Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Bab 17 Pembuktian Cinta


__ADS_3

"Pak yai, Dinda di bawa sama mas tadi." Ucap Fika panik..lantas membuat semuanya khawatir Ridwan dan Rian segera menyusul tak lupa Faqih dan Fauzi juga mengikuti.


Di perjalanan sepi, Ridwan terus berusaha menghentikan mobil Riko tepat berada tikungan Ridwan tersenyum licik menancap gas ia memotong jalan Riko lalu menghentikannya,


"Shitt siall.!" Umpat Riko membanting setir.


Rian segera menghabisi Riko dan anak buah riko Ridwan turut membantu, Faqih berinisiatif mengambil Dinda tak ada cara lain ia menggendong tubuh Dinda.


.


.


.


Di waktu yang bersamaan Syifa hendak menyusul Ridwan ke pesantren Syifa memutuskan sekalian jalan jalan kaki, tapi di tengah perjalanan ia melihat seseorang yang ia kagumi menggendong Gadis.


Ia mengamati secara intes dari keajauhan, Berharap bukan apa yang ada di pikirannya


"Itu kang.." Ucap Syifa menutup mulutnya ia segera berlari menjauh.


Fauzi yang tak sengaja melihat Syifa ada perasaan sakit ketika ia tau cerita ridwan tentang Syifa yang mengagumi Faqih ada sedikit Ego yang ingin memenangkannya,


(...)


"Syifa Lo itu cuma Gadis rumah, seharusnya sadar dan bener kata santriwati itu jika yang pantas hanya mereka yang setara dengan ilmunya." Batin syifa sedikit menghibur diri sendiri.


*)Flashback on


Syifa bertemu santriwati dengan tatapan horor


"Bukannya kamu yang dekat dengan Faqih." ucap Orang yang tak lain ialah Dinda.


"Lalu urusannya sampeyan apa." ucap Syifa


"Harusnya kamu sadar jika dia pantas mendapat orang yang soleh semacam hafidzah."


"Jodoh Allah yang menetukan." ketus Syifa


"Tapi saya rasa kamu harus menjauh sebelum tau akan pahitnya harapan."


"Heh kamu berkata seolah saya Yang mengejarnya ,maaf saya tak serendah itu, dibandingkan anda siapanya bukan nyuruh jauhin segala, aneh." Sinis


(*Flashback off


Syifa asyik dengan lamunannya hingga buyar karena seseorang


"E hem Assalamu'alaikum." Ucap seseorang


"Wa Wa'alaikumussalam." Ucap syifa terkejut.


Yah dia Fauzi entah angin dari mana seolah hatinya tergerak mengikuti langkah si Gadis, Dan tepat pada pikirannya Gadis itu menenangkan diri di Danau.


"Boleh saya duduk." Ucap Fauzi, Syifa hanya mengangguk tanpa menoleh lalu menggeser tempat duduknya.


"Jangan jauh jauh." Ucap Fauzi


"Social Distancing."


Fauzi terkekeh, ia tau jika Gadis itu trauma terhadap laki laki atas cerita ridwan.


"Kenalin Nama saya Muhammad Zildan Al Fauzi."


"Hem." Syifa berdehem tanpa mencerna

__ADS_1


"Apa kau cemburu dengan Santriwati yang ditolong Faqih."


Syifa membulatkan matanya.


"Ti tidak." Jawabnya ketus


"Tenang saja, dia hanya sedang menolong orang yang membutuhkan, bukankah menolong itu wajib bagi sesama muslim, seharusnya kamu tau jika posisi mereka sangat Genting." Tutur Fauzi yang menahan rasa perih sendiri di hatinya.


"Ngapain cemburu orang bukan siapa siapanya." jawab Syifa malas


Kadang memang Perasaan tak mau mengakui antara tempat waktu dan keadaan, hanya ada perasaan itu saja cukup.


"Kau tau ada seseorang yang lebih sakit dari itu." Tanya Fauzi.


"Maksudnya?" Tanya syifa menoleh Fauzi ia mulai penasaran.


deg!


Manik hitam mereka saling bertemu


"Bukankah itu." batin syifa mengalihkan pandangan.


Fauzi tersenyum ia menarik nafas dalam dan membuang kasar.


"Seseorang hampir jatuh Tertabrak , tapi mengakibatkan ia terjatuh dalam perasaan Cinta, bukankah itu adil? jika disuruh milih bukankah lebih baik jatuh saja ia di Aspal."


Syifa terkekeh "Lalu?"


"Ia jatuh cinta pandangan pertama, hanya saja kebenaran pahit itu, si gadis sudah mencintai orang lain dan mereka mempunyai perasaan yang sama, tapi hanya karena salah pemahaman Salah satu darinya tersakiti akan satu hal."


