Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
66.Rencana licik


__ADS_3

Masih di pesantren..


Kiyai Hakim dan Kiyai Husein berkumpul di ruangan tamu, Fatimah membawa teh hangat beserta cemilan sebagai teman ngobrol. Nampak sesekali tertawa dan serius saat bicara.


Najwa yang tadinya pergi ke toilet dulu di suruh nyusul ke ruang tamu, tepatnya rumah yang ada di area pesantren. Saat hendak memasuki tepat dari sisi lain Fauzi juga datang.


"Assalamu'alaikum Ning." Sapa Fauzi kepada anak dari teman Abinya.


"Wa'alaikumussalam Gus." Jawab Najwa tersenyum ramah dan menunduk.


"Mari masuk." Ajak Fauzi sesopan mungkin Najwa lagi-lagi tersenyum manis dan mengangguk.


Langkah Fauzi terhenti, hampir saja Najwa dari arah belakang menabrak punggung Fauzi namun tidak jadi karena ia melihat langkahnya terhenti.


"Ada apa Gus?" Tanya Najwa dari belakang namun Fauzi hanya mengisyaratkan untuk menunggu.


Samar-samar mendengar obrolan dari dalam, hisss tidak sopan menguping namun Fauzi takut menganggu saja obrolan yang terdengar serius.


"Begini..." Ucap Abah Husein.


"Anak kita sudah dewasa, harapan saya kita bukan hanya sebatas teman kalau bisa supaya hubungan kita sampai menjadi keluarga." Ujarnya.


"Antum bisa aja sein." Elak Kiyai Hakim.


"Habisnya Fauzi itu karakter sempurna, persis seperti Abinya enggeh to?"


"Jangan berlebihan heheh." Ucap Kiyai Hakim terkekeh.


Mendadak hening, di sisi lain juga seseorang memasang telinga tajam-tajam.


"Fauzi baru lulus MA, ana hanya takut kalo dia ngga bisa membimbing istrinya dengan baik, toh anaknya mau berangkat juga ke kairo mau jadi kayak ana heheh" Ucap Hakim.


"MasyaAllah cita-citanya sungguh mulia, tetapi apakah antum pribadhi setuju jika hubungan pertemanan kita menjadi sebuah keluarga." Sekali lagi pertanyaan itu terlontar sedangkan Kiyai Hakim hanya mangguk-mangguk.


"Dijodohkan gitu?" Tanya Kiyai Hakim memastikan.


"Seperti itu kira-kira tetapi biarlah mereka mengejar impian dulu." Ucap Kiyai Husein.


"Najwa dan Fauzi... Emm semua makhluk mampu berencana namun rencana Allah tidak ada yang tahu. Ana ngikuti takdir saja dan semua keputusan ada di tangan anak-anak kita." Tutur Kiyai Hakim di setujui temannya.


(...)


Di sisi lain Fauzi yang mendengarkan serasa tak bisa menopang tubuhnya, pikirannya tertuju pada Syifa Syifa dan Syifa yah gadis itu, bukankah Gadis itu yang sempatnya tadi ia ajakin menikah?? lalu apa ini..

__ADS_1


Sebagai seorang Anak, Fauzi yang tipikal penurut apakah pantas ia menolak keinginan Abi jika suatu saat ungkapan itu terlontar. Dan apakah bisa dia mencintai Najwa yang sempat mengisi hatinya dulu.


Lebih parahnya akankah nama Syifa bisa terhapus begitu saja yang sudah terukir, bahkan menghapus nama tak semudah menghapus tulisan dalam kertas.


Lain dengan perempuan cantik belakang Fauzi. Sudut bibir terangkat ia merasa bunga tengah bermekaran di hatinya. Perasaan senang menghiasi pikirannya.


"Ya Allah apakah benar laki-laki depan ini jodohku." Batin Syifa kali ini menatap punggung Fauzi.


Fauzi berbalik namun yang ia dapatkan tatapan harapan dari Najwa, jujur itu membuatnya sakit. Seolah dia pria jahat, ya!dulu kabar Gus suka Ning tersebar luas di area pesantren, namun itu dulu.


Dan nama Syifa? yang paham gerak-geriknya hanya Faqih. Ah jadi ingat Faqih dia yang sudah membuka pintu untuk memperjuangkan Syifa, namun kenapa harus hadir Najwa.


Kali ini ia hanya pasrah akan do'a memutuskan untuk menolak tidak mungkin jika belum ditanya. Fauzi berbalik lagi kakinya melangkah masuk.


"Ayo." Ajak Fauzi sukses membuat Najwa salah tingkah.


