Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
32.Lolos


__ADS_3

😍Tinggalin jejak guys, Like, komen.


"Loh nak Rizky." Ucap seseorang yang tak lain Bude Yul si empu hanya tercengir cengir.


"Jadi kamu sudah lolos dari maling," Tanya Bude Yul antusias.


"Kenapa pertanyaannya semacam seleksi." Syifa heran


"Hahahah Bude tenang saja, sekalipun maling Nasional sampai maling Internasional pun tak akan ada yang mampu menculik Rizky yang comel ini hihihi." Senggah Rizky menderama.


"Wah wah ternyata ponakan bude ini keren ya." Antusias bude tak menyadari jika itu akal akalan Rizky.


"Iya dong." Imbuh Rizky menarik kerahnya sendiri, so cool,


"Bukan diculik dianya saja yang ngumpet huh." Gerutu Ridwan, hingga bude mengangkat alis.


"Rizky itu tidur di kamar, sungguh bocah ini ingin sekali ku cincang dirimu." Gerutu Ridwan,


"Ya Allah, ternyata kamu di kamar pantas saja jika tadi tak terlihat jejaknya." Bude Yul manggut manggut.


"Dengan cara bersih." Tutur Rizky lagi,


"Bersih tanpa kaca." Celetuk Rian.


"Cling!" sambung Rizky diiringi gelak tawa dengan otak gesernya.


Setelah asyik bercanda Rian undur diri, tentu saja atas perintah bosnya yang super galak bin dingin. Rizky masih bergelanyut manja ditubuh kakaknya.


"Baiklah kapan latihan bela dirinya Abi." tanya Ridwan.


"Sehabis Asar ," Jawab Abi dan Ridwan mengangguk.


"Baiklah kami permisi, Assalamu'alaikum." Ucap Abi dan Ummi,


"Wa'alaikumussalam," Jawab serentak.


"Zil, kamu tetap di sini atau ikut." Tanya Ummi.


Fauzi melirik Faqih sekilas, ada rasa tak rela di dalam hatinya, pandangan itu tak luput dari mata Ridwan.


"Baiklah." Pasrah Fauzi.


Saat keluar Abi melihat ada Rian yang masih berdiri di samping pintu,


"Lhoh nak Rian belum pulang." Tanya Abi.


"Belum bi, masih ada perlu." Jawab Rian menunduk hormat.


"Baiklah saya permisi, Assalamu'alikum." Ucap Abi yang belum mengetahui tentang Rian.


Sedangkan Rian hanya diam membisu, hingga Ridwan menyadarkan lamunannya


"Kenapa belum pergi." Ketus Ridwan.


"Cih! kau tidak ada manis-manisnya bicara dengan ku."


"Percuma, ntar lumer juga kalo terlalu manis,"


"Dasar bis tragis." Gerutu Rian.


"Apaa, Bis?"


"Mm maksudnya Bos manis..iya heheh."


"Sudahlah katakan ada apa." Tanya Ridwan serius, seketika Rian merubah dirinya menjadi muka serius

__ADS_1


"Kita kecolongan, ternyata dua pria tadi kabur, bisa dipastikan dia akan kembali lagi tapi masalahnya kapan dan siapa atasannya." Ucap Rian tampang serius.


"Sial! Perketat keamanan mungkin area pondok ini sudah tidak aman." Pikir Ridwan dan Rian mengangguk kepalanya terangkat bersama alis kirinya.


"Apa perlu kita memindahkan pondok ini." Tanya Rian dengan bodohnya.


"Kita pindah dimana." Ridwan datar bin sabar.


"Di pelanet mars, iya benar kan hahah nanti kita hidup dengan aman dan damai." Rian mode halu hingga Ridwan menjitak kepala Rian sang empu meringis.


"Otakmu sedang berjongkok sepertinya."


"Tidak! Sepertinya otakku sedang bekerja keras agar bisa memindahkan pondok ini ke pelanet mars." Ucap Rian masih mode tak sadarkan diri.


"Entah kemana otakmu itu berjalan, cepatlah cari otakmu sampai dapat agar pikiranmu normal kembali." Ucap Ridwan asal.


"Tapi dimana aku harus mencarinya? Atau mungkin otakku sedang goes agar vit dan tidak terjangkit virus." Masih mode ngelantur.


"Terserahmu saja, sekarang selesaikan berkas di kantor." Ucap Ridwan berlalu.


"Malang sekali nasibmu otak, rencana untuk istirahat gagal total hiks." Batin Rian menggerutu.


.


.


Setelah sholat Asar para santri berkumpul lagi di halaman tentunya yang mengikuti kegiatan bela diri, kini semua Santri sudah memakai seragamnya dengan sabuk yang melekat di pinggang.


"Baiklah sebelum kita melakukan pemanasan mari kita berdo'a terdahulu agar dapat keberkahan dari ilmunya, Berdo'a Mulai." Tutur Ridwan.


