
Rupanya yang tak ia sadari sedari tadi ada sosok yang dengan haru menatapnya tanpa kata. Sampai di detik selanjutnya kalimat itu muncul bersamaan Fauzi yang mengenakan peci di kepala.
"Kang Santri..." Lirihnya.
Deg.
Fauzi menoleh ke arah belakang di kamar tidur tepatnya sosok yang tak lain istrinya dengan perban di kepala kini menatapnya dengan tatapan yang sangat sangat sulit di artikan. Berdiri dengan hati yang bertanya-tanya adalah gambaran fauzi.
"Siapa tadi?" Tanya Fauzi lagi.
"Kang Santri." Jawab Syifa masih menatap Fauzi.
"ehm Sekali lagi Fa?" Ulang Fauzi berjalan ke arah Syifa
Syifa mendongak meski nyeri di kepala masih amat terasa, jelas ia lihat pria di hadapannya ini terlihat terharu dengan mata memerah.
"Kang Santri."
"K-kamu inget aku Fa?" Fauzi memposisikan diri jongkok dengan mengenggam tangan Syifa, lagi lagi senyum haru itu keluar dari mulut Fauzi dari anggukan Syifa.
"Alhamdulillah." Lirih Fauzi mengecup tangan Syifa haru, benar benar kejutan yang membuahkan hasil, semalam Fauzi tidak bisa tidur karena badan Syifa yang panas dingin tapi entah kenapa paginya ia mendapat senyum itu lagi.
"Maaf." Kata itu keluar dari mulut Syifa yang membuat Fauzi mendongak, ia mendudukkan diri di sisi Syifa.
"Kenapa minta maaf?"
"Maaf terlalu lama mengingat." Lirih Syifa menunduk, Fauzi tersenyum membawa Syifa kedalam dekapan sedangkan Syifa membalas erat.
"Terimakasih." Kata Fauzi.
"Untuk?"
"Sudah kembali."
"Terimakasih, sudah menunggu." Ucap Syifa membuat Fauzi tersenyum.
Syifa semalam yang tersadar mendadak merasa nyeri di kepala, mimpi itu seolah ialah masalalu ia menemukan kisah dimana masalalunya dan juga pertemuan antara dirinya dan Fauzi sampai di titik ia berpisah mengerikan di jembatan.
"Kenapa tidak bilang."
"Apanya,?"
"Aku pembunuh. Pembunuh yang berhasil membuat Gus jatuh cinta, bahkan pernah nyelametin aku meski benci sekali dengan perbuatanku sendiri." Kata Syifa masih bersandar pada dada bidang Fauzi, dengan begini ia tahu bahwa jantung Fauzi bertabuh lebih kencang.
__ADS_1
"Semua itu masalalu Fa. Kamu ingatkan kalimat ini, bahwa surga itu di isi oleh pada pendosa yang bertaubat, kita sama sama punya dosa tapi kita juga punya do'a kan? Mari kita berdoa agar kelak kita memang satu surga."
Syifa mendongak seketika manik keduanya bertemu.
"Tapi..."
"Fa.. tujuan hidup kita itu akhirat bukan masalalu." Seperti sebelas tahun lalu tatapan itu masih teduh, masih penuh kasih sayang dan juga tatapan rindu.
Syifa kembali menyembunyikan kepalanya.
"Ana ukhibuka fillah kang santri." Gumamnya.
"Apa Fa... ngomong apa?"
"Nggak ada pengulangan!!"
Fauzi tersenyum tipis kepalanya menoleh ke arah jarum jam lantas menepuk dahi, "Astaghfirullah kelewat subuh jamaah." Gumamnya. Lantas Syifa melepas dekapannya kemudian duduk cemberut.
"Kenapa?" Tanya Fauzi keheranan.
"Belum apa-apa udah bikin suami telat sholat subuh jama'ah gimana mau masuk surga?" Syifa berujar sembari menunduk.
Fauzi tersenyum, tangannya terulur mengangkat dagu Syifa untuk menatapnya dalam.
"Barangkali Allah meminta agar kita berdua saja yang berjama'ah? Sudah lama juga kan?" Tanya Fauzi membuat Syifa mengangguk malu-malu.
"Masih sakit?"
"Kepala Syifa sedikit nyeri."
Fauzi menunduk sebentar. "Kalo belum kuat berdiri, duduk aja."
"Syifa kuat kok." Elak Syifa membuat Fauzi terkekeh sejenak, keras kepalanya masih rupanya.
****
"Assalamu'alaikum warrahmatullah."
Usai melakukan tahiyyat akhir dan salam Syifa mengecup punggung tangan Fauzi di susul Fauzi mengecup kening Syifa.
"Kenapa ngga sebulan lalu aja Syifa kebentur." Gumam Syifa membuat Fauzi yang tengah dzikir menoleh, lantas meminta Syifa duduk disebelahnya.
"Kenapa Kang?"
__ADS_1
"Jangan bicara seperti tadi ya," Kata Fauzi.
"Kan bener, Syifa mati matian berusaha inget tapi nggak ada hasil, sedangkan kemarin kepala Syifa kebentur langsung ingat pas sadarnya."
"Kuasa Allah datang di sore kemarin Fa, harusnya kita bersyukur bukan malah menyalahkan takdir. Barangkali ada rencana lain dari-Nya."
"Astaghfirullah jadi Syifa salah?" Tanya Syifa konyol, Fauzi menggeleng kepala dan tersenyum-senyum. Entahlah bahagia yang tak bisa ia ucapkan di depan Syifa kali ini.
Syifa yang keras kepala dan polos sangat ia rindukan.
Fauzi mengadahkan tangan diikuti oleh Syifa, sampai mengusap ke seluruh wajah yang membuat Syifa mengikuti juga.
"Doa kang santri apa?" Tanya Syifa setelah melipat sajadah.
"Kepo." Goda Fauzi
"Ish, Syifa kan cuma nanya."
"Kan biar Allah yang tau." Jawab Fauzi. "Kalo doa kamu apa?"
"Doa Syifa? jadi istri dan ibu yang baik." Kata Syifa.
"Kenapa nggak minta doa masuk surga?" Tanya Fauzi, keduanya berjalan menuju lemari yang sudah terdapat beberapa tumpukan buku.
"Syifa malu sama Allah, seandainya amal Syifa sia sia maka doaku akan memaksakan, cukup aku menjadi ibu dan istri yang baik agar Allah pertemukan keluarga kami di surganya." Kata Syifa membuat Fauzi tersenyum lebar, ia mengelus kepala Syifa sayang.
"Kang..." Panggil Syifa.
"Hm."
"Kita ke bandung, aku mau terimakasih sama mba lastri. boleh"
"Iya, kita atur jadwal ya." Jawab Fauzi membuat Syifa mengangguk antusias.
"Ngaji dulu yuk." Syifa mengangguk lagi.
*
z
z
Dirgahayu Indonesia ke 76, kalo inget jasa para pahlawan yang perjuangin negara tuh rasanya bersyukur banget gitu sama kagummm banget. Cinta banget sama Indonesia.
__ADS_1
I love you indonesia, pak presiden aku mencintai salah satu rakyatmu ehemm .
see u. Ada yang di tanyakan?