Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
56. Pengakuan Fauzi & Faqih


__ADS_3

Ridwan melajukan motornya menuju arah pesantren, ia sendiri juga bingung kenapa dia ingin menuju pesantren. Samar-samar ia mendengar beberapa kali nama adiknya disebut. Dan suara seperti orang berantem.


"Hentikan." Suara yang cukup lantang, hingga kedua orang itu nyalinya menciut. Keringat dingin bercucuran di keduanya.


"Kak Ridwan." Faqih/Fauzi menunduk bagaimanapun juga ia Kakak dari gadis yang sedang mereka bahas.


"Ada apa dengan Syifa hem." Tanya Ridwan dingin.


"Ti-tidak Kak." Ucap Fauzi.


Padahal Ridwan sedari tadi sudah mendengar apa yang mereka bicarakan, nampak mimik datar dari Ridwan hingga Fauzi Faqih merasa canggung dibuatnya.


"Faqih? Saya ingin bicara." Ucap Ridwan menatap Faqih sedangkan Fauzi yang paham segera pamit.


"Baiklah kalau begitu saya pergi, Assalamu'alaikum." Ucap Fauzi walaupun banyak pertanyaan dalam otaknya.


"Wa'alaikumussalam."


Kini Faqih dan Ridwan sudah duduk di tempat yang bisa di duduki. Ridwan masih diam tak bergeming hingga Faqih pun merasa tegang, banyak sekali pertanyaan namun tak berani hanya untuk membuka suara.


"Ehem,,saya sampai lupa." Ucap Ridwan dengan logat santainya.


Faqih? Astaga makhluk hidup yang satu ini hanya kikuk dengan penuturan Ridwan, demi apa ia sangat gerogi, entah apa sebabnya.


"Kau menaruh rasa kepada Syifa?" Ucap Ridwan to the point, inilah sifatnya yang tidak suka basa basi.


Faqih tersentak dengan penuturan Ridwan yang santai tapi menusuk relung jiwa, bukannya menjawab melainkan menunduk, Ridwan menganggap diam artinya iya.


"Tidak perlu takut, saya sebagai Abangnya Syifa hanya mampu mendukung langkahnya jangan menganggap saya melarangmu untuk memiliki perasaan." Ucap Ridwan.


Cinta adalah Fitrah jatuh cinta di umur yang masih muda ialah ujian dari manusia dimana kita bisa tidaknya mengalahkan nafsu dan berusaha untuk menjaganya dan tidak berkhalawat.


"Mm maksudnya?" Tanya Faqih yang telah salah mengira jika Ridwan akan memarahi habis-habis akan kelancangan perasaannya.


"Hmm Saya percaya padamu, bukankah dulu kau yang membuat adik saya bisa memiliki secerah harapan baru setelah kejadian masalalunya." Ucap Ridwan dengan mengepalkan tangan ia begitu sakit dikala itu.


"Jadi...." Tanya Faqih yang belum menangkap sinyal yang di berikan Ridwan.


Astaghfirullah sabar sabar batin Ridwan eksta mengelus dadanya, bukan maksud apa-apa saat ini ia juga ragu jika Syifa memiliki perasaan yang sama dengan Faqih, namun harapan Ridwan hanya agar Faqih secepatnya mengetahui isi hati Adiknya.


"Saya tak memaksa akan perasaannya jika kau ingin mengetahuinya maka melangkahlah lebih serius. Kau bisa mengajaknya ke jenjang lebih..." Terhenti.


"Namun jika Syifa tidak memiliki perasaan untukmu saya harap, kau jangan pernah memaksanya. Ingat atau detik itu juga dunia berhenti di hadapanmu." Ucapnya Ridwan ia segera berlalu.


Faqih menatap punggung Ridwan hingga hilang di telan jarak. Faqih tahu betul apa yang dimaksud dari Ridwan, tunggu tapi bagaimana dengan Syifa? entahlah terlihat saat ini Syifa perubahan yaitu menjauh.


''Aku harus mencoba!" Ujar Faqih siap menerima kenyataan, walaupun harapannya Syifa merasakan hal yang sama.


Di sisi lain Fauzi tengah selesai sholat duha ia sedang duduk di serambi Masjid.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucapan itu membuyarkan lamunannya,


"Wa'alaikumussalam eh Kak Ridwan." Ujar Fauzi dengan tersenyum.


"Boleh saya bicara." Tanya Ridwan sedangkann Fauzi hanya mengangguk, benarkah jika Ridwan ingin menyuruhnya untuk menjauhi adiknya? Kenapa Fauzi jadi galau begini bagaimana ia bisa mencintai makhluk melebihi penciptanya.


"Astaghfirullah." Gumam Fauzi hingga Ridwan mengerinyit.


"Kenapa?" Tanya Ridwan, Fauzi hanya geleng-geleng atas keceplosannya.


"Ada apa Kak."


"Apa kau menaruh rasa dengan Adik Saya." To the poin ngapain basa basi hehehe


Deg!


