
Segala sesuatu akan di uji, seberapa kuat hambanya dan bagaimana masalalunya, siap tidaknya harus siap. Memulai berarti harus mengakhiri, seperti yang sudah-sudah tapi jika hadir lagi coba untuk perbaiki.
Malam hari suasana pesantren sepi, para santri sudah terlelap dalam mimpinya. Melepas penat kegiatan hari ini untuk esok kembali bangkit.
Satu hubungan yang membuatnya langgeng adalah kejujuran, sebagai manusia tidak ada yang sempurna, lantas apa yang dilakukan perempuan dengan menunduk-nunduk serta mengamati sekitar itu?
Asyifa Nur Fadilla, perempuan dengan status istri Muhammad Zildan Alfauzy. Entah apa yang di lakukannya hingga berjalan pelan untuk menuju sebuah kamar. Bertuliskan 'Gus'
Clekk, nyaris lirih pintu terbuka, satu kata untuk ruangan itu yakni gelap. Ia sedikit bernafas lega dengan tertatih kakinya melangkahkan pelan ke dalam.
"Ehem."
Deg.
Syifa membulatkan mata sempurna, ia menggigit bibir bawah, siapa yang tidak mengenal suara bariton yang menemani hidup Syifa selama beberapa tahun ini?
"Dari mana saja, Fa." Nada yang menyambut dengan tak biasa, penuh penasaran sekaligus marah.
Siapa yang tidak marah dengan seseorang? pergi tanpa permisi pulang larut malam begini? Tentu saja sebagai seorang suami, Fauzi sedikit emosi? Ayolah dia ini juga manusia kan?
Syifa, wanita itu menunduk dalam. Beruntung Annisa masih tidur di Asrama bersama temannya. Kembali lagi ke dua manusia yang sudah berada di kamar ini meliputi keheningan. Fauzi menyalakan lampu kamar.
"Saya tanya kamu dari mana, Fa?" Ucap Fauzi sekali lagi, ia melangkah mendekat ke arah Syifa yang menunduk seraya memundurkan badannya.
"Akhh..." Ringis Syifa ketika kakinya menyenggol meja yang di samping ranjang.
Fauzi yang melihat kaki Syifa sedikit bergetar spontan menunduk, aura dingin berubah menjadi khawatir walau masih nampak datar. Dengan lembut Fauzi menuntun Syifa duduk di ranjang, ia menyingkap gamis Syifa.
Terkejut, namun segera ia melangkah mencari kotak P3K.
"Aww.." Pekik Syifa kala luka itu terkena obat merah. Fauzi ikut meringis, mendadak marahnya hilang melihat Syifa terluka begini. Syifa hanya memejamkan mata menahan perih.
"Dari mana saja hm?" Tanya Fauzi, masih fokus memotong kapas putih.
Syifa diam, lagi dan lagi Fauzi menghela nafas kasar, setelah selesai mengobati luka yang ada di kaki istrinya ia menatap dalam manik milik Syifa. Yang di tatap hanya menunduk
"Kamu dari mana saja Fa." Nada itu tak lagi terdengar menyeramkan, melainkan lembut dan khawatir. "Kamu tau dari tadi aku nungguin kamu? Annisa juga sampai tidur di Asrama.?"
Fauzi memalingkan wajah, Syifa setia dengan menunduk. "Aku khawatir sama kamu Fa. Kamu pergi izin sama Ummi? dan gamis ini bukan gamis kamu tadi pagi kan? terus kenapa kamu tidak memakai celana panjang?" Beruntun tanyanya.
Terdengar isakan tangis, membuat Fauzi tak tega. Ia mendekap Syifa.
__ADS_1
"Maaf Kang, Maaf..." Lirih Syifa memeluk erat Fauzi.
"...." Kini giliran Fauzi yang diam, ia sesekali mengecup kening Syifa.
"Maaf, udah bikin kamu khawatir. Maaf bikin kamu emosi. Maaf Kang.. Maaf." Isak tangis Syifa membasahi koko abu-abu Fauzi.
"Kamu kenapa Fa?" Akhirnya Fauzi membuka suara.
"Si-syifa ta-tadi jatuh, kemudian di tolong oleh temen. Gamis Syifa kotor ini pinjam punya temen." Ucap Syifa gugup ia melepas pelukan, ia menatap Fauzi yang juga menatapnya. 100% tidak mungkin Fauzi percaya.
