
Kicauan burung terdengar merdu, membangunkan makhluk yang tengah terlelap, sembarut cahaya menembus jendela Syifa di lihatnya jam tertempel di dinding yang memunjukkan angka 06.00.Segeralah bergesas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kebiasaan tidur setelah subuh membuat Syifa tak bisa meninggalkan rutinitasnya, Rencana hendak pergi jalan-jalan dengan temannya sebelum berpisah untuk kuliah, membuat Syifa berantusias.
"Anak-anak sarapannya." Teriak Bunda dari arah jauh, tak hentinya Syifa tersenyum.
Dulunya dia yang selalu bangun pagi untuk membangunkan Abangnya dan Adiknya dan sekarang ada Bunda dan Ayahnya yang selalu memberikan perhatian lebih.
(...)
"Pagiii." Ucap Syifa datang paling akhir membuat semua menatap Syifa datar.
"Ck, hus hus tidur lagi sana cacing Rizky sudah hampir kena operasi hanya karena menunggu kakak yang hanya bermalas-malasan di kamar." Gerutu Rizky.
Syifa memutar bola matanya jengah, adiknya ini benar-benar cerewet membuat Syifa ingin menyumpel telinganya dengan kapas.
"Kau sudah seperti burung saja dek berkicau setiap pagi." Ucap Syifa.
"Aku ini manusia apa kakak tidak dapat melihat dengan jelas, kalau begitu Rizky belikan mata kaca." Ucap Rizky ngawur.
"Mata kaca??"
"Eh kaca mata jaran." Ucap Rizky hingga Syifa menyipitkan mata.
"Seterah." Ucap Syifa
Yah kira kira seperti itulah adu mulut kakak adik sedangkan lainnya hanya memandang malas. Setelah selesai sarapan Syifa bersiap untuk pergi karena temannya sudah OTW katanya.
"Syifa mau pergi ke mall ya bund." Ucap Syifa pandangannya menujur Rizky yang memakai kaos biru dongker dan sarung hitam membuat Syifa mengerinyit.
"Kamu mau sunat Ky?" Tanya Syifa ceplos.
"Ishh emang pakai sarung cuma mau sunat aja gitu, ya enggak lah Rizkykan masih sangat manis menggemaskan." Jawab Rizky merubah muka imut nan mengerlingkan mata.
"Lahh hubungannya sama manis itu apa? harus nunggu pahit dulu gitu baru sunat." Cibir Syifa.
"Emang kakak sudah sunat?" Tanya Rizky polos.
Aihh pertanyaan macam apa itu? Bunda Ayah dan Abang sudah tertawa-tawa karena Syifa diam saja tanpa menjawab hal memalukan itu.
"Kakak diam berarti belum sunat yaa?" Cibir Rizky membuat Syifa kesal.
"Hahahahh kasimen adiknya Abang." Ejek Ridwan hingga Syifa mengerucutkan bibir.
"Bang Ridwan belum sunat ky." Celetuk Syifa hingga Rizky memandang Ridwan.
"Emang Bang Ridwan juga belum sunat kayak Kak Syifa, kalau gitu Rizky ngga mau sunat nanti barengan kalian." Ucap Rizky yang masih polosss. Semua menepuk dahi.
"Hey hey Abang udah sunat ya enak aja dikata belum sunat." Celetuk Ridwan tak terima. Rizky mangguk-mangguk
__ADS_1
"Belum."
"Belum apa kak?" Tanya Rizky penasaran, Ridwan memicingkan mata.
"Dua kali." Ucap Syifa cekikikan enteng, Ridwan memicingkan mata.
"Sudah kalian ini malah membahas apa." Lerai Ayana dengan memberikan Rizky peci hitam.
"Bunda Rizky mau kemana?" Tanya Syifa.
"Mau ke pondok, katanya ada urusan adsminitrasi semua santri berangkat hari ini." Ucap Bunda membuat Syifa merasa tidak tenang entah perasaan apa itu.
"Lalu kalian di jaga bodyguard kan bun? Syifa takut." Ucap lirih.
"Tenang aja, Ayah pastikan sudah ngga ada musuh jadi tenang ya..nanti Abangmu akan anter Rizky, undangan Ayah Bunda di jam sembilan. Nggak usah bawa bodyguard." Ucap Arnold memeluk Syifa.
"Ayah setidaknya bawa beberapa bodyguard, Syifa benar-benar takut." Ucap Syifa kenapa air matanya luruh begitu saja.
"Hey hey kenapa nangis, baiklah Ayah akan sewa Bodyguard." Ucap Arnold membuat Syifa lega sedikit walaupun ada keganjalan.
"Yaudah hati-hati Syifa berangkat dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Syifa dan mencium tangan semuanya sedangkan Rizky yang mencium tangan kakaknya.
