
Takut mengatakan yang sebenarnya justru membuat keadaan semakin memburuk, masalah akan berlalu namun dengan proses tentunya, berusaha menangani hal sebesar apapun itu bagi anak kecil tidaklah wajar.
Rizky tengah terbaring pucat, sedangkan Syifa sedari tadi mencoba menghubungi Ridwan, Abi Ummi Fauzi ikut serta dalam menunggu Anak kecil itu.
Braakk!!
Sosok Ridwan tampan tentunya mendorong pintu dengan kasar, kasihan kan nasib si pintu. Syifa langsung memeluk Ridwan dengan isakan pilu.
"Bang Rizky hiks.." Tangis Syifa dalam pelukan Ridwan.
Ridwan hanya menatap atas agar air mata tidak turun, jujur ia lemah saat ini di lihatnya Rizky terbaring lemah dengan Abi yang memberikan minyak kayu putih, serta Syifa yang sudah banjir air mata.
Kalau boleh menangis ia akan menangis kenapa dunia kejam dengannya, ia benci yang terlihat kuat namun dengan hati yang sangat hancur lebur.
Ridwan menatap Rian dengan tatapan miris sedangakan Rian masih menatap Rizky dengan segenap pemikiran yang melayang-layang di udara.
"Rian bawa Rizky pulang dan siapkan semuanya." Ucap Ridwan sedangakan Rian masih sibuk menatap Rizky dengan ck ck ck.
Tentu saja ia tak mendengar ucapan Ridwan, hingga ia tersadar dikala Ridwan sudah membentak.
"Rian!!"
"Ah iy-iya??" Jawabnya menggaruk tengkuk.
"Apa yang kau pikirkan hah." Tanya Ridwan geram.
"Ti-tidak hanya beberapa yang saya pikirkan." Ucap Rian dengan konyolnya.
Sial kau menggugah jiwa iblisnya huh, Ridwan menatap Rian tajam menusuk hingga Rian keblusuk dah pikirannya yang entah kemana.
"Ah yaa?" Ucap Rian tanpa dosanya.
"Rian, siapkan alat medis ke rumah dan rawat Rizky di rumah." Ucap Ridwan masih mengelus kepala Syifa.
"Baik!" Jawab Rian, tidak ingin bercanda ia sangat tau sifat si Ridwan.
Abi, Ummi dan Fauzi saling pandang karena bingung dengan sikap Rian yang sangat takut dengan Ridwan saat ini.
Ridwan menangkup pipi Syifa.
"Abang pergi sebentar, adik bawa Rizky dengan pengawal." Ujarnya, Syifa mengangguk.
.
.
.
Di sinilah tempat di gudang pesantren terdapat hawa dingin namun panas dalam arti kata seseorang.
__ADS_1
Faqih yang menunduk dengan Ridwan yang menyandarkan punggung di tembok, tangan bersedekap dada, aura kejam terlihat jelas dalam sorot mata Ridwan, Faqih bergidik ngeri.
"Katakan apa yang kau sembunyikan dengan Rizky." Tanya Ridwan datar. Faqih masih menunduk tanpa sepatah kata.
"JAWAB!!!!" Bentak Ridwan nyaris Faqih terlonjak nyatanya ia mengelus dada dan menetralkan nafas.
"Maksud kakak, Faqih ti dak paham." Ucap Faqih dengan sedikit gugup dan menunduk, kalau boleh jujur ia ingin rasanya lari bukan lagi jalan di tempat grak.
"Kau pikir saya bodoh haah dengan tatapan Rizky waktu itu, ayo katakan atau.." Ucap Ridwan dengan suara berat namun terkesan menyerap.
Glek!
"Ti.idak kak,,saya beneran tidak paham" Ucap Faqih sudah gemetar.
Ridwan sudah siap tangan hendak memukul kepala Faqih, sedakan Faqih memejamkan mata sambil menunduk.
Brek!
Faqih meraba-raba kepala masih ada di tempat lalu membuka mata dan seketika matanya membelalak, melihat sosok gadis berada di depannya, yang tengah menahan pukulan Ridwan lalu menghemaskan dengan kasar. Yah itu Syifa..
Emm jika diperhatikan kekuatan Syifa cukup kuat jika di banding dengan Ridwan, yah jelas lha wong Syifa duplikat Ayahnya sedangkan Ridwan ibunda nya tapi ia juga tak lepas dengan latihan dulu.
