Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
83.Perintah bukan Tawaran


__ADS_3

"APA??" Pekik Syifa mendengar perintah Ayahnya, nyaris membuat semua yang ada di ruang makan menutup telinga.


"Tu volume bisa di kecilin dikit dek, udah kayak toa." Celetuk Ridwan menggosok-gosok telinganya.


"Gak.Gak Syifa nggak mau Ayah, sejak kapan coba ayah punya teman di indonesia lagian Syifa itu masih muda. Syifa nggak mau di jodohkan...Bundaaa." Rengek Syifa mengadu ke bunda.


"Kamu turuti Ayah kamu aja nak," Kini Bunda nya angkat bicara.


"Ishh Abangg..." Rengek Syifa meminta pembelaan.


Ridwan hanya menganggkat bahu, fokus sarapannya. Syifa kesal sekali.


"Syifa udahan, mau keluar,Assalamu'alaikum." Ucap Syifa dengan muka cemberutnya. Keluarganya tidak ada yang mengerti perasaannya.


Tanpa Syifa sadari ketiga makhluk tadi saling tersenyum kemenangan. Entah rencana apa yang akan mereka buat. Pokoknya yang menyaksikan pura-pura saja tidak tau oke?? Pura-pura.


Ridwan yang Abang paling pengertian sekarang malah tidak membela adiknya, kenapa coba? padahal dia itu tahu jika Syifa menaruh hati ke Fauzi.


"Kenapa nggak ada yang ngertiin aku sih, sebel, Ya Allah apa itu artinya aku harus milih menerima perjodohan ini? Tapi tidak! aku yakin kang santri pasti kembali." Gumam Syifa.


"Tapi, pria misterius kemarin Siapa?" Tanya nya terbesit pikirannya saat jatuh di pelukan Orang itu.


Syifa terus berjalan saat ini tujuannya adalah Danau. Dimana ia harus menenangkan pikirannya yang tengah gelisah galau merana.


Din Din


Mobil hitam berhenti di samping Syifa, kaca mobilnya di buka si pemilik hingga muncul lah kepala gadis yang hanya menyambul ke luar jendela.


"Fa?"


"Ya?"


"Masih ingat aku kann?" Tanyanya antusias.


"Najwa?" Lirih Syifa.


"Tepat sekali, mari masuk." Titah Najwa membuka pintu mobil bagian belakang, oh ya tadi Najwa memang berada di kursi belakang.


"Ya Allah kenapa hatiku menjadi tak nyaman." Batin Syifa saat itu bertanya-tanya.


Tetapi Syifa hanya menurut duduk di samping Najwa dengan berbagai pikiran baik dan buruk yang terlintas di kepalanya.


"Eumm kau tidak sibuk kan?" Tanya Najwa sedangkan Syifa menggeleng masih dengan lodingnya.


"Aku hari ini akan mengajakmu ke toko perhiasan sama fitting gaun pernikahan." Ucap Najwa antusias.


Deg


Seolah ada batu besar menghantam hati Syifa, apa ini kenapa dia ingin menangis ada perasaan kepo dan sakit yang kini ter aduk ke perasaannya.


"Ya Allah, apa Kang Santri menerima lamaran Najwa." Lagi-lagi Syifa membatin.


"Hey Fa? kamu nggak lagi sibuk kan?? aku pokok nya mau yang mewah dan yang pasti cocok untuk pernikahan nanti... Aku udah nggak sabar." Ucap Najwa antusias, Lagi-lagi Syifa tersenyum getir.


Miris


"Iy-iya." Ucap Syifa seolah tercekat.


"Kau tahu Fa, hal yang paling indah dalam dunia adalah cinta, tapi cinta juga bisa membuat kita terjatuh karena lubangnya." Ucap Najwa menatap lurus kedepan.


"Cinta itu ikhlas, menerima seseorang bahagia kepada orang lain..Sedangkan merebutnya adalah nafsu semata, huh memang mencintai makhluk itu selalu bikin kecewa ternyata hanya yang pencipta yang tak membuat kecewa...

__ADS_1


Cinta itu rahmat, cinta itu wujud namun jika wujud itu hanyalah bayangan maka lebih baik menghapus dari pada menyimpan." Ucap Najwa, Syifa hanya menunduk.


"Apa dia sedang menyuruhku mundur? mengikhlaskan? Kenapa semua yang di katakan itu benar...Tapi perasaanku masih yakin." Batin Syifa menatap nanar kakinya.


"Hey Fa? ayo turun kita sudah sampai.." Ucap Najwa riang dan gembira bahagia seolah selamanya. Lain dengan Syifa yang selalu memaksa senyumnya. Apa nggak pegel?


Sepaket perhiasan, ada sepasang cincin ada juga yang hanya single. Aihh ada ya?? cincin single Ck. Rasanya Syifa membayangkan jika saja ini pernikahannya dengan Fauzi. Pasti dia sangat antusias dari ini tapi semua itu hanya andaikan.


"Mbak kami mau lihat-lihat cincin pernikahan, namun bukam dari emas." Ucap Najwa.


Syifa hanya menatap kalem, senyum terpaksa dan menatap Najwa yang selalu ceria bahkan cerewet menurut Syifa. Ya Allah hilangkan rasa iri nya Syifa.


"Fa lihat ini (memperlihatkan cincin terbaik di toko itu) Kamu suka yang ini atau yang ini atau itu atau ahh aku kenapa jadi ingin semua." Ucap Najwa tanpa hentinya.


Cincin yang di berikan Najwa bukan sepasang tetapi satu cincin tapi mewah, niatnya mempelai prianya menggunakan cincin dari perak, atau selain emas.


