Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll


__ADS_3

Assalamu'alaikum, aku datang bawa typo.


**


zzz


Sembilan bulan kehamilan Syifa.


Bulan terus berganti, minggu demi minggu, juga hari demi hari, serta jam, menit, detik terus berganti. Celah kebahagiaan dari keluarga kecil ini yang amat sangat unik. Kisah biarkan tetap berjalan, sama seperti cerita baru yang setiap jari tuliskan.


Fauzi memasuki ruangannya terdapat istrinya yang sedang mengotak-atik benda pipih sesekali tersenyum sendiri. Fauzi menggeleng-geleng kepala.


"Seriusnya sampai suami pulang ngajar tidak di perhatiin." Ucap Fauzi.


Syifa? ia menatap Fauzi sebentar kemudian kembali menatap ponsel lagi. Fauzi mendengus kesal, ia memilih duduk di samping Syifa yang serius dengan vidio di layar hape.


"Lihat deh Kang." Syifa menunjukkan layar ponselnya di depan wajah kang santri.


"Jaman sekarang kalau dakwah mudah yah kang, nih." Jelas Syifa saat melihat postingan dari aplikasi sejuta ummat yang tak lain IG.


Fauzi diam saja.


"Mana masih muda lagi hehe." Nyengir Syifa membuat Fauzi menggeleng.


"Kamu niat ngambil ilmunya atau niat lihat cogan-nya hem?" Wishh Kang Santri udah tau cogan juga rupanya.


Syifa diam, iya juga sih sebenarnya Ilmunya memang bermanfaat, tapi kalau wajahnya tampan/cantik bukankah bisa mengundang syahwat kalau saja kita tidak bisa mengambil hal yang baik.


"Memang sih sekarang media dakwah bukan hanya dari kalangan perkumpulan di suatu pengajian ataupun di majlisan. Tetapi ramai di media sosial. Tapi juga jangan salah niatnya."


"Iya kang santri." Ucap Syifa "Sebaik-baiknya tekhnologi untuk suatu hal yang bermanfaat kan." Sambung Syifa


"Pintarnya istri aku."


"Aw aw aduhh." Ringis Syifa memegangi perutnya, Fauzi yang melihat Syifa seperti itu ikut panik.


"Ka-kamu kenapa fa."


"Eng-hh enggak tau..Kang..Sakittt hikss." Ringis Syifa sembari mencengkram kuat bahu Fauzi.


"Kamu mau lahiran Fa?" Tanya Fauzi. Sedangkan Syifa yang sudah tidak kuat menahan sakit hanya menjerit.


"Astaghfirullah, Syifa kenapa zi." Terkejut Ummi Fatimah yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Umi suruh Abi untuk nyiapin mobil ya Zi." Sambung Umi Fatimah terburu-buru.


Fauzi segera membopong Syifa tak peduli jika banyak cairan yang membuat koko Fauzi kotor


Sesampainya di parkiran sudah ada pak sopir pribadi yang siap mengemudi.


"Tahan ya sayang, pak lebih cepat." Ucap Fauzi kepada pak sopir, sedangkan tangannya mengelus bahu sang istri, mengelap keringat sang istri yang banyak.


Sedangkan di belakang mobil yang mereka tumpangi juga di ikuti oleh mobil Abi Hakim dan Umi Fatimah.

__ADS_1


****


Pria yang baru pulih dari serangan peluru itu sudah seminggu ini memang berencana jahat untuk membalaskan dendamnya.


"Bukan kepada Arnold tapi kepada putrinya." Ucapnya terang-terangan.


"Bukankah musuhmu Arnold?" Saut asistennya yang membuat pria berjaket kulit hitam itu menyungging senyum.


"Pembalasan kepada mereka yang bersalah di masalalu, kau pastikan serangan ini akan berhasil dan saya yakin dengan begini Arnold juga akan tersiksa." Ucap pria itu yang tak lain ialah Alex.


Ia meletakkan ponsel di telinganya.


"Kerja bagus, ikuti terus." Ucap Alex menyunggingkan senyum. Setelah berbicara begitu dengan seseorang di seberang.


Alex menatap pasukan kemudian mengangguk sekali.


"Cabut."


*****


Lampu hijau mobil yang di tumpangi Fauzi , berganti lampu merah jadi mobil Umi dan Abi masih tertinggal di belakang namun seperti ada yang aneh di mobil belakang yang mengukuti pergerakan mobilnya.


