Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Pertemuan?


__ADS_3

Demi apa iya hehe!!


Aku tuh terhura bgtt, ceritanya memang gak bagus tapi masih aja ada yang mau baca xixi.


sayang kalian yang setia sama novel ini, alur ribut dan juga penentuan tokoh yang acakadul, padahal kalo di bandingin dengan karya orang lain mungkin gak ada apa apa, tapi entahlah, bingung....kenapa masih pada baca.


Dan terimakasih sampai di ujung kisah mereka


****


...Jangan berekspetasi terlalu tinggi, karena jika iya maka kecewanya lebih tinggi nanti...


****


"Saya ke sana sekarang." Ucap Fauzi mengakhiri panggilan, ia yang tadi baru menyiapkan kebutuhan putrinya sekolah menjadi tergesa-gesa.


"Abi." Panggil Annisa gadis itu sudah siap dengan setelan seragamnya.


"Ya.." Jawab Fauzi buyar dari lamunan. Ia tersenyum ke arah sang putri, ada wajah Syifa di sana dan baru saja tadi mendapat kabar dari Ali tentang kemiripan seseorang dengan Syifa.


"Abi ayo berangkat." Ajak Annisa membuat Fauzi mensejajarkan tubuh tepat sejajar dengan putrinya,


"Hari ini Nisa berangkat sendiri dulu ya, abi ada urusan di luar." Kata Fauzi langsung mendekap erat putrinya.


Semoga Bunda kamu kembali nak, Batin Fauzi mendongak berharap yang di lihat Ali memang Syifa.


"Yaudah, Nisa berangkat Abi, Assalamu'alaikum." Ucap gadis kecil itu mencium tangan sang Abi kemudian tersenyum manis.


"Wa'alaikumussalam."


*****


Dengan langkah terburu-buru pria itu berjalan di lorong rumah sakit, Ali mengajak ketemuan di kantin rumah sakit, pria dengan tatapan serius sembari menengok kanan dan kiri. Nyaris masih menggunakan sarung dan juga koko biru tapi tiada peci yang melekat di kepalanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi setelah melihat Ali tengah menunggu di salah satu kursi.


"Wa'alaikumussalam Gus." Jawab Ali.


"Dimana?"


"Kita cari, terakhir kali dia masuk ke jalur tulip." Ucap Ali membuat Fauzi mengerinyit.


"Tunggu, jadi sampean belum ngikuti dia?" Tanya Fauzi meringis. Sontak Ali menyengir kuda, ia tadi terlalu terkejut sampai lupa mengikuti kemana wanita itu hingga lebih memilih menghubungi Fauzi.


Keduanya tengah clingukan di beberapa ruangan, dan memasang mata tajam untuk melihat siapa saja yang menunggu tapi seperti nya inilah hasilnya, mereka hanya berkeliling sedari tadi tanpa adanya petunjuk.


Ada binar tadi yang menguasai wajah Fauzi perlahan mulai meredup, ia mungkin terlalu berharap bahwa Syifa masih hidup.


Drrrt drrrttt drttt


Ali mengangkat telfon, bicaranya terlihat serius dan juga sepertinya ada hal yang sangat penting di raut mukanya.


"Gus." Panggilnya setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Hm."


"Saya ada kerjaan mendadak, maaf, sebelumnya....tapi asli tadi beneran Syifa kok." Ucapnya yang membuat Fauzi tersenyum yah tersenyum getir.


"Tidak apa,"


"Saya janji akan membantu lagi." Ucap Ali sungguh-sungguh. Fauzi menunduk

__ADS_1


"Mungkin memang saya yang terlalu berharap." Lirihnya yang tak di dengar jelas oleh Ali.


"Kenapa Gus?" Tanya Ali, sontak Fauzi mendongak kemudian menggeleng dan tersenyum tipis.


*****


Fauzi memilih untuk duduk di kursi penunggu seorang diri, sedangkan Ali tadi sudah pamit. Tangannya menopang wajahnya. Perkataan terakhir Ali benar benar membuatnya susah untuk berfikir jernih, ia lupa bahwa seorang hamba yang hanya menjalankan sebuah takdir.


"Saya yakin Ning Syifa masih hidup ..bukankah kepergiannya hanya di temukan sosok yang belum pasti Syifa enggaknya kan? Ning Syifa itu wanita kuat."


"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." Gumam Fauzi mengusap wajah frustasi, ia menolehkan kepala ke samping, terlihat wanita dengan pakaian Syar'i baru saja keluar dari ruangan itu tanpa menutup pintu.


Otak Fauzi bekerja hingga sepertinya pawakan perempuan itu mirip dengan yang ia temu di bandung. Saat beli air mineral.


Fauzi nyaris Istighfar, lebih baik ia pulang dari pada terus melawan takdir. Kakinya berjalan namun entah kenapa langkahnya berat melewati pintu terbuka tadi. Kepalanya ia tolehkan ke samping.


Ada dua anak kecil yang satu Asyik berbicara dan yang satu terpejam dengan bibir pucat. Nampak si perempuan terus saja mengoceh.


"Cepat sembuh ya dek, meski kamu nyebelin. killa kangen."


Suara itu seperti familiar, dengan langkah ragu Fauzi memasuki ruangan itu, berdiri di belakang gadis kecil itu yang terus saja menpuk nepuk tangan mungil sosok terbaring.


