Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
41.Teringat


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Saya harap kalian bisa mengambil makna yang baik dan meninggalkan makna yang buruk ,.itu sebatas kehaluan dan maaf banyak masih kesalahan dalam bercerita, dan typo bertebaran


__________________________


Tiga bulan berlalu...Pesantren🍂


Seperti pada umumnya, dinamika kehidupan nyaris berdenyut membawa alunan bersama tuntunan.


Pukul 03.30 Para santri sudah ada yang bangun untuk sholat malam.


Kisaran jam 04.00 Santri sudah harus siap-siap untuk jama'ah di masjid. Selesai subuhan mengaji di tempat hingga jam 05.30, di lanjut setoran murojo'ah hingga jam 06.00 pagi.


Selesai itu santri yang piket melaksanakan tugasnya dan lainnya kembali asrama bersiap mandi dan sarapan terserah mau ngantri yang mana dulu, yang jelas santri tetap ngantri, berbumbu dengan kejahilan lain.


"Sampean sama saya makan bareng saja." Ajaknya.


"Ha iya, boleh." Jawabnya, setelah itu mengambil jenis makanan yang disiapkan, kenapa tidak masak sendiri? yah yang seperti ini memang ada tetapi biasanya pondok salaf, sedangkan ini pondok tergolong yang modern.


Pukul 07.00 Santri sudah berada di ruang kelas hingga jam 13.00 tentu sudah termasuk sholat dzuhur setelahnya makan siang di sambung istirahat sampai ashar dilanjut kegiatan santri.


Saat ini Fauzi dan temannya tengah jalan-jalan sore bahasa gaulnya JJS hihihi.


"Huh..huh..Sudah lama ngga keluar pondok, hem udaranya enak." Ucap Fauzi menghirup udara.


"Wah wah itu sampean aja yang terlalu fokus di penjara suci lupa dunia luar xixixi." Ucap temannya terkekeh yang namanya Andre.


Andre teman Fauzi sejak kecil yang sudah nyantri hanya saja dia sedikit bandel, siapa bilang santri itu kalem? kudet karena ngga punya gudget


Bicara soal hukuman bertujuan untuk menimbulkan efek jera, misalnya digundul, penyebab salah satunya lompat pagar. Alasannya pulang, main, hingga janjian dengan seseorang wah ini nih jangan ditiru.


Entah siang atau malam waktunya digunakan saat ada kesempatan, ngenesnya ketika sudah capek manjat Ustadz sudah menangkap basah karena sudah di luar.


"Hayoo kapokmu kapan."


Kalau sudah begini, petugas keamanan turun tangan. Memajang pelaku untuk digundul bahkan disaksikan oleh santri putra-putri.


Entahlah malu tidaknya, yang jelas perasaan dag dig dig campur aduk! Pada dasarnya melanggar peraturan dapat pelajaran besar akan itu, sebut saja cari pengalaman baru.


Inilah yang disebut Sebuah pengalaman pahit terkenang manis. Tapi jangan ditiru, silahkan kalau mencoba tapi kalau ketahuan tanggung sendiri tanpa pihak pengaman, setelah melakukan ucap kan istighfar dan tinggalkan. Kalo mau mengulang cari pelanggaran lain hehe malu dong mengulang kesalahan yang sama, Jangan ditiru!!


"Lha sampean kapan seriusnya." Tanya Fauzi.


"Heheh nanti kalau sudah waktunya, serius untuk melamar." Jawabnya sambil garuk tengkuk.

__ADS_1


"Kenapa jadi ngawur ini." Gumam Fauzi masih terdengar andre.


"Lha sampean kapan senyumin santriwati." Tanya Andre yang heran dengan Sifat Fauzi cuek tak mengurangi popularitas.


"Ingat ibadah yang paling mudah ialah Tersenyum." Ucap Andre


"Kasian kalau mereka baper hahah." Candaan Fauzi, sikap inilah jika dengan teman dekat pede gila.


"Justru itu,, Cari satu yang paling mantap, atau sampean berniatan memperistri 10 jahahah." Ucap Andre ngawur bicara ngalor ngidul


"Ngawur sampean." Ujar Fauzi yang tau betul niat terselubung temannya, agar dirinya tergoda.Ah jadi ingat Syifa sudah lama tidak jumpa, bagaimana ya kabarnya?


