
Assalamu'alaikum, dan Bismillah.
**
Hidayah, Mungkin benar apa yang di jelaskan kepada seluruh ummat, tentang hidayah. Hidayah datangnya dari siapa saja hingga membuat seseorang berubah tanpa di sangka-sangka. Seperti yang terlihat di hari ini jika sosoknya bercelana hitam dengan koko putih dan peci hitam yang melekat di kepalanya jelas itu membuat Fauzi sedikit heran dan juga bersyukur ada saudara yang menjadikan kata seiman.
"Loh Pak jack sekarang?" Itu suara Syifa, dan ia tahu jack ini adalah rekan bisnis beberapa tahun lalu yang pernah ia kenal dengan kerja sama di perusahaan bang Ridwan.
"Masih ingat saya mrs?" Tanyanya balik dengan senyum khas.
"Tentu saja, kau yang membantuku waktu itu." Ucap Syifa menerawang kejadian masalalu.
"Pak Jack..." Kata Syifa terpotong olehnya.
"Sekarang Ali Alexanders." Tekannya lagi. Syifa yang tak paham hanya menyorot mata bulat yang lucu, Fauzi yang sedari tadi diam.....Diam diam terbakar sih tepatnya.
Sekarang keduanya sedang posisi ngobrol dan Fauzi juga Annisa merasa terabaikan, dengan inisiatif Fauzi meminta Annisa untuk mengajak bundanya masuk ke ndalem. Benar saja Syifa membawa kelapa nya dan juga menuntun Annisa.
***
Riuh tawa dari sosok pria itu di samping Fauzi yang membuat si empu meringis,
"Bukan jack, tapi Ali Alexanders." Ucapnya membuat Fauzi menoleh ke arah pria itu, keduanya tengah duduk duduk dan menatap sawah yang sudah menguning.
"Kenal Syifa?" Tanya Fauzi lagi, dan lagi membuat tawa Ali terdengar.
"Tentu saja, siapa yang tak kenal dia. Saya pernah jadi client karena ingin mencoba merasakan gadis muslim berbisnis, dia bekerja dengan baik. Sampai perusahaan kakaknya bekerja sama dengan saya dan berjalan beberapa tahun lalu." Ucap nya enteng membuat Fauzi terdiam.
Keduanya saling terdiam dan hanya keheningan menyelimuti keadaan mereka, sulit bagi dua pria untuk sekedar bicara panjang hingga memakan waktu yang panjang.
"Jadi kau sekarang.." Kalimat Fauzi menggantung.
"Yes, begini saya tertarik dengan islam sejak dulu dan baru saat ini saya dapat benar-benar memasukinya. Kau tahu sampai saya meminta seorang Ustadz untuk mengganti nama saya." Katanya, Fauzi hanya diam menyimak. "Keislaman saya sudah beberapa hari yang lalu, dan saya juga ingin mencari guru di sini." Katanya terang-terangan.
***
Malam harinya, Fauzi berjalan menutup gorden jendela dan juga mengunci pintu. Fauzi berjalan ke ruangan kamar dan pandangannya terhenti pada sosok Syifa yang usai membacakan kisah nabi kepada Annisa yang sudah terlelap. Fauzi berbalik arah, ia terduduk di sofa sesekali memijit pangkal hidung.
Denyutan bersama ingatan tadi siang membuat kepala Fauzi nyaris pening, tanpa di sadari ada perasaan ingin tahu dan terbesit su'udzon dalam dirinya. Terburu berucap Istighfar Fauzi kembali memijit pelipisnya.
Beberapa menit terdiam Fauzi merasakan tangan lembut seseorang memijit pundaknya, hingga kepalanya ia tolehkan ke belakang untuk melihat istrinya.
"Capek?" tanyanya. Fauzi menggeleng sembari menyandarkan tubuh ke sofa. Menikmati pijitan lembut dan juga nyaman. Tangan Syifa seolah merembet ke kepala depan Fauzi dan bergerak memutar-mutarnya di sisi kening. Ia terpejam menikmatinya.
Sudah sedikit lama.
Kini Syifa ikut duduk di samping Fauzi memijit lengan kekar itu, tanpa ada protes dari si empu. Biasanya Fauzi yang tak pernah ingin Syifa bekerja tapi lain di malam ini. Atau Fauzi saja yang sedang ingin di manja? Hanya Fauzi yang tahu.
"Hari ini tamu abi banyak kang?" Tanya Syifa. Karena Fauzi baru saja masuk ke ruangannya.
"Iya." Jawabnya masih terpejam.
"Udah ah capek." Ucap Syifa membuat Fauzi membuka mata seraya terkekeh.
