Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Bertemu Keluarga


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Yusuf putra Syifa sudah di perbolehkan untuk pulang hanya saja masih harus berbanyak istirahat, seperti kalimat Fauzi kemarin... Tunggu, kemarin? Yah, sebenarnya beberapa hari ini Fauzi memang berkunjung ke rumah sakit setiap hari. Pertemuan haru dangan sosok Abi membuat kedua anak kembar itu senang.


Dan hari ini Fauzi berniat menemukan Syifa dengan putrinya, memang baru kemarin juga Fauzi bilang tentang keberadaan putrinya, bahkan Syifa saja nyaris terkejut sudah memiliki anak selain Yusuf dan Killa.


"Kita ke Pesantren dulu, setelah itu langsung ke bandara." Ucap Fauzi semangat dari balik kemudi.


"Tapi, apa mereka baik baik aja?" Syifa menatap sepion ke kursi belakang, si kembar yang tertidur di sana.


"Cuma sebentar naik pesawatnya, apa kamu tidak merindukan Ayah Bunda?" Tanya balik Fauzi yang membuat Syifa terdiam dengan pikirannya sendiri.


****


"Bundaa?" Annisa diam mematung di tempat, wanita di hadapannya yang berdiri dengan ragu itu menatap gadis berusia sebelas tahun dengan haru.


Tak lama Syifa mengangguk ragu.


Annisa berlari... bukan ke arah Syifa melainkan ke arah Abinya. Ia memeluk Fauzi sembari menangis, gadis itu sesenggukan dan menggeleng pelan.


"Abi... Annisa mimpi...annisa mimpi?"


"Itu bunda nak, bunda Syifa." Kata Fauzi.


Gadis itu mengusap kedua pipinya kemudian menatap keberadaan Syifa dan kedua anak kembar yang berada di sampingnya.


"Nisa boleh peluk bunda?" Tanya Annisa ke Fauzi, terkekeh dan terharu itu yang di rasa Fauzi sebelum akhirnya mengangguk.


Annisa langsung menghambur memeluk Syifa erat, sedangkan dengan tangan bergetar Syifa Perlahan membalas pelukan putrinya. Meski ia belum ingat tapi rasa rindu melekat di sana, ada rasa haru yang melintas dan ada rasa sedih karena belum mengingat semua.


Fauzi hanya mengusap ujung kelopak mata yang sedikit berair, ia berjongkok kemudian mengkode si kembar untuk masuk ke dalam pelukannya, bahagia...sangat sangat bahagia..


****


"Jadi benar kamu suami aku?" Tanya Syifa menatap Fauzi yang tengah memakai kemeja kotak-kotak itu juga menoleh ke samping. Dimana Syifa yang berada di meja kerja-nya sibuk menatap album foto.


Fauzi mengulas senyum tipis, ia mendekat ke belakang kursi yang di duduki sang istri. Otomatis Syifa mendongak dengan Fauzi yang menunduk.


"Menurutmu?"


"Suami."


"Pintarnya istri aku." Kata Fauzi lantas mengacak jilbab Syifa gemas, kalau mengenai urusan pribadhi memang Syifa belum mau membuka jilbabnya di hadapan pria yang mengaku suaminya ini.


Itu tidak di jadikan masalah bagi Fauzi, karena masih bisa melihat Syifa sekarang ini ia terus saja mengucap Syukur dan menangis kebahagiaan yang Allah rencanakan.


Siapa sangka kepergiannya ke bandung membuatnya bertemu dengan Syifa, bahkan kisah bandung baru saja akan ia mulai. Di tambah lagi anak anak, Fauzi tidak kebayang sulitnya Syifa bertahan hidup waktu itu, bahkan ia terus meminta maaf, selalu terharu melihat anak kembarnya yang Alhamdulillah sehat.


Cup


Syifa melotot sempurna.


Satu detik


Dua detik


"Mass.." Pekiknya kaget sembari menoleh, pintu sudah tertutup dari luar.


Syifa menunduk,tangannya bergetar menyentuh pipinya yang bersemu merah, rasa panas menjalar seolah ada kupu-kupu terbang di hatinya yang berbunga lebat. Syifa tak ingat tentang Fauzi hanya kini ia memanggilnya dengan sebutan "Mas."


