
Pesantren...
Kini para santri disibukkan dengan agenda Hari Santri yang terdapat berbagai keseruan malamnya mengadakan pengajian paginya Upacara memperingati hari santri..
Malam 22 oktober dimeriahkan dengan pengajian biasanya Umum karena musim pandemi, tetap dilakukan hanya saja secara khusus beberapa undangan luar dan terbatas.
Fauzi tengah siap-siap untuk pergi ke pondok Nurul Qur'an tempat Ummi dan Abi nya, sejak adanya Hari Santri Fauzi ingin memperingati dengan Abi dan Umminya sedangkan ia rela bolak- balik dari pondok ke pondok.
"Aku Pamit ya." Ucap Fauzi pada Andre sedangkan yang dipamiti menatap secara intes.
"Saya butuh penjelasan dari sampean." Ucap Andre.
"Ah iya bukannya sejak dulu jika Hari Santri aku selalu pulang ke pondok Abi ya." Jawab Fauzi bingung karena tidak paham arah bicara Andre.
"Bukan ituu." Andre menepuk kening.
"Lalu?"
"Gadis tadi siapa, dan kenapa dari si es batu berubah jadi es kucir, sepertinya sampean jatuh cinta..atau dia yang suka, tapi kalo diliat dia datar banget." Ucap Andre sepanjang sapu lidi.
"Kenapa jadi cerewet gini Sampean." Tanya Fauzi heran.
"Alah jujur saja? Mm bukannya dulu sampean pernah suka dengan Ning Najwa Putri Kiai dan sampai berat untuk pindah pondok." Goda Andre.
Pov Fauzi
deg!
Temanku yang satu ini memang bisa menebak apa yang terjadi dalam hidupku, bahkan bingung juga harus berterimakasih pada sang khalik telah berteman dengan makhluk paling kepo.
Atau harus banyakin Istighfar mengingat selalu mencampuri kehidupanku bahkan pribadiku, tiada satupun yang ia lewatkan. Padahal aku tidak se kepo itu dengan kehidupannya.
Bicara soal Najwa atau Ning kiai, yah aku akui dulu aku sempat bingung dengan perasaanku padanya Ning Najwa Putri Kiai aku sempat bangga juga dengan diriku memang aneh, bangga pada diri sendiri?. Sungguh itu tidak baik!
Aku yang bergelar Gus dan dia Ning kurang apa coba? Nikah muda pun ayo ayo aja, hingga suatu ketika aku harus pindah pondok dalam beberapa bulan dan sempat menolak, Ehemm ya Ning Najwa lah alasannya. (Bab 1)
Tetapi ku akui, aku terjebak dalam gelora cinta masa remaja, yang bahkan belum pantas untuk ku akui jika itu CINTA, Doa selalu ku sempatkan namanya dalam sepertiga.
Hingga kejadian di mana sosok Gadis yang hampir menabrakku, tetapi tidak melihatku dikira hantu, awal perasaan bersalah hingga kagum dengan suara Qiro' nya mungkin hanya kagum. Mm mungkin?
Entahlah takdir selalu membuatku tertabrak dengannya, hingga awal rasa itu muncul melihat sikapnya yang kalem bahkan manis, lalu bagaimana kabar hati? Seiring waktu nama Najwa tergantikan Syifa, iya Syifa gadis manis nan kalem.
"Gila."
"Adaya santri seperti anda ck."
Dosakah jika saya mengakui Cinta usia dini, bahkan bersikap Gila jika dengannya anehnya hanya kepadanya lain dengan dulu modus dengan Najwa aku terlihat kalem lah ini ck ck Ampuni Hamba Ya Allah.
Benar adanya, Allah maha membolak balikkan hati seseorang, dan bagiku ibaratkan saja hati itu tempe goreng, terkadang jika kita bersikuh keras meletakkan nama seseorang dengan sendirinya ia hangus.
Tetapi jika kita mencoba membalikkan Tempe itu pasti akan matang (Menemukan tujuan hidup ibaratnya) dan enak dimakan.
Fauzi Pov Off..
1 detik hening
5 detik loding
__ADS_1
5 menit baru Login.
"Yehh malah ngelamun." Ucap Andre merasa diabaikan.
"Sudah sudah aku berangkat ya keburu malam." Ucap Fauzi memakai helm dan melajukan motornya.
Andre hanya menganga dengan kepergian temannya jiwa kepo nya meronta.
__________________________
Di tempat lain Syifa sudah siap..
"Yakin Fa? Mau naik ojol, kenapa ngga Kak Ridwan aja yang jemput?" Tanya Rina diangguki semua.
