Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Nasihat Kang Santri


__ADS_3

^^^Assalamu'alaikum semoga sehat selalu dan di limpahkan rezeki. Kalian tau kan kalau nafas itu juga rezeki..Jadi Alhamdulillah banget, dan jangan lupa bersyukur.^^^


(....)


Kedua insan itu berjalan memasuki gerbang pesantren, dimana para santri santri tengah sibuk dengan kegiatan kajian rutin di malam minggu. Kenapa Syifa bisa lupa? kalau begini kan lebih baik dirinya dan Kang Santri tetap di Pesantren untuk bantu mempersiapkan.


"Astaghfirullah Gus!"


Kedua pasutri menoleh, Ustadz Rizal menatap Fauzi tak percaya atas apa yang di lihatnya. Secara Gus Fauzi itu tampan kenapa muka nya bonyok begini, Astaghfirullah


"Gus njenengan kok bisa luka-luka gitu." Tanya Ustadz Rizal.


Fauzi hanya tersenyum, mau bicara bahkan masih ngilu di sudut bibirnya.


"Itu luka cinta Ustadz Rizal." Celetuk Syifa nyengir sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat kalau dirinya hamil.


"Hah?" Ustadz Rizal mengaga.


"Yang bener Ning?" Tanya Rizal lagi membuat Syifa mengidikan bahu.


"Eh tumben Ustadz bahagia?" Tanya Syifa konyol, kebetulan juga dirinya heran sedari tadi Ustadz yang lumayan sableng itu mendadak senyum senyum dan mmenunduk lagi.


"Hihi, bahagia boleh dong Ning." Ucapnya.


"Gini-gini, Saya itu bahagia karena anak saya sudah kembali ke rumah. Dan istri saya juga bahagia karena itu saya ikut bahagia." Ucap Rizal mendramatisir.


"Emang Ustadz tidak pernah bahagia?" Tanya Fauzi sedikit bergumam karena masih perih di sudut bibirnya.


"Saya mah selalu bahagia, kami pernah menemukan anak dan memutuskan merawatnya, tapi nenek si anak mengambilnya." Ucap Ustadz Rizal menghela nafas panjang.


"Dan sekarang anak itu sudah kembali, ya saya seneng dong Gus orang istri saya juga seneng." Kata Ustadz Rizal yang membuat Syifa dan Fauzi mangguk-mangguk.


"Tapi saya herman." Ucap Ustadz Rizal sembari mengetuk dagu.


"Ustadz ganti nama herman?" Tanya Syifa cekikikan.


"Maksudnya heran." Jelas Ustadz Rizal membuat Syifa dan Fauzi saling pandang.


sejak kapan heran jadi herman.


"Yang nyerahin anak itu ke keluarga saya murid njenengan loh Gus." Ucapnya lagi.


"Murid?"


"Iya itu tuh tuh." Ucap Rizal menunjukkan ke salah satu orang yang sibuk dengan menata kursi.


"Ali?"


"Ho'oh.. saya kira dia Ustadz sini, ternyata dia murid Gus Fauzi, dia sendiri yang bilang." Gumam Rizal membuat Fauzi dan Syifa saling pandang.


"Kok bisa?" Tanya Syifa Fauzi bersamaan.


Rizal memandang keduanya bergantian kemudian mengetuk-ngetuk dagu, seolah dirinya tengah berpikir kerass.


"Karena Itulah saya juga herman."


Syifa dan Fauzi memutar bola mata jengah.


eh herman lagi.


*****


"Assalamu'alaikum Ummi." Ucap Syifa Fauzi yang melihat sang Ummi sedang memerintah santri ndalem untuk membawa beberapa tikar untuk di taruh di halaman depan masjid.


"Wa'alaikumussalam Astaghfirullah itu mukamu kenapa nak." Ucap beliau khawatir yang membuat Fauzi hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Jawab Ummi siapa yang bikin ini?" Tanya sang Ummi membuat Syifa menunduk.


"Ummi ini luka cinta." Dasar bucin, Fauzi menjawab membuat Umi Fatimah mengerinyit heran. Astaghfirullah...


Belum sempat Ummi berkata, "Assalamu'alaikum Umi, dipanggil abi." Katanya yang membuat Umi Fatimah meninggalkan Fauzi dan Syifa yang menghela nafas lega.


"Mbak makasih yo." Ucap Syifa yang membuat santriwati itu menatap Syifa dengan seratus persen loading lama.

__ADS_1


"N-nggih Ning." Jawabnya menunduk dan aslinya sih nggak paham.


Fauzi dan Syifa kembali berjalan meninggalkan santriwati ndalem.


