Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
34.Jatuh Cinta


__ADS_3

Ke esokan harinya..


Syifa tengah menatap arah jalanan yang masih sepi, matahari belum menampakkan sinarnya yang ada hanya langit orange dari ufuk timur.


Ridwan yang usai pulang dari masjid melihat adiknya melamun, bahkan seperti patung yang berdiri tanpa bernafas.


"Hayo mikirin apa." Teriak Ridwan sontak Syifa mengidikkan bahu pertanda ia terkejut setengah hidup.


"Ishh Abang, kalau mau nyapa tu pakek salam dulu kek atau kulonuwun gitu." Ketus Syifa.


"Tadi kan udah kamu sapu, jadi ngga perlu nyapu lagi kita duduk santai." Ucap Ridwan sembari duduk.


"Siapa yang bilang nyapu sih." Gerutu Syifa.


"Nah itu.." Ridwan memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya ke badan kursi, ingin sekali Syifa memukul orang dihadaannya itu yang bicaranya ngga ada yang nyambung.


"Ada apa." Tanya Ridwan yang seolah tau jika adiknya banyak masalah.


"Mm Syifa boleh ngekos bang." Tanya Syifa pelan, benar saja Ridwan langsung datar bin sifat beruang kutubnya online.


"Ngga ada!"


"Ayolah bang, Syifa enam bulan prakerin, kalau laju itu capek bang huaaaa." pura-pura merajuk langsung meninggalkan Ridwan.


"Dek." Ucap Ridwan.


"Huh!!" ia begitu frustasi karena Rizky mondok sekarang Syifa mondok sungguh berasa hidup sebatang kara.


Sarapan..


"Adek masih marah?" Ridwan.


"Auk ah males." Syifa ketus.


"Abang pertimbangkan dulu dek." Ucap Ridwan.


"Apanya yang ditimbang bang, berat badan? Abangku itu sudah tampan mm berat badan juga sudah normal, tubuhnya normal, dan rambut normal, mm satu lagi (memegang dahi) suhu juga normal." Ucap Syifa yang sudah tau arah bicaranya.


"Kau jangan merayu." Tutur Ridwan malas.


"Aku tidak merayu bang, aku cuma itu mengecek jika Abangku yang supermen eh salah betmen aduh salah lagi." Ucap Syifa sembari berpikir. Ridwan memicingkan mata.


"Iyaa Syifa ingat, Syifa itu cuma mengecek kadar kualitas Abang yang super tampan dan kuat bet itu lahh hahahah iyaa bang itu." Tutur Syifa tersenyum kikuk.


"Dikira Abangmu ini barang," Gerutu Ridwan malas.


"Sudahlah bang, Syifa mau ke pondok dulu nganter kue." Ucap Syifa kemudian mencium tangan Ridwan.


"Assalamu'alaikum." Syifa tersenyum semanis mungkin.


"Jangan senyum, Wa'alaikumussalam." ketus.


"kenapa? manis yak?" Tanya Syifa.


"Bukan tapi ,ASIN." Ucap Ridwan tersenyum kemenangan, sedangkan Syifa sudah mengerucutkan bibirnya.


-

__ADS_1


-


-


Jum'at santri libur , setelah piket para santri melakukan kegiatan sesukanya tapi ngga bebas seperti anak luar, seperti biasa yang keluar izin, ada juga yang menambah hafalan, yang dijenguk dan ada juga yang hanya tidur mungkin mengantuk karena setiap malam jum'at rutin yasin dan tahlil.


Kini Syifa tengah memarkirkan kendaraannya di parkiran, tak lupa tangan menenteng kresek dan satu lagi buku bersampul merah, Ia terus memperhatikan santri yang berlalu lalang tak lupa melihat santri kecil barangkali ada adik tercintanya.


"Kemana bocah itu, kenapa selalu kesusahan kalau mau memberi kejutan." Gumam Syifa.


Dari tadi ia clingak clinguk tapi nihil, hingga bertepatan dengan pembatas dinding, tiba tiba dari arah lain ada juga menuju arah yang bertolak serasa tubuh Syifa terdorong dan..


Brug!!


Syifa tersungkur kebelakang hingga kue dan buku Syifa terhempas dari tangannya,


"Aduhh," Cicit Syifa segera membereskan kuenya.


"Maaf." Ucap orang itu, Syifa mendongak.


"Kamu?" Syifa/Orang itu.


Flashback on.


Fauzi sibuk mencari buku di laci nakas,


"Dimana buku itu hem."


"Padahal catatan penting ada di sana," ucapnya merubah tatanan bukunya,


Buku Fauzi ikut terlempar karena dia berusaha seimbang, tapi tidak menangkap si gadis karena posisinya juga percuma saja.


