
...Bukan hidup kalo tanpa ujian...
*****
"Umi sama Abi pasti seneng." Ucap Fauzi membukakkan pintu mobil untuk Syifa.
Mereka berjalan menuju ke ndalem Pesantren tapi terhenti setelah beberapa kerumunan itu terlihat di pojok halaman. Syifa dan Fauzi saling memandang.
Banyak wali santri yang datang, resah, risau dan tangis memekik ke telinga Syifa. Wanita itu was-was, Fauzi mengenggam tangan Syifa dan mulai menuju ke tempat itu.
"Saya nggak mau tahu Pak Yai, anak saya mau saya pulangkan!"
"Iya! kenapa kejadian dulu bisa terulang lagi!"
"Tenang ibu-ibu, sabar. Kita cari jalan keluarnya." Ucap Kiyai Hakim menenangkan berbagai tuntutan dari beberapa wali santri.
"Pak Yai, mohon maaf sebelumnya. Masalahnya ini tentang nyawa, dan kita sebagai orang tua sangat tidak menyangka kalau pondok ini terjadi pembunuhan secara di sengaja." Ucap Ibu-ibu lagi.
Dilihatnya Kyai Hakim melantunkan beberapa dzikir dan juga menaruh tangan kedepan agar semuanya harap tenang.
"Tenang bapak ibu. Saya akan berusaha menyelesaikan masalah ini, tapi tolong kerja samanya." Ucap Kyai Hakim.
"Dan di mohon bapak-bapak, ibuk-ibuk. Untuk meninggalkan tempat ini. Insyaallah dari Pesantren akan mencari solusinya." Ucap Ustadz Rizal.
Semua bapak-bapak dan ibu-ibu pergi dari kerumunan dengan segala gerutuan, dilihatnya ada beberapa polisi yang memasang garis polisi di sana. Ada ambulance yang juga berjalan melewati Fauzi dan Syifa.
"Abi?" Panggil Fauzi.
Kiyai Hakim menatap sendu ke arah putranya, ia memijit pelipisnya berkali-kali. Usia yang tak lagi muda membuatnya beberapakali hendak limbung dari berdirinya.
"Gus biar Kyai Hakim istirahat." Ucap Ustadz Rizal membuat Fauzi mengangguk cepat.
Fauzi menatap punggung sang Abi dengan penuh tanya, percakapan dengan para wali santri membuatnya susah untuk berpikir.
"Kang Uzi?" Panggil Syifa lirih. Sontak Fauzi menengok kebelakang, kenapa dia lupa akan sang istri.
Manik hitam Fauzi menelisik wajah Syifa yang menunduk, dari gerak-geriknya Fauzi paham Syifa tengah memikirkan sesuatu.
"Jangan dipikir ya, kasihan calon anak kita." Tutur tenang Fauzi membuat Syifa sedikit mengangguk, setidaknya ada perasaan tenang di sana. Entahlah apa yang sedang terjadi tapi menebak-nebak belum tentu kebenaran.
****
__ADS_1
Fauzi mengantar Syifa ke kamar untuk istirahat, ia hendak menemui Abi untuk meminta penjelasan, Syifa hanya terduduk di ranjang, masih pusing dan sedikit lemas.
Tidak mungkin akan memberi tahu tentang kehamilannya di saat situasi yang tak pas, ia hanya ingin melihat situasi nanti saat sudah membaik.
Ting
Bunyi pesan masuk Syifa membukanya berisi dari nomor yang tak Syifa kenal.
Bagaimana kejutan hari ini?
Sebentar lagi orang terdekatmu akan merasakan hal yang sama!
let's play honey
Tiga pesan dari orang tak di kenal membuat pikiran Syifa kemana-mana. Ia turun dari ranjang bahkan belum sempat membenahi jibabnya, yang harus ia lakukan adalah bertemu Kang Fauzi.
***
Sementara di ruangan Abi Hakim, Fauzi menatap sang Abi dan Umi serta Ustadz Rizal yang tengah berdiskusi kejadian yang mengemparkan seluruh pesantren bahkan sampai di luar pesantren.
"Sebenarnya kejadiannya itu seperti apa Abi?" Tanya Fauzi membuka suara.
Abi Hakim memijit pelipisnya dan umi Fatimah yang tengah mengelus punggung Kyai Hakim. Terdengar helaan nafas berat disana dan Ustadz Rizal tidak berani bicara.
"Setelah Abi mengisi kajian desa sebelah, ada santri yang menangis meminta Abi untuk segera mengikutnya. Semua santri sudah berkerumun di sana tapi, awalnya abi kira mereka ada yang berkelahi, tapi.." Sejenak Kyai Hakim menggeleng.
"Ada yang sengaja mengirim kardus besar dan isinya adalah mayat dari santri." Ujarnya menerawang jauh kejadian lalu. Fauzi yang sedkit terkejut langsung menyela.
"Kardus?" Beo Fauzi membuat Abinya mengangguk.
"Tapi santri itu dalam keadaan mengenaskan, banyak sayatan dan bekas lebam seluruh tubuh membiru. Abi hanya bisa berdoa Allah memberikan Surga untuk dia." Ucap Abu Hakim membuat Fauzi terkejut.
"Innalillahi.."
"Bagaimanapun juga khasus ini harus cepat selesai, ini bulan puasa, Umi hanya takut para santri tidak fokus ibadah." Ucap Umi membuat ketiga orang itu mengangguk setuju.
"****'
"Damn!" Gumam orang itu karena melihat pesan yang ia kirim hanya centang dua membiru.
"Bos, tuan Alex ingin bicara." Ucap salah satu pengawal. Pria misterius itu tersenyum smirk
__ADS_1
serta menekan nomor di ponselnya.
Kau gila! saya menyuruh mu untuk membunuh pengawal markas bukan mengurus pesantren.
"Kau memerintahku?" Tanya pria misterius itu menyeringai.
"Jangan mencoba memancingku bocah!" Ucapnya dari seberang dengan kemarahan yang memuncak.
"Dengar tuan, saya akan menyelesaikan dendammu dengan cara saya sendiri." Sambungan ia putus secara sepihak.
"Berani-beraniya dia memerintahku ha?!!" Geramnya, ia kembali menatap sosok wanita yang tersenyum dengan kamera.
Kamu akan jadi milikku!!
****
"SYIFA??" Teriak Fauzi saat tak mendapati istrinya, segala penjuru kamar telah ia cari tapi nihil.
"Astaghfirullah." Nafas Fauzi terengah-engah. Melantunkan Istighfar menahan segala sesuatu yang membuatnya batal dalam puasa. Tatapan tajam itu mengarah pada nakas.
Ponsel Syifa terkahir ada chat dari nomor yang tak di kenal. Sontak rahangnya mengeras, lagi-lagi ia beristighfar agar kemarahannya mereda.
Ia menelisik lagi segala penjuru kamar memastikan Syifanya. Setelah tidak ada ia mengayunkan kaki nya keluar dari sana.
"Aku harus cari Syifa.".
*
z
z
S.F kambekk gapapa sedikit ya biar ngobati kalo ada yang kangen 😄 author lagi nyiapin buat lamaran kerja do'ain ya hihi
Belum sempat bales komen dan belum sempet koreksi typo. Intinya ceritanya ya gitu..pokoknya stay teruss di SF sampai kakek nenek wkwkw
Syifa kalian di mana? 😊
Dahlahh...
banyakin Istighfar untuk baca cerita ini.
__ADS_1
Kalo nggak suka gapapa kok hihi