Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Syifa siapa?


__ADS_3

...Benarkah kemarin itu pertemuan kita sedang berada di fase jeda...


****


Wanita dengan segala kecekatannya malam itu siap untuk pulang ke jawa, sedangkan Yusuf dan Killa hanya menurut kala sang bunda tengah meletakkan pakaiannya ke dalam koper. Kedua anak kembar itu saling bertatap kemudian mengkode, anak se usia mereka harus di hadapkan segala yang belum patut ia tahu.


"Bun.." Lirih Killa pada akhirnya. Yusuf menunduk.


"Ya." Jawab dilla melirik dengan ekor mata tapi tangannya masih sibuk melipat baju.


"Kita mau kemana? tante lastri ikut?" Tanya killa.


Dilla diam tak bersuara, tapi kegiatannya terhenti setelah perdebatan siang tadi membuat wanita itu segera mengunci kamarnya tanpa niat untuk membukakan, hingga tiba urusan lastri pengajian, dilla baru mencari anaknya untuk beberes.


"Bun...?"


"Kita mau ketemu ayah." Jawab Dilla begitu yakin dan membuat si kembar saling pandang dan mengkode.


"Bunda mau tinggal sama ayah zadid?" Tanya Killa lagi, binar binar di bola matanya seolah mengisyaratkan hal itu yang di nantikan sejak dulu. Tapi apalah daya ketika bundanya mengatakan.


"Bukan ayah zadid."


"Hah??"


*****


Mbak lastri


"Dill, jangan egois!!"


Pesan lastri ke Dilla yang sudah siap berangkat. Sedangkan kedua anak kembar itu hanya terlelap di bangku belakang di taksi malam itu. Dilla cukup tau dan paham dengan keputusannya, ia juga sudah lelah dengan kepergiannya.


Secara ingatan demi ingatan kecil tidak pernah sekalipun muncul di benak, hanya ada mimpi yang membawa keputusannya untuk pergi dari bandung.


Beberapa pesan dan panggilan dari mbak lastri membuat Dilla tak enak, ia akan kembali ke sini setelah berhasil membuktikan bahwa adanya suami di kehidupannya.


"Hm....." Gumam Yusuf waktu itu membuat Dila menoleh samping, ia tersenyum dan mengelus lembut kepala anaknya, tetapi... tiba tiba senyum itu berubah menjadi cemas.


panas


"Astaghfirullah, suf.." Panggil Dila hanya mendapat gumam kecil seorang Yusuf dan juga seperti kesulitan bernafas. Dila panik, ia meminta pak sopir untuk berhenti di rumah sakit.


"Ini ongkosnya Pak, terimakasih."


Wanita dengan tangan menggendong anaknya dan juga tangan satunya menyeret koper, kemudian killa yang senantiasa memegang erat jilbab bundanya.


"Bunda, yusuf?" Tanya Killa.


Dila hanya menggeleng.


Memanggil suster itu yang ia lakukan, ia membaringkan putranya di atas brankar untuk menuju salah satu ruangan. Yusuf dengan bibir pucat dan gemetar seluruh tubuhnya menggigil dan juga badannya yang panas.


"Ibu tunggu di luar sebentar." Ucap suster membuat Dilla mengangguk, raut khwatir wanita bermasker itu terpancar jelas pada matanya. Ia menatap pintu itu berkali-kali sedangkan putri satunya hanya menunduk.

__ADS_1


"Bunda killa takut."


"Maafin bunda ya nak." Dilla memeluk killa dengan erat, beberapa saat sampai dokter membuka pintu membuat keduanya langsung menghampiri dokter.


"Gimana dok kondisi anak saya?"


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya dokter, sedangkan Killa di suruh Dilla untuk menemani adiknya di dalam.


***


"Apakah keluarga ibu mempunyai salah satu penyakit?" Tanya Dokter membuat Dilla mengerinyit, ayah ibu dan suaminya? siapa? bahkan ia lupa dengan dirinya sendiri. Menggeleng hanya jawaban yang dila berikan.


"Anak saya sakit apa dok."


"Melihat ciri ciri penyakit pasien, sepertinya memiliki penyakit asma, tapi masih bisa di sembuhkan kok." Kata dokter meski ada kalimat tenang tetap saja, ibu beranak dua itu meringis ngilu, kenapa nasibnya begini...


