Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Misteri


__ADS_3

Assalamu'alaikum gaisss i'm back, doainn konsisten wkekke...


selamat halu


****


Jangan pernah bercita cita untuk menghentikan waktu, karena konsisten bukan hanya pada waktu tapi langkah baik yang kau jadikan tujuan.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun kemudian semua masih terasa singkat kebersamaan suami istri yang saat ini tengah duduk di lobi memandang perkotaan yang padat juga akan kenadaraan yang berlalu lalang.


Beberapa bulan lalu, Syifa dan Fauzi sudah berkunjung ke bandung. Dan kabar baiknya Zadid sudah menikah dengan mbak lastri. Entahlah, kadangkala kita tidak mengerti masa depan apalagi jodoh.


Kalau tidak bertemu dengan jodoh kita mungkin akan bertemu dengan kematian.


Doa terbaik bagi mereka, yang melanjutkan hidup di bandung, dan saat ini kedua pasangan yang sudah mempunyai tiga anak itu sedang tak bersama anaknya.


Annisa, Shakilla, dan Yusuf tengah berada di pesantren mereka memilih di tempat kakeknya, yah, Syifa juga menginginkan anaknya untuk mondok. Sedangkan si putra dan putri kembarnya kerap menolak, mereka memilih berada di sekolah umum.


"Kang..." Panggil Syifa membuat Fauzi menoleh, melihat istrinya yang berhijab mocca dan gamis senada. Fauzi menautkan alis seolah bertanya kenapa Syifa memanggilnya.


"Killa dan Yusuf keras kepala," Ucap syifa,


"Mereka masih anak kecil Fa, sebenarnya Yusuf hanya ingin melindungi Killa," Kata Fauzi.


"Syifa tau kang, tapi bagaimana kalau mereka terlibat dalam dunia luar?" Ucap Syifa menunduk, ia tau betul bagaimana kisah hidupnya jika di dunia luar.


Oh, ternyata seperti ini rasanya mengkhawatirkan anak anak, ia jadi tahu bagaimana dulu kakaknya ridwan merawatnya, mengingat sedari kecil ia hidup tanpa ayah bunda.


Seolah merasa khawatir dan tak nyaman, manik hitam Syifa menelisik pada mobil hitam yang sedari tadi mondar mandir, lalu berhenti tepat di salah satu rumah, sudah lama berhenti di sana hingga Syifa meyakini ada yang tak beres dengan mobil itu.


Fauzi yang melihat raut wajah Syifa yang tak biasa kini menatapnya heran,


"Ada apa fa?" Tanya Fauzi.

__ADS_1


"Tunggu kang," Ucap Syifa terhenti dan manik hitamnya membola bersamaan ia menarik tangan Fauzi dengan lari.


"Dor!"


Cuarrrr


pintu yang terbuat dari kaca itu pecah berkeping keping dengan, Jantung Fauzi berdetak kencang dan Syifa apalagi, ia bukan takut melainkan tidak berani untuk mengulang masalalu.


Ia rasa sudah tak memiliki musuh, kecuali sosok yang dulu pernah syifa buat kesal, tapi apa mungkin itu adalah orang yang sama pikir Syifa.


Dor


cuarrr


"Sembunyi di balik dinding." Titah Syifa, hingga Fauzi menurutinya.


beberapa tembakan mendarat menghancurkan kaca, sampai akhirnya tak terdengar lagi bunyinya. Syifa mengintip di balik tembok, menelisik sekitar dan melihat keadaan.


Syifa kakinya hendak melangkah tapi Fauzi mencekal tangan Syifa,


"Apa lagi ini Ya Allah." batin Fauzi.


Syifa melangkah melihat sekeliling, ia melihat kotak yang di ikat dengan pita, sontak ia mengambilnya, dengan cepat ia membuka kotak lalu membulatkan mata.


"Astaghfirullah."


Manik Syifa melihat ke arah suaminya yang tergletak, pingsan?


Tap tap tap,


"Kang Fauzi?".. lirih Syifa menatap ke arah dinding putih yang bercorak merah darah.


Tunggu.

__ADS_1


"Kang..hiks," benar saja lengan Fauzi berdarah, kaki Syifa dengan cepat melangkah ke mencari handphone


"Ayah, hiks, bahaya." Lirih syifa.


****


tak selang lama Dokter datang karena tadi Arnold sudah memanggilkan untunya., Fauzi tidak di larikan di rumah sakit karena pastinya akan lebih bahaya.


Fauzi mengerjabkan mata ia merasa nyeri di bagian lengan, ingatannya memutar di waktu pagi tadi dengan kejadian yang membuatnya tertembak, namun ia menahan sakit agar syifa tidak merasa marah karena mungkin saja waktunya tidak tepat.


"Syifa." Panggilnya masih terasa lemah. Fauzi mencoba untuk duduk tapi sepertinya lengannya semakin nyeri.


"Kang, jangan duduk dulu, lukanya belum kering." Ucap suara yang sangat ia kenal terdengar khawatir.


Fauzi menghela nafas,


"Tunggu kamu pulih kita harus segera pindah, di sini tidak aman." Ucap Syifa menunduk. Fauzi menelisik sekeliling melihat banyak koper yang sudah Syifa bereskan.


"Katakan ada apa?"


Diam... syifa membisu


"Katakan Fa,"


"Kang fauzi sembuh dulu ya, nanti Syifa jelasin." Lirihnya menunduk makin dalam, ibu beranak tiga itu nampak tertekan, entah apa yang sudah terjadi Fauzi hanya kembali memejamkan mata.


Berharap semua baik baik saja.


@@@@@


sudah dulu gaisss dikit aja,


masi mau lanjut enggak?

__ADS_1


hehe


__ADS_2