
Tumpah darah sudah menjadi hiasan di gelap malam itu, semua di kuasai oleh Arnold yang memegang kendali, rupanya ia telah menyiapkan segalanya untuk menyerang anggota Alex. Api dendam masih kentara di mata keduanya.
"Oh shit! kurang ajar kau." Pekik Alex saat Arnold dengan sengaja menggoreskan belati ke lengannya.
Arnold malah mengidikkan bahu seolah puas dengan apa yang sudah menjadi karyanya. Mustahil jika kita perang tidak terluka, ayolah Arnold juga manusia bukan airon man ia juga sudah terkena tembakan di bagian lengan.
DOR
satu tembakan Arnold arahkan ke dada Alex, pria itu meringis membuat Arnold semakin tersenyum devil,
"Seimbang lex." Ucap Arnold di tengah-tengah bunyi tembakan beradu di sekeliling. Alex meringis.
"Sialan."
"Bagaimana adilkan? kau menembak lenganku aku menembak dadamu dan juga menggores lenganmu.. ck ck ck kau pikir ini menang siapa." Ucap Arnold, sedangkan Alex sudah mulai berdiri.
Tak menyia-nyiakan kesempatan Arnold mengarahkan pelatuk ke kepala Alex, namun bayangan hitam yang di perkirakan anak buah Alex melemparkan sesuatu ke depan Arnold, gumpalan asap membuat kabut pemandangan Arnold.
"Sial, dia kabur." Gumam Arnold mengepalkan tangan.
"Sekali pengecut tetap pengecut."
Lumayan banyak yang tumbang di antara pengawal dan Arnold clingak clinguk mencari seseorang, ia dengan santainya berjalan di tengah-tengah kepala dan tangan manusia yang sudah terputus itu.
Ia sedang mencari seseorang dan...
prok prok prok prok
riuh tepukan tangan dari bawah pohon, gelap di terangi sinar rembulan membuat Arnold memicing tajam.
"Wihhh king memang keren.." Puji keduanya yang tak lain Ridwan putranya dan Rian asisten putranya.
Benar benar minta di tempeleng, ayahnya berjuang antara hidup dan mati ehh anaknya malah duduk santai di bawah pohon, dan kalian harus tau apa yang paling mengesalkan. Ada beberapa bungkusan snack dan minuman ale ale, jadi ceritanya keduanya hanya menonton?
"Kalian ini." Dingin Arnold membuat Ridwan dan Rian menyengir saja.
"Popcron kurang yah. Mungkin lain kali Ridwan akan borong." Cetus Ridwan.
"Untuk apa bos?" Tanya Rian.
"Untuk menonton adegan seru, langka kan tontonan gratis mantan king mafia perang di tengah malam, tanpa izin istri lagi ck ck ck." Ejek Ridwan membuat Arnold membulatkan mata.
"Kau juga tak izin dengan istrimu kan?" Tebak Arnold ingin membalas perkataan Ridwan. Namun justru Ridwan menggeleng.
"Enak aja. Izin Rina dong yah, Izin nonton live streaming pertempuran ayah mertuanya." Ucap Ridwan jujur.
"Yang bener bos?" Tanya Rian serius.
"Iyalah kalau lo gimana?" Tanya Ridwan penasaran juga dengan kehidupan Rian.
"Gue gak izin bisa gak dapet jatah kalau bini gue tau." Kekeh Rian.
"Kalian berdua suami durhaka." Ucap Ridwan dramatis.
"Sialan."
****
Sementara di sisi lain Syifa beberapa kali menghubungi sebuah nomor, sesekali mengerinyit dan juga mengangguk-angguk. Ia tersenyum lega.
"Iya, terimakasih infonya dan terimakasih sudah melindungiku sampai sini." Ucap Syifa serius.
__ADS_1
Syifa kembali mengetik sesuatu di ponselnya menghubungi nomor sang ayah.
"Ayah jelaskan apa yang terjadi." Ucap Syifa membuat Arnold yang berada di seberang meringis karena baru mengobati lukanya.
"Sudah jangan khawatir, semua baik-baik saja." Jawab dari seberang tentu saja tak membuat Syifa puas.
"Ayah kenapa tidak mengajak Syifa?" Tanya Syifa mengerucutkan bibir.
Satu hal lagi, kegiatan Syifa sedari tadi tak lepas dari pandangan Fauzi.
"Sadar dong bumil, lagi bunting bahaya!" Ucap dari seberang membuat Syifa menggaruk tengkuk yang tak gatal. Hampir lupa,
"Kan bisa ajak kang santri Yah." Ucap Syifa tanpa dosanya.
Ekheemmm, fauzi ada loh Fa.
"Eheheh maaf kang becanda." Ucap Syifa nyengir ke arah Fauzi.
"Kalian kalau sedang berdua jangab hubungi ayah, mengganggu saja ck. Ayah tutup ya sayang jangan tidur kepagian." Celetuk dari seberang membuat Syifa mengangguk.
****
"Tau nggak kang?" Tanya Syifa tiba-tiba.
Saat ini posisi kepala Syifa sedang berada di pangkuan Fauzi, sedangkan Fauzi setia dengan mengelus kepala Syifa yang tak berbalut hijab, sementara Annisa sudah sedari tadi tertidur membelakangi keduanya.
"Hm." Dehem Fauzi.
"Ayah tadi perang lagi Kang, aku kira orang tua udah nggak mau encok, pasti sekarang Ayah sedang menyuruh bunda pijitin pinggang." Ucao Syifa membuat Fauzi menyentil kening istrinya gemas.
