
Cinta yang pernah di uji dengan jarak salah satu nya adalah Nabi adam dan siti hawa. Tapi ini bukanlah Adam dan Hawa hanya saja berjauhan dalam beberapa waktu.
Seusai sholat dzuhur berjama'ah Syifa memakai sepatu dengan duduk di tangga paling bawah. Sedangkan Arnold dan Ridwan sudah berjalan terdahulu, tentu saja Syifa yang meminta nya.
Pandangan Syifa mengedar ke segala para jama'ah yang sudah berlalu lalang untuk menuju rumah masing-masing.
Satu punggung sosok lelaki yang membuat Syifa seperti kenal dengan Itu.
Kaki Syifa mengayun untuk mendekat ke arah pria yang berdiri membelakanginya.
"Permisi Assalamu'alaikum."
Pria itu berbalik dan..
"Wa'alaikumussalam."
Tentu saja bukan, mana mungkin Fauzi ada di sini. Rasanya tak mungkin, Senyum syifa menghilang begitu saja. Bersamaan dengan menunduk dalam.
"Maaf salah orang." Ucap Syifa. Sedangkan orang itu hanya mengangguk lalu kembali berbalik badan.
Syifa mengepalkan tangan, kenapa seolah harapan itu terbang bersama angan-angan selepas jauh baru di jatuhkan. Separah itu memang,
Syifa memutuskan untuk kembali saja dari pada salah orang lagi. Kakinya melangkah terburu-buru hingga satu kata membuat darahnya seolah berhenti mengalir...
"Syifa?"
DEG
Syifa memejamkan mata mencoba membuang perasaan aneh, apa dirinya tengah halu dengan Fauzi yang menyebut namanya? Oh kenapa rasanya sangat ehhh
"Syifa?"
Loh loh, suaranya mirip lagi, tapi langkah Syifa terlalu cepat, hingga tangan Syifa di tarik kebelakang menubruk dada bidang yang Syifa yakini itu sosok laki-laki.
"Isytaqtulak Fa." (Aku merindukamu Fa) Kata seseorang sembari mendekap tubuh Syifa erat.
Syifa awalnya terkejut setelahnya meneteskan air mata ia tahu pemilik suara itu, ia tahu dan sangat kenal. Perlahan Syifa mendongak dan tersenyum jangan lupa air mata yang masih merembes.
"Kang Santri." Lirihnya.
"Fauzi?' Ucap Arnold dan Ridwan.
" Dari mana saja kamu?" Tanya Arnold
Fauzi melepas pelukan Syifa. Kini menatap Ayah mertua dengan penuh penyesalan. Bahkan ia malu karena membuat Syifa khawatir.
"Ceritanya panjang Ayah. Yang paling penting Fauzi bisa sampai sini." Ujar Fauzi di angguki olen Syifa, wanita itu sudah lega karena Kang Santri nya sudah kembali.
__ADS_1
****
Di pesantren Nurul Qur'an
"MasyaAllah Nak, Abi dan Umi sangat khawatir. Yasudah sekarang kamu istirahat, ajak Syifa ya." Titah Umi membuat kedua pasutri mengangguk.
******
Adzan maghrib berkumandang dan Syifa yang telah mengambil menu buka puasa dari dapur ndalem untuk ia beri kepada Fauzi.
"Minum dulu." Titah nya, Fauzi mengangguk setelah membaca do'a ia meneguk air putih untuk membatalkan puasa.
Setelah itu Syifa menyuapkan kurma, dengan tatapan rindunya dan juga Fauzi yang juga menatap Syifa.
"Kenapa hm?" Tanya Fauzi.
"Syifa rindu banget." Gumamnya langsung memeluk Fauzi yang juga membalasnya. Keduanya saling melepaskan pelukan tetapi dengan tangan yang masih bertengger di pinggang masing-masing.
"Aku juga Fa." Jawab Fauzi tersenyum teduh.
"Syifa suapin ya." Ucap Syifa di balas anggukan juga oleh Fauzi.