"Maaf" Ucap Fauzi.


"Kamu." Fauzi/Syifa.


Flashback off..


Setelah membereskan kekacauan, Syifa menatap tajam Fauzi hingga sang empu bergidik merinding.


"Mm heheh maaf kan aku." Ucapnya cengegesan.


"Kau lihat ini, beruntung kue nya tidak hancur seperti mood ku saat ini." ketus Syifa memarahi Fauzi.


"Iya maafkan saya, mungkin memang sudah takdir." Ucap Fauzi tersenyum senyum.


"Apa maksudmu dengan takdir." Ucap Syifa mendelik.


"Mungkin saja kita ditakdirkan untuk bersama, mengingat setiap ketemu kita selalu bertabrakan dan bla bla bla." Fauzi berceloteh, sungguh itu bukan pribadinya.


"Maksudnya?" tanya Syifa masih belum mengerti.


"Hmm mungkin ini jawaban dari doa seorang santri, untuk dipertemukan dengan gadis pendamping hidupnya diusia dini." Ucapnya tersenyum senyum.


"Lalu." Ucap Syifa, sungguh dia polos.


"Ck! Sepertinya kau ditakdirkan untukku karena kau satu satunya gadis yang sering ku temui bahkan caranya saja dengan bertabrakan..." Ucap Fauzi terpotong karena Syifa.

__ADS_1


"Cih yang benar saja, memangnya kamu tau takdirmu di masa depan,, aku takdirmu?dan itu ngga akan pernah." Ucap Syifa lancang.


"Kau tau tidak ketika kita bertabrak saat itu pula kita terjatuh, dan dengan itu juga jatuhnya berlabuh kepada hati mm mungkin aku tertabrak lalu jatuh cinta." Fauzi.


"Jadi?" Syifa datar.


"Jangan salahkan aku jika aku jatuh hati padamu karena dulu aku pernah terjatuh karenamu." Ucap Fauzi blak blakan.


"Perlu kau tau.." Ucap Syifa menarik nafas kemudian membuang kasar.


"Jatuh cinta itu tidak salah, yang salah ketika kau jatuh kemudian menyalahkan Cinta." Ucap Syifa singkat dan jelas.


"Sungguh benar benar gila ada santri yang seperti ini, kalau aku ustadnya sudah ku buang kau huh." Gerutu Syifa kesal tapi Fauzi senang melihat wajah Syifa yang tengah kesal.


Tak lama ada Santriwati yang menghampiri. Begitu juga wajah Fauzi yang dingin bin datar terpasang.


"Assalamu'alaikum." Dinda santriwati ia nampak tak suka dengan Syifa.


"Wa'alaikumussalam." Fauzi/Syifa.


"Gus?"


"Hm." Mode juragan tol.


"Ditunggu Ummi di aula, sebaiknya cepat pergi ke sana." Tutur Dinda.


"Ya." Jawab Fauzi seperlunya.


Syifa mendengarnya hanya mengernyitkan dahi


"Yang benar saja, sikapnya jauh beda, tadi aja berlagak kaleng rombeng sekarang benar benar juragan jalan tol, aku jadi merinding." Batin Syifa masih memandang Fauzi.


Fauzi heran ketika sepasang manik hitam memandanginya, ia tersenyum simpul.


"Biarkan seperti ini, sebelum aku jauh, dan berdoa kau lah jodohku, aku ingin waktu berhenti disini, detik ini juga sampai menuju halal Insyaallah sampai janahnya, Astaghfirullah." Batin Fauzi yang tengah tersadar dari bujukan syaiton mungkin.


"Kenapa kau memandangku, naksir ya?" Goda Fauzi, ternyata santriwati tadi sudah pergi sekitar lima menit lalu.


"A-paan sih." Syifa gelagapan pipinya sudah memerah, ia bahkan tidak sadar tadi.


Kemudian mengambil bukunya, ada dua buku warna yang sama hanya tempatnya saja yang berjauhan sedikit tapi Syifa mengambilnya asal karena malu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Syifa datar, menutupi jantungnya yang tak terkondisikan.


"Wa'alaikumussalam." Fauzi geleng-geleng.


Ia segera mengambil bukunya, dan melangkahkan kakinya ke aula sedikit berjalan tenang karena takut menabrak orang lagi, jujur saja jika orang itu Syifa ia dengan senang hati tapi jika tidak ck ck sudahlah lupakan.


.


.


.


Oke sampai sini bagaimana pendapat kalian😃..


jumpa lagi bab selanjutnya😃

__ADS_1


__ADS_2