Seluruh santri menundukan kepala dan memulai berdo'a, hingga Ridwan berucap "Berdo'a Selesai."


diiringi Santri menyapu tangan ke wajah masing-masing.


Ridwan mulai pemanasan dan diikuti seluruh santri, hingga gerakan peregangan otot setelahnya mengulangi gerakan minggu lalu, tujuannya agar Santri tidak lupa.


Lain dengan gadis yang terus memandangi Ridwan dengan cekikikan tak jelas,


"Abang ku memang bermuka dua." Gumam Syifa,


"Siapa yang bermuka dua?" Tanya seseorang hingga Syifa terpanjat,


"Mm heheh ngga ada," Ucap Syifa mengelak sedangkan Ridwan geleng-geleng. Tatapannya kembali pada dua santri yang hendak bertarung, melatih fisik jika menghadapi situasi demikian setidaknya bisa melindungi diri.


Dua santri putra berdiri di depan yang lainnya duduk menyaksikan, yah dia Danu dan Toyib.


Kaki mereka sama sama bergetar, entah karena pertama kali atau takut.


"Mulai." Ridwan.


Danu membungkukkan badan tak lupa posisi tangan berada didepan dada tanda hormat, lain dengan Toyib yang mengulurkan tangan hingga membuat semua menahan senyumnya.


"Hey kau yang serius dong." Danu, so berani.


"Siapa berani?" Ucap Toyib menantang lalu menepuk mulutnya.


"Eh Siapa takut." Ucap Toyib lagi meralat kata tadi, semua orang sudah cekikikan.


"Mundur, ! ehh majuuu." Danu,


"Seribuu." Toyib dengan bodohnya, sedangkan Danu merogoh kantong,


"Ini." Ucapnya menyodorkan koin seribu perak,


"Hahhahhahahh"

__ADS_1


"Bu bukan itu maksudnya." Sambung Toyib menggaruk tengkuk tapi masih mengambil koin perak kemudian memasukan ke dalam kantong.


"Lumayan buat beli permen hihihi." Gumam Toyib tanpa dosanya semuanya menatap tajam.


"Hey kapan bertarungnya." Teriak Syifa dari tempat duduknya sedangkan Danu dan Toyib memasang cengiran kuda kudanya.


"Seribuu! ehh SERBUU." Ralat Toyib segera menyerang, bukan-bukan menyerang, melainkan saling mendorong dengan tangan entah seperti anak yang bermain kereta api.


"Bagaimana aku tak bisa berkasih." bisik Toyib.


"Hah." Danu dengan linglung,


"Tidak tidak maksudnya beraksi hahha iya, bagaimana atau kau yang aku tinju, tapi nanti kau langsung pura pura qoid saja ya." Bisik Toyib.


"Bukan aku tapi kau..Aku akan menendangmu dan nanti kau harus terjungkal lalu kau pura-pura pingsan begitu saja." Tolak Danu dan bisikannya.


"Tidak aku tak mau,kau nanti kencang nendangnya huh." Bisik Toyib.


"Lalu bagaimana, ayolah kau ku tendang ya," Danu mencoba bernegoisasi,


"Tidak, Kau!" Toyib


"Kau."


"Kau saja,"


"Kau sajalah."


"Tidak."


Hanya kalimat itu yang mereka bisikkan, jangan lupa dengan posisi tangannya yang saling dorong-mendorong, semua yang menonton memutar bola matanya malas,


"Hey kapan mulainya." Teriak Fauzi/Faqih bersama.


"DIAM!!" Toyib dan Danu menoleh lalu melanjutkan negoisasinya.


"Kau saja."


"Tidak! Kau!"


Hingga suara deheman yang ia kenal,


"Ekhemm.." Keduanya menoleh asal suara dan tersenyum memohon agar tak tanding.


"Bagaimana ayo lakukan, jangan sungkan jika itu teman kalian, anggap dulu itu musuh." Ucap Ridwan.


"Mheheh bagaimana dianya yang takut." Ucap Danu.


"Disana ada kaca sepion buatmu berkaca, ck bukannya kau yang takut tadi." Elak Toyib padahal keduanya sama-sama takut.


"Aihh bukan adu jotos ini, tapi adu mulut." Ucap Syifa malas masih didengar santri hingga Fauzi dan Faqih ikut tersenyum senyum atas kekonyolan sahabatnya.


.


.


.


DI BACA!!


Hay Readers, author mau curhat sedikit, tadi hp sya ke restar jadi semua aplikasi harus logout secara paksa hiks sedih materi pelajaran sya juga hilang (curhat sedikit), termasuk novel ini, SEMUA DAFTAR BUKU mendadak hilang dan nanti yang mau di feedback harap komen ya🙏 sebenernya bisa aja sya liat komen tapi harus schrol kebawah dan itu lamaa😫


Boleh kok kalian komen keluarin unek unek atau saran heheh maklumin masih amatiran,


biar saya sekalian belajar.😅😅

__ADS_1


SEKIAN MATURNUWUN😅🙏🙏


__ADS_2