
Toko ikan
Anak kecil itu terus merengek meminta ikan, lebih parahnya ngeyel minta ikan Vanila, adakah? yang ada memalukan jika meminta ikan bernama Vanila mau cari ke pelosok pun belum tentu ada.
"Mana ada ikan Vanila dek?" Tanya Syifa geram
"Pokonya mau Ikan Vanila." Ucap Rizky memalingkan wajahnya, so ngambek dia.
"Hehehh Vanila itu rasa es krim, Rizky mau es krim?" Tawar Ayah.
Mereka menanyakan penjualnya, awalnya memang bingung tetapi karena Vanila mirip dengan nama salah satu ikan penjual pun paham dengan maksud Rizky.
"Ini, Nila bukan Vanila ya dek tampan." Ucap si penjual, Rizky antusias melihat ikan nila namun tidak membuatnya tertarik karena warnanya seperti jeruk.
"Aku mau yang itu." Tunjuk Rizky ke ikan kecil tapi sirip yang lebat.
"Yaelah tadi nyari Vanila ternyata si nila ee sekarang cansel ganti si ikan hias, dasar adek rada." Batin Syifa geram dengan tingkahnya.
"Huh."
"Baiklah, minta berapa?" Tanya Arnold.
"Mm 10." Ucap Rizky berbinar.
Setelah membayar, keluarga itu pulang ke rumah, Ridwan sedari tadi sudah duduk di sofa fokus dengan laptop dan berkasnya hingga tidak tahu jika semua sudah pulang.
"Fokus amat Bang sampai salam kami ngga dijawab." Sindir Syifa, sedangkan Ridwan membalas salam dengan membatin kemudian fokus lagi dengan berkasnya.
"Bang Ridwan aku punya ikan yeayyy." Ucap Rizky menunjukkan ikannya yang berada di aquarium kecil.
"Hm." Ridwan hanya berdehem membuat Rizky berdecak sebal.
Rizky masih memandangi ikannya dengan binar-binar sesekali berceloteh sendiri saat ikannya beradu, Syifa dan orang tuanya hanya geleng-geleng kepala.
"Hey ikan apa kalian ngga sesak tinggal di air." Tanya Rizky pada si ikan.
"plup plup plup plup." Suara Rizky seolah mengikuti mulut ikan yang entah meminum air atau semacamnya. Syifa tersenyum-senyum sedari tadi.
"Yah kenapa ikan hidupnya di air." Tanya Rizky.
"Mungkin dia nyaman." Ucap Arnold sibuk dengan tangan kanan merangkul punggung istrinya sedangkan tangan kiri memegang tangan Ayana.
"Apa mereka ngga kedinginan kak?" Tanya Rizky.
"Mana kakak tau, tanya aja sama ikannya sendiri." Ucap Syifa yang sebenarnya bingung mau menjawab apa.
"Tapi kan kak---"
"Ayo bund kita masak." Alih-alih Syifa mengajak Ayana memasak, sedangkan Rizky yang belum mendapat jawaban hanya mendengus kesal.
"Ayah--"
"Hehehe Ayah mau benerin lampu dulu ya." Ucap Arnold dengan cengegesan.
Syifa dan orang tuanya sudah di zona nyaman sedangakan Ridwan hanya diam fokus dengan berkasnya. Bagaimana jika nanti Rizky menanyakan hal konyol seperti tadi lebih parahnya
"Lalu ikan tidurnya ngga pakai selimut apa ngga kedinginan?" pertanyaan konyol membuat Ridwan menatap Rizky dengan tatapan squidwerd.
Sakarepmu lah ky
__ADS_1
"Baiklah Bang kenapa ikan hidupnya di air?"
"Ngga tahu."
Setiap pergantian menit Rizky selalu bertanya ya kalo pertanyaannya masuk akal lah ini masuk toples aja enggak.
"Kenapa ikan hidupnya di air??"
"Pertanyaan ke 59." Ucap Ridwan dengan ekspresi pasrah.
"Kenapa----" Belum sempat Rizky bertanya ke 60 kini teriakan Arnold memanggil Ridwan.
"Wan bantu ayah." Suara dari arah kamar, membuat Ridwan tersenyum mungkin ia senang karena bebas dari pertanyaan tak ber merek yang ngga ada jawabnnya.
"Oke babay tanya aja tuh sama ikan plup plup plup." Ucap Ridwan meniru gaya ikan.
"ABANG KENAPA IKAN HIDUP DI AIR??" Teriak Rizky agar mendapat jawaban.
Ridwan yang sudah mencapai pintu memutar bola matanya malas, ia berteriak menjawabnya ngasal.
"TAKDIR." Langsung bergegas masuk kamar setelah menjawabnya.
Rizky yang masih memperhatikan ikan mencerna kata Ridwan T-A-K-D-I-R ia mengingat apa yang pernah disampaikan Ustadz pondok dulu.
"Baiklah ayo ubah takdir." Ucap Rizky dengan tersenyum-senyum.
