakit rasanya.
"Saya tidak bisa menerima lamaranmu karena saya sudah menaruh hati untuk seseorang, lima tahun lalu tepatnya saya mencintainya bahkan lebih dari itu setelah sekian banyak jarak, perasaan saya tidak berubah...
"Saya menuyuruh Dia untuk menunggu, lalu pantaskah jika saya mengingkari sendiri? Dia hanya mengajukan Bukti dan itu yang membuat saya bertahan untuknya." Uwidihh nih kang santri sudah belajar bicara kayaknya.
Abisnya kayak sepur kelinci bicaranya...
"Saya permisi, Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi.
Setelah sepersekian langkah berjalan Najwa menghentikan langkah Fauzi.
"Maaf Saya tidak bermaksud merendahkan orang yang njenengan cinta, tapi saya sudah tahu semua cerita itu dari Kang Faqih, saya akan membantu rencana supaya kejutan untuknya bisa berjalan lancar." Ucap Najwa.
Hafidzah pun bisa qhilaf pada masanya, satu lagi emosi bisa menghancurkan dinding kesabaran jika kita tidak bisa menahan gejolak itu. Menahan amarah dan perasaan itu kelemahan.
"Terimakasih." Ucap Fauzi yang awalnya ragu, tapi ia tepis.
Semua merencanakan tepat dua hari lalu, setelah meminta izin dan menceritakan semua kepada Abi Ummi Ayah dan Bunda tentu saja berkat bantuan Bang Ridwan, uhh dia kakak ipar idaman yang segera di tinggal nikah adiknya.
Fauzi doakan kau tidak lama menjomblo bang...
Flashback off
"Alhamdulillah, terimakasih maaf merepotkan." Ujar Fauzi sungkan, ia takut jika Najwa tersakiti akan ini.
Semua kebutuhan Syifa sudah Najwa selesaikan dengan rapi tanpa ada halangan apapun,.aktingnya juga lumayan hehe.
"Tidak apa Gus santai saja to." Ucap Najwa sambil tersenyum.
"Saya memang masih cinta sama njenengan, tapi saya sadar jika mencintai tanpa di cinta itu hanya menimbulkan luka."
"Bagi saya, Nafsu itu semata dan Cinta itu nyata, Cinta saya ke njenengan adalah suatu keikhlasan merelakan njenengan bahagia sama yang lain."
"Siapa bilang cinta harus saling memiliki, tidak! sahabat fillah, Cinta adalah ikhlas jika tidak menerima, cinta adalah fitrah, cinta adalah keindahan yang di ukir dimana semua itu penilaian akan hati. Bukan lagi logika." Batin Najwa.
"Lah ini undangannya di tulis kata-kata apa?" Tanya Andre membuyarkan lamunan Najwa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Faqih yang baru saja tiba.
"Wa'alaikumussalam," Jawab yang dengar.
"Gimana sudah belum kang?" Tanya Andre.
__ADS_1
"InsyaAllah rebes." Jawab Faqih becanda.
"Rebes makanan apa itu?" Tanya Andre.
"Beress ndre beress." Celetuk Fauzi semuapun tertawa.
Andre sedari tadi memang lapar, ia ingin segera mengisi perutnya yang sudah terlihat kurus itu.
"Jadi ini gimana undangannya?" Tanya Najwa. Semua terdiam sejenak.
"Yang jelas itu di tuliskan surah Ar-rum ayat 21, lalu kata-katanya apa ya..." Ucap Fauzi.
"Sebagian dari tanda akan kemaha-esaan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya adalah bahwasanya Allah menciptakan kalian dari jenis kalian berupa perempuan sebagai istri, yang tinggal dengan kalian karena pernikahan, yang kalian lembut kepada istri-istri kalian dan condong kepadanya. Allah jadikan di antara kalian kecintaan, simpati dan kasih sayang, sungguh itu semua adalah tanda yang jelas akan kemaha esaaan Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya bagi kaum yang menjalankan akal mereka dan memikirkannya." Ucap panjang Faqih, tapi masih si sambung Najwa.
" Tambahan "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir,” yaitu mereka yang mengaktifkan akal pikiran mereka, merenungkan ayat-ayat Allah dan berpindah (dalam merenung) dari sesuatu ke suatu yang lain." Imbuh Najwa, Keduanya saling tersenyum.
"Baiklah jangan lupa bawa amplop nyumbang ya buat semua, dengan cara Vote hahaha." Ujar Andre menampilkan senyum tergula jawanya..
(Uhuyy pinter kamu ndre, gajimu naik bulan ini haha) author.
"Daann lagii,, sekedar tambahan, buat yang ingin menghadiri undangan dimohon membawa kresek buat bungkus snack. Buat oleh-oleh di rumah." Ucap Andre.
(Wah aku ikut dateng buat bungkusin sop boleh?) author lola.
"Mau sekalian dibungkus es buah nya juga monggo, asalkan jangan di bawa pulang mempelai wanitanya, karena mempelai pria tidak siap pisah untuk yang kedua kalinya." Sambung Andre dengan mengejek.
"Ra genep." Ketus Fauzi.
Plak!!!
(....)
"Gus cepetan lari, noh ada Syifa." Ucap Faqih, spontan Fauzi berlari tanpa melihat Syifa karena takut rencana tidak jalan.
"Assalamu'alaikum." Sapa Syifa.
"Wa'alaikumussalam, Fa." Jawab yang mendengarkan.
"Rizky mana?" Tanya Syifa yang niat menjemput adiknya. Beruntung Rizky sudah berjalan di sisi lain.
"Aku di sini kakak, oh ya kak Faqih salam kan untuk kak Gu.. mmppphh." Ucap Rizky tapi dibekap Andre hingga Rizky mendelik kesal.
Gawat ini jika Rizky membocorkan bisa gagal rencananya, bukannya ember tapi emang Rizky orangnya jujur.
"Kak? Gusiku sakit huhhuhu." Ucap Andre khas cengiran kudanya. Kemudian mengkode Rizky lagi agar bocah itu tidak membocorkan rahasianya.
"Hehehe hampir saja." Gumam Rizky menggaruk tengkuk.
"Hampir apanya dek?" Tanya Syifa mengerinyit heran.
"Ah itu hampir saja, kak Andre ompong gara-gara gusinya sakit hahah iya kan kak." Ucap Rizky dengan enteng. Jujur Andre kesal setengah hidup huh kalo bukan rencana Fauzi udah dia hukum tuh muridnya Fauzi.
"Ooo" Syifa mangguk-mangguk.
_________________
Hayooo adakah yang mau dateng???
Komen dong kalo mau dateng hehe...
Salam dariku
__ADS_1
Si Pemalas Sejuta Impian