Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
70.Tidak bisa membenci


__ADS_3

Disisi lain Jhonathan menahan ringisan mengambil pistol yang tergletak di sampingnya, ia mengisi peluru mengarahkan pistolnya ke arah Gadis yang menantang Riko. Yeah Syifa? Adakah yang menyadari hal itu? entahlah.


"Riko kau sudah membuat pesantren ini kacau dan kau harus menerima akibatnya." Ucap Syifa dengan geram.


"1,2,.."


Klek


Bunyi pelatuk dari arah lain, Fauzi memejamkan mata.


DOR! / Grep!


"Aaaaaaa...Zill/ Fauzi/ Kak Gus/"


Deg! tangan kekar itu melingkar di perut Syifa, merasakan dorongan dan ringisan seseorang membuat Syifa yakin jika orang ini melindunginya. Syifa membalikkan tubuhnya melihat Fauzi yang menahan ringisan.


"Hiks..Hiks.." Syifa seketika menangis melihat Fauzi hanya diam didepannya, ia masih berdiri dihadapan Syifa posisinya masih memeluk Syifa perlahan mata Fauzi membuka.


Di sisi lain Riko siap menembak arah Syifa dikala yang lain, memperhatikan dua orang itu. Mata Fauzi menangkap sosok Riko yang hendak mengarahkan ke Syifa. Dengan sigap Fauzi menarik Syifa untuk ke belakang.


Dann..


Dor!!


Tembakan tepat mengenai lengan kanan Fauzi. Bibirnya semakin pucat dan juga darah punggung yang terus mengalir serta lengan yang juga terdapat darah bekas peluru itu, Fauzi terhuyung kebelakang..


Brugg..


Syifa menumpu tubuh Fauzi, dengan kedua pahanya . "Kang Santri." Dua kata itu yang mampu terucap dalam mulut Syifa. Fauzi membuka matanya ia tersenyum melihat guratan cemas.


Senyum pucat itu membuat hati Syifa teriris sakit, disaat kesadarannya Fauzi mendengar ucapan Syifa.


"Kang Santri hiks , kenapa kau harus menggantikan posisiku harusnya aku yang tertembak hiks." Tangisan Syifa.


Fauzi tersenyum melihat wajah Syifa dari dekat, banyak memar dan darah yang sudah kering keringat yang mengucur serta air mata untuk dirinya. Tiada harapan kecuali ia bangun melihat si gadis itu tersenyum bukan menangis.


"Kenapa aku tak bisa membencimu Syifa?" Kalimat itu yang terucap di batin Fauzi sebelum akhinya ia hilang kesadarannya.


"Kang Santriii hikss." Teriak Syifa, Ridwan dan Arnold berusaha melepaskan diri, dan Rian sudah datang membawa Riko dan anak buahnya ke markas untuk diberi pelajaran, entah matematika atau fisika yang ia beri nanti.


"Siapkan mobil," Ucap Ridwan berusaha menggotong tubuh Fauzi keluar.


Syifa terus menangis hingga akhirnya tersadar suara si bocil meminta tolong.


"Kak Syifa boleh nangis, tapi lepasin kami dong hiks, ngga bisa gerak ini." Celetuk Rizky.

__ADS_1


Syifa mengangguk Melepaskan ikatan Bunda, Rizky, Abi dan Ummi. Mereka mengikuti mobil yang sudah berjalan menuju rumah sakit. Sedangkan Yunda dan Rina mungkin sudah kembali untuk urusan masing-masing.


Banyak para santri yang terluka, ada juga yang sudah tinggal nama. Justru perkumpulan ini membawa maut namun atas nama keluarga brams Arnold meminta maaf kepada orang tua si anak.


Untuk biaya pengobatan sudah ditnggung Arnold dan untuk pemakaman juga di laksanakan dengan baik, Orang tua santri juga ikhlas karena mereka dalam keadaan membela kebenaran, melindungi pesantren.


Fauzi sudah dilarikan ke Rumah Sakit yang ada di kota itu, bahkan dokter terbaik telah Arnold siapkan.


"Mungkin ini kehendak Allah Ummi." Tutur Abi pada Ummi yang terisak.


Syifa berlutut di hadapan Abi dan Ummi ia meminta maaf atas segala kesalahannya, Syifa terus menyalahkan dirinya perihal kejadian ini.


