Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
81.Khitbah Pertama Syifa


__ADS_3

Dugg!!


"Astaghfirullah." Ucap orang itu, sontak Syifa mendongak tatapannya terkunci , seperti tidak asing dengan mata itu.


Segera Syifa menunduk, orang itu juga menunduk tapi ada senyum sekilas ketika tatapan mereka bertemu. Orang itu masih ingat dan jelas gadis yang dulunya ia cintai tetapi memilih mencintai orang lain.


"Syifa?"


Syifa spontan mendongak, tak lupa dengan dahi yang mengerinyit. Siapa laki-laki di hadapannya ini, umurnya juga tidak jauh beda dengannya hanya saja dia tinggi.


"Faqih." Ucap orang itu lagi hingga Syifa menggeleng tak percaya.


"Fa-Faqih." Tanya Syifa lagi.


"Iya, apa kabar?" Ucap Faqih tanpa rasa canggung lain dengan Syifa yang sudah canggung bukan main, iyah setelah dulu Syifa menolak perasaannya Faqih, sejak saat itu belum di pertemukan. Tentu saja ada perasaan tidak enak.


"Alhamdulillah." Jawab Syifa singkat tapi tersenyum sangat manis.


"Ya Allah, kuat kan hamba." Batin Faqih.


Jujur perasaan Faqih masih sama, salah kah jika ia masih mengharapkan cinta Syifa? tentu saja tidak lalu buat apa dia bertahan jika yang ia tahu Syifa tidak mengharapkan cintanya.


Perasaan setiap makhluk itu yang mengatur hati. Jika saja itu hanya logika mungkin sudah Faqih buang jauh perasaan tidak enak itu! tapi kenapa melihat Syifa perasaan itu muncul kembali. Rasa sakit dulu sempat hilang dalam sekejap.


"Eumm kamu ada urusan di sini?" Tanya Faqih.


"Iya tadi Rizky buat ulah sedikit." Ucap Syifa mengingat jika Rizky selalu buat ulah.


Faqih mangguk-mangguk, jarak dari mereka tidak terlalu dekat karena tadi Faqih sudah memundurkan langkahnya.


"Setitik saja adakah perasaan cintamu untukku, Fa?" Batin Faqih.


"Kamu sendiri masih mau nyantri di sini?" Tanya Syifa, sejujurnya Faqih ingin ketawa pertanyaan konyol Syifa, Ya Allah Fa, Faqih itu dah lulus.


"Mau ngajar, Fa." Jawab Faqih.


"Hehehe ternyata dari tadi aku bicara sama Ustadz baru." Ucap Syifa cengegesan.


Hening


"Fa masih nunggu Gus Fauzi?" Tanya Faqih, ia harus tahu kenyataannya supaya hatinya bisa melupakan Syifa.


"Memangnya Gus Fauzi di mana?" Tanya balik Syifa jelas ada perasaan sedikit berharap di wajah Syifa, semua itu tak luput dari pandangan Faqih, miris.


"Ehem..Dia sebentar lagi balik kok Fa. Emm kamu masih menunggunya." Tanya Faqih, aneh dia masih berharap jika jawaban itu, Tidak!


Tapi Syifa mengangguk itu artinya, mereka berdua masih dalam perasaan yang sama pikir Faqih, pupus sudah harapannya, mengapa demikian? Tidak mungkin dia akan menghancurkan kedua perasaan yang sama?


Fauzi jelas mengatakan kepada Faqih saat di kairo jika dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menjemput Syifa nya, jelas dengan itu Faqih tidak akan pernah memendam rasa kepada orang yang sama.


"Saya permisi Assalamu'alaikum." Ucap Syifa.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Faqih.


"Kamu tidak pernah tahu betapa terlukanya Aamiinku ketika namamu, kuhapus paksa dari setiap do'aku, Fa." Batin Faqih menatap punggung Syifa yang sudah berlalu,

__ADS_1


_________________


Sesampainya di rumah, Syifa melihat ayah bunda yang tengah ber ehem, untung halal begini ni, diantara ketiga anaknya hanya Syifa yang memergoki kedua orang tuanya.


"Ehem." Dehem Syifa. Segeralah Arnold melihat arah suara benar saja keganggu sudah berduaannya dengan Ayana.


Ayana hanya mencubit perut Arnold suaminya ini benar-benar main sosor, Syifa? haddeh gini nih korban bucinnya sang ayah.


"Assalamu'alaikum."


"Eh Wa'alaikumussalam." Ayana dan Arnold.


"Bun, Yah, Syifa masuk dulu." Ucap Syifa bergegas ke kamar.


Arnold dan Ayana saling pandang.


"Bun Anak kamu kenapa?" Arnold heran.


"Anak Ayah juga kalik." Ucap Ayana memutar bola mata. Ia juga heran Syifa sekarang banyak diam orangnya.


_________________


Syifa selesai dari sholat Isya' ia memilih untuk merebahkan dirinya diranjang. Sepertinya ia sangat lelah atau gerah hati mungkin.


Di ruang keluarga Arnold, Ayana dan Ridwan sedang berkumpul. Rencana sih Arnold akan menetap di Amerika setelah Rizky lulus pondok. Tapi apakah artinya musuh di sana sudah tidak ada? Ada! musuhnya masih ada hanya saja entah sembunyi di mana.