"Jawab saja, apa kau tidak mau memberi alasan kepada calon kakak iparmu ini hem." Ujarnya terkekeh.


"Te-tentu." Ucap Fauzi.


Ridwan tersenyum, sebenarnya bukan urusannya untuk mencampuri, tetapi tujuan sebenarnya adalah agar keduanya tidak ribut hanya masalah Cinta , satu kata itu mampu membuatnya gila, walaupun Ridwan belum merasakan CINTA.


"Saya merasakan perasaan aneh setiap bertemu dengannya, bahkan dingin saya tidak berarti jika bersamanya." Tutur Fauzi.


"Saya kagum akan kelembutannya dengan Rizky adiknya, selain itu dia tidak pernah marah dan sikapnya yang halus dan sopan sudah tentu pantas menjadi idaman kaum adam." Imbuhnya.


"Adik saya tidak sebaik yang kau kira, dan ilmunya bahkan tidak setara denganmu." Ucap Ridwan was was.


"Lalu bagaimana jika Syifa gadis kejam." Ridwan. Hingga Fauzi terdiam apa maksudnya Ridwan saat ini pikirnya. Namun Fauzi hanya diam tentu saja ekspresinya sangat heran.


"Lalu kau menolak wanita seperti apa?" Tanya Ridwan mencoba mencairkan suasana.


"Dia yang kejam bahkan seorang yang tanpa takut mengambil alih sebagai malaikat izrail." Ujar Fauzi sebenarnya hanya ngawur memangnya kisah ini novel apa? jika gadis mempunyai keahlian membunuh, membayangkan saja Fauzi bergidik ngeri.


Deg!


Ridwan terkejut dengan jawaban Fauzi yang tentu saja itu nyata sangat nyata. Lalu jika Firasat Ridwan benar Syifa memiliki perasaan lain dengan Fauzi, apakah Fauzi akan nerima?


Entahlah kita tunggu tanggal mainnya...


"Eh Syifa ada kesini?" Tanya Ridwan dia sampai lupa kalau sedang mencari seorang adik.


"Memangnya Syifa di mana?" Kini malah Fauzi yang ganti nanya.


"Kalau Saya tau, ngga mungkin saya nanya." Ucap Ridwan memutar bola mata malas.


1 Detik


2 Detik Hening

__ADS_1


3 Detik baru paham dia


"Jadi Syifa pergi dari Rumah?" Tanya Fauzi tak percaya namun Ridwan mengangguk.


"Semua juga gara-gara Saya." Ujar Ridwan Sendu. Ia masih ingat beberapa waktu ia membentak adiknya padahal dirinya juga salah.


Fauzi dalam dirinya tersirat perasaan khawatir tetapi apa boleh buat, mendadak hening hingga beberapa detik Fauzi berteriak dengan konyolnya.


"Aku tahu." Ucapnya sumringah.


"Aku suka tempe." Ketus Ridwan, masih sempat dia bercanda si Fauzi mengangkat alis sebelah dengan heran.


"Beneran saya pikir Kakak wajib pergi ke tempat itu." Ujar Fauzi entahlah dia memiliki keyakinan.


Tak lama Fauzi mengambil selembar kertas dan bolpoint yang tersedia dalam masjid, kemudian mulai menggambar, Ridwan memperhatikan seksama setiap garis, jangan lupa ekspresinya yang sangat ngeblank.


"Nih." Fauzi menyodorkan kertas hasil karyanya yang amat sangat ehem.


"Ini kenapa talinya ruwet gini." Tanya Ridwan polos.


Fauzi menepuk kening hasil karyanya tiada yang di pahami oleh otaknya,


"Ini peta Kak." Jawab Fauzi gemas.


"Lalu kenapa hanya garis-garis seperti benang ruwet." Tanya Ridwan.


Fauzi sudah menebak karyanya akan di bantah mentah-mentah, sabar zi orang sabar Rezeki nya jembar.


"Kakak mau ketemu Syifa tho, nah ikuti aja garis ini dan sudah ada panahnya semoga saja cepat ketemu." Ucap Fauzi.


"Baiklah, Assalamu'alaikum." Ucap Ridwan yang masih fokus dengan si garis ruwet tapi ia menghargai usaha Fauzi.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Fauzi dan mengikuti Ridwan hingga keluar gerbang pesantren.


"Semoga Fafa ketemu," Gumam Fauzi dan berbalik.


1 Langkah


2 Langkah


3 Langkah


"Kak Guss????" Teriak seseorang dengan logat cemprengnya.


Fauzi mengerinyitkan dahi, berbalik dan Ya ampun anak itu datang ngos-ngosan malang sekali nasib mu nak.


"Tumben?" Ucap Fauzi mengangkat alis.


"Tumben huh Rizky ingin berangkat huh pakai delman tapi ngga ada." Ucap anak kecil itu terengah-engah segera berlalu.

__ADS_1


"Hey-hey tunggu.." Teriak Fauzi menyeimbangi Langkah kecil Rizky.


__ADS_2