Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Jatuh


__ADS_3

Kalaupun ada jalan pintas dalam menyelesaikan rumus takdir tentu saja sejuta hamba akan menyegerakan cara tersebut, tapi letak masalahnya bukan di jalan pintas..


Tapi lebih ke menyikapi takdir.


Seseorang yang penah amnesia mungkin akan lupa dengan siapa saja ia berkisah, tapi tidak dengan apa yang ia hafal dan ia ketahui, dan itu salah satu ke ajaiban Allah. Yang Fauzi yakin dari ini ialah istrinya yang berubah drastis.


Ia lebih anggun dan kalem bahkan terlalu canggung dengan dirinya, Fauzi sudah menjelaskan bahkan beberapa kali menceritakan atau melakukan terapi ingatan dengan cara mengajaknya ke tempat yang berkesan namun Allah belum menghendaki.


Memandang lama saat istrinya terlelap adalah kegiatan Fauzi selama Syifa masih mengalami Amnesia ia suami yang sabar sekalipun tiga minggu tinggal berdua bersamanya Syifa belum pernah membuka diri.


"Ya Allah beri kebahagiaan selalu kepada istri saya, Aamiin." Setelah berdoa demikian Fauzi mengelus pelan jilbab Syifa dan memposisikan dirinya tidur di samping Syifa.


Pagi hari.


"Terus terus gimana mas." Tanya Syifa antusias. Sesekali keduanya melirik ke si kembar yang Asyik menggambar bersama Annisa.


Tentang Yusuf dan killa, mereka sangat suka dengan Annisa meski sosok yusuf yang irit bicara tapi Syifa tau jika putranya juga bahagia.


"Ya aku kenal kamu lebih ke tabrakannya Fa." Kata Fauzi setelah menyeruput teh.


"Emmm..kok gitu?"


"Kita ini waktu kecil sering tabrakan dadakan, intinya setiap tabrakan kamu yang paling parag jatuhnya." Pandangan Fauzi mengarah ke masalalu.


"Sering banget?" Syifa tak percaya.


"Iya Fa, dulu kamu itu kenceng banget naik motor eh pas aku nyabrang hampir aja ketabrak, tapi yang jatuh kamulah..." Fauzi tertawa. "Bahkan pas kunjungan acara di sekolahmu, lagi lagi ketabrak lagi sama kamu."


Syifa masih serius mendengarkan.


"Sayangnya waktu itu adalah kita belum mahram ya fa, Tapi sinyal jodoh lah jadi paham ada takdir di masa depan." Akhir kata Fauzi.


"Se seru itu Mas?"


Fauzi mengangguk,


"Abi Bunda, yusuf nggak mau di ajak main." Rajuk killa membuat kedua suami istri itu saling melempar tanya dengan isyarat.


"Ngadu." Jawab Yusuf cuek.


"Sudah sudah kalau yusuf nggak mau main sama kakak aja ya?" Tawar Annisa, tapi Killa yang memiliki sifat keras kepala itu menggeleng pelan


"Nggak mau!! Kila mau yusuf ikut."


"Mainan perempuan." Kata Yusuf memilih pergi, memang aneh dengan sikapnya yang suka berubah siklus.


"Ih sebeel." lirih kila.


"Kil, sama kak nisa aja, kita keliling Pesantren mau?" Tanya Annisa membuat killa mengangguk dan menurut.


"Bunda Abi, kami keluar dulu Assalamu'alaikum." Ucap Annisa dan Killa.


"Wa'alaikumussalam."


Syifa melirik ke arah pintu yang tadi Yusuf masuki, anak itu cenderung diam dan juga tidak suka di paksa meski sekuat apapun Syifa mengajarkan teori, hanya saja kalo bersamanya barulah anak itu menurut.


"Atas sikap yusuf... maaf."


"Tidak perlu meminta maaf Fa, aku ngerti." Kalimat Fauzi.


"Kita bisa kan didik lagi seperti adat di pesantren ini." Ucap Fauzi yang membuat Syifa menggeleng.

__ADS_1


"Yusuf nggak mau mas, dia kepengen sekolah tapi bukan mondok..Syifa tau betul jika ia memutuskan sesuatu maka keputusan itu akan menjadi prinsip." Kata Syifa.


"Kita bujuk dia."


****


Fauzi dan Syifa memasuki kamar Yusuf Killa dan Nisa, pertama yang mereka lihat seketika membuat Syifa terkejut.


"Astaghfirullah."


Yusuf duduk di lantai tersandar di kursi dengan nafas terengah, Syifa yang panik langsung membuat Fauzi sigap membopong tubuh Yusuf untuk ke rumah sakit.


"Huh..yu..suf nggak mau.."


"Nak kamu harus nurut sama Abi." Kata Fauzi.


Yusuf menggeleng ia terus merontakkan kaki dan juga badan yang terpaksa Fauzi turunkan, Syifa hanya menggeleng kepala atas sikap Yusuf yang masih kecil tapi ngeyel, bagaimana nanti dewasanya.


"Yusuf punya asma."


