Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
Annisa dan Angkasa


__ADS_3

Sore hari pesantren, kehadiran anak lelaki yang berjarak beberapa bulan dari kelahiran Annisa putri Syifa dan Fauzi, kini Angkasa tengah bermain membawa permen lolipop untuk teman kecil yang beberapa bulan lalu pernah bertemu di suatu tempat.


Angkasa Rian saputra, putra dari Rian dan Reva di turunkan ayah dan ibunya di depan gerbang pesantren karena anak keduanya tengah menjalani operasi, membuat lelaki kecil itu clingak-clinguk di depan gerbang.


"Astaghfirullah kok ayahmu gak nyuruh masuk, Sa." Tanya Fauzi setengah berteriak dan berlari.


"Buru-buru Om," Jawab Angkasa.


"Oh, yasudah ayo masuk." Ucap Fauzi, membuat Angkasa mengangguk patuh.


*****


Dan di sinilah saat Annisa baru pulang dari kegiatan TPA bersama teman-temannya kini terkejut dan malu-malu karena ada lelaki yang pernah bertemu dengannya bahkan main bareng.


"Bunda ambilin cemilan buat kalian ya. Annisa tunggu di sini." Ucap Syifa membuat Annisa mengangguk kemudian duduk di sofa hadapan Angkasa.


"Abi mau ke kebun dulu ya nak, kalian yang akur kalau main." Ucap Fauzi, sama sekali tidak khawatir. Lagian di ruangannya masih ada Syifa dan juga tidak ada larangan bagi anak kecil bermain bersama.


()(())))


Kini hanya ada Angkasa bermain benda pipih sesekali melirik keberadaan gadis cilik bergamis hitam itu dan Annisa pun demikian ia bergumam tak jelas di pendengaran Angkasa.


"Annisa mau permen?" Tanya Angkasa membuat Annisa yang tadi menunduk langsung mendongak.


"Mauu," Semangat empat lima ya sa!


"Inih."


"Terimakasih." Ucap Annisa langsung membuka bungkus premen warna-warni. Angkasa terkekeh karena mulut Annisa penuh.


Anak kecil memang seperti itu, terkadang hanya dengan sekali ucapan langsung akrab meski berawal dari malu-malu. Keduanya asyik bercerita hingga Syifa yang datang membawa nampan cemilan dan juga minum.


"MasyaAllah asyik banget kalian." Ucap Syifa membuat keduanya hanya menunduk malu-malu. Ahh lucu sekali mereka.


****


Matahari sudah hampir tenggelam, sedangkan Syifa, Annisa dan Angkasa tengah berjalan ke perkebunan yang ada di pesantren, dari sini nampak cahaya bulat oranye dan langit jingga yang menampak indah.


Syifa memandangi Fauzi yang fokus mengangkat panenan wortel, sedangkan Annisa dan Angkasa mengambil daun singkong, entah apa yang di bikin oleh Angkasa yang sibuk dengan batang berwarna ungu kemerahan.


"Anisa?" Panggil Angkasa di sela tangan mematah-matahkan yang ia pegang.


"Iya." Jawab Annisa ikut melihat apa yang temannya bikin.


"Namamu sama kayak yang di Al-Qur'an.." Ucap Angkasa yang membuat Annisa melirik ke arah Syifa yang tersenyum.


"Kata Ummi sama Abi, Annisa itu artinya wanita." Jawab nya membuat Angkasa mengangguk.


"Angkasa?" Ucap Annisa membuat lelaki itu berdehem.


"Kamu lahir di mana?" Tanyanya polos membuat Syifa dan juga Angkasa mengerinyit.


"Kayaknya di Rumah sakit, kenapa?" Tanya Angkasa.


"Aku pikir kamu lahir di angkasa karena namamu Angkasa." Jawab Annisa nyengir. Syifa yang mendengar celoteh anaknya hanya menggeleng kepala.


"Coba nanti aku tanya dulu sama Daddy." Ucap Angkasa yang polos mampu membuat Syifa yang mendengar menahan tawa, anak anak memang ada saja kelakuannya.


