
Satu bulan kemudian...
Masa MPLS atau pengenalan siswa sudah selesai dan KBM seperti biasanya, kini Syifa duduk di bangku kelas XI TB (Tata Busana) sesuai jurusannya.
Sesuai rapat dari guru per jurusan beberapa minggu lalu, bahwa kelas sebelas akan mengadakan Prakerin (Praktek kerja industri), mungkin di sekolah lain terkadang tepat kelas 12 tapi jika SMK ini tepat kelas 11.
Prakerin atau praktek kerja industri bisa dikatakan kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran di dunia usaha atau dunia industri yang relevan dengan kompetensi siswa sesuai bidangnya.
Tujuannya agar siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat dari sekolah menambah ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Selain itu, Prakerin dilaksanakan berkelompok.
Siswa akan diacak atau bahkan memilih tempat sendiri, tetapi Syifa dan temannya memang sudah terpilih untuk ada di salah satu butik yang ada di kota A.
"Gas gas." Teriak Yunda heboh.
"Ngengg ngengg." Syifa datar,
"Hm kemarin aku,.. mengajukan di kota A butiknya lumayan bagus lho mm dan lagii.." Ucap Yunda menggantung, memang Yunda dari keluarga berada hingga memudahkan untuk memaruk info, Syifa sebenarnya mampu tapi masalah identitasnya lebih penting dari pada kemauannya.
"Jangan berbelit belit deh." Reva cuek.
"Tunggu tapi, butik A kan jauh lalu aku berangkatnya gimana dong." Tanya Rina yang status keluarga sederhana.
"Maka dari itu kita kos saja gimana." Usul Yunda.
"No no no, Bang Ridwan ngga akan ijinin sumpah." Tolak Syifa
"Tapi..kalo kita laju itu memakan waktu 4 jam dan itu bensinnya mak, duh mending aku buat shoping." Yunda sedangkan yang lain berpikir.
"Tapi tumben kamu pengen ngekos Yun," Tanya Reva curiga.
"Hahahhaha.." tawa Yunda karena Reva.
"Astaghfirullah, kita serius nanya, ketawa dia." Rina.
"Serius mau tau?" Tanya Yunda meyakinkan.
"Serius mie rebus deh, seribu limapuluh lima rius, sagitarius pindah ke merkurius huh." Ucap Syifa mencibik.
"Begini, butik itu dekat dengan pondok lho, dan kosnya hanya sampingan dengan pondok." Ucap Yunda antusias semua mengernyitkan dahi.
"Lalu." ucap ketiga sahabat.
"Ya kita bisa cuci mata." Ucap Yunda, hingga Syifa dan Reva mengernyitkan dahi, tidak dengan Rina yang kurang paham.
"Memangnya matanya mau kamu cuci ya, serius? detergen masuk mata, cara manual atau mesin cuci." tanya Rina dengan polosnya.
__ADS_1
"Eheheeheh." Syifa dan Reva.
"Rinaa maksud aku itu cuci mata, melihat para cogan." Yunda kesal.
"Lalu, cucinya di laundry atau gimana." Tanya Rina yang paling polos.
"Hahahahahh." kini tawa Syifa dan Reva pecah.
"Udahlah jangan kotorin pikiran Rina ." Lerai Syifa.
"He,um..tapi harus ngekos dan bakalan ketemu GGS uew." Ucap Yunda sembari membayangkan.
"Maksudmu si GGS disinetron Ganteng Ganteng Si Si teh Sisri ya." Rina.
"Salah dong, Ganteng Ganteng SriGalak." Syifa yaelah ngga usah pake galak juga hem.
"Ganteng Ganteng Santri." Yunda membayangkan, Rina mengernyitkan dahi.
"Astaghfirullah, tak pantas kita memikirkan sesuatu yang tentunya tak ada hak buat kita tau, bahkan itu lawan jenis, hmm itu bisa menimbulkan zina." tutur Rina yang jiwa Ustadzahnya keluar.
"Kan kita tidak menyentuhnya?" Tanya Yunda sedangakan Syifa dan Reva hanya mendengarkan.
"Hemm ada banyak macam-macam diantaranya, bahkan tanpa kita sadari." Rina diam sejenak.
