
Malam hari
Syifa tengah terduduk di meja belajarnya memandangi buku yang membuatnya frustasi.
"Fiks Gue harus nulis lagi ini." Ucap Syifa menulis kegiatan di buku lainnya.
Selang tiga jam Syifa selesai dengan tugasnya, tatapannya mengarah pada buku yang membuatnya harus menulis ulang.
"Kalau ketemu orangnya nih udah gue goreng dia sebel banget." Gerutu Syifa tangannya yang terus membolak balikkan lembaran.
Hingga Syifa menemukan sebaris huruf arab dan artinya
~×~
خَلْف كُلِّ ابْتِسَامَةٍ قِصَّةٌ لَا يَعْرِفُهَا أَحَد
Di balik setiap senyuman ada cerita yang tidak diketahui oleh siapapun
~×~
Syifa mengernyitkan kening ketika melihat kata-kata lain lebih tepatnya ia tak paham dari kata yang ia baca sungguh itu kenyataannya.
~×~
GAMBARAN CINTA SEJATI ADALAH MUBTADA' ketika ditinggal khobar, ia
TETAP SETIA DAN MEMILIH UNTUK SENDIRI.
Tidak seperti Fi'il ketika ditinggal Fa'il ia segera mengganti nabi'ul fa'il.
(PENGGANTI FA'IL)
~×~
"Santri bucin." Ucap Syifa tanpa peduli apa yang ia baca. tap! otak Syifa memutari kejadian ia segera membuka laci nakas dilihatnya satu lembar kertas yang dulu sempat ia belum ketahui pemberinya.
"Loh loh ini sama, iya!! wah berarti ini dari kang santri dong kertasnya, ngakunya aja malu tapi kalau ketemu suka ngawur pikirannya hanya nikah, nikah! kayak nikah itu mudah apa? Lagian juga gue ngga mau nikah dini kayak di novel aja nih hidup ck ck ck." Celoteh Syifa sambil mengumpat.
Syifa segera packing barang untuk berangkat kos besok.
-
-
-
Muhammad Zildan AlFauzi
Malam tanpa bintang bulan tertutup awan hitam dan siapa bilang malam tanpa bintang itu tiada kehidupan malam tanpa bulan tiada keterangan.
Sebaik baiknya manusia itu merasa paling buruk, sehingga tak mampu untuk merasa paling tinggi ingat satu hal, diatas langit masih ada langit.
Mensyukuri hidup, sekeliling hanya ada lantunan tasbih beberapa ayat ayat Qur'an dilantunkan, merenungi setiap kehidupan jika kita tiada besok apa yang akan kita bawa untuk bekal kemudian hari.
Zildan Alfa sebutanku di kota ini, aku menyandarkan tubuhku di kepala ranjang bukan mewah tetapi cukup sederhana asalkan nyaman, ku lihat tiga temanku sudah tertidur pulas mungkin mereka lelah.
"Kenapa juga susah tidur lagi." Ucapku merutuki kebiasaanku.
Fauzi membuka ransel yang belum sempat ia cek untuk pembelajaran nantinya. Tatapanya mengarah kepada si buku merah, buku yang dulu ia tulis semasa menduduki madrasah tsanawiyah.
Dorongan tangan mulai membuka lembaran kertasnya pertama yang dilihatnya ia mengernyitkan dahi, lembar berikutnya semakin terheran.
"Buku siapa ini." Tanyanya pada diri sendiri.
Dilihatnya buku yang ia baca saat ini bukannya tulisannya atau arab lainnya melainkan perindustrian praktek lapangan kerja, laporan kegiatan dan lainnya yang mengarah pada perindustrian.
Asyifa Nur Fadila yang tercantum dalam Nama si pemilik buku, sekelabut bayangan muncul ketika ia menabarak gadis hingga si gadis tersungkur ada senyum tipis di sudut bibirnya.
"Jodoh tidak akan tertukar." Batin Fauzi.
-
__ADS_1
-
-
Keesokan harinya Syifa yang hendak masuk ke mobil di urungkan karena teriakan seorang bocah yah siapa lagi kalau bukan Rizky.
"Kakak.." Teriaknya melengking dengan suara cempreng anak kecil, Syifa pun berbalik melihat adiknya berlari ke arahnya.
Syifa membuka tangan lebar-lebar dan
Breg! Rizky sudah berada dipelukan Syifa, Ridwan yang melihat hanya geleng-geleng.
"Rizky rindu." Ucapnya imut sembari menatap kakaknya.
Syifa mengernyitkan dahi "Jangan Rindu berat nanti adek ngga kuat angkat." Ledek Syifa menahan sedih.
"Ishh Kakak." Ucapnya dan melepaskan pelukannya.
"Mm kesini sama siapa dek?" Tanya Ridwan.
"Itu sama kak Faqih." Ucap Rizky.
"Sini qih." Ajak Ridwan, Faqih mendekat.
Syifa menatap Rizky dengan tatapan heran sedangkan yang ditatap memasang wajah kusut Ridwan dan Syifa saling pandang lalu mengangkat bahu.
"Adik kenapa?" Tanya Syifa heran.