____________


Di tempat lain tepatnya di club malam seseorang tengah merencanakan sesuatu,


Dentuman musik dan beberapa wanita yang berpakaian terbuka berada di sisi kanan kirinya.


Sambil meneguk winenya dan di temani beberapa asisten pribadi. Tangannya mengibas menyuruh dua wanita tadi pergi. Getaran telepon membuat Riko segera menggeser tombol hijau.


"Ya paman?" Ucap Riko.


"...."


"....."


"Paman tenang saja, anak-anaknya akan mendapat ganjaran yang setimpal." Ujar Riko dengan seringai licik, asistennya pada bergidik merinding karena dendam bosnya belum terbayar.


"...."


"Kau cerdik sekali paman , tenang saja dengan senang hati Riko menerimanya." Ucap Riko memasang senyum devil.


Para asisten Riko saling pandang memilih untuk menikmati minuman alkohol itu, tak lama datang seorang yang lumayan tampan dengan postur tubuh keren membuat kaum hawa kelepek-klepek jika melihatnya.


"Dari mana aja lo." Selidik


"Biasa bro, kayak gak tau gue aja lo, mumpung ada cewek yang mau." Ujarnya ikut duduk dan meminum minumannya. Jhonatahan kerapnya dipanggil jhon itu orang kepercayaan Riko.


"Bagaimana informasinya." Tanya Riko.

__ADS_1


"Santai bro, gue pikir anak buah Arnold setia, nyatanya di sogok sebongkok uang langsung buka mulut." Jhon


"Yang namanya Bos pasti punya penghianat," Ujar Riko santai kemudian meneguk lagi wine nya.


"Baiklah apa infonya."


"Ehem.. Arnold ternyata sudah berkumpul dengan keluarganya dan Ridwan suka mengajar bela diri di pondok Xxxx dan Adiknya mondok di sana." Ucapnya.


"Baiklah paman gue punya rencana hebat dan gue mau ini akhir dari kebahagiaan keluarga Brams, dan dendam gue terpenuhi." Ucap Riko.


"Apa rencana Lo." Tanya jhon melambaikan tangan ke wanita seksi, memang dasar tuh orang. Riko menatapnya malas sedari dulu ia hanya mencintai gadis kecil, Syifa! yah namun setelah mengetahui Arnold lah yang menghabisi papahnya saat itulah ia membenci Ridwan.


Namun perasaan ke Syifa tetap sama, tidak berubah sama sekali, karena ia mengetahui Syifa bisa bela diri membuat Riko berpikir jika Syifa diajarkan Arnold. Seolah ingin memiliki Syifa itu adalah obsesinya.


"....." Riko membisikan sesuatu ke Jhon yang sibuk tangan nakal ke wanita ehem itu.


"Yakin loo."


"100% Syifa ke pelukan gue dan kita hancurkan keluarganya bahkan orang terdekatnya."


"Gila parah lo.. serah lo dah yang penting gue ikutan nyerang." Seringai licik menghiasi wajah Jhon. Sedangkan Riko rahangnya mengeras tangannya menggeram gelas hingga pecah, darah bercucuran.


"Kapan kira-kira." Tanya jhon yang tangannya semakin tak di kondisikan.


Riko tersenyum semirik dan licik campur malas melihat asisten gilanya yang sudah memangku wanita itu.


"Ke kamar yuk." Ajak Jhon diangguki wanita barunya, hal itu membuat Riko menjlitak kepala asistennya hingga meringis.


"Gue pergi dulu, mainan baru." Ujar Jhon merangkul wanitanya.


"Sialan lo." Umpat Riko.


Ia mengusap kantuknya karena terlalu banyak minum, pikirannya melayang ke sana kemari, Syifa yang bersamanya dan hancurnya keluarga Brams membuat Riko berangan. Seringai licik dan semirik selalu menghiasi wajahnya.


_____________


Hay hay Readres emm lama banget ya sya nggx nyapa hehehe,,Sengajaaa😂 author makin semangat nih karena komen kalian sesuai target yang author inginkan hiyak hiyak..


Buat yg udh setiaaaaa dan tentunya membaca dan maksih untuk vote dan like komennya😍😍


Pertanyaan kalian di komentar tenangg


sebentarrrr lagi waktu itu datang😚😚 kira kira apa konflik yang terdapat dlm novel sya yg sederhana tapi halu ketinggian plaak

__ADS_1


Yang jelas ikuti terus dong sampai END terucap ewkwk bentar lagi kok... sabar.


oke sekian,


__ADS_2