Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
II. Subuh


__ADS_3

Assalamu'alaikum:)


-



######


#Bunda Syifa Pov On


Sekarang sudah waktunya ketika mendengar namamu, hatiku terasa biasa saja.


Jatuh cinta merupakan anugrah dari tuhan yang sangat indah. apabila kita merasakan ketidakindahan dalam jatuh cinta itu merupakan suatu kerugian atas namakan cinta.


Pagi hari sebelum subuh membuat mata yang tadi terpejam karena habis tahajud kembali tertutup untuk berkata istirahat, dan kini waktunya untuk membuka lagi menuntaskan kewajiban sebagai ummat muslim "Sholat lebih baik dari pada tidur."


Aku kembali, sebagai Syifa dan tahukah kalian sosok yang ada di samping tidur membelakangiku dan memeluk guling putihnya? Biarkan aku bercerita tentang kami.


"Kang bangun." Ucapku membuatnya membalikkan badan, kini lebih leluasa ku tatap wajah tampan nan rupawan menghadapku dengan mata terpejam.


Aneh, umur kami sudah tak lagi muda. Tapi,


"Jam berapa?" Ucapnya mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, tanganku usil memainkan rambutnya.


"Jam 04.10 menit." Jawabku menyahut tapi masih asyik dengan merapikan rambutnya, dia sama sekali tak terusik. Malah semakin tertutup rapat.


Tentang Annisa kini sudah berada di kediaman Abi dan Ummi mertua, ia sendiri yang ingin menginap di ndalem, Sedangkan pria yang tidur ini malah senang bukan kepalang, Astaghfirullah.


"Kang bangun, udah Adzan itu." Ucapku membuatnya langsung membuka mata, aneh.


Dia menatap ku datar dan beralih terduduk, aku mengerinyit heran.


"Kenapa?" Tanyaku saat sikapnya tak biasa.


"Setiap mata aku terbuka, detik itu juga aku jatuh cinta sama kamu. Aku normal tidak?" Ucapnya begitu konyol, aku tertawa keras subuh ini, sedangkan dirinya malah hanya menikmati tawaku dengan seutas senyum tipis.


Jika, Sekarang sudah waktunya ketika mendengar namamu, hatiku terasa biasa saja. Tapi tidak dengan hatiku, kami hidup bersama sudah beberapa tahun ini..Tapi kata manisnya sukses membuatku overdosis,


"Jangan tertawa seperti itu." Ungkapnya dengan nada di buat tak suka.


"Kenapa?" Tanyaku, takut jika dia memang sudah tak mencintaiku, tapi....


"Nanti aku jatuh cinta lagi." Jujur saja ucapannya yang terdengar dengan nada serius itu membuatku semakin tertawa, perutku terasa keram pagi ini. Ada saja ulahnya.


"Jatuh cintalah Kang, asal hanya jatuh cinta sama Syifa." Ucapku di sela tawa.

__ADS_1


Hanya Fauzi lelaki yang membuatku begini setiap pagi, entahlah dia yang suka mengkonsumsi gula atau madu hingga ungkapannya bikin aku diabetes setiap hari.


"Tentu saja." Ungkapnya begitu menarikku kedalam dekapannya, apa ini, jantungku masih tidak normal. Tolong Zi jangan buat aku jantungan.


"Kang, udah telat subuhnya." Bisikku, membuatnya melepas pelukan hangat pagi. Dia langsung turun dari ranjang berjalan mundur dengan seutas senyum sebelum memasuki kamar mandi. Masih sempatnya dia mengajak jantung ku bermarathon...


"Aku cinta kamu Asyifa Nur Fadilla." Hingga tubuhnya hilang di telan pintu. Detik itu juga akan terpaku.


Setiap hari mendengarkan ucapan Fauzi yang membuatku overdosis tingkat tinggi. Mungkin sebentar lagi jantungku akan rusak jika selalu dag dig dug begini.


Tapi sudahlah, wanita mana yang menolak perhatian manis, terlebih setelah halal dan Sah. Begitupun denganku, Fauzi satu-satunya nama masa lalu kini dan nanti, Semoga saja.


Aku mencintamu Kang Santri.


#Pov Syifa Off


*****


Keramaian pekarangan rumah yang di tinggali Syifa dan Fauzi kini berlalu lalang ibu-ibu kompleks yang membeli sayuran dan juga anak-anak kecil yang jalan-jalan pagi.


Hari dimana Fauzi dan Syifa menghabiskan weekend tanpa Annisa yang sudah paud.


"Em Kang, nggak ngajakin aku jalan-jalan." Tanya Syifa membuat Fauzi menoleh kemudian tersenyum.


"Kuat berapa kilo memang?" Tanyanya terdengar mengejek.