Keduanya bersenda gurau, sangat indah dan nyaman. Syifa selalu bahagia berada di samping Fauzi pun demikian dengan Fauzi yang bahagia memiliki Syifa.
"Bunda Abi." Teriak melengking dari luar, dan pintu sudah terbuka lebar menampilkan gadis kecil dengan balutan gamis nevy serta jilbab yang sedikit berantakan itu menyengir.
"Assalamu'alaikum." Peringatan Fauzi membuat gadis kecil itu terkekeh sembari menutup mulutnya.
"Hihi Wa'alaikumussalam. Abi seminggu ini kemana?" Tanya Annisa membuat Fauzi hanya tersenyum dan merapikan anak rambut putrinya untuk masuk lagi ke jilbab.
"Abi ada urusan sebentar." Jawab Fauzi.
"Abi tau tak, Bunda sedih kalo gak ada Abi, bunda ndak makan, bunda nungguin abi terus di depan pintu," Ucap Annisa panjang kali lebar tetapi masih di lanjutkan. Sedangkan Fauzi kini melirik ke arah Syifa sembari menaik turunkan alis.
"Kata nenek perut bunda ada adiknya nisa ya. Abi jahat tau,, gak mau jaga bunda." Ujar anak itu membuat Fauzi hanya terdiam sebentar.
Kini posisi Annisa masih berada di pangkuannya sedangkan satu tangan Fauzi merangkul Syifa hingga ketiganya bersatu dalam dekapan Fauzi.
"Baiklah maafin Abi ya." Ucap Fauzi.
Istri dan Putri nya tersenyum dan mengangguk, bahagia nya seorang suami terletak atas kebahagiaan anak dan istri, begitupun Fauzi.
"Sudah-sudah, kalian belum berbuka puasa kan. Sini biar Bunda suapin." Celetuk Syifa.
Sedangkan Fauzi dan Annisa langsung saling pandang kemudian menatap Syifa dan mengangguk, sungguh Syifa gemas dengan tingkah kompak putri dan suaminya.
Meski Syifa tahu ada sesuatu yang Fauzi sembunyikan dalam kepergian suaminya selama seminggu ini. Ia hanya menunggu hingga Kang Santri siap menceritakan ini. Harapannya hanya ingin tidak ada konflik besar dalam rumah tangga-nya.
__ADS_1
*****
Masih berada di ruangan Gus Fauzi, kini kedua pasutri itu tengah menyiapkan keperluan untuk membayar fidiyah.
"Kang." Panggil Syifa.
"Hmm?"
Hening lagi.
1 detik
2 detik
"Fa?"
"Ya?"
"Kenal Jack Alexanders?" Tanya Fauzi hati-hati.
Syifa mengerinyit heran, Jack Alexanders seperti pernah kenal. Pikir Syifa mengingat-ingat siapa nama itu yang namanya terdengar Familiar
"Pak Jack, kalau tidak salah rekan bisnis dari luar negeri, waktu itu pernah bekerja sama. Kenapa memang nya?" Kata Syifa.
Fauzi sedikit memiliki firasat buruk soal ini, tetapi semoga saja jack bukan jack yang di ceritakan Syifa.
"She is muslim." kalimat yang terngiang-ngiang di otak Fauzi membuat keningnya berlipat-lipat.
"Nggak papa, aku mau bayar fidiyah dulu Fa. Sekalian zakat fitrah." Ucap Fauzi membuat Syifa mengangguk.
"Eumm, Kang, bukannya zakatnya di pesantren?" Tanya Syifa membuat Fauzi mengulas senyum.
"Iya Fa, ini mau ke masjid pesantren berangkat bareng Ustadz lainnya." Kata Fauzi.
"Bukan amil zakat?" Tanya Syifa.
"Biar para abdi ndalem lain dan beberapa santri ndalem Fa yang mewakili, aku ada kajian padat di masjid tetangga." Jawab Fauzi hanya di bales anggukan oleh Syifa.
"Apa itu Syarat menjadi Amil kang?" Tanya Syifa.
Fauzi mengulas senyum.
*
z
z
__ADS_1
Nextt