
Assalamu'alaikum.. dan Bismillah
Mari kita halu bareng bareng.
...*...
...*...
"Kita main ketapel aja ya Fa." Nego Fauzi membuat Syifa menyipitkan mata.
Apa itu ketapel? alah itu loh yang buat anak kecil main tapi nggak tau dengan anak jaman now, entah tahu ketapel atau enggak yang jelas buat mengusir ayam saat menjemur padi hehe.
"Kang santri MKKB ya?" Tanya Syifa.
"Aku nggak minta kamu KB Fa." Jawab Fauzi malah ngalor ngidul, sedangkan ekspresinya sangat ketar ketir melihat pistol yang ada di tangannya.
Syifa menyentuh dahi kang santrinya, membuat Fauzi menoleh ke arahnya.
"Anget." Gumam Syifa.
"Kang Santri MKKB ya?" Tanya Syifa membuat Fauzi menghembuskan nafas kasar.
"Masa kecil ku bahagia kan ada Syifa dulu." Ucap Fauzi membuat Syifa memutar mata jengah, pantes MKKB lha wong cintanya di tolak.
"Jangan main tembak ya Fa... aku gak kuat ini." Ucap Fauzi.
Syifa bersedekap dada, "Orang itu nggak ada bobot kok pistolnya, kalau nggak mau nembak Syifa nangis, Kang Santri bukan suami yang bertanggung jawab."
Waduh, ancaman ini.. bisa jadi tidur gak kelonan sama Syifa lalu gelar Gus juga akan tercoreng. Fauzi menggeleng,
"Iya -iya."
Dengan telaten Syifa mengarahkan tangan Fauzi ke arah tembok yang sudah ada titik tengahnya, mengajarkan kesalahan dan tata cara memegang pistol yang benar, bidikan dan sasaran itu yang utama kata Syifa. Jadi Fauzi hanya menurut kala Syifa mengajarkan tekhnik menembak.
Syifa sesekali membenarkan letak agar mata dan arah bidikannya sejajar, mata Fauzi fokus dengan sasaran. Tinggal kini ia menekan pelatuk. Tapi konsentrasi itu buyar kala..
"Tembak Kang." Titah Syifa tapi Fauzi malah memejamkan matanya.
Satu detik
Dua detik, Syifa menoleh dan menepuk jidat.
"Kang Santri malah tidur." Gumam Syifa memejamkan mata sebentar kini tangannya mengguncang tubuh Fauzi dan merengek manja.
Fauzi menurunkan pistolnya seraya membuka mata senyum teduh ia tunjukkan kepada istri yang tengah merajuk "Syifa...." Panggilnya lirih, tatapan mereka bertemu. "Pinter banget ngajarinya, tapi jangan di sini bisa geger nanti seluruh pesantren." Kata Fauzi yang membuat Syifa berfikir.
"Yaudah kita ke danau saja Kang." Usul Syifa membuat Fauzi tersenyum getir. Ada saja ide istri nya itu.
Dengan langkah zombie ia mengikuti Syifa yang menariknya ke depan. Tapi saat di perjalanan mereka bertemu dengan Umi Fatimah.
"Assalamu'alaikum Ummi." Salam Syifa Fauzi kemudian mencium tangan sang Ummi.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Ummi. "Kalian mau kemana?"
"Kita mau mewujudkan impian debay." Kata Syifa dengan riangnya. Fauzi hanya mengangguk kusut.
"Ooohh ngidam? Yasudah hati hati ya." Tutur Ummi membuat Syifa mengangguk.
"Zil jaga istrimu baik baik." Titahnya kepada sang putra.
"Ummi doain aja Zi pulang dengan utuh," Gerutu Fauzi membuat Syifa tertawa sedikit kemudian menarik tangan Fauzi. Malu sama mertua massa menantunya meminta anaknya untuk menembak kan gak etis.
"Assalamu'alaikum Umi." Ucap Syifa terdengar dari jauh Umminya menjawab salam sambil geleng-geleng.
*****
Di sinilah mereka, di danau. Flashback dulu tentang masalalu. Sudah bertahun-tahun tempat ini seolah menjadi tempat favorit mereka, sampai saat ini pun keduanya selalu menyempatkan diri kesini. Kadang kala saat Syifa butuh ketenangan.
Sedangkan Fauzi lebih sering di masjid ke titik danau ini hanya untuk mencari Syifa dan mengenang masa lalu.