****


Bandara Adi Soemarmo.


"Ayah di rumah?" Tanya Fauzi.


"Ada." Jawab Arnold dari seberang.


"Bang Ridwan?" Tanya Fauzi lagi.


"Ada di kantor, kenapa?"


" Suruh bang Ridwan pulang..Zi ada kejutan untuk kalian, satu jam kami ke sana yah,"


"Lagi di bandung?"


"Bukan, intinya ada kejutan nanti." Ucap Fauzi. "Fauzi tutup Yah, Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi langsung mematikan telfon, ia melihat ke samping ada Syifa yang memejamkan mata, kemudian manik hitamnya menatap sepion, tiga anak yang juga tertidur.


Sejenak Fauzi merenung, kita sebagai manusia memang sering mengeluh atau bahkan tak menerima takdir... Padahal kalau kita tau rencana Allah untuk kita, pasti kita malu. Karena rencananya akan tetap baik bagi hambanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Emm...Sudah sampai?" Tanya Syifa mungkin terlalu lelah di rumah sakit. Fauzi mengangguk.


"Nak bangun yok udah sampai." Ucap Fauzi, membangunkan ketiganya


****


"Mas.." Lirih Syifa yang melihat sana sini, seperti tempat yang kurang asing. Ia melirik Annisa dan kembar yang dengan riangnya langsung bermain di halaman.


"Hm." Dehem Fauzi.


Tak lama ada sosok yang muncul di depan pintu mengamati anak anak kecil yang bermain di halamannya,


"Jadi.. suami aku itu kamu atau dia?." Tanya Syifa.


"Suami kamu itu aku Syifa, itu bang Ridwan"


"Adik iparrr???" Ridwan menghampiri Fauzi dan ketika tatapannya ke samping ada wanita yang menunduk, ia membulatkan mata sempurna, reaksi ini sangat jarang Ridwan nampakkan untuk orang-orang.


"S-syifa kah?"


Syifa mendongak dan mata mereka terkunci. Ridwan langsung memeluk adiknya tidak percaya, "Ya Allah dek, ini kamu.. Syifa kan? kamu masih hidup? atau Abang yang cuma mimpi?" Cerocos nya.


Syifa melirik ke arah Fauzi yang tersenyum dsn mengangguk, tak lama tangan Syifa ikut melingkar di pinggang Ridwan. Ia punya kehidupan yang penuh dengan kasih sayang rupanya.


"Kamu apa kabar dek, Ya Allah." Ridwan melepas pelukan bahkan cairan di matanya kentara. Menatap wajah Syifa yang hanya terdiam kikuk, kemudian Ridwan membawa Syifa ke pelukannya lagi.


"Ada apa ini kok ribut-ribut?" Tanya Arnold yang baru saja keluar di susul ayana.


"S-syifa?"


Yah seperti tadi, ada rasa terkejut dan tak percaya tapi tangis kebahagiaan yang selama lima tahun ini sudah ada puncak kebahagiaan yang nyata


"Putriku..."


*****


Setelah mendapati Syifa tertidur bersama tiga Anaknya, Fauzi menghembus nafas lega, hari yang di tunggu dirinya akhirnya tiba. Dan ia sudah membuktikan ke dunia bahwa bukti cinta itu ada dan bukti cinta itu adalah setia.


Saat ini Fauzi tengah terduduk di gazebo belakang rumah,


"Eh abang."


Banyak yang perlu di ceritakan, karena Fauzi tadi meminta Syifa istirahat jadi belum sempat keluarga itu bercerita, sedangkan Ayana dan Arnold tengah memasak makan malam nanti.


Fauzi berjanji akan memulihkan ingatan Syifa dan tidak akan membiarkan Syifa kesakitan lagi.


"Hmm, kamu harus cerita ini ke saya."


"Cerita apa bang?"


"Tentang Syifa... kau tau? saya ninggalin istri saya di apatermen." Ucap Ridwan datar.


"Nggak sekalian di ajak bang?"


"Ririn sakit, jadi mereka memilih tinggal.."


Hening...


"Tentang Syifa...?" Tanya Ridwan. "Dia sekarang banyak berubah, tidak sejahil dulu ya bahkan bertemu kami hanya ada raut bingung di sana?" Tanya Ridwan.


