Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Annisa Nur Fauziyah


__ADS_3

9 Bulan sudah berlalu..


Bulan terus berganti, menurut prediksi dokter Syifa akan melahirkan tiga hari lagi jadi kini Ayah Bunda dan Ummi Abi akan ke rumah Syifa besok pagi, karena ada kepentingan pribadi. Syifa pun tak mempermasalahkan itu.


Di sinilah Syifa dan Fauzi yang tengah berada di Kamar, tentu saja mendebatkan satu hal yang harus membuat mereka eyel-eyelan.


"Nggak!" Tolak Fauzi.


"Ish kang santrii, harusnya itu tetep berangkat." Ucap Syifa.


"Enggak ya dik. Pokoknya kang santri akan menjaga Syifa." Ucap Fauzi menekankan.


"Ya Allah, kasihan murid yang di kota itu kang, mereka niatnya mencari ilmu lho." Ucap Syifa.


Fauzi mendapat undangan khusus ke salah satu pondok pesantren untuk mendatangi suatu acara. Tapi karena istrinya hamil besar membuat Fauzi kekeh dengan menjaga Syifa.


Namun Syifa kukuh menyuruh suaminya untuk berangkat menemui undangan, kan menyebar kebaikan itu mendapat pahala apalagi menyebar ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah.


"Hm, tapi sebentar lagi kamu bakal lahiran, jadi, aku harus jaga kamu dik." Ucap Fauzi.


"Kan masih tiga hari." Ucap Syifa.


Nampak Fauzi berfikir sejenak, tak lama mengangguk. Segera ia bersiap untuk menghadiri acara.


(...)


"Abi berangkat ya nak, sehat-sehat di sana." Ucap Fauzi membungkuk, ia merasakan tendangan dari dalam.


"Au."


"Sakit ya?" Tanya Fauzi mendongak dengan cengiran khasnya. Membuat Syifa hanya mengangguk tersenyum.


"Assalamu'alaikum." Salam Fauzi sembari memberikan tangannya ke arah Syifa. Dan sekilas mengecup singkat kepala Syifa.


"Wa'alaikumussalam."


Dan kini Syifa tengah membaca Al-Qur'an di sofa, karena binggung juga tiada aktifitas yang membuat ia tidak bosan.


Tok.Tok.Tok.


Syifa mengakhiri bacaannya kakinya melangkah ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum adek." Ucap seseorang.


"Wa'alaikumussalam bang." Ucap Syifa mempersilahkan Ridwan masuk.


Yah, Ridwan tadi sempat menelfon Fauzi tapi karena tidak di angkat membuat Ridwan langsung menuju kediaman Syifa.


"Masuk Bang." Ucap Syifa membuat Ridwan mengekor.


"Fauzi mana dek," Tanya Ridwan clingak-clinguk.


"Dia sedang berangkat pengajian." Ucap Syifa santai.


Ridwan hanya ber o aja karena tidak ada yang ia bahas, jika dulu Ridwan selalu ada untuk Syifa kini dia jarang ada untuk Syifa. Perusahaan yang semakin berkembang membuat Ridwan susah mencari waktu luang.


"Dek jangan seperti itu."


"Tidak, Syifa."


"Duduk aja jangan kemana-mana."


"Sini biar abang."


Ucap Ridwan yang sungguh cerewet dan juga bergidik melihat Syifa dengan perut besarnya berjalan sana sini. Ridwan jadi takut sendiri , jika bayinya keluar dulu gimana? aneh memang!


"Mau ngapain?" Tanya Ridwan.


"Mau makan ini." Jawab Syifa memperlihatkan ciki berlevel 9 tentu saja itu pedas.


"No, jangan makan sembarangan." Larang Ridwan. Dengan berat hati Syifa meletakkan kembali cikinya.


"Ehh eh mau kemana?" Tanya Ridwan dengan tampang binggung.


"Mau makan bubur." Jawab Syifa kesal, Abangnya ini lebih posesif dari pada Suamiya sendiri.


"Jangan, biar abang masakin aja ya." Ucap Ridwan sembari menuntun adiknya ke ruang makan.


"Emang bisa?" Tanya Syifa setelah duduk.

__ADS_1


"Hm."


Setelah beberapa menit Ridwan menghidangkan bubur ke meja makan, Syifa melahapnya dengan pelan-pelan perutnya terasa tidak enak. Sebenarnya bubur Ridwan lumayan enak tapi entah kenapa Syifa merasa ada sesuatu yang harus ia buang.


"Dek mau ngapain?" Tanya Ridwan lagi. Sungguh Syifa malas berdebat.


