
(Badan Amil, Ilmu Fiqih)
Sering dipahami oleh kaum muslimin bahwa yang dimaksud dengan amil zakat adalah pengurus zakat atau panitia zakat yang ada saat ini di masjid-masjid atau yang berupa badan usaha. Pemahaman semacam ini sebenarnya perlu diluruskan. Karena amil zakat sebenarnya tidak seperti itu. Coba simak baik-baik ulasan berikut ini.
‘AMIL SECARA BAHASA ARAB BERMAKNA PEKERJA
Sedangkan secara istilah berarti orang yang diberikan tugas untuk mengurus zakat dan mengumpulkannya dari orang yang berhak mengeluarkan zakat, kemudian ia akan membagikan kepada golongan yang berhak menerima, dan ia diberikan otoritas oleh penguasa untuk mengurus zakat tersebut. [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, index ‘amil, point no. 1, 2/10543]
Sayid Sabiq mengatakan, “Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk amil zakat adalah orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.” [Fiqh Sunnah, terbitan Dar al Fikr Beirut, 1/327]*_
‘Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata,“Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengunpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.” Tamamul Minnah fi Fiqh al Kitab wa Shahih al Sunnah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Muassasah Qurthubah Mesir, 2/290]
Syeikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan ,“Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah amil zakat. Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.” *[Majalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, cet Darul Hadits Kairo, hal 163-164]*_
Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai amil zakat adalah diangkat dan diberi otoritas oleh penguasa muslim untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah amil karena yang disebut amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu.
Memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi amil karena amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.
"Ringkasnya, syarat disebut ‘amil zakat itu ada dua Fa." Kata Fauzi.
"Pertama. Diberi kuasa oleh penguasa untuk mengurus zakat, bukan mengangkat dirinya sendiri sebagai amil zakat."
"Kedua. Mengambil dan mendistribusikan zakat sehingga ia bukan hanya duduk di masjid atau di kantornya." Ucap Fauzi.
Dengan dua syarat ini, silahkan para pembaca sekalian menilai sendiri apakah panitia zakat yang terdapat di masjid-masjid layak disebut ‘amil zakat. Jika tidak, maka sudah barang tentu mereka sama sekali tidak mendapatkan persenan dari zakat. Jika mereka hanyalah panitia, maka itu hanya kerja sosial, dan mereka pun moga-moga mendapat pahala karena amal baiknya.
Wallaahu A'lam
Penjelasan Fauzi panjang lebar, Syifa yang menopangkan dagunya dengan tangannya menggeleng pelan dan tersenyum-senyum.
"Nggak salah." Kata Syifa membuat Fauzi menyipitkan mata.
"Memang kenapa?"
"Nggak salah nerima suami seperti Kang Santri." Ujar Syifa membuat Fauzi menarik hidung mancung istrinya dengan kencang
"Aauu, sakit atuh kang." Kesal Syifa mendelik tajam.
"Abisnya kamu gemesin, suka goda iman." Kata Fauzi jujur. Syifa yang sadar jika suaminya tergoda segera mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
"Kang santri kenapa suka banget ngasih tau ilmu-ilmu, meski hanya di hadapan Syifa?"
Kini jari jari Fauzi mengacak rambut sang istri, gemes.
"Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه
"Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya." [HR. Muslim dari Abu Mas'ud Al-Anshori Radhiyallaahu 'anhu"
"Terus?"
"Kalau aku menyampaikan kebaikan dan orang itu mengamalkannya, InsyaAllah aku juga mendapat pahalanya." Ujarnya. "Dan jangan lupa dengan kalimat ini, sampaikan dari ku walaupun hanya satu ayat." Imbuh Fauzi.
Stok kata mana lagi untuk memuji suaminya yang satu ini, rasanya Syifa terlalu kagum dan banyak banyak Alhamdulillah setelah mendapat suami yang MasyaAllah Subhanallah di banding dirinya Yang Astaghfirullah ya kang.
"Makasih ceramahnya kang santri." Ucap Syifa hanya membuat Fauzi tertawa kecil.
****
Beberapa hari kemudian, dan lebaran tinggal menghitung jam.
"Alhamdulillah baju lebarannya udah jadi." Ucap Syifa.
Baju coupel bertiga, awalnya bersama Abi dan Umi tapi ternyata Abi dan Umi sudah ada seragam. Jadi ia hanya coupel bersama suami dan anaknya.
Syifa juga ikut membereskan ndalem karena sudah pasti akan banyak jajaran ulama dan sesepuh yang sowan ke ndalem.
"Nak jangan terlalu kecapekan. Jangan terlalu banyak aktifitas kandunganmu masih muda lohh." Saran sang Ummi,
"Tenang ummi, Syifa masih kuat kok Ummi. Gak akan kecapekan." Jawab Syifa yang masih melakukan beberapa kegiatan seperti mengganti gorden.
"Bukan masalah Ummi, tapi tadi Zildan suamimu yang nggak mau istrinya kecapekan, posesif nya Astaghfirullah suamimu itu." Tutur Umi terkekeh.
"Namanya juga cinta ummi." Nimbrungnya kiyai Hakim membuat umi fatimah tersenyum-senyum.
Syifa menyalimi Abi, jika melihat betapa harmonisnya rumah tangga Pak Yai dan Bu nyai Syifa jadi berharap agar kelak Kang Santri nya mampu bertahan bersamanya hingga ujung usia.
Jika di pikir-pikir, Syifa dulu takut menikah dengan kalangan Gus, dari berita orang-orang bahwa kalangan kiyai akan punya Istri lebih dari satu, membayangkan saja Syifa sudah bergidik ngeri apalagi mengalaminya. Jangann sampai,
__ADS_1
Islam memang tak melarang poligami, tetapi jika tak bisa ikhlas untuk apa memaksa kehendak. Tetapi melihat rumah tangga Abi Umi Fauzi membuat Syifa menilai sisi lain, tak semua kalangan kiyai akan menikahi banyak perempuan. Abi hakim sangat setia, dan Syifa harap putra nya (Fauzi) juga setia.
"Loh kenapa melamun?" Kata Abi Hakim membuat Syifa gelagapan.
"Eh, enggak Abi." Gelagapan Syifa tersadar dari pikiran yang hanya dirinya dan Allah yang tahu. Tapi...
"Insyaallah rumah tangga kalian langgeng."
Deg.
Setelah mendengar ucapan dari Abi Hakim, Syifa membulatkan mata sempurna, bersamaan sang Abi meninggalkan kedua wanita di sana.
Tunggu-tunggu...
Abi bukan peramal kan?
ngawur fa
Astaghfirullah hilangkan pikiran buruk Syifa, jelas-jelas jika Abi-nya seorang kiyai. "Abi kok bisa baca pikiran aku?" Batin Syifa mengaga kecil.
"Awas Fa, kalau ada lalat masuk." Ucap Umi terkekeh.
"Eehhh."
"Udah kamu istirahat aja nak, biar santri ndalem yang mengurus ini." Ucap Umi Fatimah.
"Iya ummi, tapi Syifa mau bikin nastar dulu." Rengek Syifa membuat Fatimah tersenyum dan mengangguk.
"Jangan kelelahan, nanti kalau kang santrimu tahu kamu bakal di kurung di kamar seharian." Goda Ummi membuat semburat merah ada dalam di pipi Syifa.
Umi mertuanya ini sangatlah supel, dan ramah bahkan para santri menghormatinya dan banyak santriwati yang menginginkan menjadi Seperti beliau.
****
*
z
z
__ADS_1
Next..