"Sa, kamu pake ini." Ucap Angkasa menyodorkan sebuah karya anak-anak dari batang daun singkong yang berbentuk seperti kalung. Syifa berbinar tapi tangannya tak meraih kalung itu.


"Cantik, tapi Nisa gak bisa pakai kan pakai jilbab." Ucap Annisa polos.


"Lepas sebentar aja jilbabnya." Ucap Angkasa tersenyum. Annisa menatap bunda Syifa yang hanya tersenyum tipis, tapi Nisa yang pintar masih ingat nasihat sang Abi.


"Aurat kan Ummi?"

__ADS_1


Flashback On


"Nissa gak mau pake jilbab." Ucap Nisa kecil yang merajuk karena cuaca sangat panas.


"Kan nisa mau ke pondok bareng Abi, kok nggak mau pake jilbab?" Tanya Syifa membuat Annisa menjauh dari hadapan Syifa.


"Panas bunda, jilbab yang ngasih bunda juga panjang. Nisa gak mau." Celoteh anak itu.


"Assalamu'alaikum." Ucap seorang Fauzi yang baru memasuki rumah, ia melihat Annisa yang berlari kencang hingga terbang keudara saat Fauzi mengangkatnya.


"Abii hahaha." Teriak Nisa kala berputar di udara, ia tertawa lepas dalam gendongan Fauzi.


"Kok salam Abi gak di jawab, nanti dosa lho." Senyum Fauzi membuat gadis kecil yang baru menginjak usia 4 tahun dulu menepuk kening.


"Wa'alaikumussalam Abi hehee."


Syifa yang menghampiri dengan muka lelah, Fauzi menurunkan Annisa dari gendongan kini Syifa mencium tangan Fauzi. "Capek banget Fa?" Tanya Fauzi membuat Syifa mengangguk.


"Annisa nggak mau pakai jilbab." Adu Syifa membuat netra lekat yang kini beralih menatap kebawah, ia mensejajarkan tingginya dengan Annisa.


"Putrinya Abi kenapa nggak mau pakai jilbab hmm?


" Panas Abi." Ucap Nisa menunduk. "Selain itu Nisa kan masih kecil." Fauzi terkekeh mendengarnya.


"Tapi kan kita mau ke pesantren." Bujuknya Annisa yang keras kepala keturunan Syifa ini hanya menunduk, jika berbicara pesantren semua insan yang ada di sana menggunakan hijab.


"Tapi.."


"Annisa mau Abi masuk surga atau neraka?" Tanya Fauzi membuat gadis cilik itu menjawab 'surga' dengan mantap.


"Kalau begitu putri Abi yang paling cantik ini harus belajar dari sekarang, biar dewasanya istiqomah. Tau Istiqomah?" Tanyanya. Annisa mengetuk dagu kemudian tersenyum ragu.


"Berdiri teguh." Cicitnya, ia lupa.Dengan tersenyum Fauzi mengikat rambut tipis putrinya yang sudah semakin panjang.


Bukan hanya Annisa yang bangga tapi Syifa pun demikian. Ia bersyukur interaksi keduanya sangatlah akur.


"Annisa tadi mau kan bantu Abi biar masuk Surga?" Tanyanya mengambil alih jilbab yang di bawa oleh Syifa.


"Emangnya bisa?" Tanya Annisa membuat Fauzi mengangguk. "Caranya?" Imbuh Nisa memiringkan kepala terlihat semakin imut anak itu.


Fauzi memakaikan jilbab instan dengan penuh haru, dengan bekal bismillah mendidik putrinya.


"Menutup Aurat."


Syifa ikut berjongkok dengan ekspresi Annisa yang hanya menatap keduanya bergantian, ia merasakan tangan besar Abi mengelus kepalanya.


"Dengar Nak, keputusan ada di Annisa. Nak, kamu harus tahu bahwa satu langkah perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat. Maka satu langkah seorang Abi memasuki ke neraka." Ucap Fauzi lembut.


