
Riuh pengunjung pantai serta ramai penjual membuat Syifa antusias berpose dan Fauzi memotretnya. Dengan gamis mocca Syifa yang melambai dan hijab berkibar terkena angin pantai.
Bahagia itu mudah asal kitanya yang mau bahagia, terkadang senyum sempat terbit bersama air mata walau berarti bukan sekedar sedih tapi bahagia di dasari makna.
"Kang mau berenang?" Tanya Syifa. Fauzi yang sedang membuat istana dari pasir putih itu menoleh sekilas kemudian menggeleng.
"Kenapa? ke pantai tapi kok gak basah-basah gak punya kesan kang." Ketus Syifa.
Fauzi menghela nafas panjang, sepertinya dia harus menuruti keinginan Syifa daripada ego nya.
"Hm..Ayo." Ajak Fauzi berdiri kemudian mengulurkan tangannya ke arah Syifa, dan di terima.
Mereka berdua berdiri di pinggiran ombak, entah lama-kelama'an tempat duduk mereka berjalan semakin mendekat ke tengah. Syifa tertawa lepas kala ombak menyerbu dirinya dan Fauzi jangan lupakan tangan yang saling mengenggam itu.
"Suka Fa?" Tanya Fauzi menatap Syifa yang menanti ombak, yang di tanya menoleh.
"Syifa suka." Ucap Syifa.
"Iya, aku juga suka kok sama kamu." Ettdah! Syifa merasakan aura diabetes di sini
"Apa'an sih." Sungut Syifa. Yang di balas gelengan kepala.
"Fa, Ciptaan Allah itu selalu indah ya?" Ujar Fauzi menatap ombak putih yang menerjang beberapa pengunjung pantai. Syifa manggut-manggut membuat istana pasir, tadinya Syifa mendadak pusing tapi belum pengen pulang. Sedangkan Fauzi memutuskan agar Syifa duduk bersamanya di pasir yang sedikit jauh dari air.
"Indah," Ujar Fauzi melirik Syifa yang fokus dengan gawainya. "Tapi sayang." Lirihnya masih terdengar.
"Sayang kenapa?" Tanya Syifa menatap Fauzi.
"Gakpapa sayang."
Syifa menahan nafas sebentar, sebenarnya Fauzi ini kebanyakan stok manis atau madu sih kenapa ucapannya kelewat manis?
****
Kedua insan yang habis jalan-jalan itu memasuki mobil setelah membersihkan badan. Rintik-rintik air hujan terlihat tenang suara yang berpadu dengan kecil.
Awalnya Fauzi berniat untuk melihat senja bersama Syifa tapi sehabis Ashar hujan sudah membasahi pasir. Syifa hampir ngakak melihat tampang suami yang menekuk.
"Abi nggak usah sedih ya." Ucap Syifa menatap Fauzi yang fokus menyetir.
"Fa, kan aku sudah bilang jangan panggil Abi kalau berdua," Ucap Fauzi datar, fiks Fauzi sensitif entahlah keduanya bermood yang sangat berubah-ubah.
"Kenapa?"
"Kita ini masih muda ya. Manggil begitu kalau ada Nissa saja." Ucap Fauzi masih fokus, tanpa menoleh ke arah istrinya yang ingin tertawa.
"Muda? Ya Allah abi...."
Cup.
Syifa membulatkan mata sempurna, mirip seperti mata burung hantu. Sepersekian detik ia menoleh ke samping. Dengan santainya Fauzi berekspresi datar seperti jalan tol. Menunggu lampu yang masih berwarna merah.
Syifa berdecak sebal, Fauzi ini sering mencari kesempatan di dalam ke usilannya. Bisa-bisanya si kang santri bersikap datar di saat jantung Syifa berdetak abnormal karena kecupan dadakan, Waishh Syifa tidak tahu Fauzi yang mencekram setir mobil saat menahan gugup.