Fauzi menoleh ke arah Syifa yang mengambilkan minum untuk Yusuf.


yusuf yang sudah bersandar di kasur mulai bernafas dengan tenang dan teratur.


"Kita segera konsul sama dokter fa."


****


Sore hari yang membuat Syifa nekat memanjat pohon ialah buah blimbing, entahlah itu terlihat menggiurkan sekali berbentuk bintang campur sambal. Dan entah kenapa ia memilih memanjat sendiri dari pada meminta tolong ke suami.


Dengan setelan celana kulot berpadu kaos dan jilbab Syifa mulai menaiki pohon, memang tidak tahu cara pikirnya.


ia sudah mendapat dua berniat untuk turun dari sana, nahasnya kaki satunya salah tempat melangkah, walhasil ia terjatuh dengan benturan di kepala yang cukup keras hingga cairan merah mengalir.


"BUNDAaaa hiks hiks.," Teriak killa yang membuat Annisa datang, dengan raut kaget karena Killa sudah mengguncang tubuh Bundanya yang pingsan.


Sontak Annisa berlari ke masjid pondok, yang masih banyak Ustadz.


"Ehh ada ning nisa nih," Celetuk Rizal.


"Kok nangis?" Tanya Ustadz Rizal lagi.


"Abi nisa mana ust."


"Gus???" Teriak Rizal membuat Ustadz ustad lain membekap mulut si ember itu. Astaghfirullah.


Fauzi yang baru keluar dari pintu masjid menghampiri Annisa dan tangannya langsung di tarik oleh Annisa.


"Kenapa?"


"Bunda abi." Lirih annisa, tangannya mengusap air matanya.


"Bunda kenapa?" Tanya Fauzi langsung, ia ikut mempercepat langkah.


"Ya Allah faa." Seketika tubuh fauzi lemah melihat ini, ia mempercepat gerakan untuk membawa Syifa ke ndalem. Di ikuti dua putrinya.


"UMI UMI..." Teriak Fauzi seperti nada khawatir.


"Lhoh Syifa kenapa?" Kaget umi, "Umi telfon dokter Pesantren dulu."


*****

__ADS_1


Dokter itu tersenyum ke arah umi Fatimah, "Lukanya sudah saya bersihkan, kalau ada yang mengkhawatirkan segera bawa ke rumah sakit." Kata dokter itu. Setelah usai dengan urusan ia melangkah pergi.


"Kok bisa seperti ini sih Zi."


"Fauzi nggak tau Umi,"


"Biarkan ia istirahat dulu, Umi bantu ngurus anak anak ya?" Tawar Umi yang membuat Fauzi menggeleng keras, takut Uminya kecapekan.


"Fauzi bisa sendiri kok."


*****


Malam hari, Syifa yang sudah tersadar melirik Fauzi yang sibuk berjalan ke sana kemari dengan tatapan yang sulit di artikan oleh siapapun.


Pria ini tidak asing baginya.


"Aduh.."


"Fa??"


Duduk di samping Syifa sembari mengecek dahi Syifa yang berkeringat lebih, "Kamu istirahat lagi ya."


"Kepalaku berat banget.." Lirih Syifa mencengkram kepalanya, darah yang baru saja tertutup perban itu kembali mengalir merah banyak.


"Fa.."


"Sakit..."


Fauzi mengelus bahu Syifa pelan, dengan rasa khawatir namun tak bertingkah konyol. "Aku panggil dokter mau?"


Syifa menggeleng keras. "Besok aja."


bak sesuatu benda yang menghujam berat kepalanya, dengan segala apa yang di bayangkannya, Syifa terpejam erat dengan Fauzi yang membersihkan lukanya. Malam itu malam yang sebentar bagi Syifa dan juga malam terpanjang bagi Fauzi yang terus mengecek kondisi Syifa.


Berulang kali pejaman Syifa meringiskan sesuatu yang tidak bisa membuat Fauzi tidur semalam, ia ingin segera pagi.


*****


Dengan siap siaga Fauzi sudah siap meminta sopir Pesantren mengantarnya nanti, kaki jenjangnya memasuki kamar ia akan bersiap subuh dulu tanpa melirik ke arah dimana ada sesorang yang mengintai dengan segala pertanyaan dan juga kalimatnya di pagi hari.


Namun Fauzi sudah memasuki kamar mandi terlebih dahulu, sampai selang sepuluh menit sosok Fauzi keluar dengan raut segar wajah yang basah terkena air wudhu, ia mencari letak peci.


Rupanya yang tak ia sadari sedari tadi ada sosok yang dengan haru menatapnya tanpa kata. Sampai di detik selanjutnya kalimat itu muncul bersamaan Fauzi yang mengenakan peci di kepala.


"Kang Santri..." Lirih.


Deg.


*


zz


zz


zz


makasih spamnya


dan nungguin, suer baru sempet UP..doain semangat kerjanya iya! semangat kalian juga.


ada berapa sih yang masih penasaran dengan SF? hiihi gaje yaudah gapapa.

__ADS_1


Jadikan Al-Qur'an bacaan utama iya....


See u


__ADS_2