Pembahasan istilah Qada dan Qadar, mendefinisikan dari Qada' dengan "ilmu Allah Swt. tentang apa yang akan terjadi pada makhluk di masa mendatang.
Qadar yakni "Sesuatu yang Allah Swt. wujudkan sesuai dengan ilmu dan kehendaknya."
Dari pengertian tersebut, maka qadar merupakan takdir yang masih dapat diubah oleh manusia dengan cara berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa, dan tawakal. Sedangkan qada merupakan sebuah ketetapan dari Allah SWT yang tidak dapat diubah.
Rizky yang masih dibawah umur berpikiran sempit mungkin dulu dia gagal paham saat dijelaskan, hingga saat ini melakukan apa yang sudah menjadi qada'. kita lihat waktu mainnya.
-
-
-
1 menit kemudian
"HUAAAA AYAH, BUNDA, KAKAK, ABANGG." Teriak Rizky sambil menangis kejer.
(...)
Di dapur
Syifa yang masih mencuci piring mendadak terlonjak karena teriakan bocil hingga piring terlempar ke atas, Syifa dengan gesitnya mengkap piring yang sejengkal lagi jatuh ke lantai.
"Itu anak kenapa?" Tanya Ayana terkejut, Syifa mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Ayana dan Syifa segera menuju ruang tamu.
(...)
Di kamar
Di waktu yang sama, Arnold sedang memasang lampu Ridwan memegangi tangga, suara Rizky menggema membuat Ridwan refleks mendorong tangga.
__ADS_1
Arnold yang posisi terkejut dan merasakan dorongan membuatnya beraksi yah seperti berjalan di udara menjadikan tubuhnya seimbang dan..
Brug...
Suara tangga terjatuh dan kaki Arnold yang sudah mendarat dengan selamat,
"Tua tua begini masih bisa di andalkan, untung ngga jatuh kalau iya encok nanti." Gumam Arnold, sedangkan Ridwan menggaruk tengkuk.
"Ayah masih jago." Ucapan Ridwan membuat Arnold terkekeh kemudian bergegas menuju suara.
Di ruang tamu
Rizky menangis histeris, Syifa dan Ridwan mengerinyit sedangakan Arnold dan Ayana menenangkan Rizky yang menangis.
"Rizky kenapa nak?" Tanya Bunda tetapi masih menangis.
"Kenapa dek kan udah dibelikan ikan hias toh." Tanya Syifa heran, Rizky pun menunjuk ke arah ikan yang tergeletak di meja dengan posisi sekarat.
"Lho loh kok si ikan hias kejang-kejang kamu apakan dek?" Tanya Ridwan heran deh.
"Huwaaaa."
"Alat pemacu jantung mana eh ikan ngga punya jantung kok yaa." Ucap Syifa panik kenapa dia ikutan konyol.
Arnold memasukan ikan yang sudah pada sekarat kejang-kejang ke dalam aquarium kecil tadi, yang terselamatkan hanya 1 banyangkan saja dari 10 di buang 0 nya hingga tinggalah 1.
"Mati sembilan mati sembilan tinggalah satu." Nyanyian Ridwan meniru tok dalang di kartun malaysia ish.
"Kenapa bisa begini dek ikannya?" Tanya Ayana.
Rizky yang sudah tak nangis menjawabnya dengan ehem konyol
"Tadi kata bang Ridwan ikan hidup di air karena takdir, kata Pak Ustadz, Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
"Jadi Rizky mencoba merubah takdir ikan agar hidup di darat." Ucap Rizky mengingat ucapan Ustadz.
"Lalu?" Ucap semua -Rizky
"Rizky kasian kalau dia tenggelam takutnya ngga bisa bernafas huaa."
Yang mendengar pun hanya tepuk jidat, rupanya si bocah kecil itu yang gagal paham apa yang di jelaskan Ustadz nya.
"Adek, itu bukan masalah bisa enggaknya yah karena ikan memang hidupnya di air, dan itu karena memang harus hidup di air. Memang takdir bisa di ubah tetapi ketetapan Allah tidak akan pernah bisa di rubah." Syifa
"Contohnya Rizky laki-laki atau perempuan?" Ridwan. Sedangakan Rizky memicingkan matanya.
"Menurut Abang?" Tanya Rizky Sedangkan Ayana dan Arnold menunduk karena menahan tawa.
"Laki-laki kan? dan ngga bisa kan menjadi seperti kak Syifa? (Rizky mengangguk) sama dengan Ikan yang hidup di air sedangkan Ikan tidak akan pernah bisa berubah seperti kodok yang hidup di darat dan air." Tutur Ridwan, yang lainnya hanya menjadi pendengar setia.
"Oh iya ya." Ucap Rizky mangguk-mangguk , semua tersenyum lega.
"Tapi kan bang...." Ucap Rizkt terhenti hingga semua menatapnya kepo.
"Kenapa si kodok bisa hidup di darat dan air kenapa ngga sekalian di udara?" Tanya Rizky sukses membuat lainnya menganga.
Sakarepmu lah ky
__ADS_1