Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Bertemu sahabat (Ex.Part)


__ADS_3

5 bulan kemudian..


Syifa terus merengek ke suaminya untuk mengizinkan keluar dia benar-benar ingin bertemu sahabatnya. Walaupun dengan keadaan perut yang sudah buncit, Astaghfirullah berulang-ulang Fauzi istighfar.


"Nggak usah dik, lagian kenapa mendadak gini kamu izinnya hm, kalau bilangnya dari kemarin pasti aku anterin." Ucap Fauzi yang posisinya hendak memakai koko putih.


"Ih kan Syifa lupa tadi." Ucap Syifa mengerucutkan bibirnya.


"Besok saja deh ya, jangan sekarang takutnya nanti terjadi apa-apa." Ucap Fauzi lagi, benar-benar melarang Syifa untuk bertemu sahabatnya.


"Kang santri nyebelin, Syifa nggak mau liat kang santri lagi, sana pergi." Ucap Syifa ketus dan berduduk di sofa kamar.


Ayolah Zi, sabar turuti apa kata ibu negara. Fauzi mendengus pasarah, kakinya berjalan menghampiri Istrinya yang merajuk sebal dan tentu saja ulah Fauzi yang melarang ini itu. Dengan pakaian sarung hitam batik dan koko putih berhias kehitaman, belum di kancingkan hingga nampak kaos putih di sana.


"Aku hanya khawatir dengan kamu" Ucap Fauzi mendudukkan dirinya di samping Syifa.


"!!!!"


"Bukannya mau melarang, tapi kalo adik izinnya dari kemarin pasti aku izinin, sekarang ini lihat, semua repot siapa yang akan menjaga mu hm." Ucap Fauzi mencoba memberi pengertian.


"Kan Syifa bisa jaga diri sendiri." Ucap Syifa menunduk ia meremas jari tangannya yang mungil.


Jurus ampuh itu sudah di pastikan Fauzi tidak akan bisa menolaknya,


"Baiklah tapi jaga diri baik-baik. Pulang nanti saya jemput." Beginilah Fauzi kadang jika bicara serius itu menggunakan kata Saya


"Benarkah??"


Bugh!


Syifa memeluk Fauzi dari samping, lagi-lagi Fauzi menahan nafas dalam-dalam, dekat dengan Syifa membuat kewarasannya hilang. Apalagi si jantung yang sudah menggila di tempatnya.


"Janji ya?" Tanya Fauzi.


Syifa mengangguk antusias dan binar-binar nampak jelas di wajah istrinya, apapun yang membuat istrinya bahagia ia akan melakukannya, kecuali meminta pengganti. Bisa-bisa hidupnya hancur saat itu juga.


"Siap Gus." Jawab Syifa sembari hormat upacara bendera, tatapan manik hitam Syifa mengarah koko Fauzi yang belum di kancing. Seolah saraf mendorong keinginan Syifa.


Fauzi memaku ia menikmati wajah serius istrinya, sudah lima bulan ini dia tidak mendapatkan perhatian istrinya. Fauzi seolah lupa caranya bernafas melihat Syifa dari arah dekat dan tangannya yang mengancingkan koko nya.


"Ya Allah."


Tatapan lain dari Fauzi, sedangkan Syifa yang sudah selesai dengan aktifitasnya menatap Fauzi dengan sangat dekat.


Blushh


Syifa membalikkan tubuhnya, berjalan mengganti pakaiannya untuk bertemu dengan Sahabatnya, apa kabar dengan mereka? rasanya sudah lama tidak berjumpa. Dan hari ini mereka semua sedang longgar jadi mengadakan reuni sahabat.


Fauzi yakin pipi Syifa sudah merah seperti tomat, ia terkekeh dengan tingkah istrinya yang selalu membuatnya tersenyum setiap hari. Melupakan segala kelelahannya.


_____________


Dan di sinilah mereka, di resto xxx sepertinya bukan Syifa yang terlambat untuk kali ini.


"Assalamu'alaikum." Ucap Syifa.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Yunda dan Reva. Menatap Syifa dari atas ke bawah dan bawah ke atas.


"Fa kamu beneran hamil?" Tanya Yunda polos dan itu membuat Reva harus menyentil kepala sahabatnya ini yang lolanya naudzubillah.


"Ih yun, jelas-jelas dia hamil kau kira itu bantal apa." Sewot Reva.


