
😍Like, komen, vote🤗
Karena terlalu khawatir Syifa memutuskan untuk menghubungi Ridwan.
Syifa: Hallo bang, Rizky ngga ada hiks hiks
Ridwan: Kamu yang tenang dek, abang meluncur kesana. (jawab Ridwan tak kalah panik)
Syifa: Dikira air mancur apa huh (Gerutunya)
Ridwan: Tadi piknik sekarang mengerutu ish (Jawab Ridwan dari seberang)
Syifa: Cepat bang takutnya bocilmu ada yang menculik jangan enak enak piknik.
Ridwan: Siapa yang piknik adek (ketus Ridwan)
Syifa: Tadi katanya piknik (memutar bola mata malas)
Ridwan: Itu kamunya yang panik.
Tut!!
Ridwan : Hallooo, orang adakah!! eh ada orang kah-_
Ridwan sebal dengan sikap adiknya yang memutuskan kontak tanpa disetujuinya, tapi dia segera sadar jika adik kecilnya sedang keadaan diculik.
Ia mencari kontak yang tertera di layar ponsel setelah menemukannya Ridwan mengetuk tombol panggilan.
"........!!!!!" Ancaman sekaligus perintah dari sang Ceo
(...)
Disisi lain seseorang yang tengah menyeduh kopinya melihat ponselnya berdering ia segera mengangkatnya tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Datang keruanganku dalam lima menit jika telat habis kau!!!" Suara dari seberang membuat nafas si penikmat kopi sedikit tersedak.
"Uhuk uhuk uhuk!!"
"Tuan tidak apa apa." tanya pemilik kedai kopi namun tak digubris , ia segera membayar kopinya lantas berlari bak kesetanan menuju kantor yang jarak cukup dekat dengannya,
"Minggir! " Tak peduli dengan kewibawaannya sebagai kepercayaannya bos dengan pakaian yang sedikit tak rapi, dan dengan sapaan karyawan kantor.
Ia memasuki lift khusus sesampainya
tok tok tok!
"huh huh huh" Nafas yang masih tersisa dan ia segera merapikan tampilannya.
"Masuk!" Suara dari dalam.
Ia melangkahkan kakinya membuka pintu dan dengan ketusnya.
"Apa!"
"Telat satu menit tapi aku maafkan," Ridwan dengan melihat pergelangan tangan.
"Cih langsung saja." Ucap orang kepercayaan Ridwan beserta Sekretarisnya.
"Kau mulai berani ya." Tatapan tajam
"Ah tidak tidak, setelah kau menganggu nongkrongku sekarang kau hanya ingin memarahiku, yasudah aku pergi daaa." Ucap Rian hendak pergi ia sudah malas dengan bosnya yang hanya memberi nasihat yang tak berujung nasihat.
"Eee kurang ajar sekali," Gerutu Ridwan hingga Rian menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ayolah kalau kau mau pecat, pecat saja lagi pula uangku sudah banyak, aku akan mencari istri." Rian dengan mode kesal Ridwan tau jika Rian tak pernah mau berurusan dengan wanita sama dengannya.
__ADS_1
"Coba saja." santai
"Ayolah Ridwan gue harus ngerjain berkas." Rian memohon agar tidak diberikan berkas lagi karena setumpuk berkas sudah melambai lambai dipikirannya,
"Apa kau butuh hiburan." Tanya Ridwan dengan seringai liciknya Rian paham maksud itu.
"Tentu.." Nampak sudah sangat senang mendapat hiburan,
"Rizky hilang entahlah aku hanya takut jika Riko sudah mengetahui keberadaan Rizky dan dia akan mendapat senjata baru." Tutur Ridwan dingin namun Rian tahu jika bosnya menatap penuh khawatir.
"Baiklah aku sudah menyuruh seseorang memantau pondok itu, kita kesana cepat jangan bertindak gegabah." Ridwan mengangguk mereka segera menuju lift khusus.
Para karyawan menatap Ceo dan Sekretarisnya kagum tapi tetap menunduk memberi hormat sedangkan Ridwan dan Rian tetap memasang ekspresi datar dan dingin.
.
.
.
Pesanteren dibuat geger dengan hilangnya Rizky, dari sabang sampai merauke sudah dicari namun hasilnya nihil, Syifa sudah berkali kali menangis hingga Ummi menenangkannya.
"Hiks hiks Syifa takut jika musuh kami yang menculiknya." Tangis Syifa, Ummi pun memeluk Syifa dan mengelus elus punggungnya,
"Pasti Rizky ketemu kok, kita lapor polisi aja ya Fa." Ucap Fauzi,
"Jika kita lapor polisi harus menunggu 24 jam dulu," Sambung Faqih,
"Hiks hiks jadi gimana." Ucap Syifa senggukan, Fauzi dan Faqih
ikut sesak melihat Syifa sesedih itu.
Tak lama dua pria tampan menghampiri keberadaan adiknya dengan jas kantor dan kacamata hitam yang melekat dikedua pria itu, awalnya semua tak mengenal siapa pria itu yang sanggup diucapkan dari seluruh kaum hawa hanya "Ganteng".
