Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
48. Pindah


__ADS_3

Kelas 11 berlalu


Waktu ke waktu semakin cepat berlalu, perubahan Fauzi benar nyata adanya, dulu yang sering menunjukkan sikap gombal kepada Syifa kini telah berubah drastis walaupun masih niat aja ya.


Saat ini tahun ajaran telah berganti, Fauzi memutuskan pindah ke tempat Abinya bukan maksud apa-apa melainkan lebih suka tempatnya lah udaranya lah dan macam-macam alasan agar bisa pindah.


"Sampean bener mau pindah." Tanya Andre. Fauzi hanya mengangguk.


"Harusnya senang di sini ada Ning pondok, ku rasa ia juga memendam perasaan untukmu, seperti Fatimah." Ucap Andre.


"Fatimah itu Ummi ku." Ucap Fauzi melirik sekilas kemudian melanjutkan kemas-kemas.


"Iya ya tapi yang ku maksud kisahnya Ali bin Abi Thalib Cinta dalam diam." Ujarnya Andre terkekeh.


"Tapi Aku suka kisahnya Yulaikha dan Yusuf." Ucap Fauzi.


"Nah cocok sekali tapi serasa kebalik untukmu hahahha." Andre mengejek. Fauzi sudah memicingkan mata.


"Maksudnya kau yang sama persis dengan Yulaikha selalu mengejar-ngejar dan siapa gadis yang kita temui kala itu, ia bagaikan Yusuf yang acuh denganmu bukankah itu terbalik." Celoteh Andre tanpa sensor.


"Yee engga lah lagian siapa bilang aku selalu ngejar dia, itu bukan sifatku sodaraa." Ucap Fauzi terkekeh.


"Ckckck belum mengaku,, aku ini sahabat sampean sejak kecil kalau dilihat dari caramu tersenyum dengan lawan jenis aku tau." Ujar Andre dengan pedenya walau benar adanya


"Sudah aku berangkat dulu mbah peramal." Ujar Fauzi menekan kata peramal.


"Ka kau percaya peramal." Ucap Andre heran.


"Tentu.."


"Ha?" Belum koneks dia.


"Ku rasa tingkat kepintaranmu sudah diatas rata-rata jadi sudah paham" Ucap Fauzi langsung berlalu.


Andre sedari tadi masih mencerna kata-kata hingga sepersekian detik baru tersadar dari lamunannya.


"Hey hey tungguuu!" Teriaknya mengundang beberapa tatapan sekitar hingga ia tercengir kuda.


"Huh huh pamitan dulu nih sama bapak." Ucap Andre memberikan tangannya untuk disalami.


"Baiklah aku pamit bapak, hati-hati di jalan, sampean mau mengatakan itu toh?" Ucap Fauzi terkekeh, tetapi Andre menggeleng.


"Tidak,,aku mengatakan hati-hati kepada sepeda motormu bukan sampean jadi jangan GeEr." Ucapnya sedikit sinis lebih tepatnya hanya pura-pura.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, jangan lupa nanti kalau berjodoh dengan gadis itu undang aku ya." Ujarnya terkekeh hingga Fauzi menatapnya datar.

__ADS_1


"Aamiin" Lain dengan Hatinya.


-


-


-


Syifa sudah naik kelas 12 , dan kini ia akan mengambil rapot si bocilnya yang sudah siap naik tingkat 2, dan kini Ridwan tidak bisa mendampingi karena tengah sibuk dengan kantor cabang barunya.


Sesampainya di parkiran ponpes Syifa tatapan menyapu setiap santri-santri yang mengobati rindu dengan wali bahkan ada yang hanya diam saja tanpa pendamping, bagaimana nasib Rizky? hmm.


Saat bertepatan juga Syifa melangkah dan terdapat sosok yang juga melangkah disampingnya, kakinya seolah mengiring sama.


Syifa menoleh samping hingga tatapan itu bertemu , Syifa menunjukkan ekspresi datarnya bagaimana mungkin ia akan tersenyum kepada orang yang ia anggap Gila.


Syifa mengerinyit heran karena tingkah gombal itu tak kunjung keluar dari ocehannya, yah siapa lagi kalau bukan Fauzi saat ini melangkah beriringan.


Fauzi hanya mengangguk kemudian menunduk langkahnya mendahului Syifa, entah dorongan dari mana Syifa menghentikan Fauzi.


"Kang Santri tunggu!" Ucap Syifa setengah berteriak.


Fauzi menoleh dan berbalik, Syifa merasa bingung ia hanya garuk-garuk tengkuk yang tak gatal.


"Kenapa?" Tanya Fauzi.


Fauzi mengangkat alisnya heran dengan tingkah Syifa.


