Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Bandung dan kisahnya


__ADS_3

...*B**ahwa apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu dan apa yang di takdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu*...


****


"Abi tau nggak?" Tanya Annisa membuat Fauzi yang tengah berada fokus di jalan menoleh ke sang putri.


"Tau apa?"


"Tadi Annisa ketemu adik kecil." Cerita Annisa, tadinya Annisa masih menunggu Abi-nya dan Fauzi yang sudah sampai juga harus menunggu ban mobil di perbaiki, beruntung sudah memasuki bandung, sedangakan saat ini mereka langsung menuju pesantren.


"Jadi putri Abi sudah punya temen." Perjelas Fauzi yang membuat Annisa menggeleng.


"Bukan, tapi seperti adik sendiri, dia masih kecil tapi berdebat sama saudaranya." Kata Annisa yang membuat Fauzi mengangguk.


"Lalu namanya siapa?" Tanya Fauzi membuat Annisa tersenyum merekah.


"Shakilla bi."


ciiitttt


deg


"Astaghfirullah."


"Abi.." Rengek Annisa memejamkan mata, Fauzi melihat ke sepion tidak ada kendaraan lain belakangnya.


"Sayang maafin Abi ya, em..tadi kurang fokus." Ucap Fauzi menenangkan Annisa, ia tersenyum lega kala putrinya sudah membuka mata dan mengangguk. "Kita masih jauh bi?" Tanya Annisa.


"Bentaran lagi, ini sudah masuk daerahnya." Jawab Fauzi melajukan lagi mobilnya.


Perjalanan panjang dan macet membuat Annisa mungkin kelelahan, istirahat santai hanya saat sholat dan juga makan di resto yang mereka lewati.


"Em tadi shakilla siapa?" Gumam Fauzi membuat Annisa menoleh ke arah sang Abi dengan terlihat berpikir.


"Nisa nggak tau, tapi setelah dia bilang namanya shaklilla dia manggil nama adiknya dengan sebutan yusuf." Ucap Annisa polos yang benar-benar membuat perasaan Fauzi berdebar bukan main.


Ingat dengan malam itu, malam kenangan lima tahun silam? tentu saja Fauzi ingat dengan jelas apa yang di tulis oleh istrinya dahulu.


Shakila Shaqeena Syifa


Yusuf rafandan atahla


"Ini apa?" Tanya Fauzi mengerutkan kening.


"Laki-laki ataupun perempuan nantinya Kang Santri ...Harus nama ini nama anak kita." Kata Syifa membuat Fauzi menggeleng kepala.


"Nanti saja Fa, kalau udah hari H." Saran Fauzi.


"Ya nanti kalau aku nggak ada di sisi kamu lagi, kamu bingung dong Kang."


Fauzi tersentak bersamaan guncangan lengan dari Annisa,


"Abi kenapa?"


"Ti-dak." Jawab Fauzi perasaan kacau bercampur tumbuh harapan terbesar. Semoga.


"Tapi apa mungkin Syifa masih hidup? tidak mungkin nama shakilla dan yusuf bukan hanya nama pilihan Syifa saja."


Fauzi menggeleng pelan, kemudian mulai membelokkan mobil ke pekaraangan pedesaan asri dengan kebun teh sekeliling dan juga pedesaan, pesantren semakin dekat.


Tak lama kemudian mobil hitam Fauzi memasuki gerbang di sambut oleh beberapa pengurus pondok pesantren bandung dengan senyum hangat dan selamat datang telah memenuhi keinginan pediri pondok untuk menggantikan putranya yang tengah melanjutkan pendidikan di yaman.


Fauzi serta Annisa yang sudah turun dari mobil, sedangkan barang bawaannya telah di bawa oleh santri ndalem yang ada di sana.


"Assalamu'alaikum Abah." Ucap Fauzi segera mencium tangan Abah yai sembari merunduk, Abah yai mengelus kepala Fauzi dengan haru.


"Wa'alaikumussalam, jadi dateng gus." Sapaan pertamanya yang membuat Fauzi tersenyum mengangguk.


Tatapan Kiyai jatuh ke gadis kecil di belakang Fauzi yang menunduk tangannya memegang koko Fauzi di belakang, maklum anak anak baru pertama ke tempat asing suka takut dan malu malu gitu, apalagi perempuan kayak Annisa yang MasyaAllah kalemnya.