Syifa segera memeluk pria berjas itu membuat semua orang mengaga bahkan Fauzi dan Faqih segera membuang muka ke sembarang tempat,
"Kak Ridwan." Ucap para santri yang sangat kenal dengannya, Yah mungkin mereka pangkling dengan penampilan formal Ridwan,
"Tenang ya dek, Rizky baik baik aja kok." Ucap Ridwan membalas pelukan Syifa,
"Rian, kamu cari tau dari pengawal yang kamu tugaskan." Ridwan dingin, Rian mengangguk.
"Anak anak kalian lanjutkan kegiatan kalian ya," Ucap Abi para santri menurut meski banyak pertanyaan yang hendak mereka lontarkan tapi situasinya tidak tepat.
"Sudahlah adeknya abang jelek kalau nangis." Bisik Ridwan hingga Syifa melepas pelukannya.
"Ini beneran kak Ridwan." Tanya Faqih dan Fauzi bersama dijawab senyum oleh Ridwan,
"Bos.." Teriak Rian tiba-tiba dan mendapat tatapan tajam dari Ridwan,
"Mm hehehe." Salting Rian menggaruk-garuk tengkuk yang tak gatal.
"Syifa di sini dulu, Abang ada perlu dengan Rian." Ucap lembut Ridwan dan diangguki Syifa,
"Cih giliran dengan adiknya berlagak lembut seperti mayones, nah kalo sama sekretarisnya ck ck ck." Batin Rian kesal.
(...)
Di luar pesantren,
"Bagaimana." Tanya Ridwan to the point,
"Sepertinya ada satu dua yang mencurigakan di sini, tapi aku belum yakin jika dia menculik Rizky." Jawab Rian ekspresi serius.
"Lalu?" Tanya Ridwan mengangkat satu alisnya,
__ADS_1
"Yasudah." Jawabnya enteng,
"Kau bekerja untuk digaji." Ketus Ridwan,
"Makanya, dengerin dulu napa ck."
"Pengawal sudah menyelesaikan tugasnya, sekarang mereka ada di tempat itu." Sambung Rian menunjuk tempat yang kumuh, tanpa lama Ridwan menuju tempat itu dan disusul Rian.
(...)
Tempat yang gelap terdapat dua pria berbaju hitam tengah diikat dengan tali, Ridwan berdiri dihadapan mereka tanpa mendapat perintah, Rian segera mengguyur dua pria itu.
Byurrr!!
Seketika pria yang pingsan segera bangun, menatap remeh pria yang di hadapinya.
"Hem kalian tau apa salah kalian?" Rian
"Tidak," Ucap orang itu,
"Baiklah jika kalian tidak jujur maka alat ini akan menggores wajah imut kalian, kurasa kepala kalian perlu perawatan ." Ucap Rian dengan seringai jahatnya.
Sreet! Sreet! sayatan pisau mendarat di kedua pria,
"Bagaimana." Tanya Rian dan dua pria sudah mulai bergetar.
"Ka ka mi tidak tau ." Ucap satu pria
"Mm kelihatannya mata kalian indah," Senyum licik Rian,
"Hentikan." Titah Ridwan hingga Rian mendengus kesal,
"Katakan dengan jujur atau benda ini akan mencongkel mata kalian." Ancam Ridwan,
"Sungguh! kami tidak berbohong, tu tuan." Ucapnya sungguh. Ridwan merasa jika mereka jujur.
"Baiklah, tahan mereka jangan biarkan mereka kabur, dan satu lagi saya akan kembali." Ucap Ridwan dingin.
Rian hanya menganga dari keputusan Ridwan, jiwa iblisnya sudah meronta tapi harus ia urungkan karena Ridwan memikirkan adiknya.
.
.
Pesantren..
"Bagaimana bang?" Tanya Syifa, Ridwan menggeleng,
"Hiks hiks."
"Sudahlah, Adek kesehatanmu utama kamu belum makan pasti? sekarang kamu makan dulu baru kita lanjut." Tutur Ridwan yang khawatir dengan kesehatan Syifa,
"Bagaimana bisa adek makan bang hiks, Rizky hilang." Syifa membentak,
"Huss, Rian lapar tadi, jadi Abang putuskan untuk makan, karena jika belum makan otaknya sangat bodoh jika harus berpikir." Ucap Ridwan kemudian Syifa menatap tajam Rian.
Glek!
"Sial kenapa saya bos?, kenapa? sungguh tatapan itu membuat saya ingin menggali lubang sendiri." Batin Rian bergidik ngeri.
Akhirnya Syifa menurutinya dan menuju kantin ponpes, diikuti oleh Ummi dan Abi..
.
.
__ADS_1
Hay Readers Happy reading, maklumin author ya yang masih menebar typo😅😅 dan kadang setiap bab nya kurang memuaskan, tapi sungguh author bersungguh sungguh...
apa ya lupa😂