Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Bukan sabar


__ADS_3

...Menunggu kabar baik yang tak kunjung membaik, ...


...**...


...zz...


Lewat cerita ini harusnya paham, belum tentu orang sabar akan tetap sabar saat emosinya benar-benar tidak bisa di sabarkan. Hanya teori kehidupan atau sebuah ujian yang menandakan kita mampu ataupun tidak?


Dor


Dor


Dor


Riuh bunyi tembakan sedari tadi terus bergema, kecepatan maksimal perlu digunakan untuk menghindar serangan hampir saja Fauzi berada di tembusan peluru itu. Tapi beruntung dengan sigap ia menjauh.


Fauzi dengan segala keberanian, ternyata benar ketika kita berada di titik tidak bisa menuntaskan peran, maka dalam keterpaksaan semua itu bisa melakukan hal di luar nalar. Seolah Alam sedang tak memintanya untuk sadar.


Dengan segala bidikan dan hindaran membuat beberapa para lawan tumbang, Fauzi tidak membunuh hanya saja dia menembak di titik bahu. Cara itu cukup ampuh dan Fauzi masih cukup waras untuk tidak melakukan pembunuhan.


Bugh


plak.


Tandangan kaki yang tak mampu Fauzi hindari membuatnya terbanting ke aspal, Mahmud melihat itu segera menghampiri Fauzi. Di tengah tengah kericuhan gaduh itu membuat Fauzi meringis sambil menggeleng.


"Kamu jagain Syifa." Ucapnya Fauzi yang membuat Mahmud seketika mengangguk dan berlari ke arah mobil.


Demi istri


Sedangkan di sisi lain Arnold dan juga Ridwan tengah berhasil menumbangkan kurang lebih sepuluh orang, biarpun darah bercucuran di dahi dan juga jaket yang sudah berbau darah manusia musuh.


Suasana semakin tegang kala masih ada musuh yang kembali berdatangan, Arnold dan Ridwan serta asistennya tak kalah peran. Mereka dengan segala tenaga melawan anak buah Alex.


Bugh


bugh


Bunyi kegaduhan kentara di tengah jalan.


Sampai pada akhirnya Alex memundur sembari menyunggingkan senyum ia menelisik segala penjuru semua ada pada kesibukan masing-masing, kakinya mengayun ke mobil Syifa.


Cih cuma orang ini, bodoh sekali mereka.


Alex tersenyum devil kala melihat sosok mahmud yang sedari tadi berdiri di depan pintu.


Bugh. Langsung saja Alex meninju kepala Mahmud hingga terbentur kepalanya di mobil.


"Ma-mau apa kamu." Ringisnya kala melihat Alex hanya tertawa sumbang.


"Hahah, jangan menghalangi jalanku."


"Tolong jangan sakiti ning Syifa." Mohon orang itu.


Syifa yang berada di dalam membuka mata setelah terpejam beberapa saat, ia menemukn Alex yang tengah adu jotos dengan pak sopir ponpes. Syifa memegangi perutnya sembari memundurkan badan ke tepian pintu bagian berlawanan arah.


Hingga akirnya..


cuaarrre


Alex tersenyum tipis kala melihat Syifa terpojok ketakutan, bukan. Bukan ketakutan melainkan takut jika calon anaknya kenapa kenapa. Syifa menggeleng sembari menoleh-noleh kebelakang kala tangan Alex sudah meraba pada kuncian pintu untuk terbuka


Kang Santrii tolong anak kamu.


Syifa hanya bisa merapalkan doa, seolah perutnya kembali di hujam dan juga rasa takut. Alex menyungging senyum dan juga dengan pelan memasuki mobil,


"Jangan, tolong maafkan aku hiks." Ucap Syifa gemetaran. Tangannya yang berusaha membuka pintu.


"Cih." Alex berdecih sebal. Ia segera menggeret tangan Syifa yang terus meronta.


"Diam sial, tidak ada yang mendengarmu." Ujar Alex.


"Aakkhhh sakittt hiks, Tolonggg.." Teriak Syifa memegani perutnya. Tangannya berusaha melepas tarikan Alex yang menuju ke batasan jembatan.