”Ya nggapapa kalau 100 terbilang mampu apalagi 10 kecil." Ucap Andre menekan jari paling kelingking, Refleks Fauzi mendorong Andre karena tertawa.


Brug!!


Tawa Fauzi makin keras ketika Andre jatuh di semak-semak sang empu mengerucutkan bibir.


"Ayo saya bantu." Fauzi mengulur tangan, Andre menerimanya tiba-tiba ide muncul di kepalanya Andre tersenyum menyeringai dan


Brug!!


Fauzi ikut terjatuh dengan posisi yang Astaghfirullah buang pikiran kotor kalian hahah.Ibarat tepung tertimpa terigu.


"Astaghfirullah Andre," Geram Fauzi yang di bawah tersenyum kikuk karena ulah sendiri.


Fauzi tertawa dengan keadaan temannya, untung sepi tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan secara intes.


-


-


-


Kos


Syifa dan Rina tengah merebahkan diri di kasur yang tidak terlalu tebal, membiarkan lelah seketika mengingat prakerin sudah berlangsung tiga bulan.


Pagi jam 08.00 sudah berangkat pulang jam 16.00, kegiatannya seperti memotong, finishing mayet sesuai arahan pembimbing.


Sesampai di kos pun sudah sore dimanfaatkan untuk membersihkan diri dan istirahat, mandirinya orang kos kadang masak sendiri tapi tak jarang juga untuk membeli.


"Assalamu'alaikum gaess." Teriak Yunda yang baru pulang membeli keperluan bersama Reva.


"Wa'alaikumussalam, jangan teriak-teriak yunda, malu sama sebelah huh, kalau mereka demo pakek wajan sama panci emang mau ganti rugi." Ketus Syifa.

__ADS_1


"Iya beli panci baru." Sambung Reva.


"Enggak lah tinggal belikan tambal panci-tambal panci, mari beli, mari beli." Lelucon Yunda mengikuti tukang tambal panci ish ish


"Hadehh!"


"Mm heheh habisnya cuci mata tadi." Ucap Yunda menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Lalu."


"Eh kalian tau ngga?" Tanya Yunda sembari duduk sebelah Syifa.


"Engga."


"Kan saya belum ngomong ikhh." Kesal Yunda.


"Lanjutkan-lanjutkan." Celetuk Rina.


"Mmm tadi itu kayaknya aku melihat santri NQ deh, asli mirip orang pas kita jemput bocil dulu." Ucap Yunda.


"Emang bener Va?" Tanya Syifa pada Reva.


"Ngga tau Fa, lagian aku ngga kayak Yunda tuh kalo lihat cogan lupa teman." Gerutu Reva sedangkan Yunda memicingkan mata.


"Iyalah secara jalan-jalan ketemu cogan apalagi santriwan wah tenan." Ucap Yunda.


"Sakarepmu." Kompak Syifa, Reva


"Sudah-sudah malah bicarain apa." Lerai Rina.


"Yaudah yang mandi dulu siapa ini, bareng aja gimana." Ucap Yunda.


"Ogah!!" Ucap Ketiganya sedangkan Yunda sudah menggaruk tengkuk.


Syifa duduk di pojokan fokus benda pipih, bukan-bukan sepertinya ia tengah berfikir.


"Santri NQ."


"Asli pas jemput bocil."


Kalimat itu menganggu pikiran Syifa, entahlah perasaan aneh menjalar setiap hembusan nafas, jantungnya serasa berdetak lebih cepat.


"Kenapa jadi ingat kang santri, apa jangan-jangan tadi itu kang santri ya? atau Yunda aja yang salah lihat." Batin Syifa


"Loh beneran ini aku mikirin orang aneh itu ck! Ngga mungkin jika itu Kang Santri." Batin Syifa meyakinkan diri sendiri.

__ADS_1


"Fa giliranmu." Ucap Reva membuyarkan lamunan Syifa.


"Hemm." Singkat jawabnya.


__ADS_2