"Si-syifa takut."
"Takut?" Beo Fauzi.
"Kang santri marah sama Syifa." Lirih Syifa menunduk seraya mengusap bulir air mata yang terjatuh tadi. Fauzi menerbitkan senyum ia mengacak jilbab Syifa.
"Kamu ini, Aku nggak marah cuman khawatir aja." Ucap Fauzi tersenyum. Ia tahu sifat asli Syifa yang susah terbuka jika ada masalah, baik itu dengan suaminya sendiri.
"Beneran?" Tanya Syifa di balas anggukan oleh Fauzi. Akhirnya Syifa ikut tersenyum. Fauzi merentangkan tangan tahu apa yang di maksud kang santri, Syifa segera menghambur ke pelukan Fauzi. Hangat dan nyaman.
"Lain kali kalau ada apa-apa bilang." Ucap Fauzi mengelus kepala Syifa berbalut hijab. "Jangan bikin aku khawatir fa." Imbuhnya membuat Syifa mengangguk, ia menangis dalam diam.
"Maafin aku Kang. Tapi bukan sekarang." Batin Syifa memeluk erat Fauzi, ia memejamkan mata.
"Semoga kamu bisa lebih terbuka, Fa." Kalimat terkahir sebelum ia melangkah pergi.
Sayup-sayup Syifa masih mendengar perlahan ia membuka mata cahaya sudah meredup oleh lampu jamur, dan menatap pintu. Perasaan campur aduk menjadi satu hari ini.
***
Fauzi menatap gelap langit yang tak ada bintang. Awan mendung dan juga sepi suasana pesantren pada pukul satu dini hari. Terlalu sibuk dengan sikap Syifa membuatnya tak sadar kalau ada Ustadz lain yang mendekat.
"Gus, ngopi?" Tanyanya. Fauzi menoleh kemudian mengangguk.
Ustadz itu duduk di samping Gus Fauzi menaruh nampan yang ada kopi dan cemilan. Ia menyeruput kopi hitam yang masih mengepul asapnya.
"Melamun aja Gus." Tanyanya.
"Hm. Lagi fokus saja." Albi Fauzi ikut menyeruput kopi yang baru di bawa Ustadz Hamdan.
"Santri-santri sudah pada tidur. Tadi ada satu santri yang ngelindur. Ada ada saja." Gelengan Ustadz hamdan,
__ADS_1
Fauzi ikut terkekeh, "Belum ada kiriman uang bulanan mungkin tadz." Celetuk Ustadz Rizal yang juga menimbrung.
Tiba-tiba gerimis membuat genteng masjid berbunyi rintik-rintik. Sedangkan Fauzi menikmati harum air yang jatuh bertemu dengan tanah Allahhumma soyiban nafi'an
"Hujan Gus, gak nemenin istri?" Tanya Ustadz Hamdan, membuat Fauzi hanya tersenyum tipis.
"Ya enggak to massa nekat hujan-hujanan." Itu suara Ustadz Rizal, membuat Fauzi mengangguk setuju.
Fauzi menatap air yang mengalir dan juga rintikan-rintikan semakin deras, riuh bunyi hujan beserta hembusan angin menerpa wajah Fauzi. Bayangan istrinya yang terluka terus terngiang di pikiran Fauzi.
Syifa kamu kenapa
Jangan bikin saya penasaran dan terus ber su'udzon sama kamu
Fauzi bukan anak kecil, ia tahu gelagat Syifa yang gugup dan tidak mungkin kakinya terluka karena jatuh. Luka itu lebih mirip dengan goresan belati. Ia tahu Syifa butuh waktu dan dia akan menunggu.
"Ya Allah lindungi istri hamba,"
****
Z
z
Penisirin? komennya dong. Jadi lanjut kan? haha
100+ like baru di lanjuttt. terserah caranya gimana.
Sedikit info
Sekiranya masalah datang dari sini. Masih ada yang ingat Kang Faqih? Rizky? Semoga masih.
Dan ada yg menanti karya Rizky sama Faqih mungkin?
Karyanya udah ada kok gaes. klik aja profilku atau cari judul "Luka Bidadari Pesantren."
Syukron katsiron semua
jazakallah kheer
.
__ADS_1
.