Syifa menuju sepeda motornya, memasang helm merah menstater sepedanya.
"Bismillahi tawakaltu'alallah, Allah kenapa perasaanku tidak enak seperti ini apa yang sebenarnya akan terjadi. Huh positif think oke! Ada Allah Bismillah." Batin Syifa.
Saat ini perasaannya atau firasat Syifa tidak bisa membedakan antara keduanya, bukan hanya Syifa melainkan Ridwan, dia sampai rela mengantar Rizky hanya untuk menemani bocil sebelum orang tuanya datang. Entah apa yang digariskan takdir.
"Fa sini." Ucap Yunda melambaikan tangan. Syifa tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju tempat temannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab serempak.
"Kamu lama banget Fa." Ucap Reva yang sudah setengah jam nunggu sedangkan Syifa hanya tersenyum kikuk pasalnya ia sempat menabrak tukang sayur dan harus ganti rugi dulu.
"Maaf ya nunggu lama." Jawab Syifa.
"Its oke no problem." Ucap Yunda diangguki kedua temannya.
Syifa diam yang lain pun ikut terdiam saling pandang, pertemuan dengan temannya membuat Syifa takut kehilangan mereka, Syifa ingin jujur akan jati dirinya tapi takut jika mereka akan menjauh.
"Fa kamu mau ngomong apa?" Tanya Rina membuyarkan lamunan Syifa.
"Emm itu.." Ucapnya digantung membuat yang lainnya fokus dengan Syifa.
"Jika sahabat kalian mempunyai jiwa psycopat apakah kalian akan menerima." Tanya Syifa.
"Maksudnya apa Fa?" Ucap Yunda membuat Syifa deg deg an. Kali ini dia harus menerima kenyataan.
__ADS_1
"Kalian sudah Syifa anggap sebagai saudara dan setelah ini terserah kalian mau menjauh dariku atau tidak tapi maafkan aku sudah menyembunyikan semuanya..." Ucap Syifa menarik nafas panjang.
"Aku mempunyai jiwa psycopat keturunan dari Ayahku dan sekarang terserah kalian." Imbuhnya memejamkan mata agar matanya tak terlihat merah.
"Fa." Ucap Reva lirih.
Hening
Akhirnya Syifa merasakan genggaman dan pelukan dari samping kanan kiri, membuatnya menurunkan air mata.
"Kenapa kamu sembunyikan hal ini." Ucap Yunda.
"Maaf aku takut dan sekarang terserah kalian kalau mau menjauh dariku." Ucap Syifa pasrah.
"Kamu ngomong apa sih Fa? sekalipun kamu monster kita akan tetap bersahabat kok. Lagian itu hanya jiwa kan kamu bukan orang jahat bagi kami." Rina.
"Iya fa, kita akan bantu ngilangin jiwa itu." Ucap Yunda.
"He em Fa kau tahu kita ini tiga tahun baru kenal tetapi aku ingin kita tetap seperti ini sampai tua nanti, dan semoga kita bisa berkumpul lagi di surganya." Ucap Reva.
Air mata Syifa tak terbendung lagi, ia bersyukur akan sahabat yang tulus dengannya.
"Makasih."
"Eitss dalam kamus kita tidak ada kata makasih dan maaf, karena saling menolong itu sudah kewajiban dan memaafkan itu sudah kewajiban." Ujar Rina diangguki keduanya.
(....)
Masih di tempat Syifa waktu menunjukan pukul 08.00 ia semakin resah dan khawatir firasat buruk selalu berterbangan dalam benak Syifa.
"Kalo aku sih mau kuliah ke bidang Manajemen." Ucap Yunda.
"Doain aku mau ke bidang atlet hehehe." Reva
"Aku sih mau ke bidang Agama gitu." Rina
"Kalo kamu Fa?"
"Fa??" Ucap ketiganya sukses membuat Syifa gelagapan.
"Oh iya kenapa?" Tanya Syifa ngga ngeh, sedangkan temannya mendengus kesal karena Syifa tidak mendengarkan.
"Kamu kenapa cerita sama kita jangan ada yang di sembunyiin." Tanya Rina mewanti.
"Ehem sedari tadi perasaanku ngga enek, aku takutt sekali takut ngga tau kenapa Ayah, Bunda, Rizky, Bang Ridwan." Ucap Syifa selalu terpikir dengan mereka dan satu lagi dia terpikir oleh Kang Santri sedari tadi.
"Yaudah kita pulang." Reva.
"Tapi Rizky di pesantren." Ucap Syifa.
__ADS_1
"Yaudah kita berangkat ke sana pakai mobilku, aku jadi takut juga." Ucap Yunda diangguki semuanya.