"Ini putrimu Gus?"


"Iya Abah,"


****

__ADS_1


Kata Kiyai Fauzi harus istirahat sejenak di sini karena para santri juga baru saja tiba mungkin setelah dua hari baru mulai pengajaran seperti biasanya, pondok pesantren di bandung ini terkenal dengan pengajaran yang modern, meski bukan santri salaf tapi peraturan tetap ketat.


"Nisa suka di sini?" Tanya Fauzi setelah melihat putrinya selesai bersih-bersih diri.


"Suka Abi, nanti Nissa di ajak jalan jalan ya hehe." Ucap anak itu yang tersenyum-senyum. "Kalau aja bun.." Kalimat Annisa terhenti setelah itu menggeleng.


Fauzi yang melihat itu seketika memberi isyarat agar anaknya duduk di sampingnya.


"Nisa harus janji sama Abi, Nissa harus selalu percaya sama takdir Allah." Kata Fauzi mengelus jilbab pasmina putrinya.


"Tapi nissa rindu sama bunda." Ucap Annisa menunduk, air matanya menetes ke tangannya yang berada di atas lutut.


Fauzi terdiam.


"Nisa mau tau apa kata Sayyidina umar?" Annisa mengangguk dan menghapus air matanya.


"Bahwa apa yang akan menjadi takdirku tidak akan pernah melewatkanku dan apa yang melewatkanku tidak akan menjadi takdirku, artinya kalau bunda tetap takdir kita InsyaAllah dengan keajaiban kita akan bertemu dengan Bunda lagi, meski nanti di surga, atau mungkin Allah punya kejutan lain di balik ujian."


Annisa tersenyum dan mengangguk.


"Nisa tau ini di mana?"


"Bandung."


"Bandung dengan kisah baru ya, kisah nisa sama Abi okey." Ucap Fauzi, Annisa langsung menghambur memeluk Fauzi dengan erat.


"Nisa sayang Abi." Kata Nissa membuat seutas senyum milik Fauzi terbit begitu saja.


*****


Pagi-pagi sekali Fauzi dengan Annisa sudah siap untuk berkeliling ke kebun teh yang berada tak jauh dari pondok pesantren, meski letaknya berada di desa sebelah tetapi juga banyak para santri yang menghabiskan cuti di sini, terutama saat ahad maupun jum'at.


"Abi lupa membawa air putih, kamu mau ikut turun atau di sini nunggu abi?" Tanya Fauzi.


Nisa dengan lugunya mengetukkan tangan ke dagu, "Capek, nisa di sini aja ya." Ucap Annisa yang membuat Fauzi mengacak jilbab Anaknya gemass.


"Ish abi.. nanti berantakan."


"Tunggu abi." Ucap Fauzi membuat Annisa mengangguk dan cemberut membenarkan jilbabnya.


Brukkk


"Astaghfirullah" Batinnya melihat anak kecil tersungkur di hadapannya dengan meringis.


"Eh maaf maaf, nggak sengaja." Ucap Annisa ikut berjongkok bersamaan anak itu yang menatap Annisa.


"Yusuf?" Gumam Annisa yang membuat anak kecil tadi mengerinyit datar.


"Saha teh?"


Ya salam, baru kemarin ketemu anak ini sudah lupa atau amnesia.


"Aku yang kemarin ketemu di halte, adiknya shakilla kan?"


"Iya." Jawab yusuf lima tahun dengan raut datar dan juga baru Annisa sadari jika anak ini tidak menatapnya lagi. Ia bangkit di susul oleh nissa.


"Ada yang sakit?"


Yusuf kecil hanya menggeleng sembari tangan bergerak membersihkan kotor kotor di baju dan juga celananya. Namun raut cuek dan seolah tak terganggu dengan keberadaan Annisa yang menggaruk tenguk sendiri.


Dan parahnya lagi setelah melakukan bersih-bersih dengan pedenya yusuf kecil melewati Annisa tanpa permisi, Annisa sontak membulatkan mata dan menoleh kebelakang melihat yusuf mulai berlari menjauh.


"Aneh banget, pantas saja Shakilla marah terus adiknya aja gitu." Batin Annisa


****


Di sisi lain.


