Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
68. Penyerangan


__ADS_3

Di tempat lain perkumpulan para mafia dalam kuasa Riko tengah berjejer menunggu perintah dari bosnya. Senyum menyeringai terpajang pada mimik Riko yang membuat siapapun nyalinya menciut.


"Jadi ini paman alex yang mengirim." Tanya Riko pada Jhonathan orang kepercayaan Riko.


"Iya."


"Paman sudah merencanakan semuanya, tidak heran jika dia tidak mau mengotori tangannya, tetapi mengirim ratusan mafia dari berbagai negara." Gumam Riko.


Riko tersenyum puas dengan manusia-manusia di depannya yang siap melancarkan misinya, sedangkan Jhonathan tengah siap mendengarkan perintah.


"Apa bisa kita mulai." Tanya Jhonathan jengah dengan Riko yang hanya memandang anak buahnya.


"Ck sebenarnya di sini bosnya gue apa elo." Gerutu Riko.


"Ya ya elo sih, gitu aja baper." Ejek jhon.Hingga Riko memicingkan mata, sedangkan Jhon membuang muka.


"Baiklah sekarang kita serang ke pesantren," Titah Riko diangguki semua anak buahnya.


Dertt drrt drrrt


Ponsel Riko bergetar membuatnya ingin mengumpat habis si penelpon jika tidak penting.


"...."


"Apa? baiklah, jangan biarkan calon nyonya kalian sampai dipertempuran ini." Ujar Riko segera tancap gas.


Semua harus berjalan sesuai rencana. Dan dendamnya harus terlaksana, persiapan strategi sudah matang-matang ia rencanakan bersama Alex pamannya termasuk musuh bebuyutan Arnold.


(...)


Di sisi lain mobil Yunda melaju dengan kecepatan di atas rata-rata hal itu membuat Rina yang kalem ketakutan bukan main. Syifa yang melihatnya hanya terkekeh sebenarnya ia kasihan tetapi harus cepat tujuan.


Di perjalanan yang sepi 10 orang berbaju hitam menghadang mobil Yunda hal itu membuat Yunda menghentikan mobilnya secara dadakan.


"Astaghfirullah masih hidup masih hidup." Gumam Rina.


"Yunda bisa nyetir enggak si?." Ketus Reva.


"Iya-iya lihat sanaa." Ucap Yunda pucat melihat banyaknya penghadang.


Teman Syifa mengedarkan pandangannya ke arah tunjuk Yunda dan benar saja sudah ada sekitar sepuluh orang dengan tubuh besar menghadang mobilnya,


"Kalian tunggu di sini? Jangan ada yang keluar." Ucap Syifa was was.


"Ta-pi Fa itu bahaya." Ucap Rina diangguki semua.


"Pokoknya kalian tenang di sini." Ucap Syifa langsung keluar menghadapi orang-orang itu.


(...)


"Mau apa kalian hah?" Ucap Syifa lantang, bukannya takut mereka malah ketawa melihat gadis kecil itu marah-marah.


"Jahahaha.." Tawa si penganggu terpingkal-pingkal.


"Apa saya sedang melawak hah." Ucap Syifa remeh.


"One by one." Tantang Syifa lagi.


Satu pukulan mampu Syifa tangkis, serangan balik dari Syifa dan

__ADS_1


Bugh!


Krek!


Dugghh!


Satu dari mereka tumbang, Syifa mengibaskan tangannya mengacungkan jempolnya ke atas lalu menariknya ke bawah, para penganggu yang awal nya tak percaya kini mencoba.


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan dan tangkisan serta tendangan dari Syifa tak di ragukan lagi, membuat dua penganggu sekaligus terhuyung lemah dan...Pingsan.


"Berani sekali kau gadis kecill." Ucap pria berpostur gendut.


Haaaaiiiiyyyyaaatttt...


Plak!


Dugh


Bugh


Pria gendut tersangkut pohon bayangkan saja sepertinya malunya sampai ke dengkul..Yah dengkul jaran. Syifa ngos-ngosan sudah lima orang dia basmi membuatnya sedikit haus.


Tetapi Syifa dalam keadaan sadar, ntah jiwa psyco nya tidak muncul.


"Jangan panggil aku gadis kecil om..karena anak anda juga masih kecil-kecil tetapi sudah kalian belikan uang haram Ck!" Ujar Syifa.