"Aku hanya ingin menyapa hehe iya menyapa." Ucap Syifa merutuki kebodohannya.


"Lalu?"


"Mm hehe HAY hehe." Ucap Syifa cengengesan tak jelas, Fauzi tersenyum tipis lalu..


"Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi kemudian berlalu meninggalkan Syifa yang menganga tak percaya.


"Apa dia sudah waras???" Batin Syifa.


"Tapi kesannya kok aku ngarep dia munculin kata-katanya itu ya?" Tanya Syifa lagi.


"Lalu kenapa dengan diriku ini,?" Batin Syifa.


"Wa'alaikumussalam." Gumam Syifa telat menjawab. Kenapa dengan perasaannya ia bingung dengan dirinya dari pada ambil pusing ia segera mencari bocilnya itu.


(....)


Kini ada perasaan aneh dalam benak Syifa khawatir serasa tak tenang dengan sekitar pikirannya berkecambuk bayangan Rizky si bocilnya terus menari di otaknya.

__ADS_1


Langkah Syifa bukan menuju jalan kelas Rizky tetapi menuju lorong yang biasa sepi disaat acara seperti ini, bukan kemauannya tetapi langkahnya memaksa untuk melewati jalan tersebut.


Dilihatnya ada sosok anak se usia Rizky yang tengah terduduk lemas tubuh meringkuk, menyandar samping tembok, Syifa terakhir berkunjung saat hari santri lalu. Ah iya jadi teringat Rizky.


Langkah Syifa makin dekat ia bertanya-tanya siapakah anak kecil itu, dengan tubuh yang kurus sangat kurus, rasa penasaran menyelimuti setiap apa yang tersirat dari dalam hatinya.


Tangan lembut itu memegang pundak si anak dan membaliknya.


Deg!


Mata membulat sempurna, mulut mengangga tak lupa dengan tangan yang menutup mulutnya jangan tanya air mata saat ini sudah banjir bak hujan deras dada Syifa terasa sesak.


"Rizkyy!!! hiks hiks bangun dek kamu kenapa sayang hah, bocilnya kak Syifa, bangun!! kakak perintahkan kau untuk bangun Adekkk, hikss buka matamu hah hikss!!!" Teriak Syifa meraung menangis pilu sambil memeluk tubuh kurus adiknya, yah Rizky.


Tanpa sengaja Fauzi mendengar isakan pilu hingga kakinya ikut melangkah sumber suara.


"Adek maafin kakak ngga jenguk kamu dek, kau hiks kau boleh pukul kakakmu yang nakal ini." Ucapnya pilu.


"Jangan bikin kakakmu gila dek hiks, bangun dek hiks kau boleh membeli siomay sepuasmu kalau perlu kau beli toko-tokonya hiks."


"Bangun Dek maafin kakak hiks..Kakak janji ngga akan ngelarang buat minta jajan banyak tapi ku mohon Buka matamu dek huhuhuhu." Isak Syifa pilu saking paniknya ia tak berpikir jernih.


Fauzi terus melangkah hingga betapa terkejutnya melihat Si Gadis yang mengisi relung hatinya tengah terisak pilu, dengan adiknya yang sudah lemah.


"Astaghfirullah Syifa." Ucap Fauzi terkejut, Syifa langsung mendongak.


"Ku mohon tolong adikku hiks buat dia bangun tolong hiks." Akal sehat Syifa mungkin hilang entah kemana,


Bagaimana ia tidak Gila jika akhir-akhir ini ia tak menjenguk adiknya, bahkan Ridwan saja sedang di luar kota saat ini. Syifa terus merasa bersalah kenapa dia tidak peka jika adiknya Sakit.


Bodohnya dulu saat melihat tubuh adiknya yang kurus ia masih percaya dengan ucapan riang adiknya yang masih ceria


"Jangan telat makan ya, Kau baik-baik saja bukan??." Ucap Syifa.


"Kakak tenang saja Rizky sehat kok nihh." Ucapnya menunjukkan ototnya.


"Kakak Khawatir." Ucap Syifa.


"Aku hanya sedang diet kakak ku, kau belikan saja siomay kalo aku sudah berhasil menurunkan berat badanku heheh." Ucap Rizky dulu yang selalu menunjukkan deretan giginya.


Syifa terus terbayang-bayang terakhir kali ia berpisah dengan Rizky ia benar-benar terpukul. Fauzi sudah menggendong tubuh kurus itu menuju UKS dengan Syifa yang mengikuti dari belakang.


.


.


Okeee sampai sini bagaimana makin bosan atau penasaran ini hemm😅

__ADS_1


Happy Reading,,,


__ADS_2