__ADS_1
"Fafa." Panggil Fauzi membuat Syifa tersenyum bersemu merah. Panggilan fafa memang tersemat Fauzi untuk Syifa saat usia remaja, tapi yah kalian tahu kan Syifa dulunya kek mana. Sangat cuek dan juga galak.
"Ish kang santri bikin sebel." Gerutunya.
"Coba aja dulu kita nikah muda ya Fa, pasti sekarang anak kita sudah sepuluh." Ucap Fauzi ngawur, Syifa mendelik tajam yang membuat Fauzi nyengir sembari menunjukkan dua jari seolah mengatakan prinsip negera bahwa dua anak cukup.
"Gak tentu juga, nikah muda itu bukan prinsip apalagi cuma modal bahagia saja kang. Lagian Allah tau mana yang baik buat kita dan ini yang terbaik." Ucap Syifa membuat Fauzi mengangguk.
Keduanya langsung duduk di rumputan, menatap danau yang terpantul hijau pohon. Jadi keinget, air pantai warnanya biru air danau warnanya hijau sebenarnya air itu berwarna jernih bening.
Fauzi mengelus perut Syifa. "Sehat di dalam Nak ini bukti cinta Kang Santri." Syifa tersenyum sebentar.
"Kalau kita benar saat ini jodoh kenapa kita nggak nikah kan dari dulu saja ya?" Ucap Syifa membuat Fauzi terkekeh sejenak.
"Jatuh cinta kamu yang telat Fa," Jawab Fauzi membuat Syifa mengerinyit.
"Kamu nyebelin." Kata Syifa.
Fauzi tertawa lagi, ia akan membuat istrinya lupa dengan tujuannya semoga saja..berhasil.
"Kalau kita nikah muda belum tentu kita masih bisa bersama saat ini. Bukan masalah ia cepat ia dapat. Tapi dia yang datang di waktu yang tepat, iya tepat menuju halal."
Kalau di tanya soal menikah muda? yah ayo ayo saja ngelihat ke romantisan di aplikasi sejuta ummat saja sudah bikin ngiler, kapan pegangan tangan sama pasangan dan halal pulak.
Tapi, kalau di tanya kesiapan? Hmm tentu saja kita akan berpikir tujuh keliling, menikah bukan soal seberapa cinta. Tapi, Bagaimana kedepannya nanti dan juga kesiapan akan masalah yang di hadapi tentu saja bukan masalah yang mudah.
Nyatanya dunia kita tak semudah cerita novel yang dimana perjodohan membawa cinta, benci cinta dan dendam cinta. Jadi kisah kita sudah di atur oleh sekenario, bukan soal cintanya saja tapi ya seberapa siap dan menerima.
"Cinta cintanan. Kapan belajar nembaknya kang?" Celetuk Syifa, gagal sudah rencana Fauzi.
Lagian dalam fikiran Syifa, masalalu tempat berkaca bukan tempat mengulangnya cerita. Apa yang sudah menjadi kehendak tetap akan terjadi.
"Tapi nanti jam ngajimu bertambah Fa." Ucap Fauzi mengulurkan tangan.
"Bales dendam cerita nya?" Tanya Syifa bersedekap dada.
"Balas dendam terbaik adalah menjadikanmu lebih baik." Ucap Fauzi membuat muka Syifa mendatar.
Uniknya pasangan satu ini,
"Kang santri arahin bidikannya ke pohon tengah itu." Titah Syifa. "Konsentrasi kuncinya." Kata Syifa lagi membuat Fauzi mengangguk, ia memejamkan satu mata untuk melihat sasaran tepat tidaknya.
"Tembak Kang."
DOR, tembakan meleset.
"Lagi."
DOR, meleset lagi.
Syifa menatap Fauzi yang sedikit frustasi. "Tenang, rilex dan konsentrasi Kang, tipsnya seperti memanah anggap saja begitu." Ujar Syifa membuat Fauzi mengangguk lagi.
Ia mungkin belum terbiasa dengan benda itu, tapi Syifa melihat aura yang ini beda dari yang tadi. Pasalya netra Fauzi sangat tajam, dengan aura dinginnya.
DOR
Syifa tersentak kaget.
"Konsentrasi Fa, Kang Santrimu ini memang tampan." Ucap Fauzi tanpa menatap Syifa.
Wanita itu melihat sasaran Fauzi tepat, secepat itu? Tapi senang juga melihat Fauzi dengan aura seperti ini, Subhanallah MasyaAllah banget.
