
Di sudut ruangan gelap, tak ada cahaya sama sekali. Sosok pria mengerjapkan mata bukannya baru sadar tetapi tersadar masih berada di tempat yang sama. Tidak mengetahui jam, hanya mendengar suara adzan subuh berkumandang. Kisaran setengah jam lalu ia meminum air yang di sediakan oleh orang yang tak ia kenali sebelumnya.
Meraba-raba pada dinding, ia melakukan tayamum. Seminggu tanpa menghirup udara dan menangkap cahaya membuat tubuhnya beberapa kali terhuyung, ia sedih karena sholat dalam ke adaan kotor.
Tetapi, tidak mungkin juga akan meninggalkan kewajiban sebagai Ummat muslim. Pria itu hanya mengharap sholatnya di terima. Sungguh ia percaya Allah mengetahui segala kondisi setiap hambanya.
Allahu Akbar
Sholat di keadaan sendirian saat ini harapan satu-satunya hanya Allah. Tetapi senyum dan juga ocehan sosok wanita berarti di hidupnya sering berputar di kepalanya, tak bisa ia pungkiri bahwa ia khawatir dan rindu akan sang istri.
Assalamu'alaikum warrahmatullah
Assalamu'alaikum warrahmatullah
Lantunan dzikir membuat ketenagan di setiap harinya, cintanya kepada Allah mungkin lebih besar di bandingkan cinta ke yang lainnya. Bukan berarti ia tidak merindukan sang istri hanya saja ia sedang malu meminta kepada Rabbnya.
Allah telah memberikan dia hidup meski berada di tempat seperti ini, bagaimana ia tak mensyukuri hidup?
"Ya Allah lindungilah istri hamba, tenangkan hatinya yang merasa gundah. Yakinkan bahwa hamba masih ada untuk dia. Ya Rabb, jika cinta kini engkau uji maka hamba tetap memilih cinta kepada mu tanpa menghilangkan cinta saya kepada Syifa...
Engkau yang menghidupkan, dan engkau pemberi pertolongan dari jalan yang tak terduga. Ya Allah kuatkan hamba."
Lirih do'a Fauzi meminta kepada pemilik semesta, bukan dirinya tak merindukan Syifa. Hanya saja cintanya kepada Allah jauh lebih besar. Ia hanya berharap Allah memberi keajaiban, dan berujung bersama Syifa.
*****
"Masih hidup?" Suara bass dari seseorang membuat Fauzi menatap sayu ke arah manusia yang membelakangi cahaya dari belakang.
"..." Fauzi diam tak bergeming.
"Apa kau tuli?! Oh iya, kau tak punya daya untuk bicara." Ucap sang lelaki yang Sepertinya seumuran dengan dirinya.
Bug..
Satu plastik hitam mendarat pada pangkuan Fauzi yang tengah bersila sembari melantunkan dzikir.
"Saya tahu kau lapar. Jadi makanlah." Ucapnya dengan nada sinis berbalik badan.
"Tidak usah." Jawab Fauzi dengan nada sama sekali tak takut dengan pria itu. Untuk apa takut kalau makan saja masih sama sama nasi? beda lagi kalau makannya batu.
Sontak pria itu berbalik dengan seringaian tajam sorot mata elang yang membidik ke arah Fauzi, suami dari wanita yang ia kagumi. Tunggu, apa tadi?? Wanita yang ia kagumi. Biar waktu yang menjelaskan.
__ADS_1
"Dasar tak tahu diri. Saya berbaik hati memberikanmu sebungkus nasi,!" Ucap orang itu. "Tidak ada gunanya saya meracuni kau!!" Marah orang itu dengan senyum menyungging.
"Saya puasa." Ucap Fauzi singkat membuat orang itu mengerinyit.
"Puasa?" Ulangnya dengan nada bingung.
Fauzi kaget, ternyata orang yang menculiknya bukan Agama islam.
"Puasa yaitu menahan lapar dan dahaga dari sebelum subuh sampai Adzan maghrib. Bukan hanya lapar tetapi menahan nafsu dalam diri dan bersabar." Ucap Fauzi meringankan kata-kata agar orang ini paham.
"Puasa di lakukan ummat Muslim setahun sekali dalam satu bulan Ramadhan."
"Ramadan?"
"Ya.. Maaf, anda muslim atau..?" Tanya Fauzi.