"Lalu?"


"Bukankah lebih baik ia menyerah daripada berjuang memutuskan satu benang yang searah, Tak pantas Menjadi Gunting dalam kehidupun,


Fauzi mengangguk, "Lebih baik orang yang baru datang mundur dari pada menyimpan perasaan tak pasti." sendu


"Bukankah katamu salah satu dari mereka tersakiti." Fauzi mengangguk


"Lalu kenapa dia tak berjuang untuk membuatnya bahagia." ucap Yakin Syifa yang membuat Fauzi terkejut.


"maksudmu?"


"Hmm bukankah sebelum janur kuning melengkung (Syifa terkekeh) takdir yang menentukan, harusnya dia berjuang." Ucap Syifa


"Tapi bagaimana jika dia di Cap sebagai penusuk belakang."


"Aku jurusan Tata busana, Gunting yang bersatu tumpuan saja digunakan untuk memotong yang sudah bersatu, tapi Jarum benda tajam itu mampu menyatukan kain menjadi satu pakaian yang indah, kau tau artinya?" Fauzi menggeleng


"Tak selamanya yang menusuk itu buruk, tak selamanya yang menyatu itu tetap sama."


"Harusnya dia hanya perlu Pembuktian atas Cintanya, sekali lagi bukan karena nafsu." tutur panjang syifa.


Fauzi tersenyum seolah lampu yang tadi merah berubah menjadi hujau, ia juga heran jika Syifa ternyata sangat polos, Padahal sedari tadi ia mengungkapkan,


Fauzi mengambil batu lalu memberikan pada Syifa,


"Untuk." mengernyitkan dahi


"Kau lemparkan batu ini sesuai masalahmu,"


puk!! Fauzi melmparkan ke arah air.


Syifa mengikuti batunya terlempar lebih jauh, kemudia tertawa menang,

__ADS_1


Fauzi menyunggingkan senyum


"Astaghfirullah" batin fauzi


"Aku balik dulu deh, Assalamu'alaikum." Ucap syifa buru buru


"Wa'alaikumussalam." ucap Fauzi memandang punggung Syifa yang makin jauh dan menghilang.


"Aku akan buktikan bahwa Cinta ini bukan karena nafsu, semoga kelak kita berjodoh..Aamiin." Batin fauzi menatap Danau tenang.


"ehemm hem hem." suara deheman seseorang membuyarkan lamunan Fauzi sontak sang empu membulatkan mata. Ia memutar kepalanya mendengus kesal.


"Mm heheh." ia cengegesan yah dia adalah toyib


"kau mengagetkan ku." ucap Fauzi kesal


"Apa kau benar benar Gus Zildan Al Fauzi?." tanya Toyib


"Menurutmu." Fauzi memicingkan mata, Lantas Toyib menyentuh kening Fauzi matanya seolah berpikir.


"Normal." ucapnya, Fauzi sudah geram serasa ingin mengubur hidup hidup manusia di sampingnya itu.


"Mm apa kau sehat," tanya Toyib


"hem."


"Kenapa kau tersenyum senyum,?Apa kau jatuh cinta mm atau gadis tadi...." Goda Toyib menaik turunkan alis. Fauzi dengan cepat menjitak kepala temannya yang ngawurnya Astaghfirullah.


"Astaghfirullah, Kondisikan tanganmu." ketus Toyib mengelus kengingnya.


"Sejak kapan kau disini." tanya Fauzi


"Mungkin sejak kau melempar batu itu atau merayu gadis itu hahahah."


skak mat


Sungguh benar benar menyebalkan, Fauzi malu hidup hidup. Ia segera bangkit tanpa menghiraukan perkataan Toyib.


"Hey kenapa meninggalku hah, dah enak di temani eh malah di tinggal, opo aku salah " ucap Toyib sembari menyusul Fauzi.


"mm apa kau mencintainya." tanya Toyib, Fauzi hanya diam.


"Ayolah jawab, Kau tau kan dia incaran Faqih." Fauzi mengangguk.


"Lalu?" tanya Toyib


"Maksudmu.?"


Toyib menepuk keningnya jika bicara dengan Tembok mana paham dia.


.


.


.


Semenjak kejadian itu, Para santri di sibukkan membereskan kekacauan, dan Ridwan menerima untuk mengajarkan ilmu bela dirinya.


"Sudah malam semua harap masuk ke kamar masing masing." Ucap Utadz


"Baik ustadz." jawan mereka serempak.


Heppy reading

__ADS_1


__ADS_2