Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Guru Subuh


__ADS_3

Heppy Reading, like komen vote yukk😇


Typo bertebaran.


******


Pagi hari setelah sholat subuh Fauzi tersenyum cerah cuaca yang sedikit hujan tergantikan oleh kehangatan sebuah hubungan. Syifa yang baru saja keluar dari pintu kamar dengan balutan mukena putih, kini melihat Fauzi yang tersenyum-senyum.


Ia ingat, yah ingat semalam.


"Kok sudah pulang dari masjid?" Tanya Syifa mengangkat alis, berusaha bersikap normal melupakan kegiatan semalam.


"Kangen istri." Ucap Fauzi yang tidak tahu seberapa dag dig dug nya perasaan Syifa disana.


Fauzi berjalan menuju sajadah yang tempat sholat Syifa ia mulai duduk bersila, tangannya membawa Al-Qur'an dan juga mejanya yang sudah ia siapkan.


"Duduk sini Fa." Ucap Fauzi membuat Syifa hanya menurut dengan patuh atas perintah suami.


"Lama ya nggak ngaji bareng." Ucapnya setelah Syifa menunduk di sampingnya. "Kita ngaji bareng."


"Kita atau kamu gurunya?" Selidik Syifa membuat Fauzi tersenyum, kebiasaan yang akhir-alhir ini kurang mereka lakukan kini akan kembali Fauzi terapkan.


Seperti impian Syifa bahwa, kelak ia menginginkan suami yang mengajarinya ngaji Allah mengabulkan dengan hadirnya sosok Fauzi. Keduanya larut membaca bersama, dengan duduk bersebelahan menghadap arah kiblat.


Setelah selesai satu ruku' Fauzi beralih duduk di depan Syifa. Perlahan tangannya mengelus lembut kepala Syifa yang berbalut mukena.


"Sekarang tes hafalan sama tajwid." Ucap Fauzi membuat Syifa mulai melantunkan surah yang terakhir ia baca, sesekali ia mengingat dan juga di benarkan oleh Fauzi yang notabenya bersebutkan "Guru dalam subuh."


Julukan sekaligus impian Syifa sejak dulu, memiliki suami sekaligus guru untuk menuntun ke jalan yang benar dan juga mengingatkan jika melakukan kesalahan. Fauzi adalah orangnya.


"Alhamdulillah baru segitu aja Gus." Ucap Syifa mengakhiri ayat yang ia baca. Fauzi tersenyum dan mengangguk, karena Syifa sekarang fasih dalam tajwid, meski kadang perlu pembenahan sedikit.


"Sebentar, aku nanya bacaan sama kamu." Ucap Fauzi tanpa ekspresi lagi.


Syifa sekarang berasa sedang berstatus murid dan Fauzi gurunya, ia mengangguk patuh pertanda siap akan pertanyaan dari si Guru.


"Nek Alif fathah ketemu ya' kasroh dibaca apa." Tanyanya.


"Ay?" Jawabnya.


"kalau lam fathah ketemu fa' sukun di baca apa?"


"Laf?"


"Kalau Ya dhomah?"


"Yu?"


" Kalau di gabung?" Tanya Fauzi tanpa ekspresi lagi membuat Syifa berfikir.


"Ay Laf Yu?" Jawab Syifa ragu-ragu.


"I Love you too." Ucap Fauzi membuat bola mata Syifa melotot nyaris hampir jatuh karena ucapan dari kang santrinya ini.


Harusnya ia tahu, pertanyaan seperti itu pernah muncul di berbagai vidio. Hanya saja terlalu fokus dalam berfikir sampai membuat Syifa tidak sadar bahwa tadi itu jebakan.

__ADS_1


Lagi lagi subuh nya bergula


Fauzi terkekeh melihat ekspresi garang seorang Syifa, lantas ia menarik Syifa ke dalam pelukannya benar saja sepersekian detik ia juga merasakan balasan dari Syifa. Dan kang santri ini selalu punya cara agar istrinya tidak marah padanya.


"Subuh manis ya Kang, Syifa takut diabetes, Kang santri nggak takut?" Tanya Syifa


"Kan aku sudah bilang, aku ingin hidup kita selalu manis." Jawabnya mendaratkan kecupan singkat kemudian berujar "Judulnya subuh manis."


Sudah cukup Zi. Syifa sudah melepas paksa keluar dari dekapan hangat di subuh manis yang gerimis


"Kenapa di lepas?" Tanya Fauzi.


"Kesel aku." Jawab Syifa yang sangat kesal dengan mulut Fauzi, lagi-lagi Fauzi tertawa ia suka sekali dengan Syifa yang masih polos tapi punya anak satu.


"Kamu tau ini dingin Fa??" Tanya Fauzi mendramatisir.


"Terus." Ucap Syifa was-was, seribu langkah mengambil langkah kaburr. Tapi Fauzi lebih cepat menariknya lagi dan jatuhlah Syifa dalam dekapannya.


"Kalau gini kan hangat." Ucapnya, sedikit Syifa mendongak melihat sudut bibir Fauzi yang tertarik lebar.