Syifa di buat heran, kenapa ada Ning se kalem ini, ralat seheboh ini?? Syifa yang menyadari jika Najwa meminta pendapatnya tersadar.


"Kenapa meminta pendapatku? Kan yang mau nikah kamu." Tanya Syifa bingung.


"(Tersenyum-senyum)sudah sudah kamu suka yang mana, ayo pilih." Bukannya menjawab malah kini dia menyuruh memilih, linglung kan dia jadinya..


Tatapan Syifa mengarah ke cincin yang elegan tidak terlalu mewah namun terkesan perfact. Dan tentu saja cincin itu sepasang cincin yang bukan dari emas, kecuali untuk khusus wanitanya terdapat hiasan emas di atasnya.


"Ini."


"Ha?" Tatapan Najwa heran, kenapa di saat ada yang terkesan mewah Syifa malah memilih yang sederhana? yah itulah Syifa dia orang yang suka sederhana.


"Kenapa? kalau kamu nggak suka ya udah, kan itu menurutku lagian yang nikah kan kamu Ning." Ucap Syifa.


"(Tersenyum-senyum)" Apaan ini? kenapa Najwa lagi-lagi menunjukkan ekspresi itu, sebenarnya yang salah makan itu siapa??


"Oke." Jawab Syifa singkat, saat ia berbalik tatapanny mengarah kepada sosok yang sepertinya ia kenal.


"Kang santri?"


Syifa mengejar bayangan tadi, tapi nihil ia tidak menemukan apapun, sepertinya dia hanya salah lihat itu pikirannya. Syifa langsung memutuskan untuk ke mobil.


(....)


"Cepet banget Ning?" Tanya Syifa, padahal ia baru saja nyampai.


"Ah itu, aku udah dapet tadi." Ucap Najwa memasuki mobil. Syifa hanya mengangguk pikirannya masih bertanya-tanya.


"Oh ya habis ini kita ke butik dulu yaa, kamu sibuk enggak Fa?" Ucap Najwa,


"Sebenarnya siapa calon Ning Najwa?"


"Fa?" Tanya Najwa.


"Oh tidak-tidak ayo aku juga tidak sibuk." Lagi-lagi Syifa tersenyum, paksa tepatnya.


Sesampainya di butik...


"Fa kamu suka gaun yang seperti apa?" Tanya Najwa. Lagi-lagi Syifa mengerinyit heran bukannya dia yang menikah?


"Aku suka yang itu." Ucap Syifa singkat menunjuk gaun putih yang sederhana tapi elegan tidak terlihat ke mewahan tapi kesannya sangat kalem.


"Wahh itu bagus, Gus Fauzi pasti suka." Ucap Najwa melihat-lihat letak mote atau lainnya yang perlu di ubah.


Deg

__ADS_1


Lain dengan Syifa dia memaku air matanya kembali mengalir, saat ini Syifa terlihat cengeng, dunia terasa kejam untuknya saat ini.


"Gus Fauzi pasti suka."


"Gus Fauzi pasti suka."


"Gus Fauzi pasti suka."


Empat kata memutari kepala Syifa, ingin berteriak tapi apalah daya? Hancur sudah harapannya benar adanya jika berharap kepada makhluk hanya membuat kecewa.


********


Syifa berjalan menuju ruang tamu, langkah yang begitu berat seperti zombie.


"Ternyata kau bukan menyatakan lamaran, tetapi mengantarkan undangan...Baiklah aku tunggu undanganmu kang santri." Gumam Syifa tersenyum asem.


Ridwan menatap adiknya heran, Syifa sudah seperti bukan Syifa yang ceria ketika di rumah tapi ada guratan galau kecewa sedih yang tercetak di wajahnya.


"Kamu kenapa dek?" Tanya Ridwan namun Syifa hanya duduk dan menyandarkan badanya tanpa niat menjawab.


"Syifa sudah pulang?" Tanya Ayana antusias, lagi-lagi hanya anggukan.


"Nak ayah ada kabar buat kamu..Kamu bentar lagi akan menikah nggak jomblo lagi nggak galau lagi." Ucap Arnold tanpa dosanya


Syifa mendongak. "Ayah Syifa nggak mau di jodohkan." Ketus Syifa, ampuni Syifa Ya Allah menjadi anak pembangkang.


"Dengar ya ini perintah bukan tawaran." Ucap Arnold terdengar menyeramkan lagi dan lagi Syifa mengangguk pasrah.


"Mungkin ini karma, menolak khitbah dari kak Zadid, dan sembilan lainnya, jauh dari orang yang di nanti..Dan kini huh aku harus dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali belum aku lihat." Batin Syifa.


"Baiklah jadilah anak penurut." Ucap Arnold, kenapa ayahnya menjadi sangat kejam Ya Allah.


"Seminggu lagi kamu nikah." Arnold.


"APA?" Ucap Syifa terkejut.


"Lima hari." Ucap Arnold lagi.


"Tidak, NO ayah." Ucap Syifa lagi.


"Tiga hari." Ucap Arnold.


"Aaayaaahhh." Syifa berdiri, ia ingin menawar ulang tapi....sial..


"Baiklah besok nikah." Ucap Arnold enteng lalu menggandeng tangan Ayana pergi, tersisalah Syifa dan Ridwan.


"Bang.." Rengek Syifa tapi Ridwan mengangkat bahu. Jika sudah ayah yang bicara Ridwan pun tidak mau membantah.


"Rian... siapkan semua kebutuhan untuk adikku nikah, tempat di rumah." Ucap Ridwan dengan ponselnya. Syifa hanya menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Ya Allah, apa aku harus kabur dari sini."


-


-


-


Salam dariku


Si Pemalas Sejuta Impian

__ADS_1


__ADS_2