
Perdebatan antara zadid dan lestari begitu terlihat jelas dengan ekspresi marah seorang lastri.
Zadid datang untuk meminta maaf kepada Dilla tentang masalah ini, dan mencoba membantu dila untuk kembali ke Fauzi.
"Jadi dia Syifa bukan dila?"
"Iya."
"Kamu kenal?" Tanya lastri, lagi zadid mengangguk.
"Kenapa kamu menyembunyikan soal ini hah??" Tanya lastri marah.
Sebenarnya lastri adalah orang yang sedari dulu diam diam menyukai zadid hanya saja sejak kehadiran Dila ataupun syifa ternyata zadid berharap kepada perempuan itu hingga perasaan cemburu terpupuk. Tapi ia memilih memendam rasa.
"Karena sejak dulu saya menyukainya."
"Tapi bukan berarti kamu melakukan ini did.. kau tau betapa terlukanya ia waktu itu? Aku pikir kamu juga lelaki baik yang waktu itu memperboleh Dila tinggal di rumahmu."
"Bukan itu,"
"Lalu apa hah? kau memanfaatkan situasi. Aku menyesal telah mencintaimu." Ucap Lastri membuat Zadid mendongak.
"A-apa..ka-kamu?"
"Iya, memang iya. Tapi aku bodoh waktu itu."
"Las.."
"Aku akan cari dilla."
*****
SYOK, tentu saja perasaan itu di alami oleh wanita yang menghentikan langkahnya alias mematung di tempat. Lain dengan Fauzi yang mencoba berdiri, ada perasaan tak percaya dan juga kaget. Benarkah wanita itu Syifa?
"Syifa." Lirihnya.
Syifa
Syifa
Seolah nama itu berputar dalam kepala Dila dan rasanya amat sangat sakit di kepala, tangannya meremas kepalanya mencoba mengingat, Siapa Syifa dan apa hubungannya dengan nama itu.
"Arreghhh.." Nafasnya terengah, lain dengan Fauzi yang panik datang menghampiri Dila dengan sejuta pertanyaan di kepala.
"Fa?"
Dilla limbung, beruntung Fauzi sudah di belakangnya untuk menopang tubuh wanita itu dari belakang, terus saja meremas kepala keringat bercucuran dan dunia serasa berputar.
__ADS_1
"Fa?" Panik Fauzi.
Sekarang ini di serambi masjid rumah sakit, entah mulai dari mana keduanya bertemu dan tanpa munafik Dila nyaman berada di posisi ini. Keduanya terduduk dengan Dilla yang ada di depan memegangi kepala sedangkan Fauzi sebagai sandaran belakang.
"Tenang Fa.." Bisikan Fauzi bagaikan air sejuk untuk Dila.
"...." Nafas Dilla mulai tenang dan teratur membuat Fauzi sedikit menghembus nafas lega.
"S-siapa Syifa?" Tanya Dilla, tubuhnya lemah ia hanya membiarkan posisi tubuhnya bertenaga sekarang.
Fauzi terdiam sebentar
"Ha?"
"Siapa Syifa?" Tanyanya lagi.
"Kamu Syifa."
"Bukan." Kata Dila, ia menjauhkan tubuhnya dari sandaran Fauzi kemudian beralih menjaga jarak dengan Fauzi.
"Aku Dila." Kata Dilla kemudian, tentu saja Fauzi tertawa hambar, tidak mungkin ia salah orang jelas jelas bahwa perempuan di sampingnya ini duduk dengan radius satu meter itu adalah istrinya, Syifa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Fauzi, ia bingung dengan kejadian ini ia bahkan belum mengerti, hatinya bahkan berbanding terbalik dengan wajahnya yang cenderung mulai mendatar.
Perempuan itu menggeleng. Tapi mengingat dirinya juga mencari suami benarkah sosok di sampingnya ini adalah suaminya? Pikirannya mulai berpacu pada tujuan, tetapi bukankah suaminya tidak tinggal di daerah ini.
"Fa, kamu tau aku siapa??!" Tanya Fauzi.
"Kamu lupa kamu siapa?"
"Aku dila."
"Tidak!!"
"Kenapa?"
"Kamu syifa. Istri saya." Kata Fauzi dengan raut serius, ia terus menatap dari samping wajah wanita yang terus menunduk.
"Saya suami kamu."
"A-a-aku tak ingat."
"Ck!!." Fauzi mengusap wajah kasar, kenapa semua jadi begini. Ia merogoh saku celana dan koko, rupanya ia tak membawa dompet. Padahal bisa saja ia membawakan bukti untuk Syifa seperti foto pernikahan misalnya. Dann tunggu kalau Syifa tidak ingat masalalu itu artinya..... Amnesia.
"Astaghfirullah." Batin Fauzi.
"Fa, saya suami kamu." Kata Fauzi serius, Dila ataupun Syifa itu tersentak kemudian menoleh mata mereka beradu antara yakin dan tak yakin..
__ADS_1
"Buktinya?"
Fauzi mendengus, "Itu dia saya lupa nggak bawa dompet." Kata Fauzi dengan raut serius.
Hening...
"Lalu dimana saya bisa letakkan kepercayan saya sama kamu?" Tanya Dila menunduk.
"Harus, kamu harus percaya sama saya." Ucap Fauzi membuat Syifa mendelik ke samping. Entahlah kenapa menjadi perdebatan dengan pria ini.
"Kok gitu?"
"Kan saya suami kamu."
"Mana buktinya?"
"Buktinya saya mengakui kamu sebagai istri."
"Tapi saya tidak percaya kamu sebagai suami." Ucap Dila kesal,
"Ayolah Fa, kamu harus percaya....Emm." Fauzi mengingat sesuatu, ia melirik ke jarinya yang masih tersemat cincin nikah manik hitamnya melirik ke arah jari perempuan di samping namun tidak ada cincin di sana.
"Kamu punya cincin nikah?" Tanya Fauzi. "Saya punya bukti hanya cincin, jadi kalau kamu tidak punya cincin yang sama seperti ini makan mungkin saya yang salah orang." Imbuhnya memperlihatkan jarinya yang tersemat.
"Cincin itu cincin yang sama, yang aku simpan." Dilla membola sembari membatin. Dari ekspresi saja Fauzi bisa menebak bahwa perempuan ini memanglah orang yang tepat yang ia cari.
"Jadi?"
"Hem." Dila berdehem dan mengangguk. "Tapi adakah bukti lain?" Tanya Dila ragu.
Fauzi terdiam dan menunduk.
"Bukti cinta kang santri, ada." Katanya yang membuat Dila mengerinyit dan sedikit familiar dengan kata itu, tapi dimana?
"Maksudnya?" Ia melihat penampilan Fauzi yang memakai sarung, "Kamu seorang santri?" Tanya perempuan itu polos.
YA SALAAMM
"Bukan."
"Terus?"
"Suamimu."
"Biarlah, biar hilang ingatan Syifa, bukti cinta kang santri masih tetap sama sebagai cerita. Setidaknya sampai kamu pulih nanti, saya akan berjuang memulihkan ingatan baik tentang kita. Maaf sedikit lama menyadari kalau kamu masih berpijak di bumi."
@@@@@
__ADS_1
Belom koreksi typo, pokoknya simak terus meski gak bisa tiap hari UP oke
bentar lagi END kok gaes, sabar ya.