"Diam, kau akan membayarnya di masa ini." Ucap Alex.


"Apa! aku tidak ada urusan padamu." Ucap Syifa menggeleng.


Alex menghempaskan tangan Syifa kasar.

__ADS_1


"Riko." Satu kata itu mampu membuat dunia kepala Syifa pecah, seolah kepingan masalalu yang berada di kegelapan kisah kelam menunjukkan kembali kejadian.


Ti-tidak nafas Syifa terengah, bayangan itu, bayangan di mana Syifa polos yang dengan maunya di ajak oleh sahabat Ridwan, bayangan dimana dengan seperti bocah kecil menuruti sosok orang yang ia percaya untuk mendapat hadiah. Sampai pada saat itu...


"TIDAAAKKK." Syifa memegangi kepala yang terus berputar.


"O-om Alex." lirih Syifa, tatapannya kosong.


"Om? huh masih ingat juga." Gumam Alex, Ia kembali menggeret tangan Syifa dengan niat menghanyutkan Syifa di jembatan ini, arus yang cukup deras.


"Ja-jangan Om, ku mohon." Masih ingat saat masalalu tidak ada ayah hanya om Alex yang membuatnya merasa adanya sosok Ayah.


Flashback on.


"Om Alex pulang yeee." Girang gadis kecil saat menduduki bangku kelas enam SD.


Riko yang waktu itu sedang bermain dengan Syifa menggeleng pelan kala Syifa langsung menghambur memeluk Alex, paman sekaligus ayahnya.


"Dasar, kau ini kekanak kanakan sekali heh." Ucap Riko.


Wleee


"Syifa emang masih anak anak kak." Ucap gadis kecil yang sangat polos.


"Iya iya," Riko mengelus kepala Syifa.


"Jangan sentuh sentuh." Sungut Syifa kesal


Alex dan Riko saling pandang kemudia menatap gadis pendek itu yang cemberut.


"Kenapa."


"Kata abang gak boleh." Ucap Syifa polos. Alex dan Riko tertawa kecil melihat tingkah Syifa.


"Kamu kalo udah SMP nanti ikut kak Riko sama Abang ya, biar nanti kak Riko beliin es krim terus." Ucap Riko.


"Janji."


"Asal kamu terus ikut kemauan kakak oke."


"Gak mau." Syifa bersedekap dada. "Riko nakal Om." Ucap Syifa mengadu ke Alex yang hanya tersenyum lalu fokus lagi ke koran, sama sekali tak terusik oleh celoteh keduanya.


"Demi es krim harus nurut." Ucap Riko seolah tak ada bantahan.


"Syifa sayang kak Riko." Gumam Syifa membalas pelukan teman Abangnya yang sudah ia anggap seperti Abang sendiri.


Riko terpaku sejenak, ia melihat ke bawah Syifa yang dengan nyaman membalas pelukannya, kenapa...kenapa rasa aneh hinggap di tubuhnya oleh satu anak kecil


Riko menggeleng tidak dia masih SD


****


"Syifa pulang dulu yah om." Ucap Syifa pamit ke Alex dengan senyum manis.


Setelah kepergian Syifa, Alex menghampiri riko.


"Suka sama Syifa?" Tebaknya Alex melirikya.


"Maaf." Kata Riko.


"Hm, sudahlah. Saya sudah tidak ingin mencari masalah dengan Arnold. Jadi terserah kamu mau suka sama putrinya." Ucap Alex tanpa beban.


Alex sejak dulu bermusuhan dengan Arnold, Sedangkan hal itu tidak di ketahui oleh Ridwan dan juga Syifa. Tapi demi keponkannya ini ia mampu menghapus permusuhan antar bisnis gelap.


Flashback off.


"Kenapa harus om musuh Ayah." Lirih Syifa.


"Aaaaaaaa...." Syifa berteriak, tangannya mencari genggaman besi jembatan, ia bertahan di saat Alex dengan sengaja membuat tangannya terus terlepas dari pegangan.


"Syifa." lirih Fauzi mengundang pasang mata semua mengarah ke arah Syifa.