__ADS_1
"Masih manggil Abi lagi?" Tanya Fauzi datar.
"Ishh, bukannya bener ya udah punya anak satu juga." Kekeuh Syifa mendelik tajam, tangan nya bersedekap di dada.
"Baru satu Fa." Ucapnya nyengir sontak Syifa memukul bahu Fauzi. Satu-satu gitu perjuangannya MasyaAllah Abi!! peka dikit dongg!
"Terus maunya berapa?" Tanya Syifa. "Udah tua juga, nggak mau di panggil Abi." Gerutunya masih terdengar oleh Fauzi yang hanya terkekeh, serta kakinya menginjak pedal gas karena lampu sudah hijau.
"Yang banyak Fa, kalau bisa ya sebelas." Ujarnya dengan tingkah tengil khas Gus Fauzi yang sering menggoda Syifa.
"Apa?? Sebelas?? Ya Ampun kenapa gak minta sama Abi Hakim saja kang?" Tanya Syifa mencibir. Gak tau apa gimana sakitnya, dan Syifa masih trauma.
"Saya anak tunggal lhoh Fa." Jawabnya.
"Anak abi banyak kok Kang. Itu para santri tinggal di ajak pulang aja." Ujar Syifa malah larut bercanda, tidak tahu kalau Fauzi menikmati wajah Syifa yang dibuat serius.
"Terserah, terserah Asyifa Nur Fadilla." Ujar Fauzi.
"Tapi mungkin Allah belum menitipkan rezeki buat kita. Kang Fauzi yang sabar ya." Ucap Syifa sendu, Fauzi mengelus kepala istrinya dengan senyum terbaik untuk orang yang terbaik dalam hidupnya.
"Aku nggak nuntut kok Fa, kalau Allah kasih ya Alhamdulillah. Banyak anak banyak rezeki. Aku cuma ingat Abi sama Ummi dia cuma punya anak satu dan pasti hidupnya kesepian." Tutur Fauzi, sekarang Syifa paham.
Sekalipun Abi nya nampak tersenyum teduh dan selalu terlihat berwibawa, mempunyai ratusan anak didik tetap saja ia merindukan putranya, darah dagingnya sendiri. Syifa juga berfikir setelah tua nanti bersama Fauzi akan sepi atau rame?
"Jadi yakin mau bikin anak sebelas?" Tanya Syifa, aneh pria yang berstatus sebagai suami kini malah tertawa sembari geleng-geleng, tangannya mengelus kepala Syifanya,
Syifa menatap heran dengan wajah polos, sungguh Fauzi istighfar dalam batin.
"Kalau aku sih ayo ayo aja Fa, kamunya sanggup enggak..Kuat enggak?." Fauzi terkekeh. Syifa menunduk, tapi Fauzi bak cenayang bisa menebak apa yang ada di pikirkan istrinya.
"Inih." Ujar Syifa memperlihatkan koin seribu.
Ah Fauzi jadi malu, kenapa dulu cintanya tercetak ibarat koin seribu. Masalalu kalau di ceritakan terkesan lucu, "Kang santri yang romantis."
"Kamu masih simpen itu koin?" Tanya Fauzi terkekeh.
"Iyalah, kan pertama kang santri yang pergi tanpa janji..Sedangkan pulangnya membawa bukti. memangnya gak boleh kalau Syifa simpen?"
"Alhamdulillah kalau masih Syifa simpen, Aku ikut seneng." Ungkap Fauzi jujur.
"Kang santri belum pernah kan denger kisah koin seribu yang di ambil Rizky buat jajan Siomay, butuh perjuangan buat ndapetin koin ini kembali kang. Syifa sampai menukar uang kertas ke koin seribuan demi mencari ukiran S.F di sana. Sampai ke rumah tetangga. Ehh taunya ketemu di toko pas mau beli air mineral." Ujar Syifa membuat Fauzi tertegun
"Segitunya jaga perasaan ke Kang santri." Goda Fauzi.
