
Bulan terus berlalu, waktu berputar tidak ada waktu yang terhenti walaupun terhitung sedetik. Syifa sudah selesai melakukan Ujian dan kini acara kelulusan serta wisuda untuk kelas 12.
Siswa memakai jas dan siswi memakai kebaya, untuk kelas Tata Busana memakai kebaya warna yang sama tetapi model yang berbeda, tentu saja merupakan hasil karya sendiri.
Potret bersama sahabat dan orang tua sebagai kenangan, dan kabar baiknya Syifa mendapatkan peringkat pertama Arnold dan Ayana sangat bangga melihatnya. Semua Siswa dan Guru-guru sudah mengetahui siapa keluarga Syifa.
Yah Arnold wajahnya yang sering bermunculan di TV membuat para gadis kian histeris.
"Ayah sudah bilang, Ayah ini tampan." Ucap Arnold pada Ayana.
"Lalu." Ucap Ayana jengah.
"Bangga gitu." Ucap Arnold masih dengan gaya coolnya.
"Kau tau Fa? Ayahmu ini benar-benar pede tingkat langit sab tujuh, jangan punya suami sepertinya ya." Bisik Ayana pada Syifa.
Arnold masih mendengar celoteh Ayana hingga ide romancenya keluar secara dadakan,
"Bun?Lihat sini." Ucap Arnold serius Ayana spontan memutar kepala ke samping dan..
Cup
Ayana membelalakan matanya, Syifa menutup matanya dengan lima jari tetapi masih posisi jari terbuka dan melihat tingkat romantis Ayahnya.
"Oh tidak, mataku ternoda." Gerutu Syifa, lain dengan para siswa yang terlihat berteriak aneh.
-
-
-
Pesantren juga mengadakan akhirusannah, wali santri berdatangan untuk pengambilan rapot dan acara untuk kelas 12 Akhirusannah,
Faqih berjanji akan mengatakan perasaannya pada Syifa, entahlah untuk saat ini ia ingin mengetahui apa respondnya.
"Yah,Bun Syifa cari adek dulu ya." Ucap Syifa.
"Iya hati-hati." Balas kedua orang tua, Syifa tersenyum dan mengangguk.
Manik hitam milik Syifa menyapu para anak kecil yang berlalu lalang mencari keberadaan adiknya hingga langkahnya terhenti disaat bersamaan seseorang memanggilnya.
"Syifa." Ucap dua orang, Syifa memutar tubuh ke belakang benar saja sudah berdiri Fauzi dan Faqih yang sama-sama saling menatap horor.
"Iya." Jawab Syifa kikuk, jujur saja dia bingung.
Faqih dan Fauzi saling pandang menatap tak bersahabat,
"Syi aku mau ngomong." Faqih.
__ADS_1
"Saya juga Fa." Fauzi.
Syifa mengerinyit tak paham angin apa yang sedang menerjang keduanya.
"Kalian mau ngomong?" Keduanya mengangguk.
"Baiklah cepat." Hingga 2F saling pandang.
"Mm tapi Syi/Fa bukan dengan dia." Ucap 2F bersamaan, Syifa semakin heran.
"Tapi berbicara berduaan di area pesantren bahaya buat keselamatan saya, Syifa ngga mau tau nanti kalo kena hukum dengan peraturan pondok bisa berabe." Ucap Syifa hingga mereka menyetujui.
(...)
Fauzi,Faqih menuju belakang kelas, Syifa hanya menurut saja.
"Mau ngomong apa," Tanya Syifa menghadap Faqih, terlihat Fauzi berdiri di belakang Faiqh terlihat guratan cemas.
"Syi, sebenarnya sudah lama aku kagum sama kamu." Ucap Faqih to the point terlihat wajahnya nada tulus.
Deg
Fauzi yang tadinya menunduk kini mendongak bagaimana mungkin Faqih mengatakan perasaannya sekarang, tatapan itu beralih pada Syifa yang tersenyum. Apa artinya ini?
"Benarkah?" Tanya Syifa antusias.
"Aku suka sama kamu." Ucap Faqih dengan degupan jantungnya. Kini Syifa yang tercengang beralih menatap Fauzi.
Deg
"Bagaimana denganmu?" Tanya Faqih sukses membuat Syifa beralih menatap manik hitam milik Faqih.
"Ak-aku.." Terdengar ucapan Syifa sembari memejamkan matanya.
Fauzi pov
Fauzi? merasakan persaan hancur beginikah patah hati yang tak bertulang, tak sangka Faqih secepat itu menyatakan perasaannya, tak bisa ku pungkiri sakit rasanya.