"Syifa tumben ngga keluar?" Ayana


"Galau dia Bun," Ucap Ridwan membuat orang tua nya menganga. Galau kata apa itu? ish apa Syifa benar-benar sudah dewasa dan mengenal cinta.


Tok.Tok.Tok


"Iya sebentar." Ucap Ayana berjalan membukakan pintu.


Dilihatnya seseorang yang berkeluarga dengan setelan formal, dan pria berumuran atas Syifa bersama orang tuanya mungkin. Ayana menatap heran sepertinya dia tidak pernah mengenal.


"Assalamu'alaikum bu?" Ucap Keluarga itu.


"Wa'alaikumussalam, mari masuk." Ucap Ayana mempersilahkan mereka duduk kemudian memanggil Arnold dan Ridwan.


"Emm kira-kira ada keperluan apa ya pak buk?" Tanya Arnold saat mereka sudah dalam keadaan biasa, Ayana juga sudah menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.


"Ehem sebelumnya perkenalkan nama saya Agung dan ini istri saya Dina, lalu anak saya Zadid." Ucap Agung kemudian semua mengangguki.


"Saya kesini mau mengantar anak saya untuk menyampaikan hajatnya kepada putri bapak." Ucapnya dengan nada sopan.


What? Arnold langsung keselek dah kalo posisi sedang minum, beraninya orang ini datang langsung berniat mengkhitbah putri satu-satunya. Hey-hey bukankah itu lebih baik dari pada harus pacaran?


"Sebelumnya saya mau nanya dari mana kalian tahu saya punya putri." Ucap Arnold tajam.


"Maaf pak, seluruh negara tahu dan mungkin mengenal siapa bapak, awalnya saya terkejut jika orang tuanya Syifa adalah Pak Arnold, tapi tidak mungkin jika niat baik kami tidak kami sampaikan terlebih dahulu." Ucap Agung.


Kini Arnold menatap Zadid tajam seolah menyelidik, dari tampangnya sih soleh dapat, Wajahnya juga tampan dan satu lagi Arnold ingin ketawa karena anak yang berani mengkhitbah itu gemetar mungkin grogi.


"Kamu Zadid kakak kelas Syifa?" Tanya Ridwan.

__ADS_1


Zadid juga baru menyadari jika Ridwan idola SMK itu kakaknya Syifa, Astaghfirullah kenapa semua mendadak, tapi bukankah itu lebih baik jika niat baik cepat di sampaikan.


Zadid kalian masih ingat? Dia diam-diam menyukai Syifa sejak Smk lhoo saat Syifa di marahi habis-habis tentu saja Zadid membelanya. Tapi apakah cintanya akan terbalas ia sendiri hanya ingin mengatakan sesungguhnya.


Cinta dalam diam memang sulit, satu dan yang lainnya tidak saling tahu. Memendam adalah kunci utama.


"Saya menghargai niat baik kalian, tapi semua saya serahkan ke putri saya." Ucap Arnold sembari mengkode Ayana untuk memanggil Syifa.


(....)


Syifa yang di beri tahu Bunda nya malah ketawa terbahak-bahak jika ada yang niat mengkhitbahnya, namun lagi-lagi terbesit pemikiran, mungkinkah ini yang dinamakan takdir?


Dan kini suasana panas tercetak jelas di Ruang Tamu itu.


“Saya tau, kita tidak pernah terpaut di setiap pembicaraan dulu. Namun hatiku berkata saya harus memilihmu. Menjadikan kamu pelengkap agama ku.


Menjadikan kamu makmum sholeha untukku. Bersediakah kamu menerima khitbah dariku. " Ucap Zadid tulus.


Kalau saja bukan Syifa jika di lamar seperti itu, langsung leleh deh itu hati si wanita bak ice cream kena sinar matahari.


Deg


Apa lagi ini, disaat dia menunggu kabar seseorang namun tak kunjung ia ketahui. Kini datang pengkhitbah yang tulus, yang memendam perasaan secara diam. Lebih lagi langsung melamar.


Bolehkah Syifa berteriak. Ya Allah apa dulu segundah ini perasaan Fauzi, apa dulu se bingung ini keadaan Fauzi? Syifa masih menunggu walaupun hanya pasrah dengan doa tapi mampukah saat ini?


"Ya Allah."


Bagaimana jika harus memilih antara menunggu cinta yang tidak pasti atau khitbahan pertama yang ia dapatkan??


__________________


Hayo siapa nih yang menunggu tanpa kepastian??


Nunggu tanpa kepastian itu sulit,


Menolak khitbah pertama?


Belum tentu mendapat kesempatan khitbah kedua dari orang berbeda.


Feel nya kalo nggak dapet mohon maaf lahir dan batin karena saya belum pernah melihat atau merasakan ya, jadi halu sendiri aja deh.


Syifa bakal pilihh manaaa....???


Part ini nggak tahu mengarah ke saya lagi atau gimana😂soalnya sy masih menunggu tanpa kepastian


tapi belum pernah dikhitbah kok hehe..


Emak: Ya iyalah tamat sekolah aja belom😏


Yawes yawes


Salam dariku


Si pemalas sejuta impian

__ADS_1


__ADS_2