Annisa menghambur memeluk sang Abi erat, ia nggak mau menyeret sang Abi kedalam neraka hanya karena merasa panas di dunia yang tak sebanding dengan neraka. Ia bergidik ngeri.


"Annisa mau Abi masuk Surga." Lirihnya mengeratkan pelukan. Syifa yang melihat Annisa selalu menurut sama Fauzi hanya bersyukur.


Sedetik kemudian Fauzi juga menarik Syifa ke dalam pelukannya, dan percayalah ini lebih romantis daripada kartun teletabiss tontonan Annis.


Flashback off.


****


"Aurat untuk?" Tanya Angkasa.


"Nissa pake jilbab biar Abi Bunda dan Nisa masuk surga." Ucap Nissa menunduk.


"Apa aku juga harus pakai jilbab?" Tanya Angkasa polos sontak membuat Syifa melotot. Astaghfirullah.


"Kamu kan laki-laki. Kata Abi laki-laki enggak." Ucap polos Annisa membuat Syifa tersenyum bangga, yah walaupun anaknya belum tahu betull apa itu kewajiban wanita dan juga batasan. Maklum masih anak-anak.

__ADS_1


"Nanti aja pakainya di kamar." Ucap Angkasa menyodorkan benda itu ke Annisa.


"Waahh terimakasih." Ucap Annisa berbinar dan juga tersenyum lebar.


****


Sudah malam hari saatnya Rian menjemput Angkasa karena anak keduanya sudah di tunggu oleh istri. Tidak mungkin Rian akan menitipkan anaknya kepada sugus pondok? muka tampannya akan dikemanakan.


"Gimana adik Angkasa?" Tanya Fauzi membuat Rian menunduk dan menggeleng, putri keduanya menderita asma yang membuat nya sering sesak nafas hingga di rawat inap di rumah sakit dengan usianya yang terbilang cukup balita.


"Syafakillah buat putrimu."


"Makasih Gus." Jawabnya.


"Angkasa punya adik ya bund?" Itu tanya Annisa kepada Syifa yang dibalas anggukan. "Yang ketemu sama Nisa dulu?" Tanyanya lagi dan di jawab anggukan oleh Syifa.


"Iya sayang." Ucap Syifa mengerutkan kening ketika melihat anaknya cemberut.


"Kenapa?"


"Nisa juga pengen adik." Ucap Annisa membuat Fauzi dan Syifa langsung menegang.


Sudah hampir enam tahun menikah keduanya juga menginginkan anak lagi. Tapi masalahnya Syifa sudah pernah keguguran hingga membuat Fauzi tak tega.


"Tenang aja Nis kamu minta aja sama Abi Bunda mu.." Ucap Rian membuat Nissa langsung merengek ke mereka. Astaghfirullah!!


"Tenang aja Gus, usaha lagi langsung gempurr terus." Ucap Rian lagi dengan watados.


Kedua anak yang mendengar dan merasa aneh dengan satu kata itu berceletuk.


"Emang gempur itu apa Abi? bisa nemuin adik nisa ya? Angkasa tau artinya gempur?" Polosss banget.


"Gak tahu mungkin tembak-tembakan." Ucap Angkasa menebak-nebak dengan polos juga Annisa mengangguk.


"Iya Nis kamu suruh Abimu buat nemb...."


"Riaannn!!" Ucap Fauzi dingin dan tajam. Aura tak enak di pandang itu menusuk ke otak Rian.


"Ee h Angkasa ayo pulang sudah malam." Ucap Rian di angguki Angkasa.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Syifa dan Fauzi mengantar keduanya ke halaman utama pesantren. Kan kan jadi canggung suasana hati keduanya.


Fauzi junior otw.. Ehhh!!


****


...Assalamu'alaikum all.....


...Piye kabare ehehe...


Cuma mau bilang semoga gak bosen nunggu.


...Sebenarnya aku lagi nyiapin waktu buat US jadi maaf banget jarang Up 😅...


...Udah itu aja. Semoga selalu di beri kesehatan....


...Wassalamu'alaikum....


*


*

__ADS_1


__ADS_2