
Ridwan yang melihat ada keributan di jalan sepi menghentikan motor sportnya, Ia melihat dua orang yang memaksa seseorang untuk turun sedangkan tiga orang sedang sibuk melawan para geng motor.
Ridwan segera memukul bahu pria tersebut yang tak lain adalah musuh sekolahnya Ridwan.
"Riko." Ucap Ridwan dingin, riko tersenyum sinis,
"Kau apakan gadis ini hah,? Tanya Ridwan
"Bukan urusanmu." jawab riko Langsung melayangkan pukulan arah perut Ridwan
Ridwan yang belum siap, sudah terpental beberapa langkah, Pertarungan di mulai bukan karena menolong melainkan melawan musuh bebuyutanya.
Bugh! bugh!
Setiap Gerakan Riko selalu di tangkis oleh Ridwan, Pertarungan semakin sengit Ridwan mematahkan gerakan kaki Riko Hingga melayangkan bogeman, Teman riko yang satu ikut bertindak ia melayangkan tendangan ke kaki Ridwan
Dengan sigap Ridwan menghindar, Alhasil kakinya hanya mengenai udara, dengan cepat Ridwab menahan kakinya, ia Dorong hingga sang empu terjungnal ketanah
bugh!
Faqih, Fauzi dan Ustadz Hamdan sudah membereskan Lawan walau mereka juga terluka, Ia melihat pria yang melawan dua orang dengan kelincahannya,
"Sepertinya tidak asing." Gumam Faqih
Beruntung Riko and teh genk tidak membawa alat senjata, jadi dengan mudah Ridwan melakukan serangan, tangkisan dan cara menghindar dengan ilmu bela diri yang ia miliki,
"Tunggu pembalasanku Wan." Ucap Riko sambil memberi kode pada genk nya untuk pergi dari tempat itu.
"Terimakasih mas." Ucap Ustadz Hamdan, di lihat posisi Ridwan yang membelakangi berbadan kekar, jadi tidak tahu bahwa umurnya masih muda, Ridwan membalikkan badan.
"Kak Ridwan." pekik Faqih dan Fauzi lagi lagi ia di tolong dengan Ridwan
"Lain kali hati hati." Ucap Ridwan sambil melihat arah mobil lantas mengernyitkan dahi
Danu dan Toyib sudah pucat, seluruh tubuhnya bergetar, Ridwan terkekeh melihat laki laki yang ketakutan
"Kalian tidak apa apa?" Tanya Ridwan pada orang yang di mobil, Semua orang menggeleng.
Para Santriwati terpena dengan ketampanan Ridwan yang rambutnya basah karena keringat dan baju koko nya yang sedikit basah melihatkan ototnya yang bikin meleleh.
Ustadzah Anum menyadarkan santriwati karena sudah lancang memandangi Ridwan
"Huss jaga pandangan kalian." seketika semuanya menunduk.
.
.
.
Syifa yang sudah ada di rumah segera menggantikan Perbannya takut Ridwan memarahinya,
__ADS_1
"Bukannya tadi Santri Nurul Qur'an ya.?" Tanya nya pada diri sendiri.
"Aduh lupa lagi, Namanya siapa ya?" Syifa segera mencuci Sapu tangannya lalu menjemurnya,
Tak lama Fauzi datang,
"Assalamu'alaikum." Ridwan
"Wa'alaikumussalam." Syifa
Ridwan segera melihat kaki Syifa, Ia tersenyum karena perbannya sudah di ganti
"Apa tadi berdarah." Tanya ridwan
"Iya bang , tapi udah di ganti kok." jawab Syifa dan Di angguki Ridwan.
Ridwan segera menuju kekamarnya, Syifa mengikuti dari belakang, Ia menyiapkan Jas kantor Ridwan satu rahasia bahwa ia sudah menjadi Ceo di salah satu perusahaan ayahnya,
Tak ada yang tau hal ini, Yang jelas tujuan Ridwan sekolah hanya untuk melindungi adiknya, Masalah bisa tidaknya memang Ridwan sudah di didik sejak kecil masalah perusahaan, Ayahnya yang mengajarkan langsung.
Mengingat banyak musuh yang di miliki Ayahnya sehingga Ridwan harus pisah rumah dari orang tuanya, Kasih sayangnya kepada Adiknya sangat besar menurut nya adiknya lebih penting dari segalanya.