Selalu bahagia kang Fauzi


Tok.Tok.Tok


"ABI BUNDA...Nissa mau masukkk!!" Ucap dari luar membuat Syifa langsung pergi dengan mata menajam ke arah Fauzi dan dari Fauzi yang terkekeh.


Bisa-bisanya Fauzi mengunci pintu setelah subuh, yang setiap pagi putrinya akan selalu datang ke ruangannya.


"Bunda kok pintunya di kunci?" Tanya Nisa cemberut.


"Tapi nisa tadi udah bilang ke Abi kalau mau ke sini." Beginilah anak kecil itu berceloteh dan merajuk. Lama nunggu.


"Iya maafin Bunda ya, yasudah ayo masuk." Ucapnya di angguki Annisa.


****


Hari ini Syifa berkunjung di kediaman Ayah dan Bunda nya. Sendiri saja, karena suami dan putrinya masih kegiatan di pesantren.


Syifa mencium tangan Ayah dan Bundanya, yang sudah berkeriput dan juga tumbuh uban di rambut keduanya. Baru umur belasan Syifa bisa bertemu dengan sang Ayah Bunda sedangkan butuh perjuangan untuk itu.


Apakah masalalu mereka sudah selesai?


Atau hanya lari dari masalalu?


Doa sang ibunda Ayana hanyalah seluruh keluarga lepas dari masalalu tanpa harus menyapa masalah itu di masa depan apalagi dini.


"Ayah Bunda sehat?" Tanya Syifa.


"Alhamdulillah sehat nak," Jawab Ayana mengelus kepala Syifa.


Saat ini ketiganya tengah duduk di gazebo taman belakang, yang Syifa yakini bahwa keduanya sering merawat tanaman. Sekarang Ayah Arnold sudah tidak berkerja.


"Ayah enggak kerja?" Tanya Syifa.


"Pensiun Fa, pengennya nghabisin waktu tua sama Bundamu." Ucapnya membuat Syifa mengangguk.

__ADS_1


Syifa melihat Ayana berjalan menyiram bunga. Sedangkan dirinya yang hendak membantu urung karena Ayahnya mencekal tangannya untuk duduk.


"Bunda, Ayah mau bawa Syifa dulu ke dalam." Ucap Arnold.


Wanita itu mengikuti sang Ayah yang menuntunya ke meja makan, yang dekat dari pintu belakang. Rasanya sangat sedih melihat Ayah yang selalu kesepian.


Setiap seminggu sekali Syifa selalu berkunjung hanya saja saat ini Fauzi dan Annisa sedang tak bisa.


"Ayah mau kamu jujur Fa." Ucap Arnold, tidak pernah berubah. Selalu to the point.


"...." Diam, maksud Ayah apa batim Syifa?


"Ayah tau kamu masih bermain di belakang Fauzi, tapi tolong jangan pernah membohongi apa yang menjadi kebenaranmu."


Deg.


"A-ayah tau?" Tanya Syifa gugup.


"Jangan bercanda kamu...mentang-mentang sudah punya anak, kamu lupa siapa ayahmu ini? hm?" Ucap Arnold, kini suasana tak se dingin tadi.


Syifa diam dan menunduk.


"Ayah juga seperti dirimu, tapi atas izin bunda." Ucap Arnold membuat Syifa mendongak.


"Dan jangan membuat kepercayaan Fauzi lumpuh, apapun itu sebagai hubungan keluarga kamu harus mengutamakan keterbukaan. Lebih lagi dia pendamping hidup." Wejangan dari sang Ayah.


"Tapi dari mana Ayah tahu?" Tanya Syifa.


"Ayah nggak tahu Fa, cuma nebak aja." Kekeh Arnold, "Sampai kapan kamu menyembunyikan ini dari suamimu hm?" Ucap Arnold melupakan pertanyaan Syifa.


"Tapi Ayah...Syifa takut kalau Fauzi pergi dari Syifa."


"Percaya sama Ayah nak, kecewanya seseorang itu berawal dari kebohongan. Dan kamu sering melakukannya? Ayah hanya memberi saran."


"Syifa benci Syifa!! Ayah hiks..Kenapa Syifa merasakan hal seperti ini." Raung Syifa, Arnold mendekap putrinya. Ia hanya membuat apa yang di lakukan putrinya itu salah.


Hal yang sama sekali belum dikethaui, alias tersembunyi akan tetap tercium layaknya bangkai. Dan Arnold tidak ingin jika Rumah Tangga putrinya menjadi korban.


"Jangan nunggu kamu siap, karena tidak ada kata siap dalam kebohongan berterusan kecuali mengakhiri sendiri." Ucapnya menghapus air mata Syifa. "Nak, jangan menyalahkan takdir." Ucap Arnold lagi setelah itu pergi karena bunda memanggil.


Syifa memaku di sana, ia mengusap wajah gusar. Terus bersembunyi pun tidak mungkin. Sedangkan memberi tahu kebenaran itu bukan nyalinya.


Selama bertahun-tahun gejolak itu datang, sampai saat ini tidak mungkin ia terus bersembunyi dalam bayangan gelap.


"Allah, maaf."


*


z


z


z


Komen yuk..Yang banyak biar di lanjut wkwkw

__ADS_1


Oke Byee😘😘


__ADS_2