"Sekarang tiga pohon itu." Ujar Syifa menunjuk Tiga pohon yang berbeda tempat dan Fauzi mengangguk.
DOR
DOR
DOR
__ADS_1
meski tembakan ke tiga sedikit melenceng, Fauzi sudah di katakan mahir ,siapa yang mampu belajar secepat itu kalau bukan Kang Santri nya Syifa?
Terus mencoba hingga Fauzi sudah meminta Syifa untuk istirahat. "Sekarang udah ya fa?" Tanya Fauzi membuat senyum Syifa mengembang dan mengangguk.
Keduanya duduk di hamparan rumputan hijau,
"Umi kamu belajar nembak dari siapa Nak?" Tanya Fauzi di depan perut Syifa membuat Syifa meralatnya.
"Bunda." Koreksinya.
"Iya bunda." Tutur Fauzi tersenyum lebar, nadanya juga ia kecilkan hingga membuat bulu kuduk Syifa terasa berdiri.
"Dulu Syifa bisa sendiri." Ucapnya membuat Fauzi mendongak lalu duduk dengan benar mendengar cerita sang istri.
"Gak mungkin." Kekeh Fauzi, yang bener bae Fa.
"Nggak percaya kan?" Tanya Syifa membuat Fauzi menggeleng.
"Syifa juga enggak."
"Terus?"
"Jadi dulu itu, tanpa sepengetahuan semua orang Syifa belajar senjata di usia kecil, tapi kenapa suka banget nggak sadar kalau Syifa secara diam-diam menyembelih Ayam." Ucapnya.
"Kamu tukang ayam dulu?" Tanya Fauzi.
"Mending tukang Ayam Kang, lah kalau tukang manusia mah repot." Jawab Syifa membuat Fauzi menggaruk tengkuk. Apa maksud istrinya?
"Syifa nggak sadar dengan diri Syifa sendiri, suka banget ngeliat orang orang merintih kesakitan, tapi Syifa tidak menemukan jawaban. Ada trauma juga dulu dengan laki-laki." Ucap Syifa langsung menutup wajahnya.
"Hey kalau takut gak usah cerita." Ucap Fauzi membuat Syifa menggeleng.
"Sekarang ada kamu kang yang jagain Syifa." Kata Syifa membuat Fauzi tersenyum.
"Sa-sampai Syifa waktu itu takut dengan gelap, takut dengan apapun kecuali bang Ridwan. Dulu ayah bunda belum ke indonesia. Dan ada waktu di mana Syifa tau keahlian dalam bersenjata berguna di waktu yang seharusnya Syifa gunakan." Ucap Syifa membuat Fauzi mencerna.
"Syifa punya Kang Santri itu Alhamdulillah banget, bimbing Syifa yang berlumur dosa ini ya Kang. Syifa takut Allah nggak mau maafin kesalahan Syifa di masa lalu." Tutur Syifa membuat Fauzi menyandarkan kepala Syifa di bahunya.
Tatapannya lurus ke arah danau menerawang masalalu yang bahkan sudah ia lupakan.
Di masa ia merelakan punggungnya untuk gadis bernama Syifa, mungkin konyol karena dirinya juga memeluk gadis itu.
"Kalau kamu percaya sama Allah. Kamu juga harus yakin kalau Allah maha pemaaf," Tutur Fauzi membuat Syifa mengangguk.
DOR
DOR
Keduanya melepaskan pelukan dan menoleh ke belakang segerombolan pria berbaju hitam gelap siap mengerumuni keduanya, Syifa Fauzi berada di tengah mereka yang lumayan banyak.
"Menganggu saja." Batin Syifa.
"Allahumma inni a'udzubika..." Batin Fauzi dan seterusnya.
"Syifa kita salah apa ke mereka?" Bisik Fauzi yang punggungnya menempel ke punggung Syifa sembari berputar melihat makhluk makhluk yang membawa pistol menghadap mereka.
Syifa meraih pistol di sakunya menerbangkan ke udara kemudian menangkapnya, dengan senyum menyungging. Fauzi juga sudah berposisi siap membidik lawan.
Keduanya berputar sembari melirik.
"Let's play with me Kang Santri."
...*...
...z...
...z...
Sosweeetnya mereka 😂 main-main bareng ih gak ngajak author ahahha.
__ADS_1
Jempol dong gak bikin kalian rugi kok. Yok Komen Yok komen komennn..biar mengUP lagi hehe.