"Bang, Kasian Rizky harus pisah dengan Ayah dan Bunda." Ucap Syifa di ujung kasur empuk Ridwan
"Iya si, tapi Demi keselamatan kita." Ucap Ridwan memakai jas kantornya
"Bang masih hutang penjelasan padaku." Ucap Syifa memicingkan matanya, Sedangakan Ridwan langsung gelagapan
"Dah Abang berangkat." Ucap ridwan alih alih ridwan pergi.
.
.
.
Mobil Ridwan keluar dari gang dan mulai membelah kepadatan kota, Butuh waktu 30menit untuk sampai di kantor. Karena perjalanan begitu macet sehingga mengulur waktu
Ridwan segera meraih benda pipihnya menekan nama seseorang
"Hallo kau hendel pekerjaan kantor, aku sedikit terlambat." Ucap Ridwan lalu mematikan sambungannya.
Di tempat lain
"Dasar bos, Bisanya cuma merintah belum sempat dijawab sudah dimatikan." Gerutu sekretaris sekaligus kepercayaan Ridwan.
(...)
Mobil Ridwan sudah memasuki Kantor, security siap memarkirkan Mobilnya, Seluruh karyawan menunduk patuh, banyak yang mengaumi atasannya yang terbilang sangat muda.
Ridwan berjalan menuju ruangannya menggunakan lift pribadi, Sesampainya di ruangan ia segera sibuk dengan dokumen dokumen butuh waktu beberpa jam sudah selesai dalam dokumennya,
__ADS_1
"Yan cepat keruanganku, telat dari lima menit Jangan harap gajimu keluar bulan ini." Titah Ridwan langsung menutup telfonnya.
Di ruangan lain
Sekretaris yang bernama Rian sudah gelagapan, "Dasar si boss tak bisa membiarkanku istirahat sedikit saja." Umpat Rian sambil berlari menuju ruangan Ceo.
tok tok tok
Masuk!! suara dari dalam
"Ada perlu apa.!" tanya Rian Ketus
Rian adalah sekretaris pribadi Sekaligus kepercayaan Ridwan dan juga sahabat, bukan hanya dalam dunia perbisnisan melainkan dunia balap bahkan dalam dunia pertarungan, Satu hal lagi bahwa Rian belum percaya adanya tuhan.
Rian hidup sebatang kara dia di temukan oleh orang tua ridwan sejak kecil hingga di rawat sampai dewasa umurnya setara dengan Ridwan hanya saja Ia tak mau tinggal bersamanya dengan Alasan selalu merepotkan
Tapi dia berjanji akan mendukung langkah keluarga Ridwan Melindungi keluarganya mengingat Ayah ridwan adalah Mantan ketua mafia yang sudah insyaf, Pasti masih banyak musuh yang ingin menghancurkan perusahaannya(Alasan Ridwan jauh dari orang tua)
Bukan berarti ridwan adalah Mafia ataupun pesyicopat hanya saja hobby nya dalam bidang bertarung serta kemahiran dalam senjata senjata tajam yang selalu dilatih untuk melindungi keluarganya,
Kebiasaan itu memang sulit di hilangkan dan hanya orang kepercayaan saja yang mengetahui kegiatan Sang Bos Ceo sebagai peserta didik dan dalam hiburan dunia gelap untuk membantu memberantas kejahatan
Tapi siapapun yang mengusik ketenangannya ,Keluarlah sifat iblisnya
"Berani kurang ajar sekarang ya.?" Tanya Ridwan.
"Kau tau pekerjaanku sudah sangat banyak, lalu apalagi yang ingin kau tambahkan." Tanya Rian Malas
"Aku bosan." ucap Ridwan dengan entengnya
"Cih! kenpa kau tak mengerjakan pekerjaanku saja hah, dasar tak tau diri." Umpat Rian dalam batinnya.
"Kau jangan berani mengataiku tak tau diri, Gajimu tidak akan turun bulan ini." Ancam Ridwan
"Kenapa dia tau aku mengatainya ishh benar benar menyebalkan." batin Rian
"Jangan bilang aku menyebalkan jika tak ingin aku pecat dari kantorku." Ancam Ridwan
Rian diam tak bergeming
"Lalu kau mau apa.?" Tanya Rian ketus
Ridwan hanya terkekeh "Apa kau belum tau maksutku." ucap Ridwan dengan seringai jahatnya
"Baiklah kita main malam ini, Aku tau Siapa yang menganggu ketenanganmu dia telah di sekap di markas." Ucap Rian dengan seringai jahatnya
.
.
.
__ADS_1
Heppy reading.