My posesif abang!!


"Kamar mandi." Singkat Syifa tentu saja Ridwan masih menawarkan sesuatu.


"Mau Abang bantu?" Ucap Ridwan spontan keluar dari mulutnya, hal itu membuat Syifa mendelik tajam.


______


Ridwan memutuskan untuk menunggu Syifa di sofa. Hingga munculah Syifa dengan segelas air putih yang ada di tangannya dan duduk di dekat Ridwan.


"Kata dokter tinggal menunggu hari ya dek?" Tanya Ridwan membuat Syifa mengangguk dan meletakkan galas ke meja.


Tiba-tiba perut Syifa mengalami sakit yang luar biasa ia mencekal kuat lengan Ridwan hal itu sukses membuat Ridwan benar-benar panik.


"Dek, ka-mu ke-na-pa?" Tanya Ridwan melihat seuatu yang mengalir dikaki Syifa.


"Sss-sakit Bang." Ringis Syifa sambil memegangi perutnya.


Ridwan menggendong Syifa ke mobil, ia sendiri binggung harusnya tiga hari lagi adiknya melahirkan, secepatnya mengajak Syifa ke dokter takut terjadi apa-apa.


Sesampainya rumah sakit, Ridwan mengabari keluarganya hal itu membuat semua terkejut dan bahagia karena sebentar lagi Syifa akan melahirkan. Dan benar saja kini berbondong-bondong orang tua dan besan bersama datangnya.


"Fauzi udah dikabari wan?" Tanya Arnold, sedangkan Ridwan mengangguk.


"Kamu ganti baju dulu wan." Ucap Ayana menyodorkan paper bag berisi baju ganti.


Fauzi yang sudah mendapat kabar dari si kakak ipar kalang kabut dari acaranya, ia panik bukan main bahkan parahnya sampai lupa pamit kepada semua tamu undangan. Hingga membuat semua heran menatap Gus yang buru-buru.


"Ustadz??" Panggil panitia yang mengejar Fauzi.


"MAAF ISTRI SAYA MAU LAHIRAN, ASSALAMU'ALAIKUM." Teriak Fauzi tak peduli sambil berlari menuju parkiran, dengan tampang binggung para jama'ahnya. Ada yang kecewa Ustadz muda telah beristri dan memakluminya.


"Wa'alaikumussalam."


(.....)


"Dimana istri saya?" Tanya Fauzi panik kalau saja ia tak meninggalkan Syifa tadi.


"Di dalam sedang menunggu pembukaan terakhir, kamu dampingi dia ya." Titah Hakim dijawab anggukan Fauzi.


"Suami pasien?" Tanya dari suster.


Semua menunjuk Fauzi dan menyuruhnya mendampingi Syifa yang proses melahirkan.


"Ya Allah lancarkanlah."


_______


Lengan kekar milik Fauzi diremas kuat oleh Syifa seolah menyalurkan seluruh rasa sakitnya bahkan sudah dipastikan lengannya akan berdarah jika seperti itu.


"Andai aku tak ninggalin kamu Fa, seandainya rasa sakit itu bisa beralih padaku Fa, kamu tidak perlu menanggung semua ini." Lamunan Fauzi terbuyar akan ringisan Syifa.


"Ss-sakit... kang." Teriak Syifa nafasnya kian tak teratur dan kepala yang mengangkat.


"Sabar ya sayang, berjuang untuk anak kita." Ucap Fauzi mengecup kening istrinya berkali-kali. Ia tak peduli dengan tangannya yang terluka.


Yang jelas sakit itu tidak setara dengan sakit yang Syifa rasakan. Beginilah pengorbanan seorang ibu. Lalu pantaskah kita membentaknya? antara hidup dan mati berjuang untuk melahirkan kita.


"Huhhh Huh.."


"Ayo bu terus mengejen lagi." Ucap dokter memberi komando, Syifa menuruti apa yang di katakan dokter.


Hingga suara bayi terdengar nyaring di telinga mereka, tepat Syifa menghempaskan kepalanya ke bantal dan menatap Fauzi yang tersenyum lalu mengecup wajah istrinya yang di penuhi keringat. Yah keringat pengorbanan.


"Terimakasih sudah berjuang untuk anak kita." Bisik Fauzi.


Syifa mengangguk, melihat bayi yang masih merah itu berada di gendongan susternya. Sembilan bulan kini terbayar sudah.


"Kami bersihkan dulu ya," Ucap Suster.