"Iyalah, kalau hilang takutnya aku gak bisa jaga perasaan sama barang kan.." Gumam Syifa, lucu sekali masa itu.
"Segitu pentingnya koin itu?"
"Iya kan satu-satunya kenangan dari Kang Santri. Takut aja kalau aku di cap sebagai gadis yang membuang barang pemberian orang." Ucapnya..Padahal hanya barang Fauzi Lelaki bukan makhrom yang ia simpan.
"Sekarang kenangan itu sudah jadi masa kini dan masa depan Fa. Aku nggak terlalu peduli dengan koin seribu itu, yang jelas cintaku ke kamu lebih besar dari angka seribu." Aihh baru saja bicara Nostalgia, udah di manisin aja nih gus satu!! Ada yang mau??
Syifa menutup telinga dengan kedua tangannya. "Ampun Gus, Jangan bikin telinga saya ikut diabetes dong."
__ADS_1
"Aku bicara apa adanya Fa, barang itu bukan simbol untuk kata-kata cinta dan setia, karena tidak semua orang bisa menjaga. Bukan berarti aku tidak suka kamu masih menyimpan barang itu. Demi Allah aku suka, tapi tidak masalah jika barang itu hilang, karena orangnya sudah halal inih di samping kamu." Ucap Panjang Fauzi. "Mau di apa-apain juga udah halal Fa."
Yah benar, sebagian orang lebih pandai menjaga image ketimbang rasa. Seharusnya barang bukan di jadikan simbolis setia saat kenangan, tetapi jika Rasa yang sudah menyatu. Barang yang hilang bukan lagi masalah.
"Tiba-tiba Syifa pengen rujak." Polos.
"Oke Ning, kita cari. kayaknya di depan ada." Jawab Fauzi.
"Jangan panggil Ning dong. Syifa gak pantes." Ucap Syifa merajuk, Fauzi terkekeh masih fokus kendaraan.
"Dengerin Gus mu ini. Apapun yang akan menjadi takdir kita tetap akan milik kita. Sekalipun banyak orang yang datang mencoba untuk merampas dan menghilangkan." Ucap Fauzi terdengar ambigu, dia sendiri tidak tahu kenapa dengan ucapannya.
"Intinya.." Sambung Fauzi.
"Intinya apa kang?"
Fauzi terdiam sembari melirik dengan senyum sekilas kemudian menatap lurus, yang beberapa meter lagi ada penjual rujak.
"Intinya Love you Ning."
*
z
z
Masih menarik???
Gimana-gimana intinya kan "Love you Ning" kata Gus Fauzi😂
Apa kabar kalian?? (Udah move on ama SF?)
Absen yukk siapa aja yang hadir???
Tapi BTW nihh, sebelumnya cuma pengen jadi'in ini bab keluarganya SF dan gak sampai 10 bab apa kalian setuju?( itu tanpa konflik)
Atau bener-bener Update lagi Musim Dua? Tapi tetap di sini.(Kisah SF dan calon anak-anaknya?)
Inih aku minta saran. Kalau pemikiran kalian "Terserah author." Yaa mending gak usah Lanjut lagi.
Intinya kalian milih Wajib
-(10) bab tanpa konflik
Lanjut BCKS musim dua. (Love you Ning) dengan Genre Action, komedi,Romance. dan ada bumbu bawangnya. (tetap di novel ini)
SATU ATAU DUA pilih aku atau dia yang engkau suka .Ehe malah nyanyi :o
Ayo komen yang banyak aku tunggu minggu-minggu-minggu-minggu depan. Likenya di bawah 100 tapi aku harap kedepannya bisa naik lagi 100++ deh..soalnya keterangan yang baca udah 1K lebih..
__ADS_1
Kalo gak banyak komen berarti gak lanjut hehe😂😂
sekiaann.