"Pak mobil itu mengikuti kita?" Tanya Fauzi was-was. Sedangkan Syifa sudah sedikit tenang tercetak jelas keringat di dahinya, ia yang tadi memejamkan mata terbuka mendengar kata Fauzi.


"Telfon Ayah atau bang Ridwan, kang." Titah Syifa sedikit terengah.


Fauzi dengan segera mengambil ponselnya mengetik beberapa nomor. Sementara si mobil hitam mulai semakin dekat dengan mereka, jalannan menikung dan sepi membuat mobil Syifa Fauzi terhimpit.


"Gi-gimana i-ini Gus." Gemetar pak sopir yang ketakutan.


"Jalan ke rumah sakit sepertinya masih jauh dan bahaya karena menikung, kita lewat desa saja pak." Titah Fauzi yang membuat sopir itu mengangguk.


Mobilnya seketika berbelok. Entah jalan apa yang mereka tuju.


Ini masih termasuk jalan sepi hanya saja terdapat pasar di ujung setelah melewati jembatan yang terbentang lumayan panjang.


Dor


cuarrr.


Tembakan tepat mengenai kaca mobil, beruntung Syifa dan Fauzi tidak terkena tembusan peluru itu.


Jantung Syifa berpacu lebih cepat, bersamaan kadang rasa sakit yang mendominasi. Ia mengeratkan genggaman tangannya.


Dor


Dor


Seketika mobilnya oleng dan terhenti, ban mobil sengaja ditembak oleh penguntit. Syifa Fauzi saling pandang.


"Kamu jangan sampai keluar ya Fa." Ucap Fauzi.


"Tapi.."

__ADS_1


"Demi anak kita." Kata Fauzi membuat Syifa mengangguk setuju.


Sudah beberapa orang yang mengerubungi mobil mereka dengan orang-orang berpakaian serba hitam.


"Pak bisa bela diri?" Tanya Fauzi.


"Sedikit G-Gus." Jawabnya membuat Fauzi mengangguk lega.


"KELUAR!!!" Teriak dari luar.


Fauzi dan pak sopir bernama mahmud itu keluar meski dengan sarung, keduanya sigap mengikatnya pada pinggang.


Bugh bugh bugh plaak dugh.


Fauzi dengan ke cekatan dan juga kekuatannya langsung menumbangkan lawan, sesaat melirik pak mahmud yang juga tengah menangkis kaki lawan dan memukul perut mereka membuat muntahan keluar dari mulut.


Fauzi dan Pak Mahmud saling pandang dan mengangguk.


Fauzi menahan serangan pukulan lawan, ia menarik maju tangan lawan. Kemudian bugh satu tinjuan ia daratkan ke perut lawan, satu tangannya memutar tubuh lawan hingga si lawan terpelintir, dengan sigap kaki Fauzi menendang pinggang lawan ke depan.


Bugh


Tak menyerah keduanya melawan Fauzi bersamaan, Fauzi membungkukkan badan, ia menendangkan satu kaki ke kiri dan menggerakan badan meroda kemudian menjatuhkan tendangan lagi ke lawan.


Dugh, dugh.


Bugh. Satu pukulan berhasil mendarat di perut Fauzi karena belum sempat menghindar.


Brumm brumm brum.. Riuh bunyi sepeda motor dengan pakaian hitam lengkap mengitari Fauzi dan juga pak mahmud yang berada di tengah-tengah.


"Astaghfirullah Gus, jenengan ada musuh?" Tanya pak mahmud saat itu.


Fauzi diam,


Seseorang sudah membuka helmnya yang membuat Syifa membelalakkan matanya,


Alex.


Ia merasakan sakit di perutnya menghilang, menggantikan rasa khawatir karena di sana Kang Santri nya sedang di todong senjata tembak yang mengarah ke kepalanya.


DOR


Namun tiba tiba bunyi tembakan lain berada di arah lain yang membuat Fauzi berkesempatan mendorong pria itu hingga tersungkur.


"PENGECUTT SIAL,"


Fauzi dan mahmud menoleh ke belakang, melihat ada Arnold Ridwan dan Rian yang bersama beberapa pasukan siap menodongkan senjata.


Di dalam sana Syifa tersenyum lega, Ayahnya tepat waktu.


Kembali ke jalanan, saat ini ada Arnold yang sudah melemparkan satu pistol ke Fauzi, dan..


Hap!

__ADS_1


"Tangkapan yang bagus menantu, sekarang ingat istrimu dalam bahaya, menangkan pertarungan ini."


Fauzi terdiam sejenak kemudian mengangguk sebentar.


__ADS_2