_______


"Alhamdulillah bayinya perempuan cantik seperti ibunya." Ucap Dokter menyerahkan anak kecil dengan berat 3,2 itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Ucap semua yang di ruangan kecuali Ridwan yang harus pergi ke Amerika detik itu juga, Doa terbaik ia ucapkan untuk adiknya.


"Kamu adzani dulu Zil." Titah Hakim, diangguki oleh Fauzi.


Allahu akbar Allahu akbar


Alunan Adzan haru ditelinga si bayi, air mata Fazui luruh karena bahagia. Allah mempercayakan kepada keluarganya untuk di beri titipan.


"Ya Allah Alhamdulillah atas semua rahmat yang engkau berikan kepada keluarga kecil hamba." Ucap Fauzi setelah mengadzani.


"Siapa namanya?" Tanya Arnold.


Fauzi menatap Syifa dengan sayang,


"Annisa Nur Fauziyah." Ucap Fauzi mantab, semua tersenyum dan menyambut dengan gendongan secara gantian.


Rizky terus berceloteh untuk dan gemas dengan anak Syifa.


Fauzi melangkahkan kakinya ke arah Syifa mengecup dalam kening istrinya yang memberikan kelengkapan keluarga kecilnya.


"Aku mencintaimu sayang." Bersamaan setelah mengecup manis istrinya.


Syifa bersemu, tetap saja perasaan dag dig dug itu menghiasi dadanya yang bergemuruh. Malu itulah yang dirasakan oleh Syifa.


"Semoga anak kita menjadi anak yang sholehah." Bisik Fauzi, kemudian melangkah mengambil bayi yang ada di gendongan mertuanya untuk dilihatkan ke istrinya.


"Annisa...Gadis kecil pertamaku,


Semoga kamu menjadi anak yang sholehah, ingat ya nak semua yang ada di dunia ini tercatat jelas oleh malaikat, jadi Bunda harap kamu menjadi wanita yang sholehah...


Pastikan terisi banyak amal kebaikanmu, jadilah seperti abimu yang selalu menyebarkan kebaikan. Selamat datang di dunia yakni kita menanam bijih kebaikan untuk menuju Surganya bersama keluarga." Batin Syifa terharu.


"Annisa putriku...


"Selamat datang di dunia. Jadilah seperti bundamu yang penyayang dengan perasaan tulus. Baik hati kepada sesama dan menjadi wanita sholehah, baik luar dan dalam. Abimu bahagia karena kehadiranmu nak..


Kamu adalah cinta sekligus bukti dari cinta Bunda dan Abimu, semoga menjadi anak yang sholehah dan kelak bisa bersama bahagia di surganya." Batin Fauzi.


Fauzi dan Syifa saling menatap dan tersenyum mata itu memancarkan aura kebahagiaan yang tak terkira. Hidup tidak mudah kadang terdapat ujian-ujian, di balik itu mendapat pengajaran tersendiri.


Teruslah memperbaiki diri, jangan menyalahkan takdir atau menentang takdir. Jika kita menginginkan hal sedemikian tapi tidak terkabul percayalah Allah lebih mengerti apa yang tengah kita butuhkan.


Hidup bukan mulu kisah cinta tapi dengan cinta kita tahu arti hidup. Jangan pernah buta akan cinta tapi percayalah jika kita imbang dari segala pengertian tiada yang tak mungkin untuk bahagia.


"Selamat datang Annisa."


_____END______


@@@@@akhirnyaaa


BERIKAN KESAN DAN PESAN kalian???


ADAKAH SARAN???


DAN TERIMAKASIH SeBanyak banyaknya SUDAH MEMBACA KARYA Saya. DI CERITA BCKS INI YAK Mohon maaf banyak typo.


Jadi sy minta doa nya lancarkan utbk author yak πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Oh ya ini dah gak ada lanjutan lagi kecuali info novel baru, dan sekali lagi Slow going karena umur juga belum nyandak. kasihan si otak.


Khususon yang penisirinnn


intip IG ku @Sfrarska018πŸ˜…


Sekian dari BCKS


Fauzi Syifa: Terimakasih buat penunggu setia sampai kami punya momongan masih setia membaca.


Readers: .....


Author: Sama-sama πŸ˜‚ dah pergi sono didik anakmu yang bener jangan kasih senjata tajam.


Rizky: Oke babay semuaaaπŸ˜…πŸ˜Ž jangan kangen juragan siomay yaa(cool)


Love you semua😍


kapan lagi coba ucapin kata cinta haha


SALAM DARI AUTHOR

__ADS_1


SI PEMALAS SEJUTA IMPIAN😘😘


__ADS_2