"Bunda kenapa bersedekah, kan bunda juga lagi susah?" Tanya gadis kecil yang membantu sosok ibu tengah menyiapkan beberapa barang untuk ia kirim ke orang yang membutuhkan.


"Kalau sedekah nunggu kaya dulu, kapan sedekahnya?" Tanya sosok wanita dengan senyum hangat.


"Ini mau di anter ke anak jalanan lagi?" Tanya si anak yang membuat wanita itu tersenyum mengangguk.


"Kita sekalian belikan mereka air putih di warung sana biar tidak kesusahan yang bawa nanti." Ucapnya membuat anak kecil itu mengangguk.

__ADS_1


Wanita dengan balutan hijab panjang berwarna maroon dan juga gamis hitam serta penutup masker biru sekali pakai itu memberikan beberapa lembar uang untuk satu kerdus air gelasan.


"Killa panggilin kak zadid ya bunda nggak kuat angkat segini." Ucap wanita itu membuat putrinya tersenyum.


"Ayah ya?" Tanya sang putri yang membuat bundanya mengangguk ragu.


"Sekalian nanti Bunda sama ayah, kila mau cari adik."


"Air mineral dua pak." Suara sosok pria yang tak lain ialah Fauzi, langsung di layani oleh bapak-bapak penjual,ia memberikan selembar uang sembari menunggu kembalian, tatapannya menoleh kepada sosok laki-laki yang mengangkat kardus dan...bukan..bukan laki-laki itu tapi ada sosok perempuan berpakaian syar'i yang mengikutinya dari belakang.


Fauzi menautkan alis, ia hendak melangkah pergi tapi urung.


"Ini den kembaliannya," Ucap si penjual membuat Fauzi tersadar seketika beristighfar.


"Oh iya, makasih pak." Ucap Fauzi mengambil kembalian ia kembali menoleh ke arah perempuan tadi yang sudah hilang ke belokan jalan.


"Baru di sini ya?" Fauzi mengangguk.


"Oh, sama kayak yang mas liatin tadi, baru seminggu di sini." Kata bapak tadi yang membuat Fauzi tersenyum kikuk,


"Maksudnya?"


"Dia pindahan dari bogor." Fauzi hanya mengangguk ria, dan juga pamit mengingat putrinya pasti menunggu lama.


Fauzi mulai menyusul Annisa yang pasti sudah sedikit lama menunggu ia tersenyum lega kala putrinya sudah terduduk di sana, sedangakan langkahnya Fauzi kembali terhenti.


"Omm..." Panggil melengking serta nafas terengah-engah membuat Fauzi menoleh kebelakang.


Sedikit menunduk dan mengerinyit heran kala ada sosok gadis kecil yang menatap... Air yang ia bawa.


"Kenapa?"


"Mmm..killa aus." Ucap mungilnya, manik hitamnya menatap air yang di genggam Fauzi yang membuat Fauzi terkekeh, anak siapa ini batinnya.


"Mau minum?" Tanya Fauzi.


"Boleh?"


"Tentu saja."


Gadis kecil itu lelah berkeliling mencari adik tengil yang terus menghilang, dan lupa tidak membawa uang.Ia melakukan posisi duduk di rerumput bersih, sedangkan Fauzi sekali-kali menatap posisi Annisa yang masih mengamati pucuk teh.


"Makasih omm, nanti biar bunda yah yang bayar." Ucapnya kemudian meraih tangan Fauzi dan menyaliminya.


"Assalamu'alaikum om." Bersamaan gadis kecil berlari.


"Wa'alaikumussalam..." Fauzi menggeleng kecil.


"Abi, lama banget." Ucap Annisa membuat Fauzi tersenyum sedikit mengingat ada kejadian aneh tadi.


"Ayo bi, kita ke atas." Annisa langsung menggeret tangan Fauzi membuat Fauzi langsung mengangguk.


*****


z


z


z


Gini banget ya, pokoknya ceritanya aneh dan mudah di tebak kok. Lama lama jenuhh kayak dia haha


Aku juga pengen nulis yang terbaik, tapi kalo hasilnya belum baik ya baik baikin aja deh kayak kabar hehe


kumaha damang?😅


kangen nggak sama syifa?


...Halu banget tpi tetap jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama...


*****


NB: kata si bapak tetap jagaa IMUN dan imut- nya jangan sampai turun😅


__ADS_1


__ADS_2