***


Rencana sudah berjalan matang tapi tinggal beberapa jarak lagi keluar dari bandung ada saja kendala, memang benar kata dokter jikalau kediaman ke cuekan sosok yusuf putranya ini sering kali terpergok bernafas terengah, tapi bodohnya dirinya yang tak tau keadaan putranya sendiri.


"Bunda kenyang." Kata Yusuf kecil menggeleng pelan ketika Dilla menyendokkan lagi makanan ke mulutnya.


"Minum dulu ya, habis itu minum obat terus tidur." Kata Dilla.


Ia melirik sekilas ke arah bawah dimana putrinya sudah terlelap dalam mimpi. Ruangan mereka bukan berada di VIP hanya sebatas ruangan berisi 2 kamar dan kebetulan kamar sebelah sedang kosong.


Setelah Yusuf tertidur, Dilla menghela nafas panjang, bulir air mata merembes membasahi pipinya. Ia benar-benar lemah dengan keadaan, ia lelah dengan ujian hidup yang tak kunjung Usai.


Ya Allah lelah, boleh peluk sebentar?


*****


Pagi-pagi sekali Dilla menuju ke kantin rumah sakit untuk membelikan sarapan putrinya dan dirinya, Alhamdulillah rumah sakit masih lumayan sepi, wanita bermasker itu sudah membawa bubur ayam dan juga teh hangat.


"Syifa?"


Panggilan suara dari sampingnya namun tak di gubris oleh Dilla.


"Syifa?" Ulang seseorang lagi yang membuat Dila menoleh, seolah meminta kebenaran siapa yang di panggil pria di sampingnya.


Terkejut, reaksi berlebihan dari pria di sampingnya ini sedikit berlebihan menurutnya.


"Syifa kan?" Tanyanya tak percaya.


"Syifa siapa?"


Ehh, kok


Keduanya terhenti kemudian saling berhadapan.


"Saya Ali."


Diam.

__ADS_1


"Jack?"


"Siapa?"


Meski Dilla menggunakan masker tetap saja manik hitam yang di kenali oleh Ali ataupun jack itu yakin jika itu memang Syifa, mantan rekan kerja sekaligus istri Gus Fauzi.


"Anda salah orang. Saya Dila" Kata Dilla memalingkan wajah. Kemudian melangkah pergi


"Tidak mungkin."


Pria dihadapannya ini terus menatap wanita yang menjauh dengan tatapan heran sekaligus terkejut. Tidak mungkin ia salah orang.


Dengan cepat Ali mencari nama yang ada di ponselnya dan menekan tombol panggil. Tak lama panggilan itu terhubung dengan seseorang yang sudah membuatnya banyak berubah.


"Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam. "


"Gus, apa masih ingat istri?" Tanya konyol Ali.


"Ada apa tanya begitu?" Ucap dari seberang.


"Dia Gus... Dia kembali."


Dia


"Istrimu, Saya melihat barusan." Kata Ali begitu semangat, lima tahun silam mendengar kabar kepergian istri Gus Fauzi ikut membuatnya sedih, padahal mereka begitu saling cinta.


Tapi sekarang ia paham dengan alur kehidupan gurunya.


"Uhuk uhuk, ngaco sampean." Ucap dari seberang setengah terbatuk keselek mungkin


"Sampean dimana Gus?" Tanya Ali tak menggubris candaan Gus Fauzi, ia akan segera memperlihatkan apa yang barusan ia lihat memang benar bukan sekedar halu.


"Bandung."


"Allahu akbar, takdir Gus."


"Ha?"


"Sampean ke sini sekarang, rumah sakit xxx bandung."


Hening


"Sampean tidak sedang bercanda?" Tanya dari seberang membuat Ali mendengus kesal.


"Tidak ada gunanya bagi saya." Kata Ali mulai kesal.


"Baik saya ke sana sekarang." Ucap Fauzi di kalimat akhir mengakhiri sambungan, kalimatnya serius dan juga gemetar itulah yang dapat ia tangkap dari pendengaran akhir.


@@@


Harapan kalian? bertemu atau berlalu.

__ADS_1


Tetap prokes gaish, jaga kesehatan dan jangan lupa tidur wkwkw.


__ADS_2