"Istri aku, nggak boleh gitu."
"Hehe."
"Kok nangis?" Tanya Fauzi.
"Syifa selalu kagum sama kang santri, Sampai sekarang Syifa masih belum percaya dengan takdir Allah. Syifa jatuh cinta terus sama Kang Santri." Malam ini beda dengan malam biasanya, ini tengah malam tapi Syifa tetap belum bisa terpejam.
"Kamu selalu memikirkan masalalu." Sergah Fauzi
Syifa terdiam.
"Anak aku, pasti bangga punya Abi seperti Kang Santri." Ucap Syifa masih menatap mata itu.
"Anak kita Fa." Ralat Fauzi.
"Ehehe," Nyengir Syifa.
"Anak kita juga bangga punya Bunda seperti kamu." Ucap Fauzi merundukkan kepala benda kenyak itu mendarat di kening bersama Syifa yang terpejam.
"Sudah hampir pagi, kamu belum mau tidur?." Tanya Fauzi lembut. Syifa menggeleng.
"Boleh minta sesuatu enggak?" Tanya Syifa.
"Tentu saja."
Syifa terdiam, berbicara menatap mata Fauzi adalah anugrah, hidup di samping Fauzi adalah suatu hal langka, kehendak tuhan yang tidak ada yang bisa menebaknya.
"Syifa ingin bukan malam ini saja, tapi malam seterusnya Kang Santri di samping Syifa yah. Syifa selalu rindu sama kang santri, takut kalau kang santri nggak ada di sisi Syifa lagi." Ucap Syifa membuat Fauzi terdiam.
"Janji ya Kang."
__ADS_1
"Ada pikiran apa kamu Fa?" Tanya Fauzi, "Kamu sakit atau kenapa?" Mulai khawatir.
Syifa menggeleng dan tersenyum, ia menghentikan tangan Fauzi yang mengelusnya. Tangan besar Fauzi ia letakkan di dadanya.
"Kita udah bersama berapa tahun kang? Syifa masih deg deg an kalau dekat kang santri." Ucal Syifa membuat Fauzi tersenyum.
"Sudah larut ayo tidur." Ucap Fauzi merebahkan Syifa di samping Annisa. Tangan besarnya ia gunakan mengelus perut besar istrinya.
"Bismillahirrohmanirrohim,"
"Alif-Laaam-Raa; tilka Aayaatul Kitaabil Mubiin"
"Innaaa anzalnaahu quraanan 'Arabiyyal la 'allakum ta'qiluun."
Surah Yusuf terlantun indah, Fauzi menempelkan telinganya di perut Syifa. Sedangkan tangan lembutnya mengelus surai hitam milik Fauzi. Ia mendongak, Aku bahagia.
Seusai membacakan surah Yusuf Fauzi menatap Syifa yang belum juga tertidur. Senyum hangat ia tampilkan Fauzi kembali melantunkan surah Maryam hingga usaipun Syifa belum juga tertidur.
"Kok belum tidur?" Tanya Fauzi.
"Hmm."
"Cepat tidur Fa," Titah Fauzi membuat Syifa menggeleng pelan dan tersenyum-senyum.
"Waktu terasa singkat kalau kita bersama orang yang kita cinta." Ucap Syifa membuat Fauzi menggeleng pelan, Syifa ini kenapa?
"Allahumma sholli wa saalim 'ala." Fauzi memilih untuk melantunkan sholawat sembari mengelus kepala Syifa. Beberapa menit kemudian barulah Syifa terpejam. Fauzi tersenyum dan menyelimuti kedua orang yang ia cinta.
Kaki jenjangnya mengitari kasur kemudian mengecup kening putrinya.
Ia menatap jendela yang belum tertutup, rupanya hujan. Aneh secara teori seharusnya juni itu kemarau. Tapi kehendak Allah, hujan di bulan juni bahakan sejak kemarin kemarin setiap malam selalu turun hujan.
Allahumma soyibannafi'an
Fauzi melangkahkan kaki ke jendela, menatap rintikan hujan namun juga masih ada cahaya remang-remang dari rembulan. Sesekali ia menoleh ke Arah Syifa dan putrinya.
Pikirannya kadang tertuju kepada Syifa yang akhir-akhir ini terlihat aneh. Menerawang jauh dari masalalu yang membuat sosok Kang Santri ini memahami sesuatu.
Tidak ada manusia yang baik, sama, setiap manusia baik pasti akan ada sisi tidak baiknya. Hanya saja tentang siapa yang melengkapi dan menutupi kekurangannya.
Bukan tentang seberapa lama hidup, tapi dimana ia yang berusaha mengambil hikmah dari segala kesalahan maupun kebenaran.
*****
z
z
Juni Hujan..
BTW, aku Up selalu melambai penuh ketidak jelasan wkwk, maklum halu sambil goreng bakwan jadi gini deh wkwkw.
Juni 18 ke usia 18 author hehe.. Ya Allah hampir setahun aku menulis di aplikasi ini, sampai punya temen temen terbaik seperti kalian.
Aku masih ingat awal aku gabung di NT saat bulan Agustus.
, aku emang amathir tapi jika kalian penasaran dengan dunia menulis aku, boleh kok kita sharing.
Kutipan pentingnya kita tidak harus perlu belajar sastra untuk merangkai sebuah kata.
18+ author wkwkw, Haruss Dapet kerjaan Aamiin.
__ADS_1
^^^18 Juni, 18 author^^^
^^^^^^Boyolali, Maghrib ...18-06-21^^^^^^