"Dalam surat Al isra ayat 32 sudah dijelaskan: Artinya: โDan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." tutur Rina.
"Coba cerna itu yang sederhana saja sudah zina apalagi.." Ucapnya terpotong.
"Astaghfirullah oke hus hus pemikiran kotor hus hus." Ucap Yunda mengetuk kepalanya.
"Lalu Zina seperti apa lagi?"Tanya Syifa penasaran.
"Zina luar Al lamam (zina yang sesungguhnya) yaitu zina yang dilakukan antar lawan jenis yang bukan muhrim dengan melibatkan alat kelamin."
"Zina Muhsan, zina yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah atau telah memiliki suami atau istri, namun tidak menjaga diri dari orang lain yang bukan mahram atau berselingkuh hukumannya dirajam sampai mati,"
"Zina Gairu Muhsan, contohnya yang dilakukan oleh mereka yang belum sah atau belum pernah menikah. Misalnya saja, mereka menjalin hubungan sebelum menikah atau berpacaran maupun yang tidak, namun melakukan perbuatan zina dan belum sah menjadi hubungan yang legal atau suami istri,didera 100 kali menggunakan rotan." Tutur Rina panjang lebar.
Syifa, Yunda, Reva bergidik ngeri sambil membayangkan.
"Ana fahimna calon ustadzah heheh." Tutur Syifa tersenyum-senyum, tak heran jika Rina seperti itu, lulusan Pondok.
-
-
__ADS_1
-
Pesantren..
Kini para santri sudah selesai melaksanakan sholat dzuhur, dan makan siang lalu istirahat sembari menunggu untuk melanjutkan jam selanjutnya, Fauzi sedang berada dihadapan Abi dan Ummi seolah tengah disidang.
"Zil, mungkin ini mendadak tapi kamu harus pindah lagi ke kota A ya,, karena dulu izinnya hanya beberapa bulan." tutur Abi.
Fauzi pov
Deg!
Bagaimana mungkin dulu aku selalu menolak untuk pindah pondok, dan ingin secepatnya pindah tapi rasanya cepat sekali. apa ini karena cinta? Ahh sungguh waktu cepat sekali berputar, apa aku akan berjodoh dengannya?
"Zil." Suara lembut Ummi membuyarkan lamunanku.
"Eh iya, Zildan nurut aja ummi." Ucapan Fauzi tersenyum.
"Abi bicara dulu sama Ustadz Ihsan untuk mengganti posisimu." Ucap Abi Hakim kemudian pergi, tak lupa Ummi Fatimah menyalami Abi.
Entah perasaan apa ini, tapi aku yakin kita akan bertemu entahlah keyakinan macam apa ini. Sungguh aku akan meninggalkan cinta untuk kedua kalinya.
"Zil," Aku gelagapan dengan panggilan lembut Ummi.
"Eh Iya Ummi." Ucapku.
"Umi perhatiin kamu kurang fokus ya." Ummi
"Enggak Ummi, Heheh." Ucapku tersenyum.
"Kamu jangan bohong atau, jangan jangan kamu jatuh cinta ya." Ucap Ummi sembari mengetuk ngetuk tangannya di dagu.
"Lihatlah anak ummi ini masih kecil, lagian tidak mungkin hati Zildan cepat goyah hanya karena wanita di sini, hhahah iya kan Ummi?" Ucapku yang seolah tengah bercanda tapi itu garing ternyata Ummi hanya menyelidik, ah jangan menatap seperti itu.
"Jika tidak tertarik dengan santri sini, bagaimana dengan Syifa, apa kau tidak tertarik ..mm kelihatannya dia itu bisa jadi buronan mertua." Ucap Ummi menggodaku.
Deg deg deg!
"Kenapa dengan pipiku yang memanas, dan jantungku ah kenapa tidak bisa diam, Astaghfirullah kalau dia diam berarti aku tidak ada di sini lagi ya, tapi setidaknya berdetaklah dengan tenang!!Oke." batinku meronta.
"Tuh kan melamun lagi, atau jangan jangan," Ucap Ummi.
.
.
__ADS_1
Sekian..
Jumpa lagi Bab selanjutnya, daaaa๐๐๐