"Mm kehabisan baju?" Tanya Syifa dibalas gelengan.
"Peci" Ridwan dibalas gelengan.
"Sarung." Syifa namun dibalas dengan gelengan lagi.
"Kang tadi Rizky kenapa?" Tanya Syifa pada Faqih.
"Tadi itu..
" Kak Faqih, Kak Faqih sibuk?" Tanya Rizky.
"Engga dek ini udah selesai kegiatannya." Ucap Faqih.
"Mm anu Rizky anterin pulang ya kak." Pinta Rizky nampak mimik wajah Faqih yang berpikir hendak menolak tetapi melihat mata pupy Rizky di urungkan.
"Memangnya mau ngapain dek." Tanya Faqih menggaruk tengkuk.
"Sekali aja kak bolos." ajak polos anak kecil di depannya ini.
"Me heheh massa iya kakak disuruh bolos." Tanya Faqih mengikuti gaya anak kecil.
"Yahh." Rizky memasang muka super sad.
"Tapi kita bisa izin kok sama ustadz." Ucap Faqih tak enak.
"Benarkah." Tanya Rizky berbinar-binar.
Sesampainya di guru piket yaitu Ustadz Ihsan,
"Assalamu'alaikum ya Ustadz." Ucap Faqih.
"Wa'alaikumussalam." Ustadz Ihsan.
"Tafadhol ya akhi ..Ada perlu apa?" Tanya Ustadz Ihsan.
"Kita mau minta izin keluar Ustadz." Ucap Faqih sedangkan Ust.Ihsan mencerna kata KITA pasalnya hanya ada Faqih dihadapannya.
"Dengan siapa?" Tanya Ustadz.
"Faqih dan Rizky." Ucap Faqih.
"Lalu di mana Rizkynya." Tanya Ustadz.
__ADS_1
Faqih mengernyitkan dahi tadi Rizky mengikutinya tapi kemana dia setelah melihat sisi kanan kiri belakang Faqih tidak melihatanya, lalu menatap bawah dan menepuk kening.
Anak kecil berjongkok dan menunduk, Faqih mengisyaratkan Ustadz Ihsan, setelah itu melihat dari meja yang berlawanan tempat duduknya.
"Ekhem.."
Rizky mendongak tersenyum menunjukkan deretan giginya dan menggaruk tengkuk.
"Eh Ustadz muda." Ujarnya.
"Mau izin kemana bocil?" Tanya Ustadz Ihsan sedangkan Rizky lngsung membisikkan.
"Ini urusan penting, hanya anak kecil yang tau heheh." Ucap Rizky.
"Massa iya?" Tanya Ustadz sedangkan Rizky megangguk.
Flashback Off.
Setelah Faqih bercerita Syifa dan Ridwan mengernyitkan dahi.
"Lalu urusan penting apa itu dek." Tanya Syifa.
"Minta uang jajan heheh." Ucapnya tanpa dosa sedangkan yang diminta menepuk kening.
"Astaghfirullah dek, kirain apa." Ucap Syifa ketus kemudian memberikan uang ke saku Rizky.
Tak lama Rizky menadah hujan eh salah uang,, Syifa mengernyitkan dahi
"Itu sudah."
"Ini cuma dua ribu kakak." Ucap Rizky pura pura merajuk layaknya anak kecil yah memang kecil. Sedangkan Syifa mengecek suhu tubuh Rizky.
"Kenapa kak?" Tanya polos si bocil.
Faqih sudah tersenyum-senyum sedankan Ridwan menyenggol lengan adiknya.
"Ohh sudah normal ya," Lalu berbisik arah Ridwan yang masih didengar Rizky.
"Kemarin dia berlagak dewasa seumur biji wortel hahah tapi lihat sekarang seperti kutu yang ingin Syifa pites bang." Ucap Syifa.
"Kemarin jelmaan Rizky kak." Celetuk Rizky datar Syifa hanya menatap aneh.
"Jadi mana kak, jajannya." Pinta Rizky menadah uang.
"Cium kakak dulu dong." Ucap Syifa dengan mengedipkan mata.
"Demi uang." Ujar Rizky
cup!cup! cup!
"Ini cepat balik" Ucap Syifa menyodorkan uang hijau sedangakan Rizky masih ditempat.
"Kenapa?"
"Kurang kak!, Rizky tadi tiga kali ini hanya satu lembar." Ucapnya tengah merajuk.
"Aihh lalu?" Tanyanya.
"Harusnya tiga lembar warna yang sama." Ucap Rizky memaksa.
"Baiklah baiklah ini." Ucap Syifa menyodorkan uang lagi.
Rizky yang sudah mendapatkan keinginan pentingnya segera berlalu tanpa permisi, Faqih segera pamit dan menyusul Rizky terdengar celotehnya Rizky
"Rizky ada uang tiga kak, ayo jajan siomay Rizky traktir deh." Ajaknya dengan suara cemprengnya.
Sedangkan Faqih hanya tersenyum, Syifa yang mendengarnya tertawa lebar hingga Ridwan membekap mulut Syifa.
-
-
__ADS_1
Happy Reading mana komennya😅😅