"Capek Fa?" Tanya Fauzi.


"Enggak Kang."


Keduanya hening berjalan sesekali menunduk dan menjawab salam beberapa santri atau Ustadz yang berlalu-lalang di sekitar pesantren.


"Aku lupa loh kalo nanti malming." Ucap Fauzi yang membuat Syifa menatapnya dari samping. Tetep ganteng kok.


"Kenapa?" Tanya Syifa.


"Pesantren ada kajian, jadi belajarnya di majuin ba'da asar ya." Putus Fauzi yang membuat Syifa membulatkan matanya. Ia lupa karena sudah menyetujui permintaan Fauzi agar dirinya belajar lebih dari jam pelajaran biasanya.


"Tap-tapi.."


"Gak ada penolakan." Kata Fauzi membuat Syifa mengangguk pasrah.


Keduanya masih berjalan.


"Temanya apa kang?" Tanya Syifa. Barangkali bisa nego.


Terlihat Fauzi tersenyum penuh arti dan Syifa yang menangkap aura jangan mendekat karena bahaya itu ingin menangis kejer, kang santri yang kejam membuat Syifa ketar ketir.


"Emm.. Tadi kamu paksa aku belajar kan?" Tanya Fauzi berlagak sok berpikir.


"I-iya."


"Tapi aku gak salah dengerkan kata kamu kalau belajar harus langsung paraktek dan gak di nanti nanti." Ucap Fauzi lagi dan nadanya ehh terkesan sedikit berbeda dari yang awal tadi.


"Eeee.."


"Hmm.." Fauzi berdehem. "Tadi aku belajar langsung praktek loh Fa?" Ucap Fauzi dekat dengan telinga Syifa semakin membuatnya menegang.


"T-terus." Syifa mendongak, Fauzi sudah tersenyum-senyum berdiri tegak dan menatap Syifa penuh arti.


"Biar adil kita belajar sambil praktek." Kata Fauzi yang Syifa menatap dengan wajah bingung.


Fauzi membungkuk sedikit dan mendekat di telinga Syifa seraya berbisik.


"Praktek Fathul idzhar."


DEG. Bulu kuduk Syifa terasa berdiri, bahkan sekarang Fauzi sudah berjalan jauh di depannya.


"KANG SANTRIII NYEBELIINN !!" Teriak Syifa membuat tatapan para santri santri nurul Qur'an menatap Syifa seolah terkejut dan mengelus dada. Syifa masa bodoh dan menyusul Fauzi yang hanya tersenyum senyum menghadap lurus ke depan.


****


Pov Syifa.


Ba'da asar.


"Kita belajar dasarnya nahwu dan shorof, kamu ikutin apa kata aku ya." Ucapnya, aku hanya mengangguk malas.


Huwa, humaa, hum, hiya, humaa, hunna, anta, antumaa, antum, anti, antumaa, antunna, ana, nahnu


Aku mengerinyit herman, ehh heran maksudnya. Tapi dia ngajar seenaknya tanpa mencatat. Lihatlah diriku yang menggeleng konyol saat dirinya bertanya kata... Fahimmna?


Dan kalian mau tau apa yang lebih menjengkelkan.


"Jawabnya apa Syifa?" Tanyanya.


"Laa Fahimna Ustadz." Ucapku datar, kalau dia mengajar ilmu seperti ini maka aku juga harus memutar kepala untuk menghafal kosa kata bahasa arab.


"Jawabnya yang ikhlas dong sayang." Ucap Fauzi yang membuatku mendelik sebal.


"Katanya mau belajar Nahwu." Kesalku, kenapa malah wa wa


Ku lihat dia menghela nafas sejenak setelah itu tersenyum, jika kalian pikir Kang Santri itu hanya bisa gombal maka kalian harus tambahi kata bahwa kang santrinya Syifa adalah orang paling sabar yang menghadapi kemarahan seorang Syifa.


"Kalau belajar tanpa ada kata ganti yang di sebut dhamir , lalu bagaimana kita mulai menghafal kalimat-kalimat lain Syifa?" Tanyanya balik yang membuatku harus menunduk.

__ADS_1


Kalau He untuk laki laki maka sama dengan Huwa (ู‡ูˆ) kalau She untuk perempuan maka sama dengan Hiya (ู‡ูŠ)


otakku mencerna sebagian yang dikatakan oleh Kang Santri, padhal minggu lalu aku belajar isim dhomir entah apalah itu, aku sudah lupa lalu di tambah ini. Ku harap Kang Santri senantiasa sabar dan tabah terhadap muridnya.