"Ngga usah cemarah kau gadis." Ucap si pria berkepala botak.


One Vs Five


Dan terjadilah adu per adu yang membuat Syifa sedikit lengah, namun ia tak mau kalah hanya melawan preman tua, lagian Syifa juga heran apakan jiwa Psyco nya sudah musnah dari dirinya hingga ia tak lagi merasa kuat.


Wajah Syifa sudah sedikit lebam beberapa kali mendapat serangan.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tendangan depan, samping, belakang dan berbalik


Brug!


Sudah ketiga lawan terjatuh, mata Syifa menelisik melihat satu pria menekan pelatuknya dan mengarah ke Syifa. Dengan gesit Syifa melakukan gerakan Ridwan yang pernah ia lihat dalam mengecoh.


Dann


Brugghh!


Si pria sudah pingsan tak sadarkan diri, dilihatnya pistol terlempar ke semak-semak hal itu membuat Syifa tersenyum lega. Tetapi dari arah belakang sudah seseorang siap memukul Syifa dengan kayu. Nampak Syifa belum menyadari..


Brugg!


Syifa terkejut bukan main dan tersenyum, melihat Reva yang menendang lawannya dengan menghajar habis. Allah masih melindungi Syifa dengan caranya.

__ADS_1


Wiiiiiuuuuu. Wiiiiuuuuuu. Wiiiiuuuu


Sirine, polisi siap datang dan mengangkut para penghadang tadi, hampirrr saja pria gendut yang tersangkut terlupakan karena pingsan susah kan polisi sekarang yang menurunkan dia ckckck


Polisi membutuhkan saksi untuk kejadian ini, Reva yang tahu guratan cemas di wajah Syifa, membuatnya kasihan. Alhasil Reva mengikuti polisi dan Syifa hendak kembali ke mobil namun..


"Tunggu, sepertinya kejadian ini disengaja, Allah apa yang terjadi." Perasaan gelisah itu semakin menjadi, tatapan Syifa menuju semak-semak dan mengambil pistol yang tergeletak di sana.


"Kita ke pesantren sekarang." Ucap Syifa tak bisa menutupi rasa cemasnya.


"Tapi kamu luka fa." Rina.


"Pliss."


"Baiklah," Ucap Yunda tancap gas, dan Rina memberi minum ke Syifa yang terlihat ngos-ngosan dan kelelahan.


(....)


Kini tempat pesantren yang masih setia menunggu orang tuanya karena setengah jam lagi mereka akan datang namun Ayah Bundanya Rizky sudah datang lebih awal, karena rencana Ridwan hendak meeting.


Bruummm


Bruuummm


Dor


Dor


Suara knalpot dan tembakan membuat para santri takut, tak lain Rizky, dan Ridwan mengurungkan niatnya untuk berangkat kantor, ia menghubungi Rian untuk membawa bodyguard.


Arnold mengepalkan tangan, segera memanggil anak buah nya yang hanya berjumlah kisaran lima puluh, setidaknya mereka semua bisa sedikit mengimbangi lawan.


"Ada apa ini?" Fauzi yang terkejut serta abi dan ummi.


"Tidak penting untuk bertanya, saya mohon untuk kalian semua kerja samanya. Ambil panah kalian dan anggap ini jihad di jalan Allah. Dan keluarkan kemampuan bela diri kalian setidaknya selamatkan nyawa kalian sendiri." Teriak Ridwan memberi informasi.


Antara campur takut dan terkejut semua menurut kemudian untuk yang masih dibawah umur dan Ummi Abi dan Bunda sembunyi ruangan paling ujung yang jauh dari lapangan.


Sedangkan Ridwan memerintahkan Fauzi untuk sembunyi menjaga adiknya.


"Apa ini arti dari perasaanku akhir-akhir ini?" Tanya Ridwan pada dirinya.


Arnold dan Ridwan mulai saling menyerang, ia di lempari bodyguardnya pistol dengan peluru yang tajam.


Dor


Dor


Adu tembak dan pedang, Ridwan dan Arnold membantai seluruh musuhnya terlebih Arnold sangat lihai dalam memainkan pistolnya. Para santri ikut melawan menggunakan alat yang ada.


Dorr!!


-


-


-


Hey gimana? Emm yang mau tau reaksi Fauzi tunggu episode selanjutnya ya😃😃

__ADS_1


Daaaaa mau up cepet?? banyakin komennn..


__ADS_2