"Mumpung gak ada Nisa ya?" Ucap Fauzi dengan menaik turunkan alis. Abi durhaka kamu zi! anak sendiri juga di gituin.


"Atau kita ajak Nisa sekalian, mumpung dia libur." Ucap Syifa dengan binar-binar akhirnya jalan juga.


Fauzi menatap Syifa dengan tatapan datar. "Kita jemput Nisa kalau sudah pulang saja."


"Kenapa?"


"Biar bisa berdua Fa." Tuhkan, apa saya bilang. Fauzi itu sudah bucin sama Syifa... Sedangkan Syifa mah selalu diam nurut aja yang di kata Fauzi.


Syifa hanya mengangguk, ia sedikit heran dengan suaminya yang sudah berusia 27 tahun itu. Kenapa ucapannya selalu manis, seperti pria remaja yang menggombali anak orang saja.


"Kamu kalau ngomong gak bisa apa? nggak usah di kasih gula." Ucap Syifa sedikit kesal.


"Dari subuh bawa'annya bikin Syifa jantungan mulu." Ucap Syifa mengandung gelak tawa Fauzi.


"Fa...Fa, kamu selalu bikinin aku teh manis setiap pagi." Ucap Fauzi yang sama sekali nggak nyambung.


"Kan kamu sendiri yang minta." Jawab Syifa memutar bola mata jengah, Fauzi menggeleng tangannya beralih mengelus pucuk kepala Syifa dan mengacak rambutnya gemas.

__ADS_1


"Kalau kopi bisa pahit, asam bisa asam, garam bisa asin, tanpa bumbu bisa hambar. Aku selalu ingin hidup kita manis." Ucapnya menatap teduh manik hitam milik Syifa.


Syifa hanya menunduk, takut terbang.


"Jadi itu alasannya suka teh manis, ingat kang..Gula gak baik buat kesehatan." Sudah cukup zi!! jangan buat Syifa semakin meleleh.


"Tenang Fa, kamu sama tehnya lebih manisan kamu kok Fa." Ungkapnya terdengar lelucon bagi Syifa. "Tapi manisnya gak bikin diabetes." Sungguh tolong siapapun bawa Fauzi ke laut biar air laut berubah manis oleh kata-katanya.


"Gombal terus sampai sukses." Ucap Syifa mendelik tajam.


"Aku gak gombal Fa, kalimat itu mengalir sendiri tanpa bisa di cegah." Ucapannya yang di sambung nada serius setelah tertawa.


Awas saja kalau kalimat yang ia ucapkan di tela'ah oleh para jomblo, sudah pasti mereka akan terbang ke payang bisa jadi Fauzi si suaminya Syifa di cap sebagai si Gus buaya. Naudzubillah, Syifa bergidik ngeri.


Tak lama Syifa menengok samping dimana krusi Fauzi sudah kosong. Kemana? Dan Syifa clingak-clinguk kenapa Fauzi menghilang saja tak tanggung jawab dengan keadaan Syifa yang senam jantung?


"Kok masih di situ." Suara berat Fauzi menyadarkan Syifa dari angan-angan.


Syifa menatap Fauzi yang menggunakan jeans hitam serta kemeja kotak-kotak dengan kancing terbuka memperlihatkan kaos polos putih. Peci yang selalu melekat kini sudah tak terpasang di sana.


Wah Fauzi masih terlihat seperti remaja, Syifa terpaku.


"Mau kemana?" Tanya Syifa setelah sadar.


"Kencan bareng istri boleh kan?" Tanyanya balik membuat Syifa masih cengo. "Katanya mau kencan, kok belum siap?" Tanya Fauzi mengelus rambut Syifa.


"Jadi kencan?" Astaghfirullah pertanyaan polos mana itu Fa? Sebelum Fauzi berubah pikiran.


Ekspresi polos Syifa membuat dada Fauzi bergejolak, Ia benar-benar menahan sesuatu. "Jadi nggak, atau di kamar aja?" Tawarnya.


"Hah?"


Syifa yang benar belum paham malah semakin berekspresi polos. "Jadi kencan atau..mmm." Ucap Fauzi menaik turunkan alis,


"Kencan kencan." Ucap Syifa cepat, ia nggak mau di kurung lagi. Lagi? baiklah Syifa memasuki kamar sedangkan Fauzi, ia kembali duduk menatap ponsel yang sedari kemarin belum terjamah.


Hidup bersama pasangan halal itu anugrah terindah. Jika kalian tahu coklat itu manis pun dengan gula, tapi yang katanya fauzi ini lebih manis.


"Ya Rabb, berikan suatu keberkahan dalam rumah tangga kami."


*


z


z

__ADS_1


z


__ADS_2