Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll. Ke bandung


__ADS_3

Teori nggak menjamin, makanya saya menyangkal segala perkataan dari kalimat maupun kata. Semangat dan keikhlasan diri itu bukan dari sekedar kata-kata melainkan tindakan nyata. Seandainya manusia tak punya kemauan lantas kapan ia ikhlas? ikhlas dengan semangat menjalankan hidup.


Bukan satu peran atau dua peran, hanya saja kadang cerita kami cenderung abstrak. Saya sedang mencoba mendeskripsikan ke abstrakan itu.


"Abi Annisa berangkat yah."


"Abi belum siap sayang." Ucapku tapi putriku yang sudah berusia sebelas tahun itu hanya menggeleng pelan.


"Abi nggak boleh antar nisa." Aneh, waktu kecil dia mirip dengan saya tapi menuju remajanya lebih ke sifat sang bunda.


"Loh terus?" Tanyaku setelah memperbaiki jilbabnya yang sedikit berantakan.


"Aku bareng kak Hasna, Abi." Jawabnya riang. Saya hanya mengangguk dan tersenyum.


Di ujung pintu sudah ada perempuan yang menunggu Annisa, saya hanya menatap dirinya datar tanpa berminat untuk menyapanya.


"Hati hati nak." Ucap saya.


***


Waktu itu, saya sedang berada di kamar saya sendiri dan merasa gerah. Saya bahkan belum sempat mengenakan kaos oblong tapi tiba-tiba saja di ujung pintu sudah ada sosok wanita yang memandang saya tanpa izin.


Astaghfirullah,


Sejak saat itu saya hanya mendiamkan sosok. yang kata Ustadz Rizal itu dirinya yang menyukai saya.


Lupakan masalah itu, Umi bahkan memintaku untuk menikah lagi ketika melihat Annisa yang terlihat bahagia dengan sosok hasna.


Saya memilih berkeliling menatap foto masalalu kami saat kebersamaan di berbagai tempat, bayangannya saja masih terlihat jelas di pikiran meski lima tahun sudah berlalu.


"Ya nanti kalau aku nggak ada di sisi kamu lagi, kamu bingung dong Kang." Ucap Syifa tertawa membuat Fauzi tersentak.


"Kamu ngomong apa Fa, gak jelas banget." Ucap ku heran sendiri.


"Hihi serius amat suami aku." Katanya dulu malah tertawa.


"Becanda kamu nggak lucu Fa." Ucapku datar.


Lihat Fa? inikah yang ingin kamu tahu? Saya tanpa kamu itu tidak akan pernah lengkap. Dunia saya sekarang hilang satu warna Fa. Meski kalimat ini yang selalu meyakinkan bahwa Cukup bagiku Allah SWT


****


Saya berjalan di koordinir pesantren dimana masih berlalu lalang terdapat berbagi santri santri yang sibuk dengan membuka tutup buku hafalan.


"Zil."


"Umi? Assalamu'alaikum." Ucap saya membuat beliau tersenyum.


"Wa'alaikumussalam."


"Gimana tawaran ummi." Ucap beliau yang membuatku bingung.


"Tawaran?" Tanyaku.


"Iya, sudah lima tahun kamu nggak berniat mencari pengganti?" Ucap Ummi yang membuatku terdiam.


"Coba kamu lihat," Saya melihat arah tunjuk Ummi, di sana ada Hasna dan juga Annisa yang tertawa bahagia, ah perempuan itu.


"Kamu jangan egois, Annisa juga membutuhkan sosok ibu. Dia kesepian le, sudah lima tahun kamu membiarkan dia menangis sendirian saat tak mempunyai sosok ibu lagi?" Tanya Ummi yang membuat saya menggeleng tanpa mempertimbangkan lagi jawaban saya.

__ADS_1


"Tidak Ummi sampai kapanpun Syifa tidak akan pernah ada penggantinya. Syifa satu satunya Ummi." Ucapku yang membuatnya menggeleng keras.


Perdebatan ketika saya membela Syifa mungkin terdengar si beberapa santri. Dan saya tidak peduli. Lihat Fa? aku cintanya hanya untuk kamu, ini bukti cinta Kang Santri.


"Kamu tidak memikirkan putrimu, jangan egois."


"Maaf Ummi, zi pamit. Assalamu'alaikum." Ucap saya melenggang pergi.


*****


Keputusan saya untuk pergi dari pesantren sudah tersebar di beberapa kalangan Ustadz Ustadzah. Apalagi Ustadz rizal yang sangat heboh dengan rencana kepergian saya dari pesantren.


"Abi kok masukin baju Nisa ke koper?" Tanya Annisa yang membuatku menoleh ke belakang.