"Ya kalik aja Va, si Syifa udah hamil padahal baru pengantin baru, aku aja belum ada rencana bikin anak." Ucap Yunda.


"Lah kenapa memang?" Tanya Syifa heran.

__ADS_1


"Gapapa sih, hehe aku belum mau aja." Ucap Yunda sambil menunduk apa artinya coba? Hanya sang pencipta dan yunda yang tahu.


"Gimana, kak Rian?" Tanya Syifa pada Reva.


Yah, Sebenarnya Reva adalah istrinya Rian yang pertemuan pertamanya saat di kantor polisi, masih ingat saat Syifa menghabisi seseorang di jalanan. Dan Reva menjadi saksi di kantor polisi?


Justru sebab itu membuat Rian bisa menjadi mualaf, mafia insyaf. Ternyata dunia tak seluas daun kelor. Nggak nyangka juga Reva yang notabenya gadis tomboy nikah duluan dari ke empat sahabatnya. Bahkan sudah punya anak satu.


"Baik kok Fa." Ucap Reva bersemu itu pun membuat Syifa terkekeh rasanya gadis tomboy malu-malu itu kurang cocok. Astaghfirullah


"Emang punya anak enak ya Va?" Tanya Yunda pada Reva.


"Ada enaknya ada enggaknya, tapi mempunyai anak itu satu hal yang luar biasa terutama bagi seorang ibu, kita juga bisa merasakan bagaimana perjuangan ibu kita dulu saat melahirkan kita."


"Rugi jika seorang anak selalu menyela perintah ibunya, bahkan ngebentak ibu nya, tanpa rasa bersalah pun, padahal ibu kita itu sudah berkorban antara hidup dan mati dalam melahirkan kita, MasyaAllah."


"Hem, aku benar-benar merasa berdosa dulu aku sering membuat kecewa ibu, belum bisa menjadi anak berbakti, sungguh pengorbanan seorang ibu itu tidak bisa di gantikan oleh apapun." Ucap Reva sendu.


"Dan lagi ridhoallahi fi ridho walidain, ridhonya Allah tergantung ridhonya orang tua, sepatutnya kita yang masih ada orang tua bersikap birrul walidain berbakti kepada mereka. Kata kang santri." Imbuh Syifa


"Seperti yang telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits nya yang berasal dari pertanyaan seorang sahabat. "Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini." Rasul menjawab, "Ibumu." Kemudian dia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." "Kemudian lagi, ya Rasul," tanya orang itu. "Rasul menjawab, "Ibumu." Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; "Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?" "Bapakmu," jawab Rasulullah." Ucap Arina yang baru saja datang.


"Dari hadits tersebut secara jelas, kita semua wajib menghormati lebih tinggi sosok ibu di dunia ini. itulah pentingnya setiap anak memberikan rasa hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya."


"Semua diberikan tanpa pamrih apapun kepada kita semua. Ia menjadikan pangkuannya sebagai ayunan. Memberikan semua kebaikan dan apabila kita sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa. Rela kelaparan hanya agar anaknya kenyang."


"Betapa banyak kebaikan ibu. Tentu tak pantas kita semua membalasnya dengan akhlak yang tidak baik. Ia selalu mendoakan anak-anaknya dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.


"Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat usianya renta, sangat pantas kita semuanya menyempatkan untuk membelai dan membahagiakannya." Ucap Arina panjang lebar, ia tadi mendengar apa yang di bahas temannya.


"Arina?" Kompak bertiga menoleh sahabatnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Iya maaf telat, aku sedikit sibuk ini hehe." Ucap Rina tak enak.


"Kami seneng kok, kamu mau dateng hehe. Maaf gara-gara aku pengen ketemu kalian..Jadi ganggu." Ucap Syifa lirih.


"Eiteess ibu hamil nggak boleh gitu ya, gimana ponakanku. Sehat-sehat di dalam ya jangan repotin Syifa ya," Ucap Rina terkekeh sambil mengelus perut buncit Syifa. Semua tersenyum.


"Ponakan kita juga kali rin." Cetus Yunda tak terima. Di sambung gelak tawa ke tiganya.


"Masih tahan sendirian ya Rin?" Tanya yunda karena tak di gubris. Arina mengangguk.


"Atau kita pesennin biro jodoh." Astaghfirullah anak ini minta di timpuk pakek sedotan.