"Uwooo..." Gadis itu berjengit kaget saat menoleh ada bapak bapak, ehhh


Fauzi diam dan ingat, gadis itu..


Flashback...


Omm..." Panggil melengking serta nafas terengah-engah membuat Fauzi menoleh kebelakang.


Sedikit menunduk dan mengerinyit heran kala ada sosok gadis kecil yang menatap... Air yang ia bawa.


"Mmm..killa aus." Ucap mungilnya, manik hitamnya menatap air yang di genggam Fauzi yang membuat Fauzi terkekeh, anak siapa ini batinnya.


"Mau minum?" Tanya Fauzi.


"Boleh?"


"Tentu saja."


"Makasih omm, nanti biar bunda yah yang bayar." Ucapnya kemudian meraih tangan Fauzi dan menyaliminya.


Flashback off.


Lamunan Fauzi terbuyar kala gadis itu berceloteh yang membuat Fauzi tersenyum senyum.


"Om mau nagih utang?" Tanyanya mungill membuat Fauzi gemas.


"Nanti tunggu bunda ya.." Ucapnya lagi membuat Fauzi tersenyum senyum sambil menunduk geli, entahlah putri siapa yang jelas bertemu dengan sosok gadis ini mampu mengingatkan sosok.....


Fauzi menggeleng, "Om cuma mau liat kamu." Ucapnya menoel hidung si gadis yang langsung bersemu, aihh dasar Fauzi!


Keduanya larut bercerita dan juga terkadang kenapa hati Fauzi terlalu tenang di sini, tapi tunggu...bagaimana dengan Annisa. Fauzi menepuk dahi, ia segera pamit kepada anak kecil yang terus saja bicara entah kemana.


"Eh, om pamit ya."


"Bunda...gimana?"


"Lain kali saja." Ucap Fauzi membuat gadis kecil itu mengangguk-angguk. Fauzi sebelumnya mengelus kening sosok pria kecil yang terpejam dengan tatapan sendu, hati kecilnya seolah ikut sakit melihatnya.


*****

__ADS_1


Fauzi berjalan sembari melirik jam di pergelangan tangannya, ia memilih untuk mencari masjid di rumah sakit dan melaksanakan sholat sunnah dhuha, kebetulan masjid yang mungkin masih sepi di saat jam tidak di perbolehkan untuk besuk.


Rencananya setelah ini ia akan segera kembali ke pondok, kalau terlalu lama kasian juga Annisa. Fauzi mulai mengambil Air wudhu, sampai usai berwudhu ia berjalan dengan tanpa sengaja manik hitamnya menembus di jendela bening itu terdapat sosok perempuan yang melipat mukena.


Deg


Deg


Deg


Jantung Fauzi berdetak sangat kencang, ia mengerjab mata sosok Itu masih ada, ia mengucek mata tetapi sosok itu masih ada. Mata itu berkaca-kaca dan sedikit kurang percaya, ia bingung inikah yang di namakan halusinasi belaka atau hanya sosok bayangannya saja?


Fauzi menggeleng pelan, saat wanita itu berjalan keluar dari pintu masjid di sana Fauzi berlari menyusulnya, ia menarik tangan si perempuan yang mungkin juga tersentak kaget dan langsung menubruk dada bidangnya.


DEG.


Merasakan tangan besar yang membelit tubuhnya membuat wanita itu meronta, namun Fauzi semakin memeluknya erat.


"Syifa,,, Ya Allah, benarkah?"


"Lepas!!!!!.." Perempuan itu terus meronta tapi Fauzi menahannya erat. Ia bahkan sampai memejamkan mata, Jangan hilangkan bayangan ini jika ini hanyalah halusinasi.


"Fa.."


"Faa." Gumam Fauzi, ia bahkan tanpa sadar mendekap tubuh mungil si wanita semakin erat, takut bayangan itu pergi lagi...


Tapi...


Bugh!


"Allahu akbar." Desis Fauzi tersungkur ke lantai saat mendapat pukulan di perutnya. Ia langsung mendongak.


Jelas, jelass ia melihat tatapan murka dari wanita yang berdiri di hadapannya yang tersungkur karena tonjokkan si perempuan.


"DASAR GILA!!!"


"ANDA JANGAN BERANI MACAM-MACAM YA SAMA SAYA!!" Tatapannya benar-benar murka. Nafasnya seolah juga tercekat bersamaan dengan muka memerah marah.


Namun di bawah Fauzi dengan meringis ia juga tersenyum-senyum, tentu saja hal itu membuat wanita bernama Dilla itu bergidik ngeri.


"Dasar sinting." Ucapnya akhir kemudian berbalik dan melangkah pergi.


Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah


"Aku suami kamu... Syifa." Ucap Fauzi dengan sisa ringisan karena nyeri terkena pukulannya. Bersamaan langkah kakinya terhenti dan mematung di tempat.


@@@@@


Gak ada adegan romance di pertemuannya... yang ada tonjokan tuh zi xixi...


Selamat hari raya idul adha 1442 H ya gaish.


Jangan korbanin perasaan kalian kepada yang belum halal,


stay halal


apasihh aku tuu.

__ADS_1


__ADS_2