Pipi-nya merasakan panas yang menjalar, di pandang begitu intes oleh Fauzi membuat Syifa hanya menunduk kaku, aneh saja sudah beberapa tahun ini mereka bersama tapi tetap saja irama jantung terus membara.
"Kenapa liatin Syifa gitu?" Tanya Syifa.
"Kangen Fa." Ucap Fauzi aslinya dengan muka datar, tapi lagi-lagi
Syifa menunduk malu.
Diam beberapa detik.
"Kenal Ali?" Tanya Fauzi membuat Syifa mengerinyit dahi.
__ADS_1
"Ali siapa?"
"Jack."
Syifa terlihat berpikir. "Tadi siang itu?" Tanyanya membuat Fauzi mengangguk
"MasyaAllah dia sudah masuk islam?" Tanya Syifa lagi dan lagi membuat Fauzi mengangguk.
"Kenal?." Tanya Fauzi.
"Tentu saja, rekan bisnis itu mah. Waktu itu Syifa lagi gak tau banget tentang sebuah jalan perkantoran atau apalah itu, tapi dia membantu ku, maksudku Ali. Dia hebat banget Kang sampai-sampai Syifa pengen ngobrol sama dia. Tapii... Dia sendiri yang waktu itu datang ke ruangan Syifa karena Bang Ridwan gak ada." Kata Syifa polos.
Fauzi diam.
"Nah di situlah. Tapi aneh dia kalau di umum mukanya datar tapi di depan Syifa tak bisa diam. Kami dulu kerap bekerja sama dan mendapat saham besar. Intinya mah hebat banget ya Kang bisa sukses usia muda." Kata Syifa lagi
"Biasa saja." Jawab Fauzi tanpa ekspresi. Perasaan kesal mungkin.
"Ish hebat itu Kang,!" Kata Syifa memperjelas.
"Yang hebat itu ilmu-nya." Dann Syifa baru sadar sejak tadi suaminya ini berbeda aura bicaranya. Entanlah Syifa kurang tahu pasti tapi, respondnya sedari tadi hanya datar saja.
"Iya juga sih..Tapi Syifa kan bener, orangnya juga hebat kok." Kekehnya.
Fauzi berdehem sebentar.
"Kang, kamu tahu kalau Pak jack itu ehh Ali ya pernah.." Kalimat Syfai terhenti kala Fauzi memotong pembicaraannya.
"Kamu tahu Fa? Tadi banyak tamu di ndalem Abi dan saya capek mau tidur." Kata Fauzi dengan nada dinginnya sembari berdiri.
Syifa tergagap sejenak tanpa menghentikan langkah Fauzi yang menuju kamar dan masih terlihat pintu itu terbuka dengan Fauzi yang mengecup kilas kening sang putri kemudian mengelusnya. Tak lama Fauzi merebahkan di samping putrinya.
Sedangkan Syifa syok dengan tingkah aneh Fauzi, biasanya Fauzi tak begini apa dirinya membuat kesalahan hingga membuat Fauzi marah atau sekarang ini Fauzi sedang marah padanya? Tapi kenapa? Hmm..atau kang santrinya lelah seharian? Syifa yang bersifat polos ini menganggap pikiran buruk menjadi positif. Ia fikir kang santrii ini lelah.
Pagi dini hari, pukul satu malam Syifa masih betah duduk menunduk sembari mengelus perutnya yang terasa lapar. Niat ingin meminta kepada Fauzi kini malah Fauzi kelelahan jadi tak tega.
Bibir pink Syifa melantunkan sholawat kecil kala menahan lapar yang membuat perutnya sedikit sakit, tapi pikirannya mengarah kepada sikap Fauzi yang tidak ada badai dan hujan hingga begini kepadanya, pertama kalinya Syifa di diamkan oleh Fauzi, pertama kalinya juga ia merasakan dinginnya berada di samping Fauzi.
"Kenapa belum tidur." Suara dari arah belakang membuat Syfa menoleh senyum-nya terbit. Asyik ada kang santri pikirnya.
"Syifa laper." Lirihnya kala Fauzi berada di depannya.
Fauzi melenggang pergi di hadapan Syifa, jujur saja Syifa ingin menangis dengan diamnya, tapi ia takut juga jika Fauzi semakin kesal.
Satu piring makanan terhidang di depan meja membuat Syifa mendongak ada kang santri yang menatap nasi itu datar. Ia beralih menatap Syifa.
"Makan, cepat tidur."
DEG.
Setelah kata itu terucap Fauzi hendak pergi dengan sigap tangan Syifa mencekal lengan Fauzi erat. Diam dan kaku Fauzi berdiri tanpa menatap wajahnya yang matanya sudah merah.
"Kang santri kenapa?" Tanya Syifa.
Fauzi masih Diam.