Fauzi dengan sisa tenaga berlari, ia hendak menolong istrinya namun Alex dengan cepat mendorong bahu Fauzi,


"Lepass!" Ucap Fauzi, ia berusaha lagi mendatangi Syifa yang masih terlihat di sana.


Bugh


Alex memukul perut Fauzi hingga tersungkur dan keluar sesuatu, meringis dengan manik hitamnya melihat dengan jelas alunan derasnya air di bawah bersamaan Syifa yang terpejam dengan tangan yang merosot ke bawah juga

__ADS_1


"SYIFAAAA!!!" Teriak Fauzi, ia berdiri terhalang lagi oleh Alex.


Tangan Fauzi mengepal, bersamaan rahang yang menonjol keras, Fauzi berdiri langsung menghajar habis Alex yang menyunggingkan senyum di bawahnya.


"Terserah, dendam saya sudah terbalaskan." Gumam Alex meringis.


Fauzi dengan segala keekuatan berasama mata memerah marah memukul Alex membabi buta, tidak peduli dengan Alex yang memang sudah mangap-mangap dengan muka tersenyum devil.


Alex merogoh saku celana jeans hitamnya, mengeluarkan benda tajam mengumpulkan tenaga saat satu rencana.


Menoleh ke samping di mana Arnold dan Ridwan juga sudah di keroyok anak buahnya. Dengan tangan mengepal juga ia mengarahkan pisaunya....


Jlebb


"Akh Allahu Akbar." Fauzi menatap lemah ke arah perutnya dan tubuhnya jatuh lunglai ke bawah. Ia memiringkan kepala tangannya ikut meraba aspal ke arah air.


Syifa


bersamaan dunia menjadi Gelap .


****


*Bre****k." Alex menoleh mendapati muka Arnold dengan seribu luka menatap tajam ke arahnya.


"Apa." Ucap alex.


"Sialan kau." Maki Arnold.


Alex hendak maju memukul Arnold dan..


DOR


DOR


DOR


Di sisi lain Rian anak buah Ridwan sudah menembakkan tiga peluru ke arah Alex yang terjatuh tanpa nyawa. Ridwan juga baru selesai menuntaskan peran ia menoleh ke arah Ayahnya yang menatap air mengalir deras di jembatan.


"Ayah.."


"Cari orang mencari Syifa di air ini,"


"Ayah? Syifa.." Ridwan segera melihat ke bawah


Deras sekali arus nya, kamu dimana dek?


Rian menggeleng pelan, tidak yakin jika bisa menemukan nona bos di sini.


"Rian bawa Fauzi ke rumah sakit." Ucap Arnold membuat Rian mengangguk, bersamaan ada beberapa orang suruhan Arnold yang membereskan semua kekacauan.


"Baik."


*****


Tiga hari berlalu, bahkan Fauzi masih di nyatakan kritis itu pun dengan bantuan macam-macam alat yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


"Kami bahkan sudah mengeringkan jembatan, tapi tidak ada tanda-tanda putri anda di sana." Ucap satu bodyguard menunduk.


DOR!


Arnold tidak mau menerima kabar buruk, ia terus meminta seseorang untuk mencari keberadaan Syifa. Ayana yang sudah menangis sesenggukan dan juga Ridwan beserta istrinya yang juga menunggu kabar baik.


Entahlah kabar baik yang tak kunjung membaik, apa ini cukup menggantungkan kisah dalam cerita santri. Sampai akhir dimana takdir yang membuat seseorang terpisah.


Abi Ummi melihat di balik pintu kaca sosok Fauzi yang masih terbaring lemah tanpa ada yang boleh mendatangi kamarnya, bahkan dokter sering berulang kali datang karena keadaan Fauzi yang semakin memburuk.


"Kita berdoa sama Allah."


"Iya bi."


Keterikatan antar keluarga itu berdiri mondar mandir, rasanya duduk pun tak mereka lakukan.


*


z


z


Gak aku koreksi hehe, maklum typonya pan kapan deh ku revisi

__ADS_1


++++


Kaget dong, kok malem malem tbtb bangun eh taunya otak pengen halu... sebeel deh kalo gini:)


__ADS_2