"Kan aku mau kasih seprai ke bocilku." Ucap Syifa.
Yunda menganga "Memangnya Seprai Rizky hilang atau gimana." Tanya Yunda heran.
"Ho'oh." Reva.
Syifa garuk tengkuk "Mm hehehe Surprise maksudnya." Cengengesan.
"Dalam Rangka apa?" Tanya Rina.
"Hari Santri."
"Kan kamu bukan Santri Fa." Yunda
"Yeh Santri itu bukan ia yang mondok saja, Siapapun yang berakhlak seperti santri dialah santri." Ucap Syifa hingga lainnya mengangguk.
"Aku berangkat, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sudah satu jam Syifa diperjalanan, tiba-tiba motor ojol oleng.
Bless!!!
Ciitt!!
"Eh eh Mas kenapa?" Tanya Syifa panik.
"Aduh bannya kempes Mba." Ucap Mas Ojol.
"Lah terus saya gimana?" Tanya Syifa, Mas ojek minta maaf dengan musibah ini.
Syifa terpaksa jalan kaki barangkali ada tumpangan, karena panik ia tak bisa berpikir jernih.
"Otak berkerjalah, Ohyaa Hp! aku pesan ojol lagi, kenapa ngga kepikiran." Ucap Syifa merutuki kebodohannya.
"Shit Sial, Lo-bet lagii." Umpat Syifa ingin menangis.
Sepuluh menit ia berjalan, yah jalan sepi karena perkampungan itulah jalan pintas dari 4 Jam perjalanan harusnya menjadi 3 Jam tapi apes melanda Syifa hari ini.
Tak lama ada sepeda motor tak dikenal berhenti, Syifa tak mengenalnya karena ia tertutup Helm.
"Mau bareng Mba." Ucapnya, Syifa mengerinyit dahi.
__ADS_1
"Sok kenal." Ketus Syifa melanjutkan langkah, motor tadi mengikuti.
"Yakin ngga mau bareng?" Ucapnya membuka Helm, Syifa kaget setelah tau siapa orang itu.
"Lhoh Kamu lagi."
"Mau nebeng engga?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Fauzi.
"Kemana?"
"Ke pondok Abi." Jawabnya.
"Kamu ngikuti Saya kan, ayo jawab dasar aneh, kenapa selalu Anda" Ketus Syifa menuduh.
"Astaghfirullah, Saya ngga ada niatan buat ngikuti Anda dan saya memang mau ke pondok satu lagi masalah kita bertemu? Mm barangkali memang itu sudah takdir sekenarionya." Ucap Fauzi tersenyum-senyum.
"Cih." Syifa malas.
"Yaudah kalau ngga mau." Ucap Fauzi menstater motornya.
"Eh Yaudah ayo." Syifa terpaksa.
Satu jam perjalanan tiba-tiba ban motor lagi-lagi bocor beruntung dekat Musholla.
"Kita Maghrib dulu ya." Ajak Fauzi/Syifa mengangguk.
Syifa hanya menatap Kasihan dengan nasibnya.
"Naik Ojek bocor sialnya ketemu makhluk aneh itu lagi, dan apes bocor lagi tuh ban, kenapa dunia tak berpihak padaku huaa." Batin Syifa.
Tak lama ada paruh baya berbincang dengan Fauzi, hingga Fauzi menghampiri Syifa.
"Ayo kita naik angkutan umum itu," Ajak Fauzi
"Lhoh apa ngga ada bengkel gitu?" Tanya Syifa.
"Bapak-bapak tadi bilang tutup jam segini dan adanya hanya angkutan umum para karyawan, jadi kita naik itu sementara." Ucap Fauzi, Syifa hanya menurut.
Angkutan hanya mengantar sampai setengah perjalanan karena beda jalur tujuan. selebihnya Syifa dan Fauzi berjalan kurang lebih jika dilaju tinggal Seperempat jam.
Tanpa mereka sadari ada yang mengincar mereka dari jauh, bukan mereka tapi Syifa tepatnya.
"Ini kesempatan kita." Ucapnya.
"Iya!! bisa dapet bonus dari bos." Ujar salah satunya lagi.
"Oke beraksi." Ujar pria yang disebut kapten.
(...)
Pria bertubuh kekar, dan berotot menghadang jalan Syifa dan Fauzi kisaran 8 orang dengan senyum semirik, Fauzi sudah panik bukan main.
Bersambung...
Bagaimana menurut kalian..
Apa Syifa langsung menunjukkan jati dirinya di hadapan Fauzi atau biarkan dikenal kalem dulu??
__ADS_1
jawab ya..