Senyuman Syifa membuatku seolah menyadarkan siapa diriku sebenarnya. Menyerah? entahlah susah sekali mencabut panah yang sudah tertancap di sini.
Aku terus menunduk tanpa sepatah kata, ku dengarkan apa jawaban Syifa, namun senyuman Syifa mungkin sudah menjadi jawaban dari semua.
"Bagaimana denganmu?" Tanya sainganku.
"Ak-aku." Ucapan Syifa menunduk, arghh aku tak bisa melihat ekspresinya.
Ku putuskan untuk pergi dari mereka,nyeri! Kenapa dengan diriku? Bukankah harusnya ikut senang melihat Syifa bahagia dengan Faqih?
Tapi bohong jika saya tak merasa sakit, sudahlah mengikhlaskan lebih baik. Terkekeh sendiri gelar santri patah hati ish.
__ADS_1
Fauzi pov off
(...)
"Ak-aku..apa maksudmu?" Ucap Syifa mulai resah, kenapa saat ini kepalanya dipenuhi bayangan Fauzi dengan raut kecewa.
"Aku kagum sama kamu, aku suka sama kamu, dan aku cinta sama kamu, maaf telah menyimpan perasaan ini terlalu dalam." Ucap Faqih.
Deg
Syifa terlihat tegang, apakah santri ini akan mengajak pacaran tapi mana mungkin seorang santri yang tahu hukum islam mengajak pacaran, walaupun itu pacaran syar'i maksudnya tanpa menyentuh. Tetapi tetap saja yang namanya pacaran sudah dilarang dan itu mendekati Zina ingat! Zina lebih kejam dari pada pembunuhan.
"Jawab jujur Syi." Ujar Faqih sendu.
"Maaf."
Satu kata mewakili sepersekian makna, serasa tertusuk belati ternyata Syifa tidak pernah memiliki perasaan padanya meski sejengkal tangan.
"Jujur dulu Syifa kagum dengan Kang Faqih, tetapi maaf hanya sebatas kakak adik dan Syifa dulunya memang senang jika diperhatikan oleh Kang Faqih, tapi Maaf bahwa perasaan itu tak lagi sama Dan...." Ucap Syifa terpotong.
"Dan sekarang posisiku tergantikan oleh orang lain? jangan bilang jika dia Gus pondok." Sumpah demi apa Faqih tersulut emosi, nadanya begitu garang hingga Syifa hanya menunduk dan menunduk.
Tes
"Ma'aff." Ucap Syifa lirih.
"Kenapa Dia? kenapa?." Ucap Faqih langkahnya terus mendekat Syifa.
Syifa menggelengkan kepala saat jarak mereka tak lagi jauh, mundur dan mundur itulah yang dilakukan Syifa hingga punggungnya bertatap dengan tembok.
"To-long menjauhlah." Ucap Syifa nafasnya tak beratur langkah Faqih semakin mendekat.
"Kenapa harus dia?" Ucap Faqih dengan nada tercekat bahkan hembusan nafasnya terasa dalam wajah Syifa yang terpejam. Faqih belum bisa menerimanya entah apa sebabnya.
Lain dengan Syifa dengan tubuh bergetar ketakutan keringat dingin mulai membasahi Wajahnya, kenapa sifat kejam nya tidak muncul saat genting seperti ini. Terlalu lemas dengan posisinya yang sangat dekat.
Apakah trauma itu akan terulang..
Sekelabut bayangan di masalalu muncul jelas dimana Riko yang berulah membuatnya tak berdaya, takut sangat takut bibirnya pucat bahkan kulit putihnya hampir tidak beda dengan pucat bibirnya tubuhnya bergetar dikala wajah Faqih semakin dekat.
Tangan Faqih hendak menyentuh wajah Syifa tetapi melihat aura ketakutan Syifa membuat Faqih tersadar, Alhasil tangannya mendarat di tembok. Lalu..
Bug!
Syifa serasa tak mampu menopang tubuhnya hingga ia merosot, dan menangis dalam diam wajahnya ia sembunyikan di lututnya. Bahu yang bergetar membuat Faqih yakin jika Syifa menangis meskipun tanpa suara.
Faqih ikut terduduk dengan menunduk, ia melepaskan peci yang melekat di kepalanya menarik rambutnya frustasi.
"Astghfirullah Qih kau membuatnya takut." Batin Faqih menunduk.
__ADS_1
Hening....