"Abi Ummi, semua gara-gara Syifa, maafkan Syifa hiks." Ucap Syifa.


Fatimah mengelus punggung Syifa untuk ikut duduk dan memeluknya. Sungguh Syifa sangat nyaman bahkan mereka tidak memarahi Syifa atas kejadian ini.


"Nak Syifa jangan salahin diri sendiri, semua sudah takdir dari Allah. Kita Doain ya semoga Zildan segera membaik keadaannya." Ucap Ummi.


Clekk


Pintu terbuka membuat semua berkumpul ke arah dokter,


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Kiyai Hakim


"Begini pak, Putra bapak kehilangan banyak darah dan kebetulan stok darah B+ habis di sini, kami harus mencari stok darah ke RS lain namun jika ada dari keluarga yang mau mendonorkan itu lebih baik."


"Baik bu, silahkan masuk ruangan."


____________


Di musholla RS Syifa melaksanakan sholat dhuha, ia bersujud menumpahkan segala resah dan sedih bagaimanapun Syifa tetap merasa dirinya yang bersalah dalam hal ini. Walaupun Abi dan Ummi tidak mempermasalahkan itu, ia tetap lah Syifa yang keras kepala.


"Ya Allah berikan kesembuhan atas kang santri jangan biarkan dia kenapa-kenapa Ya Rabb."


(...)


"Assalamu'alaikum Fa." Ucap seseorang hingga Syifa yang memakai sepatu mendongak dilihatnya Dinda dan temannya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Syifa tersenyum.


"Fa maafin kami ya yang dulu pernah ngira kamu penganggu kami, ternyata kamu nyelametin kita semua." Ucap Dinda.


"Iya Fa, dulu kami sempat tidak menyukaimu, maaf."


"Tidak apa, toh juga itu masalalu kan? kita buka lembaran baru." Ucap Syifa tersenyum.

__ADS_1


"Kita juga berdo'a semoga Fauzi cepat sadar dan semoga kalian emang berjodoh." Ucap Dinda binar.


Deg!


"Bagaimana mungkin Fauzi menerima gadis kejam, secara idamannya gadis yang lemah lembut, akh jadi ingat Najwa apa dia..."


"Fa-Fa." Ucap Dinda menyadarkan lamunan Syifa.


"Ah ya aku mau ke sana dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Syifa


"Wa'alaikumussalam."


_____________


Syifa berjalan menuju ruang tunggu samar-samar ia mendengar ucapan dokter. Jantung Syifa serasa berhenti berdetak mendengar jika Fauzi dinyatakan koma. Air matanya luruh begitu saja.


"Hiks semua salahku." Ucap Syifa lirih. Ayana memeluk putrinya sayang.


"Bunda lihatlah, kenapa Syifa begitu jahat kepada semua orang bund, apakah ini hukuman buat Syifa." Ucap Syifa deraian air mata. Ayana hanya memeluk tubuh putrinya yang di hantui kesalahan.


"Sudahlah nak, semua kehendak Allah kita berdoa semoga Allah memberi keajaiban." Ucap Abi berusaha tegar.


Fatimah masih tak berkutik ia hanya menatap pintu yang di tempati Fauzi dengan nanar. Ridwan juga tertunduk lesu.


"Lihatlah Gus, apa kau akan membenci adikku nantinya, setidaknya buka matamu jangan membuat adikku berada di titik bersalah." Batin Ridwan.


"Saya yakin kamu anak yang kuat, sejak pertama melihatmu ada cinta yang besar untuk putriku, bertahanlah semoga tidak ada penyesalan setelah kau mengorbankan nyawamu untuk putriku." Batin Arnold.


Semua hening yang ada hanya isakan, Rizky sudah di bawa bude yul karena anak kecil tidak di izinkan memasuki Rumah Sakit.


Para santri ada yang sudah sembuh dan tahap pemulihan.


Dan yang paling parah hanya Fauzi karena dua peluru yang bersarang di punggung dan lengannya, beruntung Fauzi sosok yang kuat sehingga ia bisa bertahan walaupun harus mengalami koma.


"Kang Santri...


-


-


-


Sampai disini bagaimana kakak-kakak🤔Maapin yak banyak Typo soalnya ngga author baca ulang 😫😣sibuk bangettt..


Up doble kan heheeee😁

__ADS_1


ayo komen, like atas bawah kalo beda angka aku ngambek😏


okee daaaaaa🙋


__ADS_2