Fauzi menunduk


"Ada yang harus Abang tau dan ayah bunda tau."


Oke Ridwan terdiam meminta Fauzi melanjutkan.


"Sebenarnya Syifa amnesia bang."


"A-amnesia??" Tanya Arnold dari belakang, ia tak sengaja mendengar.


"Ayah, "


"Apa tadi katamu?" Jadi Syifa amnesia? " Tanya Arnold, Fauzi mengangguk.


"Yah, Fauzi janji akan memulihkan ingatan Syifa, kita harus bersyukur karena Allah punya rencana dan melihat Syifa saja sudah Alhamdulillah kan, tentang kecelakaan waktu itu, biar waktu yang menjawab.."

__ADS_1


Arnold mengangguk. Ia akan menceritakan ke istrinya.


****


Malam hari.


Syifa yang sudah menidurkan anak-anak di kamar itu tersenyum dan mengecupi satu per satu kening mereka. Kemudian kaki langkahnya memasiki ruangan yang masih terbuka, katanya ini kamarnya, dan dengan lelaki itu, ehh suami.


Syifa tidak menemukan apapun di sini, tapi mendengar percikan air di kamar mandi membuat Syifa yakin Fauzi di sana.


"Duh kok aku deg degan ya." Lirihnya mondar mandir kemudian melirik luar jendela. Syifa menggigit jari.


Tarik nafas buang


Tarik nafas buang


Tarik nafas buang


"Fa.."


"Astaghfirullah Eh!." Kaget Syifa kemudian menoleh.


"Sampai kapan kamu berdiri di sana, aku udah lima belas menit di sini loh."


"Eh iya." Ucap Syifa kikuk dan menunduk. Kakinya langsung duduk di kasur.


Fauzi menggelengkan kepala pelan dan terkekeh, ia sangat kangen dengan Syifa, belum Ia temukan Syifa dulu.


DEG


Entah perasaan apa yang menggelitik di dalam perut Syifa malam itu, ia bergidik tubuhnya kaku saat dari belakang ada tangan yang melingkar. Ia memejamkan mata, jantungnya nyaris hampir copot.


"Ehm, mas." Lirih Syifa membuat Fauzi menenggelamkan kepalanya di ceruk leher berlapis jilbab instan itu.


"Mas.." Lirihnya lagi.


"Hmmm." Gumam Fauzi.


Hening.


"Mas.."


"Biar seperti ini dulu Syifa." Bisik Fauzi nyaris membuat jantung Syifa susah bertempat seperti semula.


Sepuluh menit kemudian. Masih memeluk dari belakang, Fauzi terkekeh karena Syifa yang sekarang ini pemalu dan banyak diam.


"Mas." Lirihnya kecil.


"Hm."


"Jantung Syifa mau copot." Ucapnya terdengar polos, dan Fauzi seketika tertawa, ia mengangguk-angguk kepala dan menunduk menahan tawa.


Fauzi membenarkan posisinya dan Syifa, tepatnya Fauzi yang bersandar pada kepala ranjang dan tangannya melingkar di pinggang belakang Syifa. Kepala Syifa ia sandarkan di bahunya.


"Apa yang membuat aku bertahan itu Annisa Fa."


"Annisa usia berapa."


"Sebelas."


"Wah kamu hebat."


"Kamu wanita kuat, entah bagaimana kamu menghidupi mereka, karena aku pikir waktu itu kamu..."


"Wajar, aku seorang ibu, jadi harus berjuang untuk anaknya."


"Bangga punya istri kamu." Ucap Fauzi tersenyum keduanya menatap bingkai foto pernikahan mereka di danau dulu,


Setelah setengah jam berlalu, Fauzi melirik ke samping, Seketika senyuman menawannya kambuh, ia mengecup kening Syifa yang sudah terpejam, meletakkan kepalanya ke dada bidangnya.


Terkekeh sejenak sembari mengelus kepala Syifa berbalut hijab, sayang


"Bukan cuma jantung kamu Fa, tapi jantung aku juga."


@@@@@@


End ya?

__ADS_1


jantung apa sih zi? Jantung pisang? haha


dahlah gaje, tamatin gak nih? (Serius nanya)


__ADS_2