"... Ana \= Aku, Nahnu\=Kami." Ucapku mengakhiri hafalan dari kata dhamir.


Dia tersenyum seraya mengelus kepalaku lembut, sedangkan aku memejamkan mata. Kelopak mataku terbuka terhias dirinya yang senyum nya melebihi manisnya gula jawa campur madu.


Insecure nggak Insecure nggak? Insecure lah...Massa enggak.


Hey buat para ukhti, yang Insecure terhadap wanita cantik. Maka ini Insecure ku. Kadang aku masih nggak nyangka kala suamiku bener-bener sosok Kang Santri yang di idam-idamkan banyak ukhti.


Bukan karena aku iri dengan Ukhti-nya...Hanya saja aku yang kurang pe-de jika bersanding dengan seorang Gus Fauzi.


Bagaimana bisa Aku, Asyifa gadis dengan ilmu agama rendah bisa bersanding dengan Gus Fauzi idaman kaum hawa dengan ilmu kelas ikan paus. Allah menempatkan cara kerja alam aku bersama Kang Santri.


Tapi satu kalimat Kang Santri yang membuatku selalu bangga di samping-nya.


"Jangan pernah insecure, orang yang bersyukur tidak akan Insecure dengan milik orang lain, tetapi dia yang akan tetap ikhtiar untuk berubah ke yang lebih baik."


Aku terbuyar kala Kang Santri menyentil keningku yang membuat aku meringis sebal.


"Kenapa?" Tanyanya yang memandangiku aneh.


"Aku malu kang." Ucapku. Seratus persen dia tak akan paham dengan maksudku.


"Malu?" Tanyanya.


"Aku dari dulu nolak kamu, karena aku takut kamu akan malu bersanding dengan aku yang malu-malu-in." Ucapku. "Aku selalu ngerendahin ilmu yang kamu miliki waktu itu."


"Semua itu masalalu Fa." Ucapnya dengan seutas senyum dan tatapan teduh.


"Bukan itu..."


"Sssstttt.." Aku terdiam kala jari telunjuknya menutup bibirku, aku terpejam kala kecupan lembut menempel di keningku.. Jantungku tolong


"Kamu selalu bicara masalalu Fa." Ucapnya.


"Tapi memang benarkan begitu?" Tanyaku dia menghela nafas, manik hitamnya membuat ku selalu tenggelam di sana. Dan aku selalu terharu bagaimana kisah kita bersatu waktu itu.


"Jangan mengatakan hal sama, Fa. Seperti kata takdir, sekuat apa kamu menolak di masalalu. Kamu akan menerimaku di masa depan seperti sekarang ini." Ujarnya yang membuatku tersenyum seraya menunduk.


Ohh, kalau aku terus di buatnya terbang oleh nasihatnya bagaimana nanti kalau tiba tiba jatuh tidak ada dia. benar benar kang santri!!! batinku meronta.


"Napa Fa baper? tenang aku tanggung jawab kok." Ucapnya tertawa lepas, dan anehnya tawa seorang Fauzi itu selalu menular.


Aku mengusap ujung kelopak air mataku gegara dirinya.


Allah terimakasih, engkau menyisakan lelaki terbaik untukku. Dia yang membuatku menangis karena ketulusan yang terpancar di matanya. Dan dia yang selalu membuatku tertawa dengan sikap kelucuannya.


Untuk kesekian kali Syifa cuma bilang, Aku bahagia Kang.


......*......


...z...


...z...


Huaaa pengen di End tapi kok masih banyak masalah yang belum terungkap ya sedih akuu...


Ya Allah sisakan satu lelaki terbaik untukku. Dia yang membuatku menangis karena ketulusan yang terpancar di matanya. Dan dia yang selalu membuatku tertawa dengan kelucuannya. Aamiin ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


NB: Buat anak B arab. terakhir aku belajar isim dhomir itu MTs kelas 3 maklum lupa, jadi kalau ada salah mohon di maklumi atau kasih yang benar kek mana yaa


dannn


Alhamdulillah gaes aku lulus artinya aku bukan lagi siswi hihi. Dan siap kerja sih siap cuman kudu nunggu usia 18 tahun dulu... dan kebetulan usia 18 thnnya kurang beberapa hari lagi... cuma mau kasih tau doang kok heheeee...


Oh yaa semangat buat kalian jugaa yaa


Maaf kalau selalu Lama Up sekali Up selalu gaje pulak, astaghfirullah๐Ÿ˜„


Salam sehat dan semangatttt

__ADS_1


Syukron pembacaa dann terimakasih yang sedia vote...maklumi typo karena author yang masih amathir.


Jazakallah khairan wal katsiron.


__ADS_2