Ridwan menatap Syifa seolah meminta penjelasan, Syifa langsung memeluk tubuh Ridwan dengan mata yang sembab kini kembali berair,, Rahang yang tadinya mengeras dengan nafas yang terarus emosi kini sedikit mereda.
"Hiks apa dengan kekerasan Abang menyelesaikan masalah hah..Sudah cukup Rizky sakit Abang jangan menyakiti orang lain hiks."
Ridwan memejamkan mata, tangannya bergetar mengelus kepala adiknya yang terlapis jilbab. Kenapa Syifa ada di sini, yah sebelum Syifa mengikuti Rizky ia melihat Ridwan menarik kasar Faqih.
Dan kini mereka bertiga sudah duduk di lantai gudang, dengan Syifa yang di samping Ridwan dan Faqih yang di depannya.
"Katakan!" Ucap Ridwan dingin.
Faqih masih bungkam ia hanya menunduk saat ini tengah bingung harus mengatakan darimana dan ia juga frustasi berada di posisi seperti ini.
Ridwan mengepalkan tangan, Syifa dengan tangan bergetar menyentuhnya dengan lembut berusaha menyakinkan Abang Ridwan ini yang sangat tidak sabaran tentunya emosian.
"Bang?" Ucap Syifa melihat kesadaran di mata Ridwan.
Jujur saja ia juga takut jika Ridwan merubah sifat keduanya jika dalam kuasa emosi, namun Syifa tetaplah Syifa yang berusaha mencairkan aura dingin Abangnya.
Faqih dalam hatinya bertanya dan bahkan ribuan pertanyaan ingin ia lontarkan tetapi melihat Ridwan dengan sifat dingin membuat nyalinya menciut seketika.
"Katakan Qih." Kini Syifa angkat bicara.
"Syifa sungguh aku tidak mengerti." Ucap Faqih pelan menunduk.
"Berhentilah berpura-pura,, aku lihat dulu Rizky menatapmu,,apa kau lupa." Ucap Syifa sedikit emosi.
Apa susahnya untuk jujur, sedangkan Syifa berusaha meredam amarahnya ia bingung apakah Faqih ikut dalam masalah atau ada yang mereka sembunyikan. Tetapi Faqih masih menunduk.
__ADS_1
"Kau tau? aa..ku sangat menyayangi Rizky, dia adikku dia nafasku,, ku mohon jelaskan pada kami semua ini, a-ak-u mohon jelaskan." Ucap Syifa bergetar dan air mata sudah mulai bercucuran.
"Hiks saat ini a-aku sangat terpukul melihat adikku yang seperti itu, hiks..Aku tidak akan memaafkan ku jika terjadi apa-apa dengan Adikku hiks." Ucap Syifa sudah senggukan.
"Ka-u tau a-ku tidak pernah bisa membayangkan apa yang sudah terjadi padanya..Apakah itu salahku yang lama menjenguknya,,, a-aku mohon katakan hikss." Syifa terisak dan menunduk.
Deg!!
Faqih mencerna kalimat di mana Syifa menyalahkan diri sendiri, apa yang akan ia lakukan sungguh ia miris hati teriris melihat si gadis menangis.
Faqih mendongak dan dilihatnya Ridwan yang sedari tadi menunduk dan Syifa yang juga menunduk dengan tangan Ridwan yang mengelus punggung Syifa.
Jika ditanya sakit? tentu ia sakit saat ini,,,melihat air mata Syifa yang tetes demi tetes menyentuh lantai, membuat Faqih ikut tersiksa dan nyaris mengiris dengan kejadian ini.
Hening terdengar isakan Syifa..
Faqih menarik nafas dalam dan membuang kasar..
Huh!!
1 detik hening
2 detik masih sama
3 detik arghh lama
4 detik Faqih mendongak
5 detik Faqih kembali menunduk
(...)
"Sebenarnya....
-
-
-
Wahh apa ya yang terjadi?? emmm🤔🤔
Kenapa Faqih? apa dia tersangkut seperti benang layangan ke tali jemuran,, ahh maksudnya apa Faqih ada sangkutanya dengan ini,,, atauu...
Yang penasaran tunggu lanjutannya ngga lama kok,, kalau like banyak, komen banyak, apalagi ada yang vote pasti author gercep😂😂(becandaa author ngga berharap juga kok heee)😌😌
Semangatin author aja cukup😍😍 kalo suka di like n komen klo ada saran🤗🤗syukur Alhamdulillah kalo Vote juga kyaaa😂😂
(just kidding heppy reading)
__ADS_1