"Syifa ada salah?"
Diam tek bergeming hal baru yang di tunjukkan oleh Fauzi menakutkan menurut Syifa.
Syifa berjalan ke hadapan Fauzi terlihat muka itu malah beralih ke arah lain, fiks Kang santri marah dan aneh nya Syifa tidak peka dengan hal itu yang jelas penyebabnya belum di ketahui.
Dengan muka menahan tangis Syifa berkeliling memutari Fauzi, saat terhenti di hadapan kang santri Syifa mengucap kata "Maaf kang." Fauzi masih diam.
Syifa berputar lagi, dan lagi. Sampai berkali-kali "Maaf kang." Ucapnya lagi, bahkan sampai memperagakan permintaan maaf dengan memegang telinganya dan menangkupkan tangan. Namun sama saja. Sampai 17 kali Syifa berputar..
__ADS_1
Fauzi tersenyum seraya mengelus kepala Syifa.
"Maaf kang." Kata Syifa, Sedangkan kang santri nya ini malah menatapnya dengan senyuman.
"Kenapa?" Tanya Syifa.
Fauzi menghela nafas sejenak. "Tahu tidak sikapmu yang seperti ini mengingatkanku kepada kisah cinta Fatimah saat meminta maaf kepada Ali bin abi thalib. Bahkan ia berkeliling sampai tujuh puluh kali." Kata Fauzi sedikit tertawa merdu. Syifa hanya diam menikmati nya.
"Fa?" Panggil Fauzi membuat Syifa mendongak.
"Ya." Jawab Syifa mengikuti tarikan tangan Fauzi yang membuatnya duduk di sofa.
"Jodoh itu unik Fa, masih ingat masa remaja saat kamu menolak kang santri dengan terang-terangan tanpa pemanis buatan.?" Tanya Fauzi membuat Syifa menunduk. "Siapa yang sering menolak dan kata-kataku waktu itu terwujud kan Fa?" Tanya Fauzi.
Flashback
"Kamu kebanyakan mimpi." Ketus Syifa remaja.
"Jangan bicara berlebihan jika suatu saat kita jodoh kau akan tunduk padaku dan sedetikpun tak pernah rela jauh dariku." Ucap Fauzi terus terang, saat dimana Syifa tengah bersedih dan kini ia berusaha menghiburnya dengan ala khas remaja.
"Cih jodoh? Nggak salah?" Ucap Syifa jengah.
"Kun Faya kun jika Allah berkata jadi maka jadilah, bisa jadi kamu itu takdi.." Belum sempat Fauzi berkata Syifa sudah memotongnya.
"Aku menolak."
***
Syifa menunduk dalam lagi, ia malu sekarang jauh sebentar dengan kang santri rasanya sepi, ia bisa belajar bahwa sesuatu yang dulunya sangat kau tolak bisa jadi tempat kamu bahagia dengan banyak hal
"Maaf." Kata Syifa.
"Pernikahan kita memang sudah 6 tahun lebih, bukan waktu yang singkat. Dan salahkah jika aku masih merasa cemburu Fa?" Tanya Fauzi membuat Syifa tersentak sebentar.
Jadi, sebenarnya Fauzi tadi itu sedang cemburu...
Syifa mengerjab kaget kala Fauzi tak lagi di hadapannya, ia menelisik pandangan ke segala penjuru dengan berlari ia menubruk tubuh Fauzi dan memeluknya dari belakang.
"Syifa takut kalau kang santri nggak bicara apapun sama Syifa, harus nya Syifa tahu kalau nggak boleh memuji lelaki lain di hadapan suami dan maafin Syifa banyak kesalahan sering berucap kasar.." Kata Syifa menyesali.
Sepele kalau terlihat di cerita, tapi sering lupa bahwa sengaja tak sengaja dalam kehidupan nyata banyak mengabaikan hal ini. Padahal kalau seandainya salah satu atau bahkan keduanya saling memahami ada rasa cemburu di balik itu, hanya saja diam adalah solusi serta mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Fauzi berbalik.
"Maaf."
"Iya, Fa." Kata Fauzi hendak berbalik lagi.
"Mau kemana?" Tanya Syifa.
"Wudhu."
"Aku makan dulu kang." Kata Syifa berniat nanti menyusul untuk tahajud.
"Tetap aku dan Kang santri." Kata Syifa tersenyum seraya menunduk. Dengan konyol Fauzi berdehem dan berkata. "Tetap aku dan Syifa."
...*...
...Z...
...Z...
selamat pagi all..😍
Sekali Up selalu gaje.. ya yaudah lah hehheh mau tidur dulu, 😂
__ADS_1
... 26.05.2021💌...
Syukron jazakallah khair, Wassalamu'alaikum.