"Dasar Yunda."


"Udah ada calon atau gimana Rin?" Tanya Reva, sebagai pengalaman nikah pertama ia juga heran Rina yang kalem itu belum nikah, padahal solehah dapat.


"Nanti kalau jodohnya sudah ada juga datang sendiri." Ucap Rina.


________________


Fauzi yang sudah menunggu Syifa di parkiran kini mulai resah karena tidak ada tanda-tanda dia akan keluar.


"Eh Gus suami." Celetuk Yunda membuat Reva menyenggol lengan si yunda lola.


"Suami sapa yun?" Tanya Reva.


"Hehe suaminya Syifa to. Massa iya suami keduaku." Ucap Yunda terkekeh. Arina hanya menyimak.


"Hiss jangan niatan mau nikung sahabat sendiri kamu ya." Ancam Reva dengan ketusnya.

__ADS_1


"Ish Reva, jangan kira aku ini pelakor ya.. Nggak ada kamus yunda itu pelakor, yang ada pembasminya." Ucap Yunda menekankan.


"Pembasmi tikus?" Cetus Reva membuat Rina menunduk-nunduk tersenyum, sedangkan Yunda kesal.


"Kalian ada liat Syifa?" Tanya Fauzi yang sudah tahu keberadaan sahabat istrinya.


Mereka saling pandang dan mendadak tersenyum getir, pasalnya tadi Syifa baru ke kamar mandi tapi setelah terlalu lama mereka menyusul ke KM ternyata nihil, Syifa kemana coba?


"Kalian kenapa. Istri saya mana?" Tanya Fauzi lagi ia benar-benar resah.


"I-tu Gus, tadi Syifa ke toilet tapi kami susul, orangnya nggak di sana." Ucap Reva demi apa ia benar-benar gemetar melihat Fauzi.


"APA?" Kejut Fauzi mengusap wajahnya kasar, ia langkahkan kakinya kedalam resto. Manik hitam menyapu setiap pengunjung serasa tidak ada, ia ke toilet wanita.


Ya Allah zi apa kata dunia coba pria bersarung memasuki toilet wanita, banyak pasang mata yang menatap kagum akan tampan nan sholeh, sekaligus heran melihat pria bersarung keluar dari toilet. Toilet wanita pulak.


Fauzi tak menggubris tatapan dari para ibu embak adik dan kakak yang tengah memandangnya, yang ia inginkan ialah Syifa. Kemana gadis itu pergi, Fikiran buruk terlintas di otak Fauzi. Bagaimana jika??? arrgh


"Tadi Syifa ke arah mana?" Tanya Fauzi kepada ke tiga sahabat Syifa.


"Tidak ada yang melihat Gus." Rina menimpali. Fauzi memijit pelipisnya.


"Kita pencar saja ya," Usul Yunda, semua mengangguk dan menyiapkan strategi.


Tiba-tiba..


"Kalian ngapain?" Suara yang cukup familiar itu membuat yang mendengar menatap pemilik suara.


Benar saja...


"Syifa?" Sedangkan yang di tatap nyengir tanpa dosa nya.


Fauzi langsung memeluk istrinya, mengecup lama kening Syifa dengan penumpahan kekhawatiran.


Diwaktu yang sama tangan Yunda dan Reva menutup mata Rina, bersamaan lalu memejamkan mata.


"Kenapa mataku ditutup?" Ucap Rina.


"Hus Jomblo nggak boleh liat." Ucap Reva/Yunda. sedangkan pasutri itu langsung sadar bahwa ini di tempat umum, spontan menjauhkan dirinya.


"Hehehe Maaf." Kekeh Syifa.


"Jadi kamu dari mana?" Tanya Fauzi, jangan lupa yang tadi menutup mata masih memasang telinga untuk mendengar tanpa melihat.


"Abis makan bakso di sana." Ucap Syifa dengan cengiran khas tanpa dosa. Hal itu membuat gemas.


Fauzi mengajak Syifa untuk kembali tanpa melihat dan peduli dengan keadaan tiga orang yang tengah menutup mata.


"Fa udah?" Tanya Yunda.


Hening..


krik


krik


"Kok hening ya?" Ucap Rina.


"Oke kita buka mata sama-sama," Putus Yunda.


satu,


dua


tiga..

__ADS_1


"Astaghfirullah!!!"


__ADS_2