"Atheis." Dengan santainya orang itu berkata bahkan membuat Fauzi tersentak, ia kira pria ini beragama lain,
Masih dengan kagetnya Fauzi hanya duduk di bawah terdiam, dan pria itu kenapa mendekati dan ikut duduk di depan Fauzi.
"Memangnya tuhan itu ada?" Persis pertanyaan anak balita. "Saya tidak percaya tuhan." Sambungnya hanya membuat Fauzi terdiam.
"O ya kita belum kenalan." lohh ini kok?? Fauzi kira pria ini akan bertingkah layaknya Psyco tapi kocak juga.
"Kenapa kau percaya Tuhan ada?" Ucapnya kepada Fauzi yang masih menatap pria itu dengan bingung.
Bagaimana mungkin ada penculik yang malah mengajaknya ngobrol seperti ini? Tapi bukankah ini kesempatan untuk berdakwah? Mengenalkan sosok pencipta kepada mereka yang tak percaya?
"Karena adanya tuhan kita tahu arah tujuan dan juga untuk apa kita di ciptakan." Ucap Fauzi membuat sunggingan tipis dari pria bernama Jack itu.
"Hanya itu? Dengar ya..Tuhan itu tidak ada!" Tegasnya membuat Fauzi terkejut tapi segera menenangkan ekspresi semula.
"Kenapa begitu?"
"Karena kita tidak melihatnya. Apa kau pernah melihat tuhanmu?" Tegasnya lagi membuat Fauzi meringis, ia bahkan sedih bawa pria di hadapannya ini tak mau mengenal tuhan
"Tidak." Jawab Fauzi.
"Yah, kalau begitu tuhan tidak ada!" Ucapnya.
"Bagaimana anda bisa menilai tuhan tidak ada?" Tanya Fauzi.
__ADS_1
"Saya lulusan terbaik di Amerika. Sains telah membuktikan bahwa apa yang tidak terlihat dan di sentuh berarti tidak ada! Jadi tidak ada tuhan!."
"Kenapa anda menilai begitu?"
"Memakai pikiran sehat." Jawab Jack dengan sunggingan tipis.
"Dimana pikiran anda?" Tanya Fauzi membuat Jack menunjuk kepala bagian belakang.
"Pikiran saya di sini."
"Anda bisa melihat pikiran anda?" Orang itu menggeleng. "Anda bisa menyentuh pikiran anda?" Lagi-lagi jack berkata tidak.
"Berarti anda nggak punya pikiran."
Jack terkejut dengan penuturan Fauzi.
"Bukankah sains telah membuktikan jika hal yang tak terlihat dan tak dapat di sentuh artinya tidak ada." Kalimat Fauzi membuat Jack menunduk malu.
Sama seperti angin, tidak di ketahui warna dan juga bentuk angin. Kita tidak dapat tahu warna angin kecuali Allah, tapi kita bisa merasakan kehadirannya angin.
Keduanya diam, bahkan jack heran kenapa Fauzi tidak mencoba kabur dari sini? Ia malah tenang sambil berkomat kamit pikir jack.
"Tapi jika benar tuhan maha adil, kenapa saya yang harus menerima ini semua. Dia menjadikan saya tanpa orang tua dan banyak masalah di hidup saya."
"Allah menguji sesuai batas kemampuan hambanya."
"Tapi kenapa anda yakin jika ada tuhan?"
"Karena iman."
"Iman?"
"Betul, sebelum kita beribadah tentu kita harus memiliki keyakinan bukan? Saya yakin dan meyakini makanya saya beriman...Saya masih hidup karena Allah." Jawab Fauzi.
"Tapi bisakah saya mendekat tuhan?"
"Bagaimanapun itu tergantung diri kita sendiri, maka cintailah pertama kepada tuhanmu agar kamu dekat dengannya, dan yang membuat kita jauh tak mengenal tuhan hanya diri kita sendiri yang tak mau mengakui hadirnya tuhan dalam diri kita."
"Anda benar, tuhan anda baik. Saya menaruh racun ke dalam makanan itu tapi anda berpuasa. Saya sering yakini adanya pencipta tapi kalah sama logika."
"Semoga anda mendapat keyakinan adanya Allah." Tutur Fauzi mengelus bahu Jack.
__ADS_1
Sejak kapan mereka akrab? Entalah yang jelas, dakwah terbuka untuk siapa saja.
****zzzz****