"Nak sini." Saya berjongkok merentangkan tangan, Annisa langsung menghambur memeluk saya dengan erat.


"Abi kenapa." Tanya gadis kecil itu yang membuat saya menggeleng.


"Annisa masih ingat bunda?" Tanya saya membuatnya terdiam.


"Tentu saja." Ucapnya kemudian dengan mantap, saya tersenyum mendekap erat tubuh gadis kecilku


"Apa Nisa mau mencari pengganti bunda lagi?" Tanya saya membuatnya menggeleng


"Abi, Bunda Syifa adalah satu satunya Bunda Nisa. Nisa nggak mau punya bunda lagi. Nisa sayang bunda." Dadaku terasa basah oleh air mata Nisa.


"Nisa.... nggak mau abi nikah lagi." Sesengguknya membuatku tersenyum merekah.


"Tidak akan nak." Ucap saya meyakinkan. "Jadi mau ikut abi?" Tanyaku yang membuatnya melepas dekapanku, ia menghapus ujung mata yang basah


"Kemana?"


Umi tiba tiba datang dengan tergesa-gesa,


"Astaghfirullah le, kamu kalau nggak mau bikin lagi mbuk ya jangan pergi dari pondok." Ucap beliau yang membuatku terkekeh sejenak.


"Umi kenapa?"


"Umi tidak memaksamu tapi jangan pergi ya." Ucap Umi membuat saya menghentikan aktifitas.


"Umi, fauzi memang ada janji sama abah yai bandung untuk beberapa bulan berada di sana." Ucapku membuatnya menghela nafas.


"Maafin umi tadi." Ucap beliau, saya langsung mendekap tubuh beliau yang nyaman.


"Umi ngga salah, Fauzi mau langsung berangkat karena infonya juga mendadak." Ucap Fauzi yang membuat Ummi berfikir sejenak kemudian mengangguk pasrah.


Pov Fauzi off


*****


Setelah pamit dengan Abi Umi dan beberapa Ustadz Fauzi langsung berangkat.


Perjalanan cukup lama dari boyolali ke bandung, Fauzi yang sudah melihat Annisa tertidur tersenyum lega.


Ia juga bernafas lega kala sudah ada tanda di bandung Tiba-tiba saja mobil Fauzi oleng. Fauzi menghembus nafas kasar, ia turun dari mobil dimana salah satu bannya kempes, melihat beberapa mobil dan motor yang juga berlalu lalang, tapi tidak menemukan bengkel.


Beruntung mobilnya tepat berada di pinggir hingga tak begitu menghalangi mobil belakangnya.


"Nis, nisa."

__ADS_1


Annisa menggeliat sembari mengerjab lucu, Fauzi tersenyum.


"Udah sampai bi?"


"Belum nak, tapi ban bocor, Abi cari bengkel mau ikut?" Tanya Fauzi membuat gadis kecil itu menggeleng pelan.


"Enggak abi." Ucap Annisa.


"Tapi.."


"Nisa nggak papa." Ucap Annisa, ia masih mengantuk, Fauzi hanya tersenyum kemudian mengangguk.


Annisa menoleh sekeliling, ia sama sekali tak berpemikiran buruk. Di belakang mobil ada sebuah halte yang terdapat anak kecil berdebat.


Annisa turun dari mobil kemudian menghampiri dua bocah yang sedang berdebat yang satu memarahi kemudian satunya lagi tak peduli.


"Assalamu'alaikum dek." Sapa Annisa membuat keduanya menoleh.


"Wa'alaikumussalam kak." Jawab keduanya.


Baru Annisa sadari bahwa keduanya kembar.


"Ada apa ini kok ribut ribut." Tanya Annisa. Si gadis kecil itu mulai berbicara panjang lebar-lebar.


"Dia ini nyebelin banget." Kata akhir si gadis.


"Gak usah lebay La." Potong si laki-laki datar


"Kak! panggil aku kak." Ucap si gadis malah berdebat di hadapan Annisa yang terkekeh.


Si laki-laki tadi memutar bola mata malas, "Terserah-_"


"Kalian kenapa berantem."


"Dia ngeselin banget jadi adik tidak sopan." Ucap si gadis cemberut.


Sedangkan yang laki-laki tadi memilih meninggalkan keduanya dengan raut datar dan dingin. Meninggalkan si gadis yang menghentakkan kaki kesal.


"Namaku Annisa." Ucap Annisa mengulurkan tangan membuat gadis kecil dengan jilbab pink itu juga membalas uluran tangan.


"Shakilla."


*****


Harapan kaliaan?


Ayo ke bandung hehe.


****


Jiwa yang pernah tertanam,


Bukan sebuah pohon


Apalagi pajangan


Ini kisah monoton


Bandung, 03.07.2021

__ADS_1


__ADS_2